“Kenapa kau tidak bisa membiarkanku mati?” tanya Jackson dengan detak jantung yang sudah berdisko, harap-harap cemas. Apalagi tadi Ali mengatakan kalau pria itu akan bunuh diri jika dia mati. Bukankah itu sangat manis? Seakan Ali tidak bisa hidup tanpa dirinya. Dia tidak sadar kalau pikirannya sudah ngelantur gak jelas. “Mengapa kau ingin tahu? Bukankah harusnya kau bersyukur karena memiliki asisten yang rela mengorbankan nyawa untukmu. Seingatku itu ada di kontrak kerja yang kutandatangani.” jawab Ali dan Jackson tidak mengatakan apapun lagi, tapi ekspresi wajahnya terlihat kecewa. Entah apa sebenarnya jawaban yang ingin dia dengar dari Ali? “Atau kau lebih suka aku mengatakan kalau apa yang kulakukan itu karena aku tidak bisa kehilanganmu?” tanya Ali sambil tangannya membelai rahang pe

