Sebuah telapak tangan melayang tepat mendarat di pipi dengan mulus hingga menimbulkan suara yang cukup keras, membuat seisi restoran terkejut. Bahkan beberapa pandangan mengarah pada sepasang kekasih yang terlibat pertengkaran.
Benar saja dugaan Parveen bahwa akan ada perang dunia yang mengguncang seisi restoran. Sebab, sang lelaki itu terus menerus mengecek ponsel yang ada di sampingnya dengan wajah amat cemas.
Seketika Fairel mendelik tak percaya melihat sepasang kekasih yang tengah di maki-maki. Terlebih pada sang lelaki yang sempat ditamparnya tadi.
“Gimana? Anda masih meragukan kebolehan saya?” celetuk Parveen tersenyum kemenangan.
“Itu benar? Tidak ada setting dari orang dalam?” tuntut Fairel seakana tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya tadi.
“Ya benarlah. Kan saya udah bilang kalau saya itu tidak pernah ke restoran lagi semenjak menjadi transmigran. Lalu, punya uang berapa saya sampai menyewa aktris dadakan seperti itu,” papar Parveen dengan wajah bersungut kesal.
Seketika Fairel menyemburkan tawa gelinya. Mata sipit itu nampak segaris seiring bibirnya tersenyum lebar.
“Tapi kamu kok bisa menebak seperti itu?” Kali ini Fairel mencondongkan tubuhnya menghadap Parveen.
“Begini, Pak. Kita kan ada di sini pas sepasang kekasih itu datang. Awalnya saya kira Bapak tidak menyuruh saya untuk menyelidiki hal ini, tetapi berhubung Bapak tidak percaya, jadi saya memutuskan untuk sepasang kekasih itu untuk menjadi target.”
“Lalu, bagaimana caranya kamu menebak dengan tepat?”
“Dilihat dari gerak-geriknya saja sepasang kekasih itu sudah aneh, Pak. Yang pertama, seharusnya ketika makan bersama kekasih itu menjadi hal yang menyenangkan, tetapi saya lihat dari tadi wajah laki-laki itu cemas akan hal sesuatu. Kedua, Si Pria ini sering melihat layar ponselnya yang jelas-jelas sudah ada Si Wanita itu di depannya. Dan yang terakhir, saya beberapa kali melihat pria itu melihat sekeliling dengan wajah yang sangat cemas.”
“Ternyata dugaan saya benar, bahwa pria itu tengah berselingkuh dengan wanita lain. Dia ini takut kalau perselingkuhannya akan diketahui oleh istrinya.” Mata Parveen beralih pada sepasang kekasih yang terjebak adu mulut.
Di sana nampak beberapa orang berusaha meleraikan, tetapi tidak ada yang menghiraukan dari salah satu sepasang kekasih dan wanita anggun, bahkan tidak sedikit orang memegangi si wanita anggun itu agar tidak melayangkan tangannya kembali.
Pikiran Parveen melayang jauh saat dirinya masih tinggal di rumah. Suara teriakan begitu memekakkan telinga selalu menyambut dirinya ketika malam hari tiba. Benda berjatuhan diiringin hentakkan mulai menggema, mengisi kekosongan tiap sudut rumah.
Dan entah mengapa Parveen selalu terbayang oleh saat-saat itu. Kala itu dirinya tidak mengerti apapun selain menutup telinga rapat-rapat. Mengusir semua suara yang membuat dirinya sangat takut.
Tanpa sadar setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Parveen, membuat Fairel terkejut.
“Lo kenapa, Ve?” tanya Fairel merendahkan suaranya.
Kedua alis tebal itu bertaut bingung. “Apanya yang kenapa?” Parveen berbalik tanya pada Fairel yang memutar bola matanya malas.
“Itu lo nangis,” jawab Fairel sambil menunjuk pipi gembil Parveen yang basah.
Seketika Parveen menyentuh pipinya yang terasa basah, lalu berusaha menghapusnya agar Fairel tidak terlihat curiga.
“Nggak apa-apa kok.” Parveen tersenyum kecil.
Fairel pun hanya mengendikkan bahunya acuh. Ia merasa akan lebih baik jika tidak memaksa gadis mungil itu. Sebab, dari cara bicara Parveen sudah sangat terlihat sekali bahwa gadis itu tidak ingin ditanyai lebih lanjut. Demi menghormati rasar gengsinya, Fairel pun terlihat acuh tak acuh sambil menyeruput kembali minuman yang ia pesan dan sesekali menatap luar restoran yang terlihat mulai ramai.
***
“Bagaimana rapat kali ini, Va?” tanya Daiyan dengan wajah berseri-seri.
“Memuaskan, Yan. Gue nggak nyangka lo bisa telak mengalahkan Si Buncit Yuan itu,” jawab Valeeqa sinis. Bibirnya tersungging senyuman miring yang mengejek.
“Tapi, gue masih nggak yakin, Va. Apa lo nggak curiga sama Yuan yang akan balas dendam sama kita?” Daiyan yang awalnya bersandar di kursi kantor berubah mencondongkan tubuhnya menatap Valeeqa yang terduduk santai.
Sejenak Valeeqa memainkan jari-jari lentiknya tanda tak acuh. “Kalau pun dia balas dendam mungkin bukan sekarang. Karena sekarang pasti dia lagi mecatin para karyawannya itu demi melampiaskan amarah. Lo tahu sendiri kan gimana sombongnya dia?”
Daiyan mengangguk pelan sambil menautkan jari-jarinya.
“Eh, tapi Yan,” celetuk Valeeqa tiba-tiba.
“Apa?”
“Feeling gue mengatakan kalau Yuan itu bakal balas dendam dalam waktu dekat. Kayaknya lo harus jaga-jaga deh selama tender ini naik dan peluncuran.”
“Dia mau main kotor lagi sama gue?”
“Bukan begitu, Yan,” sanggah Valeeqa cepat. “Ada hal aneh selama kita selesai rapat tadi. Lo lihat nggak sih beberapa orang yang ada di luar tadi? Apa lo nggak curiga kalau itu orang-orangnya Yuan?”
“Iya juga sih gue tadi sempat memikirkan itu, tapi yang nggak masuk akalnya adalah kenapa Yuan bisa benci banget sama gue.”
“Karena lo selalu hoki, jerk!”
“Mungkin.”
Ketika keduanya asik berbincang tiba-tiba Covey masuk dengan wajah datar. Wanita anggun itu memang selalu memasang wajah tanpa ekspresi sama sekali. Hanya tatapannya yang terlihat ramah, namun tidak dengan bibirnya yang terkunci rapat.
Daiyan yang sudah terbiasa akan hal itu hanya diam dan memperhatikan apa yang tengah dibawa oleh Covey.
Sebuah amplop kecil terulur di hadapan Daiyan. Valeeqa pun tidak segan menyembunyikan rasa penasarannya.
“Dari siapa?” tanya Valeeqa sambil menatap Covey yang hanya melirik dirinya sekilas, lalu kembali memandang lurus ke depan, tanpa menatap wajah Daiyan sedikit pun.
“Orang suruhan Yuan datang,” jawab Covey singkat.
Tentu saja Daiyan tidak bisa menyembunyikan wajah keterkejutannya. Mata sipit itu mengerjap pelan menatap sebuah amplop kecil yang terlihat sangat rapi. Ini bukan perihal amplopnya, melainkan isi dan tujuan Yuan memberikan amplop ini padanya.
Sangat tidak mungkin jika Yuan memberikan sesuatu tanpa menginginkan sesuatu lagi. Daiyan sangat-sangat mengerti akan sifat dari salah satu kolega bisnisnya. Apalagi kali ini salah satu properti rumah yang tengah diluncurkannya mulai disetujui salah satu investor. Hal yang sangat dibenci Yuan adalah ketika melihat kesuksesan orang lain.
Padahal itu adalah penyakit hati yang harus dihilangkan. Penyebabnya memang selalu membuat orang bertanya-tanya, tetapi akibat dari penyakit itulah hal yang sangat fatal. Karena setiap orang yang mempunyai penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong. Pasti tidak akan merasa sejahtera semasa hidupnya.
Melainkan, orang itu akan selalu dipenuhi rasa cemas dan kekhawatiran yang berlebihan hanya karena melihat kesuksesan orang lain.
“Ngapain Si Buncit Yuan itu ngasih beginian?” celetuk Valeeqa yang mendapat perhatian dari Covey.
Wanita anggun yang sejak tadi masuk ruangan itu memang tidak beranjak sedikit pun, sebab ia adalah pengawas dari segala kegiatan yang berurusan di perusahaan. Apalagi kali ini perusahaan Danadyaksa Group sedang mendapatkan tender yang sangat besar, membuat Covey harus mengawasinya dengan hati-hati.
Tanpa pikir panjang Daiyan mulai membuka amplop tersebut. Tidak ada apa pun selain secarik kertas putih yang terlipat rapi. Covey dan Valeeqa kompak memajukan tubuhnya meneliti isi dari kertas tersebut.
Sebuah tinta hitam yang tergores rapi. Ini bukanlah ketikkan mesin, melainkan tulisan tangan yang tidak Daiyan ketahui milik siapa, sebab Yuan yang sangat angkuh itu tidak akan melelahkan tangannya hanya untuk menulis secarik kertas yang jelas-jelas untuk musuh bisnisnya sendiri.
“Matahari akan tenggelam. Sang senja mulai merangkak naik seiring kentalnya cairan merah yang mengalir. Kala itu dunia akan meredupkan sinarnya,” ucap Daiyan membaca sederet kalimat yang tertulis rapi.
Valeeqa menyambar kertas yang baru saja dibaca Daiyan dengan tidak sopan. Lalu, mulai mengikuti deretan kalimat yang penuh makna. Namun, yang menjadi perhatian Valeeqa adalah ada sederet angka lagi di pojok kertas. Samar-samar angka tersebut terdiri dari 4 digit.
“Empat, empat, empat, empat.” Tatapan Valeeqa beralih pada Covey yang berkerut bingung.
Covey menggeleng pelan. Wajahnya tampak seperti berpikir keras. Bukan untuk memecahkan teka-teki itu, melainkan untuk menjatuhkan orang yang selama ini ia incar.