Setelah mendapat surat tersebut perasaan Daiyan menjadi tidak tenang. Berkali-kali ia melangkah ke sana dan kemari hanya untuk meringankan perasaannya sendiri. Tetapi, rasa cemas dan takut itu seakan menempel bagaikan sebuah perekat yang tidak bisa hilang dari dirinya.
Apalagi semenjak Valeeqa memutuskan untuk melenggang dari ruangannya dan Covey kembali mengawasi seperti biasa. Kedua wanita yang terpaut jauh itu seakan ingin memberi ruang untuk Daiyan berpikir apa yang akan dilakukannya nanti, maju atau tetap diam di tempat.
Namun, berkali-kali Daiyan menghela napas sambil mengitari seisi ruangannya, rasa cemas itu malah semakin menggunung. Bertumpuk-tumpuk menjadi satu hingga sedikit menyesakkan dirinya.
Terlintas di benaknya mengingat bahwa Scarlett ada di sini. Daiyan langsung buru-buru keluar dari ruangan. Tak lupa ia menyambar jas yang tergeletak di atas meja. Ia keluar dengan tergesa-gesa membuat Covey hampir saja mencegahnya, tetapi naas gerakannya kalah cepat dengan gerakan Daiyan yang sudah melesat hingga memasuki evalator.
Covey mendesis kesal melihat evalator yang dinaiki Daiyan mulau mengerjakan tugasnya. Wanita anggun itu bahkan menghentakkan kakinya kesal yang menimbukkan suara nyaring dan kuat dalam bersamaan.
Sementara di dalam evalator, Daiyan berkali-kali menghubungi Valeeqa. Tetapi, tak satu pun panggilan diangkat oleh sekretarisnya itu. pikiran Daiyan mulai tidak karuan saat menyadari bahwa Fairel sedang tidak ada di kantor.
“Gak pernah gitu ya lo ada di kantor saat genting seperti ini?” gerutu Daiyan kesal.
Beberapa staf yang menyapa dirinya pun ia abaikan. Lelaki gagah itu tetap melangkah lurus tanpa menolehkan wajahnya barang seinchi saja. Bahkan Valeeqa yang sejak tadi dicari pun menatap Daiyan bingung.
Namun, wanita itu tersadar dengan apa yang telah dilihatnya tadi. Itu adalah Daiyan. Pasti lelaki itu telah mencari dirinya hingga menyusul di kantor Fairel seperti ini.
Dengan berlari kecil, Valeeqa mulai menyusul Daiyan yang melangkah ke arah basement. Walaupun kesusahan mengejar Daiyan, Valeeqa tidak mudah putus asa. Bahkan ia mencopot high heels-nya agar memudahkan dirinya berlari.
Merasa ada seseorang yang memanggilnya, Daiyan pun menghentikan langkah dan menoleh ke arah belakang yang terlihat seperti Valeeqa.
Dahi Daiyan mengerut bingung. Karena silaunya matahari ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah wanita itu, hanya saja ia seperti mengenali postur tubuh dan cara berpakaian wanita itu.
“Daiyan!” panggil Valeeqa dengan suara terengah-engah.
“Lo ngapan di sini? Tadi gue cariin di kantor nggak ada,” ujar Daiyan sedikit kesal, lalu menuntun Valeeqa ke arah mobilnya.
Tangan mungil Valeeqa menjitak kepala Daiyan pelan, lalu menggeram marah. “Lo pasti lupa kalau hari ini gue pindah tugas menjadi sekretaris Fairel.”
Seperti tersadar apa yang telah diucapkan oleh Valeeqa, Daiyan pun meringis malu. Bagaimana bisa ia lupa terhadap pekerjaan Valeeqa yang menjadi sekretaris dirinya dan Fairel. Padahal dirinya tidak pernah seceroboh ini sampai melupakan keberadaan Valeeqa yang selalu ada di kantor Fairel ketika waktu luang.
Tanpa sadar Daiyan mulai terhanyut dalam lamunannya sendiri. Ia merutuki kecerobohannya yang sampai melupakan bahwa Valeeqa memang bukanlah sekeretaris dirinya, melainkan milik Fairel pula.
“Yan,” panggil Valeeqa mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Daiyan.
Mata sipit Daiyan mengerjap pelan, lalu menatap Valeeqa dengan wajah yang sulit diartikan, membuat jantung Valeeqa berdetak tak beraturan. Padahal biasanya tidak seperti ini.
Napas Valeeqa terkecekat kala Daiyan tiba-tiba memeluk dirinya. Sebuah pelukan erat yang membuat jantungnya meronta-ronta keluar. Dengan gerakan kaku Valeeqa membalas pelukan Daiyan yang kian mengerat. Entah kenapa sikap lelaki itu berbeda dari biasanya.
Adegan pelukan itu tak luput dari tatapan Fairel. Lelaki muda dengan gelar Danadyaksa itu menatap kakaknya bingung. Apalagi Daiyan tidak pernah berdekatan dengan perempuan selain Valeeqa yang notabenenya adalah sekretaris pribadinya sendiri.
Parveen pun ikutan tak mengerti melihat kejadian yang ada di depannya. Ia hanya mengikuti tatapan Fairel yang terpaku melihat kedua orang saling berpelukan. Ia merasa tidak asing dengan postur tubuh keduanya.
Fairel berdehem pelan, lalu melangkah mendekati Daiyan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan. “Kalian pacaran?” tanya Fairel sambil memincingkan matanya sinis.
Daiyan sontak melepaskan pelukannya, lalu menatap Fairel dengan terkejut. Bukan karena tertangkap basah, melainkan ia kesal karena telah mencari adiknya itu hingga hampir saja bunuh diri dari ruangannya sendiri.
Daiyan melangkah mendekati Fairel dengan jemari yang bertaut dengan milik Valeeqa. “Dari mana lo? Gue cariin dari tadi,” sinisnya menatap Fairel kesal.
“Gue ada rapat tadi, kenapa memangnya?” Fairel bertanya balik pada Daiyan dengan tatapan yang tak lepas dari mata kakak laki-lakinya itu.
“Bukannya gue bilang sama lo kalau sehabis rapat di luar itu langsung pulang,” balas Daiyan kesal, namun tatapannya lepas dari Fairel kala Valeeqa menegurnya lewat genggaman tangan.
“Apaan sih, Bang. Gue memimpin perusahaan itu bukan satu tahun atau dua tahun. Lo kenapa masih menganggap gue anak kecil? Apa yang membuat lo sebegitu takutnya tahu gue di luar,” ujar Fairel penasaran.
Daiyan menggeleng pelan. “Lo balik aja dulu. Nanti kita bicarain ini di rumah.”
Valeeqa seakan mengerti situasi pun menyahut, “Rel, berkas lo udah gue siapin di meja. Kata Bibi Scarlett lo punya sekretaris baru, ya?”
Fairel mengangguk pelan, lalu menatap seorang gadis mungil yang terdiam kaku di belakangnya. Seakan mengerti kode dari bos besarnya itu, Parveen tersenyum menatap Valeeqa yang terkejut. Ia tahu pasti wanita anggun itu menyadari bahwa dirinyalah yang pagi tadi terjatuh mengenaskan di lobi kantor.
Dengan memasang wajah tebal, Parveen mengulurkan tangan tanpa melunturkan senyumannya. “Parveen Qasrina Tsabitah.”
Wajah Valeeqa yang awalnya terkejut pun mulai tersenyum lebar dan menyambut uluran tangan Parveen dengan ramah. “Valeeqa Uthailah.”
“Lo cewek yang tadi jatuh di lobi, bukan?” tanya Daiyan yang sedari tadi hanya meneliti wajah Parveen yang terlihat tidak asing.
Parveen menatap Daiyan dengan wajah memerah. “Iya, Pak.”
Seketika Valeeqa tertawa keras sekali hingga bahunya terguncang kecil. Waniat anggun yang awalnya Parveen pikir adalah wanita yang sangat menjaga image, langsung berubah total saat Parveen menyadari bahwa Valeeqa tidak anggun seperti wajahnya.
“Santai kali, Kak. Lo menakutkan bagi sekretaris gue,” celetuk Fairel tidak sopan.
“Yeeeh, Si Bhambank! Gue cuma lucu aja bisa ketemu cewek ini lagi,” sahut Valeeqa kesal.
“Sombong lo punya sekretaris baru.” Kali ini Daiyan tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya melihat wajah sumringah Fairel yang baru saja mendapatkan sekretaris baru.
Parveen yang merasa dipuji pun mulai menciut. Ia bahkan berharap bisa lenyap saat itu juga. Apalagi saat berhadapan dengan Daiyan yang jelas-jelas lelaki penyelamat hidupnya tadi. Sebenarnya, Parveen sudah tidak ada wajah lagi untuk ia sembunyikan, sebab Daiyan dengan ringannya mengatakan bahwa ia terjatuh di lobi tadi.
Untung saja Fairel tidak memedulikan perkataan kakaknya. Alhasil setelah berbincang sebentar, ia dan bos besarnya itu mulai memasuki pintu kantor dan bergegas menuju ke ruangan Fairel. Karena hari ini tender yang baru saja dimenangkan Daiyan akan diluncurkan secepat mungkin.
Parveen yang baru saja terjun di dunia bisnis pun sedikit kesulitan. Akan tetapi, berkat ketelatenan Fairel saat mengajarinya, dengan mudah Parveen bisa menguasainya dalam beberapa percobaan saja.
Kali ini gadis mungil itu mengerjakan semua tugasnya di ruangan Fairel, karena ia takut kalau kembali ke ruangan akan menyulitkan dirinya saat ada yang tidak mengerti. Jika dirinya tetap di sini itu memungkinkan untuk bisa bertanya dengan leluasa. Apalagi Fairel mengerjakan pekerjaannya sambil memantau.
Membaca sederetan kalimat asing tak semudah ketika Parveen mengetik naskah. Sebab, ada beberapa kata yang jenisnya digunakan oleh para pebisnis, dan ia baru saja mengetahui itu dari Fairel.
Sedikit banyak Parveen sudah mulai menguasai pekerjaannya seiring dengan senyuman puas dari Fairel. Awalnya gadis mungil itu mengira bahwa Fairel ada sesosok lelaki berwajah dingin dan menyebalkan yang tega mengabaikan dirinya saat di tengah gerimis kala itu.
Namun, Parveen baru menyadari bahwa Fairel memang lelaki menyebalkan. Bahkan dengan Valeeqa yang jelas-jelas lebih tua dari dirinya Fairel dengan mudah melontarkan kata-kata pedasnya. Untung saja Valeeqa tidak mempermasalahkan itu semua.
Tanpa sadar Parveen menatap kertasnya begitu lama, membuat Fairel menatap gadis mungil itu penasaran. Sudah sejak tadi dirinya menatap Parveen, tetapi tidak ada satu pun pergerakan dari gadis itu, selain menunduk menatap sederetan kalimat yang terkadang membuat dirinya pusing seketika.
“Ve,” panggil Fairel pelan.
Namun, tidak ada jawaban dari Parveen. Gadis mungil itu tetap setia menundukkan kepalanya.
“Parveen,” panggil Fairel lagi, kali ini dengan suara yang cukup meninggi.
Dan lagi-lagi tidak ada jawaban dari Parveen. Tentu saja hal itu membuat Fairel sedikit gemas. Ia pun bangkit sambil meneliti pekerjaan Parveen yang hampir selesai. Dirinya cukup terkesima atas apa yang telah Parveen kerjakan hari ini.
Parveen terbilang karyawan baru yang memulai kerja di sini. Skill dalam bisnisnya pun sempat Fairel ragukan saat lelaki itu membaca riwayat pendidikan Parveen yang baru saja menyelesaikan magangnya di instansi negara.
Merasa puas dengan apa yang telah Parveen kerjakan, Fairel pun berjongkok tepat di samping Parveen. Mata gadis itu tidak tertutup, tetapi tidak ada pergerakan di sana. Lelaki gagah yang biasanya tidak peduli dengan perempuan mulai merasa penasaran dengan Parveen.
“Parveen,” panggil Fairel pelan dengan tepukan di bahu mungil milik Parveen.
Bahu Parveen tersentak kecil saat Fairel menepuknya pelan. Ia sedang melamun tadi sehingga tidak sadar bahwa tepat di sampinya ada Fairel yang bersimpuh bagaikan seorang laki-laki gentle. Perasaan Parveen sedikit tidak menentu dan mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan Fairel.
“Ada apa, Pak?” tanya Parveen sambil menepikan dudukkannya ke arah samping, demi menyisakan ruang untuk Fairel duduk di sampingnya.
Mengerti akan kode Parveen, Fairel pun bangkit dan mendudukkan diri di samping gadis mungil yang kembali menekuni kertas-kertas dengan serentetan kalimat. Wajah Parveen terlihat sangat serius membuat Fairel menatapnya jengah.
“Sudah, tidak usah dikerjakan lagi. Hari ini kamu kerja cukup banyak. Biar besok lagi dikerjakannya,” ujar Fairel sambil memunguti kertas-kertas yang telah Parveen selesaikan.
Melihat tangan Fairel yang mulai memunguti kertas-kertasnya, Parveen pun panik. “Pak!!! Ini ada yang belum dikerjakan. Aduh.” Parveen menepuk dahinya pelan. Ia mulai merutuki Fairel dalam hati.
Seakan tidak mendengar apa yang telah dikatakan Parveen, Fairel kembali memunguti kertas-kertasnya. Bahkan dengan sengaja mencampur antara kertas yang sudah dengan yang belum. Membuat mata Parveen mendelik kesal.
“Gue bunuh lo, Pak,” ancam Parveen dengan tatapan horornnya.
“Oh,” sahut Fairel acuh tak acuh.