Gedung tingkat belasan lantai itu nampak melengkung dibagian puncaknya. Memanjakan setiap mata memandang. Corak-corak yang gemerlap begitu menakjubkan saat matahari tersenyum menyinarinya.
Siang ini Parveen menggunakan pakaian casual. Sebenarnya ia telah mengganti banyak pakaian, tetapi tidak ada yang cocok untuk pergi ke kantor. Semua pakaian perempuan berwajah imut itu tidak lain tidak bukan adalah kaus.
Dengan mengenakan kemeja flannel berwarna hitam-putih dan celana jeans putih serta sneakers putih, seorang Parveen Qasrina Tsabitah siap untuk melamar pekerjaan yang akan menyokong dirinya hidup di negara ini.
Parveen memasuki gedung tersebut dengan wajah cerianya, menatap seluruh karyawan yang asyik bergurau di sekitar kantor. Double pintu itu terbuka otomatis membuat Parveen laki-laki berdecak kagum.
Bagaimana bisa ia akan bekerja di kantor semewah ini? Hal yang tak pernah Parveen bayangkan sebelumnya. Dirinya malah berpikiran bekerja di salah satu kantor ilegal, karena pada saat melihat situsnya kemarin, tidak ada satu pun informasi, selain alamat yang saat ini ia tuju.
Mata kecilnya mengitari setiap interior klasik yang terpampang di lobby. Beberapa anak tangga nampak melingkar cantik anggun, lukisan-lukisan kuno menghiasi seluruh dinding putih polos tersebut.
“Gila! Ini hotel apa kantor,” decak Parveen dengan penuh kekaguman.
Tanpa sengaja matanya menangkap sebuah meja panjang yang terletak di samping evalator. Meja berisikan beberapa orang itu nampak berjejer rapi sambil menyibukkan diri dengan mengobrol sesuatu.
“Ni hao,” sapa Parveen tersenyum kecil.
“Ni hao,” balas salah satu resepsionis dengan wajah sedikit western.
“Saya ingin melamar pekerjaan. Apakah masih dibuka?” tanya Parveen sambil menyerahkan map berwarna cokelat.
“Kakak langsung saja ke lantai 17. Di sana nanti ada bos kita. Kakak langsung interview.” Kali ini resepsionis dengan rambut bob yang menjawab pertanyaan dari Parveen sambil menyerahkan sebuah kertas kecil yang bertuliskan “Visitor”.
Wajah keterkejutan Parveen terlihat jelas. Bagaimana bisa kantor sebesar dan semegah ini langsung interview tanpa melalui HRD seperti di perusahaan Indonesia kebanyakan.
Tanpa menunggu lama, Parveen mengangguk singkat dan melangkah ke arah evalator. Arah panah ke atas, dirinya tekan sekali, lalu menunggu tepat di depan pintu sambil sesekali menoleh ke arah resepsionis yang terus menatap dirinya tanpa ekspresi.
Tak lama kemudian, pintu evalator terbuka lebar, menampilkan sesosok lelaki gagah yang nampak asyik mendengarkan penjelasan perempuan anggun yang berkaki jenjang di sampingnya. Mata Parveen lagi-lagi berdecak kagum melihat betapa tampannya lelaki di kantor ini.
Namun, sebuah bahu menabrak punggung kecil Parveen, hingga sang empu sedikit terhuyun. Terjatuh mengenaskan di dalam kantor adalah yang tak pernah sama sekali Parveen Qasrina Tsabitah bayangkan selama hidupnya. Seceroboh apapun ia tidak akan pernah jatuh di tempat keramaian dengan semua mata memandang dirinya rendah.
Hingga sebuah uluran tangan membuat Parveen mematung seketika, ternyata tidak semua manusia di sini berhati batu. Telapak tangan hangat nan besar menyentuh telapak tangan kecil sekaligus kasar milik Parveen.
Perempuan itu belum sadar jika sudah menjadi bahan tontonan seisi kantor. Sebab, ia sibuk membereskan kertas-kertasnya yang bertebaran di lantai. Sementara lelaki di hadapannya hanya sibuk memperhatikan tanpa berniat membantunya lagi. sedangkan perempuan anggun nan cantik yang tadi sibuk berceloteh kini ikut memperhatikan Parveen.
Mata kecil milik Parveen melirik sekilas, ia tahu banyak pasang mata yang menatapnya terkejut sekaligus terjelengar. Apalagi lelaki yang tadi membantunya kini berdiri tepat di belakangnya. Kalau saja dirinya datang ke sini bukan untuk mencari uang, mungkin sudah sejak tadi ia pergi tanpa harus mempermalukan dirinya sendiri.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya lelaki itu memiringkan tubuhnya ke samping kanan, berusaha melihat air muka yang Parveen berikan.
Parveen bangkit dari lantai dan memeluk berkas yang baru saja ia bereskan tadi. Bibirnya tersungging senyuman kecil dan menatap lelaki itu ramah.
“Saya baik-baik saja,” jawab Parveen tanpa melunturkan senyuman ramahnya.
Kepala lelaki itu mengangguk pelan, lalu berbalik tanpa melontarkan sepatah kata pun pada Parveen. Sementara lelaki itu sibuk berbincang dengan perempuan tadi, Parveen menghentakkan kakinya kesal. Lalu, memandang sinis pada orang-orang yang mengejeknya tadi.
Suasana hati Parveen tidak sebaik tadi, di dalam evalator pun ia berkali-kali menendang-nendang pelan dinding logam yang ada di belakangnya. Perempuan itu bersandar tepat menghadap cermin panjang yang berukuran kecil.
Angka digital berwarna merah itu terus berganti seiring kotak logam berukuran kecil naik dari lantai ke lantai. Deretan tombol yang ada di bawahnya ikut berkelip merah.
Di tengah Parveen memuji dan melihat-lihat isi evalator, tiba-tiba pintu evalator terbuka membuat dirinya menegakkan tubuh. Seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah tergesa-gesa. Napasnya sedikit tak beraturan, lalu menekan tombol yang tujuannya sama seperti Parveen.
Mata kecil Parveen menelisik wanita paruh baya yang ada di belakangnya itu sedikit bingung. Ia seperti mengenalnya, tetapi entah dimana. Namun, dari postur dan gaya rambut yang dirinya kenal, itu sangat tidak asing.
Merasa diperhatikan wanita paruh baya itu membalikkan tubuhnya, lalu sedikit terkejut saar mendapati seseorang yang ada di belakangnya. “Parveen?”
“Kita bertemu lagi, Bibi,” ucap Parveen tersenyum riang hingga matanya menyipit seperti bulan sabit.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kabar Si Kecil Erina?” tanya Scarlett tak bisa menyembunyikan wajah antusiasnya.
Tentu saja Parveen tidak merasa terganggu, sebab bibi yang ada di hadapannya ini terlihat periang dan sangat ramah. “Tentu saja aku di sini mencari pekerjaan, Bibi. Kabar Erina hari ini baik-baik saja. Kalau Bibi ingin melihatnya, akan kubawa Gadis Kecil itu.”
“Wah, ide yang bagus. Kau yang ingin melamar pekerjaan itu?”
“Maksud, Bibi?”
“Sebenarnya akulah yang memasang iklan itu di situs web, karena aku takut akan terjadi seperti kemarin. Kalau kau yang ingin melamar, tentu saja akan aku terima dengan senang hati.”
“Tetapi, untuk asisten pribadi, Bibi menginginkannya?”
Scarlett menggeleng sambil tertawa pelan. “Tentu saja bukan untukku, melainkan untuk anakku. Kasihan dia sudah lama bekerja di kantor ini tanpa asisten.”
“Kukira Bibi ingin memiliki asisten,” goda Parveen tertawa geli.
Kedua perempuan berbeda usia itu berbincang cukup asyik hingga tanpa sadar evalator yang dinaiki sudah sampai dan pintu mulai bergerak perlahan.
Scarlett melangkah menyusuri koridor yang diikuti Parveen di belakangnya. Mata kecil itu mengerjap pelan kala melihat keindahan interior supermewah yang ada di sekelilingnya. Berjalan di kantor ini sama saja seperti berjalan di sebuah museum besar yang isinya benda-benda berharga.
Langkah Parveen dicegah oleh seorang wanita dewasa yang memiliki alis cukup tebal. Matanya menelisik setiap sudut pakaian Parveen yang terlihat kusut. Wajahnya yang tegas seakan tidak ingin diremehkan oleh orang lain.
Sejenak Scarlett mengentikan langkahnya dan menatap Parveen yang di hadang oleh Covey. Ia tahu, Covey pasti mencurigakan bahwa Parveen akan mengamuk seperti perempuan lainnya. Karena dari yang dirinya tahu, Covey sering kali menjadi bahan sasaran empuk untuk para penggemar Fairel.
“Covey! Sudahlah itu tamuku, kau jangan seperti itu,” ucap Scarlett memegang lengan kurus yang bertenaga itu dengan lembut.
Covey tersenyum tipis dan menurunkan lengannya dari hadapan Parveen. Meskipun wanita dewasa itu tidak mengucapkan sepatah kata, Parveen tidak ingin mencari masalah apapun dengan Covey. Sebab, dari tatapannya saja sudah menakutkan bagi perempuan mungil yang memeluk erat map cokelat berbenang warna merah.
“Ayo pergi,” ajak Scarlett membuyarkan lamunan Parveen.
“Ayo, Bibi.” Parveen berjalan tepat di belakang Scarlett tanpa ingin menoleh ke belakang. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya sangat ingin menoleh saat itu.
Sementara Covey hanya tersenyum tipis melihat Parveen yang tadi terlihat takut. Tetapi, entah mengapa ia merasa bahwa Parveen berbeda dengan perempuan yang selama ini ia temui. Ada sifat tersembunyi di dalam diri perempuan itu.