6. Who Dis?

1393 Words
Sebuah ruangan minimalis menyambut pemandangan Parveen. Terlihat cantik dan elegan disaat yang bersamaan. Ada beberapa arsitektur berukuran sedang dan kecil di lemari tingkat yang terletak di sisi ruangan. Bingkai-bingkai jendela menyambut pemandangan hijau pada taman kecil yang terletak tepat di samping ruangan Parveen, meskipun hanya dibatasi jendela dan kaca yang nampak sangat cantik. Sementara itu, mejanya terletak di tengan-tengah ruangan yang membentuk huruf ‘U’. Parveen sempat mengira bahwa ruangannya ini telah dikelola oleh penata ruangan yang sangat andal, sebab gaya furniture dan arsitekturnya terlihat sangat pas dan tidak perlu diubah-ubah kembali. Walaupun hanya menggeser sedikit sofa kecil yang ada di pojok ruangan. Tanpa sadar Parveen terus berdecak kagum mengamati ruangan yang akan menjadi tempat dirinya bekerja. Tidak buruk, malah sangat memuaskan. Tidak pernah Parveen mendapat ruangan sangat cantik seperti ini. “Ini akan menjadi ruangan kamu. Di sana ada kamar kecil yang bisa kamu gunain untuk singgah sementara. Walaupuan saya tidak pernah menyarankan kamu untuk menginap di kantor. Karena setiap malam kantor ini akan ada satpam yang berpatroli. Saya takut kalau mereka menyangka kamu adalah maling. Jadi, saya sarankan untuk tidak menginap di kantor beberapa waktu. Paham?” papar Fairel tegas. “Tidak masalah, Pak. Begini pun sudah sangat baik bagi saya,” balas Parveen tersenyum senang. Matanya berbinar ceria sambil melangkah pelan, mendekati lemari tingkat dengan beberapa tanaman hidup yang menarik perhatiannya. “Kalau begitu saya pergi dulu. Jangan lupa siang ini saya ada rapat dan kamu harus ikut dengan saya,” titah Fairel tidak seperti meminta, melainkan seperti menekankan bahwa dirinya harus ikut, tidak boleh tidak. “Saya tidak akan mengecewakan Bapak. Jadi, tenang saja,” sahut Parveen sambil menaikkan satu alisnya dengan bibir yang terus tersungging senyuman ceria. Fairel menggeleng pelan melihat betapa menggemaskannya perempuan ini. Kalau saja ia bukan sesosok lelaki yang menyebalkan di mata Parveen, mungkin dirinya akan bernasib baik menjadi seorang bos dari perempuan polos sekaligus menggemaskan ini. Fairel melenggang pergi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan, lalu menutup pintu ruangan tersebut. Namun, sebelum itu dirinya sempat melihat kembali reaksi Parveen yang begitu berlebihan melihat ruangannya sendiri. “Cewek aneh,” gumam Fairel tersenyum geli sambil melenggang pergi. Sepeninggalnya Fairel, Parveen kembali memastikan bahwa ruangan ini tidak ada siapapun selain dirinya. Semua ruangan di sana tampak kosong dan bersih, seperti tidak berpenghuni. Walaupun begitu, masih ada petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan ini dengan senang hati. Lagi-lagi Parveen memuji keindahan ruangan yang akan menjadi miliknya. Entah mengapa dirinya sangat menyukai semua yang ada di ruangan itu, termasuk seperangkat komputer lengkap dengan printer. Semua nampak rapi dan terlihat jelas bahwa itu sangatlah mahal. Perempuan mungil itu melepaskan ransel kecilnya di atas kursi beroda yang tidak terlalu besar, dan mulai menyibukkan diri dengan membongkar alat internet yang terhubung oleh wifi. Meskipun Parveen tahu bahwa teknisi di sini bukanlah sembarangan orang, tetapi ia juga perlu memastikan bahwa di ruangannya ini tidak ada kendala yang akan menyusahkan dirinya dan orang lain. Dengan skill yang Parveen dapatkan ketika bersekolah di Indonesia, perempuan itu mulai mengangkat sebuah cpu berwarna putih. Lalu, meletakkannya di atas meja kayu yang berukuran kecil di dekat jendela. Tempat yang sangat strategis untuk memeriksa pelaratannya ini. Tak sampai beberapa lama, Parveen pun menyelesaikan pekerjaan kecilnya. Hingga tanpa sadar waktu mulai berjalan cepat dan matahari mulai merangkak naik sambil menyingsingkan sinar terang benderang yang mulai menyipitkan mata memandang. Peluh mulai membasahi kening dan leher jenjang Parveen. Poni tipis itu tampak lembab dengan saling menempel satu sama lain. Bahkan Parveen mencepol rambutnya tinggi-tinggi membuat anak rambut berjatuhan dan memberikan kesan manis terhadap wajah penat Parveen. Tanpa sadar sebuah suara dari intercom terdengar membuat Parveen hampir saja menjatuhkan obeng yang berada di genggamannya. Bibir tipis itu berkerut kesal saat mendapat sebuah telepon yang tidak bergagang menimbulkan suara. Satu hal yag baru Parveen tahu, di perusahaan ini nyatanya tidak menggunakan telepon yang biasa digunakan di berbagai tempat, melainkan menggunakan intercom. Sebuah barang canggih layaknya telepon kabel. Awalnya Parveen tidak mengerti cara memakai intercom ini, tetapi berkat kecerdasan dan penuh percaya diri, akhirnya jemari lentik Parveen menekan sebuah tombol yang berwarna hitam. “Ya, Pak. Ada apa?” tanya Parveen tanpa melepaskan jemarinya pada intercom tersebut. “Siang ini saya ada acara makan siang di luar. Jadi, tolong kamu segera mungkin ke ruangan saya! Jangan asyik sendiri membongkar komputer yang jelas-jelas saya membelinya baru.” Sejenak Parveen merutuki kebodohannya. “Baik, Pak. Saya segera ke ruangan.” “Cepat! Saya tunggu di lobby,” putus Fairel melepaskan jari telunjuknya pada tombol intercom dan kembali mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Setelah intercom terputus, Parveen menepuk dahinya beberapa kali sambil meringis kesal. Bagaimana bisa dirinya lupa bahwa lelaki yang menjadi bos besar ini adalah seorang lelaki tanpa hati. Seharusnya Parveen sadar kalau Fairel bukanlah sesosok laki-laki yang dengan gampangnya memaafkan perempuan. Sepertinya ia menyesal telah menerima tawaran Bibi Scarlett yang menginginkan dirinya untuk bekerja di sini. Kalau saja tidak memikirkan keuangannya dan Bibi Scarlett, mungkin Parveen sudah lari tunggang langgang dari perusahaan yang akan menjadi neraka dunia bagi dirinya sendiri. Tanpa membawa apapun, Parveen melenggang pergi meninggalkan ruangannya. Tentu saja tas beserta barang berharganya telah ia simpan di salah satu lemari kecil yang ada di ruangannya. Sebab, Parveen tahu bahwa ketika dirinya menjadi seorang pengawal sekaligus sekretaris akan tidak nyaman jika membawa barang selain keperluan perusahaan. Parveen sedikit berlari menuju evalator. Sneakers yang masih membaluti kaki mungilnya bersuara ketukan pelan dengan lantai keramik berwarna cokelat terang. Dengan napas tak beraturan, Parveen memasuki evalator yang kebetulan kosong. Tubuhnya luruh saat kotak logam itu mulai membawanya turun dengan perlahan. Sesaat ia bisa bernapas lega saat mendapati tubuh bos besarnya tengah menghadap ke arah pintu masuk sambil menempelkan sebuah benda pipih yang berwarna hitam. Mata perempuan mungil itu mengitari seisi lobby yang berisikan segelintir orang berpakaian rapi dan formal. Sederet orang-orang berpakaian formal nampak menyapa Fairel yang hanya dijawab anggukan. Hati Parveen berdecih kesal melihat keangkuhan Fairel. Padahal lelaki itu bisa saja menjawabnya selain dengan anggukan, bahkan ada pula yang diabaikannya. Mungkin kalau Parveen yang menjadi mereka, sudah tidak sudi lagi menyapa bos angkuh itu. Fairel membalikkan tubuhnya dan mendapati Parveen yang sibuk mengamati sekitar. Dalam hatinya sedikit jengkel melihat betapa santainya perempuan itu disaat ia sedang menunggu seperti ini. “Masih lama?” celetuk Fairel tepat di telinga Parveen. Sontak Parveen menjauhkan tubuhnya dan menatap horror pada Fairel yang berwajah datar. “Bapak mengejutkan saya saja.” Tanpa memperdulikan perkataan Parveen, Fairel melenggang pergi sambil menggeleng pelan. Sudah cukup dirinya dipermainkan oleh perempuan itu. “Gue bakal buat perhitungan sama lo, Gadis Kecil,” tekan Fairel sambil tersenyum devil. Di dalam otak pintarnya telah tersusun rapi rencana yang akan ia wujudkan nanti. Biarlah Parveen merasakan kesenangannya dahulu, sebab nanti Fairel yakin perempuan itu tidak akan bisa tersenyum lagi. Sementara Parveen memandangi punggung Fairel dengan tatapan sinis. Semena-mena sekali lelaki itu terhadapnya. Meskipun ia akui bahwa lelaki itu berkuasa dan mampu mengatur segalanya, tetapi jika di luar kantor seperti ini Fairel harus menurutinya. *** “Va,” panggil Daiyan pelan. Valeeqa mengentikan kegiatan membacanya sejenak, lalu merapikan kembali kertas-kertas yang bertumpuk lumayan tinggi. Bahkan hampir menutupi wajahnya. “Kenapa, Yan?” tanya Valeeqa dengan nada yang cukup santai. Kedua rekan kerja itu berbincang dengan mengesampingkan pekerjaan mereka. Terdengar dari cara bicara Daiyan yang memanggil Valeeqa tanpa title sebagai sekretaris. “Gue kok nggak pernah lihat cewek tadi, ya?” gumam Daiyan dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih. Kali ini lelaki itu tidak menggunakan bahasa Mandarin yang biasa digunakan sehari-hari. “Oh, yang tadi lo tolongin itu?” sahut Valeeqa dengan bahasa Indonesia yang sama fasihnya dengan Daiyan. Kedua rekan kerja itu kebetulan berasal dari negara yang sama. Sebab, Daiyan dan Valeeqa adalah teman se-universitas. Meskipun keduanya jarang bertemu, tetapi di sinilah mereka dipertemukan. Dengan jalan kerja yang Daiyan tawarkan pada perempuan anggung itu. “Menurut lo dia siapa?” tanya Daiyan penasaran. Valeeqa menyangga kepalanya dengan telapak tangan kanan sambil menerawang jauh. “Setahu gue, Tante Scarlett merekrut karyawan baru buat Fairel.” “Jadi, cewek itu yang mau Mom gue rekrut jadi karyawan baru?!” sentak Daiyan dengan wajah yang sangat terkejut. Seketika Valeeqa menegakkan tubuhnya dan memandangi Daiyan dengan dahi berkerut bingung. “Histeris banget. Ada apa sih sama lo, Yan?” Daiyan menggeleng pelan. “Gue cuma terkejut aja.” “Dasar.” Valeeqa memutar bola matanya malas, mengabaikan tawa kecil Daiyan yang terdengar di telinganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD