5. Big Bosses

1244 Words
Parveen terpaku melihat sesosok lelaki gagah yang menjulang tinggi dengan tangan menggantung layaknya hendak meraih  handle pintu. Wajahnya terlihat datar dan tidak bereaksi sama seperti dirinya. Bahkan air wajahnya tidak terlihat kerutan sedikit pun. Hanya wajah yang nyaris sempurna. Sementara Scarlett menatap tajam anak kesayangannya itu. Wajahnya terlihat lebih horror, karena ia tahu bahwa kali ini Fairel akan melarikan diri seperti yang sudah-sudah. “Mau ke mana?” tanya Scarlett tersenyum simpul menatap wajah kaku Fairel. Seketika Fairel tersadar bahwa perempuan mungil yang berdiri di belakang mommy-nya adalah perempuan yang sempat bertengkar pasal payung kemarin. Sedikit tidak percaya melihat kehadiran perempuan itu bersama mommy-nya yang jelas-jelas baru tiba di sini kemarin. “Mommy? Ada apa? Abang udah pergi barusan,” celetuk Fairel beruntun membuat Scarlett menatap anak kesayangannya itu gemas. “Mommy ke sini bukan mau ketemu Daiyan, tapi kamu sendiri,” jawab Scarlett melenggang masuk. Fairel menatap Scarlett dengan wajah bingungnya, lalu menoleh ke arah Parveen yang sejak tadi menundukkan kepala. Sepertinya perempuan itu bertingkah layaknya seorang narapidana yang akan di hukum mati. Senyum kecil terbit di bibir Scarlett saat mendapati Fairel menatap Parveen yang pandangan yang sulit diartikan. Bukannya ia sebagai orang tua tidak suka anaknya berhubungan dengan seorang perempuan, tetapi melihat Fairel adalah tipikal laki-laki yang tidak peduli, justru membuat hatinya berbunga-bunga. Ia sangat berharap agar Parveen memiliki perasaan ada anaknya itu. “Fairel, ajak Parveen masuk dong. Masa Mommy interview di luar,” ucap Scarlett pura-pura merajuk. Sontak Fairel meraih pergelangan tangan milik Parveen dengan gerakan spontan. Bahkan dirinya sendiri tidak sadar telah menggandeng pergelangan tangan kecil itu. Terasa sangat pas dalam genggaman tangan besarnya. Entah kenapa perasaan Fairel diliputi rasa gugup yang besar. Telapak tangannya bersentuhan dengan kulit putih bersih dan mulus milik Parveen adalah efek terbesar bagi dirinya. Apalagi kini dirinyalah yang menggandeng Parveen. Scarlett berpura-pura tidak melihat kejadian tersebut dan memilih sibuk membaca beberapa tumpuk kertas yang nyatanya sangat tidak menarik untuk di baca. Itu adalah pekerjaan Alley, mantan sekretaris pribadi Fairel sekaligus tunangannya. Mengingat hal tersebut adalah yang tak pernah terlintas di pikiran Scarlett setelah tahu perbuatan busuk perempuan itu. “Mommy kenapa sih harus cari karyawan baru. Padahal aku bisa handle semua pekerjaan ini sendiri,” protes Fairel yang mulai tersadar bahwa kehadiran Parveen bukan hanya semata-mata untuk menemani mommy-nya saja, melainkan untuk mencari karyawan baru. Menggantikan pekerjaan yang saat ini membuat dirinya sedikit lupa waktu. “Mom itu mau meringankan pekerjaan kamu aja. Lagi pula, Parveen ini perempuan hebat. Kamu jangan lupa ya sama cerita Mommy yang semalam,” balas Scarlett menatap Fairel dengan tegas. “Tapi, Mom ...,” ucap Fairel dengan wajah memelas, dan terhenti saat Scarlett mengangkat telapak tangan kanannya pertanda beliau tidak ingin mendengar apapun. “Mom ke sini bukan untuk bernegosiasi, melainkan untuk memperkenalkan karyawan baru yang akan membantu pekerjaan kamu selama di kantor. Oh ya, Parveen ini jago bela diri, jadi kamu tidak usah khawatir. Yang ada kamu malah dilindungin sama dia,” papar Scarlett dengan memutar bola matanya malas. Sejenak Fairel menatap Parveen yang sesekali menoleh ke arah dirinya dan mommy. Perempuan mungil itu memang terlihat berbeda dengan perempuan lain. Entah pakaian yang dikenakan atau memang Parveen mempunyai pancaran tersendiri di dalam dirinya. Melihat pakaian Parveen yang terlihat unik, senyum kecil Fairel terbit. Ia sedikit geli melihat betapa mungilnya perempuan ini. Mungkin sangat tidak menyangka bahwa perempuan itu sudah dewasa. Tetapi, Fairel tidak percaya bahwa Parveen adalah perempuan yang berusia delapan belas tahun. Sebab, wajahnya dan cara berpakaiannya pun sama seperti anak kecil. Setelah lama mengagumi kecantikan Parveen, Fairel pun mengangguk lesu. Tidak buruk merekrut Parveen untuk menjadi partner dirinya dalam memutuskan semua keputusan kantor. Sebab, dari wajahnya saja Fairel sudah bisa menilai bahwa perempuan ini sangatlah cerdas, meskipun terlihat polos dan menggemaskan. “Bagus,” ucap Mommy puas dengan mata yang berbinar ceria. Kali ini Fairel harus menuruti permintaan mommy-nya agar tidak lagi pulang larut malam dan merepotkan Valeeqa yang notabenenya sekretaris Daiyan. Scarlett menoleh ke arah Parveen sambil tersenyum. “Parveen, mulai sekarang kamu bekerja sama Fairel dan mulai sekarang kamu jangan panggil ‘Bibi’ lagi, tapi Tante aja udah cukup kok.” Parveen tersenyum lebar dan mengangguk. “Baik, Tante.” “Oke, kalau begitu Mom pergi dulu,” pamit Scarlett sambil buru-buru melenggang pergi, membuat Fairel mengerutkan dahinya bingung. Sementara Parveen yang hendak berbicara buru-buru mengantupkan kembali bibirnya dan menatap punggung Scarlett. Wanita paruh baya itu tergesa-gesa dalam langkahnya, walaupun berkali-kali Parveen mengingatkan untuk berhati-hati agar tidak tersandung. Setelah mengamati kepergian Scarlett, Fairel dan Parveen terdiam membisu. Kedua anak manusia itu tidak tahu harus berbuat apa sampai tiba-tiba Parveen membuka suara. “Nama saya, Parveen Qasrina Tsabitah,” ujar Parveen memperkenalkan diri sambil memberikan sebuah map cokelat yang terlihat sedikit kusut akibat kejadian di lobby tadi. Fairel meraih map tersebut dan menatapnya sebentar, lalu mengangguk pelan dan mempersilahkan untuk Parveen duduk di kursi yang ada di hadapannya. Sejenak Fairel terlihat tenggelam dalam kegiatan membacanya. Membuat Parveen menguap bosan sambil sesekali melirik wajah Fairel yang terlihat sedikit tampan. Tidak tampan seluruhnya, sebab kejadian kemarin masih terlintas di pikirannya. Tentu saja ia kesal terhadap Fairel yang sangat menyebalkan. Bagaimana bisa lelaki itu tidak merasa bersalah pada kedua perempuan yang terlihat kasihan di tengah gerimis melanda. Parveen menghela napas panjang. Dadanya bergemuruh kesal saat mengingat kejadian kemarin, jemarinya terkepal kuat seiring bibirnya menipis kesal. Menatap Fairel dengan tatapan yang menyimpan dendam. Tentu saja Parveen melakukan itu hanya semata-mata saat Fairel tidak menatapnya pula, sebab dirinya masih membutuhkan uang dan tidak akan mencari masalah sebelum uangnya terkumpul banyak dan bisa melanjutkan kehidupan Erina yang sesungguhnya. Tak sampai beberapa lama, Fairel mengangkat wajahnya dan menatap Parveen dengan tatapan datar. Tidak berkomentar apapun membuat perempuan mungil itu sangat penasaran. Apalagi ditambah sikap Fairel yang cukup misterius. “Jadi, gimana?” tanya Parveen dengan nada tak sabaran. Fairel menegakkan tubuhnya, lalu menatap Parveen dalam diam. “Kemampuan bela diri lo tinggi juga.” “Tidak juga, Pak. Saya hanya menjalankan pelajaran yang diajarkan,” balas Parveen rendah hati. Memang setelah dirinya lulus sekolah, berkali-kali sang pelatih meyakinkan untuk menjadi atlit saja. Tetapi, urusan Erina bukanlah hal yang sepele. Alhasil ia harus mengubur mimpi-mimpi itu bersama semua kenangan yang dirinya rasakan. “Tidak. Saya merasa bahwa nilai-nilai kamu memang cukup baik, apalagi saya terkesan dengan bidang komputer yang ternyata jurusan kamu sewaktu sekolah. Namun, itu semua berbanding terbalik dengan nilai karate kamu yang cukup untuk menjadi atlit,” sanggah Fairel sambil meletakkan lembaran kertas yang ada di tangannya di atas meja. “Terima kasih atas pujian, Bapak.” Parveen tersenyum tulus sambil mengangguk singkat. Fairel terpana melihat kecantikan Parveen ketika perempuan itu tersenyum. Sangat berbeda ketika perempuan itu tengah memandanginya sambil mengepal kesal tadi. Meskipun Fairel tidak meliriknya, tetapi ia tahu bahwa Parveen ini sangat membenci dirinya. Sebab, masalah di café memang membuat dirinya sedikit merasa bersalah dengan membiarkan kedua perempuan itu melangkah di tengah gerimis deras. “Kalau begitu, saya setuju kamu menjadi pengawal saya selama rapat di luar nanti. Selamat!” ucap Fairel tersenyum ramah dan bangkit sambil mengulurkan tangan kananya yang disambut ramah oleh Parven. “Terima kasih, Pak.” Telapak tangan mulus Parveen bersentuhan dengan telapak tangan besar milik Fairel. Ada sebuah getaran kala perempuan itu menyentuh telapak tangan lelaki gagah di hadapannya. Siapa sangka laki-laki yang membuatnya kesal kemarin adalah bos besarnya yang kaya rasa. Mempunyai beberapa aset properti yang hasilnya bahkan bisa membuat orang tersebut dibanjiri oleh uang. Namun, perusahaan Fairel kebetulan bergerak di bidang teknologi, hal yang sangat mendukung kemampuan Parveen untuk berpikir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD