Bertemu Bayu

1042 Words
Seorang gadis tengah membuka pintu kostannya. Dia membawa sebuah tas kerja. Sepatu hak tinggi pun dia kenakan. Tak lupa rambut panjangnya yang sedikit berombak ia ikat ekor kuda. Kacamata pun kembali bertengger di hidungnya yang mancung. "Assalamualaikum, Mona," sapa seseorang yang tentu saja membuat gadis itu terlonjak. Mona mendongakkan kepalanya. Di hadapannya kini berdiri sang atasan. Arsen pun tersenyum manis sebagai sapaan pada gadis itu. 'Dia pasti kaget. Eh? I-itu kancingnya ada yang belum dibetulin. Rezeki nomplok,' batin pria itu. Mona kaget mendengar isi kepala CEO-nya. "Mona ... Kancing bajumu," ujar Arsen sembari menunjuk ke arah kemeja Mona. Gadis itu sudah tahu setelah mendengar isi pikiran pria di depannya. Namun, ia tidak menyangka bahwa pria itu akan mengatakannya. Segera saja gadis itu membetulkan kancing bajunya. "Maaf. Nggak bermaksud gitu. Cuma ... dari pada nanti sampai kantor belum dibetulin," jelas Arsen mencoba mencari alasan. Padahal dirinya kembali berpikiran kotor. Mona menggeleng cepat. "Nggak, Pak. Makasih," ucapnya. 'Manisnya ... Lagian aku nggak rela kalau ada orang lain yang lihat,' Pria itu kembali bergumam di dalam hati. "Oh iya. Bapak kenapa ke sini?" tanya Mona yang tak mau mendengarkan pikiran Arsen yang pastinya akan semakin aneh dalam membayangkan tubuhnya. "Aku mau menjemputmu. Kebetulan kita searah. Jadi aku sengaja ke sini," jawab pria itu. 'Walau tak searah pun aku akan tetap ke sini,' batinnya. "O-oh ... Begitu ...." "Ya udah. Ayo kita berangkat! Sebelum jalanan macet," ajak Arsen sembari menarik tangan kanan karyawannya. Mona pun terpaksa menurut dan berjalan di belakang pria itu. Kini Mona kembali terjebak di dalam mobil putih sang CEO me.sum. Gadis itu menjadi tak tenang karena sebentar lagi dirinya akan segera mendengarkan pikiran kotor sang atasan selama di perjalanan. 'Bagus. Misi mengajak berangkat bareng sukses. Dia benar-benar cantik hari ini. Dan tadi aku tak sengaja melihat da.danya yang indah,' batin Arsen sesuai dengan dugaan Mona. Gadis itu spontan menunduk untuk memeriksa kemeja yang ia kenakan. Tangannya pun bergerak untuk menutupi da.danya. Hal ini disadari oleh pria yang siap mengemudikan mobil tersebut. "Ada apa, Mona?" tanya Arsen. Kedua matanya menatap wajah lalu da.da Mona yang ditutupi dengan salah satu tangannya. Gadis itu menggeleng. "Nggak papa, Pak." Segera saja dia menurunkan tangannya agar pria itu tak curiga. "Begitu ...." Setelahnya, mobil putih tersebut pergi meninggalkan kostan Indah. Beberapa belas menit kemudian, mereka berdua tiba di parkiran PT. Midfast. Mona lalu turun terlebih dahulu. Dia berdiri di samping mobil seraya merapikan pakaiannya. Arsen pun menghampirinya dengan sebuah senyuman yang hangat. Wajah Mona sudah merah padam. Selama di dalam perjalanan, dia mendengarkan pikiran Arsen mengenai dirinya. Sungguh memalukan, pikirnya. Namun, ada rasa senang saat Arsen memikirkan tentang perasaannya. Ia tak menyangka bahwa pria yang dulunya merupakan kakak kelasnya itu ternyata menyukai dirinya sejak lama. "Emmm. Mona," panggil Arsen sebelum mereka beranjak dari tempat parkir. "Ya, Pak?" "Aku ... Emmm ...." 'Duh sial! Aku benar-benar gugup!' umpat pria itu di dalam hatinya. "Sebenarnya aku ...." Mona masih menatap wajah pria yang berdiri di depannya. Ia menunggu Arsen mengungkapkan perasaannya secara langsung. "Mona?" Sebuah panggilan menghentikan kata-kata Arsen. Mereka berdua pun menoleh secara bersamaan. Lalu di sana berdirilah seorang pria tampan berkulit kuning langsat. Wajahnya tampan dengan rambut-rambut tipis pada dagu dan janggutnya. Bahkan alis tebal dan kumisnya yang tipis menambah kesan maskulin. 'Siapa dia?' batin Arsen kesal karena diganggu. "Kamu Mona, kan?" tanya pria asing tersebut dengan wajah berbinar. Tangan kanannya menunjuk wajah gadis itu. "Mas Bayu?" balas Mona tak kalah berbinar. Gadis itu pun tersenyum lebar pada pria berkulit kuning langsat di depannya. Pria bernama Bayu itu langsung memeluk Mona. Arsen yang melihat hal tersebut kesal bukan main. Apakah pria itu kekasih Mona? Batinnya. Sadar sedang dipertanyakan dalam hati, Mona pun menepuk lengan Bayu yang tengah memeluknya. Gadis itu kaget mendapatkan pelukan hangat yang tiba-tiba. "Mas Bayu! Lepasin! Malu, ah," ucapnya. Bayu segera melepaskan pelukannya. Pria itu masih memasang senyuman sembari menatap wajah Mona yang sudah merah padam. Apa lagi sekarang Arsen tengah menatapnya dengan wajah menyedihkan. 'Pak Arsen cemburu?' batin Mona menduga. "Aku benar-benar kangen sama kamu, Mon. Kenapa kamu pergi nggak bilang-bilang? Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Bayu yang kini menggenggam kedua bahu Mona. Tampaknya pria itu tak peduli pada pria yang berdiri di samping Mona. 'Pria ini pasti menyukaimu, Mona,' batin Bayu. Mona menaikkan sebelah alisnya. "Maaf. Anda siapa?" tanya Arsen yang sudah tak tahan melihat kedekatan Mona dengan Bayu. Bayu pun menoleh. Ia melihat wajah Arsen yang tersenyum secara paksa. Ternyata pria itu sudah kembali mengontrol dirinya dan menutupi dengan senyuman. "Pak Arsen. Perkenalkan. Dia sepupu saya, Mas Bayu. Mas, ini Pak Arsen, atasanku," jawab Mona memperkenalkan dua pria itu. 'Ah ... Sepupu,' batin Arsen lega. Bayu mengulurkan tangan kanannya. "Saya Bayu, Pak Arsen. Bayu Kurniawan," ucap pria tersebut. Arsen menyambut jabat tangan itu. Senyuman masih terpasang di wajah tampannya yang berkharisma. "Arsenino Chandra Wijaya," balasnya. "Pak Arsenino putranya Pak William?" tanya Bayu. Mona menatap sepupunya itu. Apakah Bayu tahu dengan keluarga sang atasan? Padahal selama dia bekerja di perusahaan dirinya bahkan belum pernah bertemu ayah dari sang CEO. "Iya, benar. Saya anaknya." "Wah. Saya sangat tersanjung karena bisa bertemu Bapak secara langsung," puji Bayu. Setelah pertemuan singkat itu, Mona terjebak bersama dua pria tampan saat menaiki lift menuju ke lantai sepuluh. Gadis itu kembali mendengar isi pikiran keduanya. Rasanya canggung karena tak ada kata yang terucap. "Emmm. Mas Bayu kerja di divisi apa?" tanya Mona pada sang sepupu. "Aku jadi manajer di sini. Kebetulan aku diminta untuk menemui Pak Arsen pagi ini," jawabnya. "Oh begitu ...." "Jadi Pak Bayu ini yang akan membantu proyek saya?" tanya Arsen. "Iya, Pak." Ketiganya kini sudah sampai di lantai sepuluh. Segera saja mereka berjalan saling beriringan. Mona berada di tengah-tengah dua pria tampan dan keren. Rasanya seperti mimpi. Bahkan mereka menjadi pusat perhatian para karyawan yang lainnya. Setelah sampai di ruangan, Arsen langsung mengajak Bayu masuk ke ruangannya. Mereka akan membahas proyek berdua. Mona pun segera menuju ke meja kerjanya yang masih tertata rapi. "Mona. Tadi itu siapa yang sama Pak Arsen?" tanya Kila yang sudah berangkat di pagi itu. "Itu Mas Bayu. Manajer yang akan membantu Pak Arsen dalam menangani proyek baru," jelas Mona sembari tersenyum. "Oh ... Jadi itu yang namanya Pak Bayu. Eh. Tadi kamu bilang Mas, ya? Kakak kamu?" tanya Kila lagi. "Lebih tepatnya sih kakak sepupu, Mbak," jawabnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD