Saingan

1039 Words
Di dalam ruangan, Arsen berhadapan dengan pria bernama Bayu tersebut. Hatinya masih sedikit kesal karena momen untuk mengungkapkan perasaannya tertunda berkat pria itu. Namun, dirinya harus profesional. Mungkin sepulang dari kantor dia bisa mengungkapkan perasaannya sebelum dia mengajak Mona menemui ayahnya di rumah sakit. "Jadi, Pak Arsen ini sudah lama mengenal Mona?" tanya Bayu memulai pembicaraan agar tidak terlalu canggung. Arsen menatap pria di depannya. "Ya. Cukup lama. Dulu Mona adalah adik kelas saya," jawabnya. "Oh begitu." 'Apakah pria ini yang pernah Mona ceritakan padaku?' tanya Bayu dalam hati. Setelahnya mereka mendiskusikan banyak hal mengenai proyek baru yang akan mereka kerjakan. Bayu dan Arsen sama-sama cocok dalam berdiskusi. Kemudian Bayu memiliki sebuah ide. "Pak Arsen, bagaimana kalau kita menambah satu orang dalam tim inti kita?" tanya pria itu sembari menatap pria tampan di depannya. Arsen menautkan kedua alisnya. Meski begitu dirinya tetap berkharisma. "Siapa, Pak Bayu?" Bayu tersenyum lebar. "Mona." Dahi Arsen berkerut. Jika begitu dirinya akan lebih sering bersama Mona, bukan? Akan tetapi Mona baru bekerja selama satu bulan di PT Midfast. "Mona?" ulang Arsen tampak ragu-ragu. "Iya. Saya sangat mengenal Mona. Dia merupakan orang yang pekerja keras dan cerdas," tegasnya. Arsen sangat setuju dengan pendapat Bayu. Dia juga tahu bahwa salah satu karyawan barunya itu merupakan orang yang pekerja keras. Namun, bagaimana nanti dengan pendapat para karyawan yang lainnya jika Mona dia mintai tolong? Kemudian Arsen teringat sesuatu. "Saya akan membicarakannya dengan Pak Brian. Sebentar," ucapnya. Pria itu segera menghubungi bawahannya. Beberapa saat kemudian Brian memasuki ruang kerja sang CEO. "Pak Brian bawa apa yang saya minta?" tanya Arsen. "Iya, Pak. Ini." Brian menyerahkan sebuah map pada atasannya. Arsen menerima map tersebut dan segera membaca isinya. "Bagaimana Mona menurut Pak Brian?" tanya pria itu kemudian. "Menurut saya dia kerjanya cepat dan bagus, Pak. Meski tergolong karyawan baru, tapi hasil kerjanya tak dapat diragukan lagi." Baik Arsen dan Bayu tersenyum mendengar pengakuan dari Brian. Dengan begini sudah ada prestasi pada diri Mona. Jadi, mereka punya alasan untuk menempatkan Mona dalam tim inti. "Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Pak Brian. Bapak boleh kembali ke ruangan Bapak. Dan saya minta tolong panggilkan Mona," ucap sang CEO masih tersenyum. Brian kembali keluar dari ruangan sang atasan. Pria itu lalu menghampiri Mona dan memerintahkan gadis itu untuk menemui sang CEO. "Bapak memanggil saya?" tanya Mona saat sudah dipersilakan masuk. "Ya," jawab Arsen. Senyumannya masihlah ramah dan manis. Tapi Mona yakin bahwa pikiran pria itu tak seperti wajahnya. "Duduklah," imbuhnya. Gadis itu segera duduk di samping Bayu. Pria di sampingnya tersenyum senang saat bertemu kembali dengan sang sepupu. "Jadi, Mona, aku dan Pak Bayu memintamu untuk ikut dalam tim inti kami. Kudengar kerjaanmu bagus selama sebulan ini." Arsen menatap karyawannya itu masih dengan senyumannya. 'Akhirnya aku bisa bersama Mona lebih lama. Aku sangat berterima kasih pada ide sepupunya ini,' pikirnya. Dahi Mona sedikit mengerut saat mendengarnya. "Maksud Bapak?" tanya gadis itu meminta penjelasan lebih. Ia sangat terganggu dengan isi pikiran sang atasan. "Maksudku, kamu akan ikut dengan kami. Kami meminta bantuanmu untuk ikut berkontribusi dalam proyek baru ini. Dan untuk jabatanmu ... Aku sudah membicarakannya pada Pak Brian. Mulai besok kamu jadi sekretarisku," jelas Arsen. Mona terkejut mendengarnya. Jadi dia akan menjadi sekretaris sang CEO me.sum itu? Tapi ini merupakan kesempatan emas. "Ya. Mona. Kamu akan menjadi sekretaris Pak Arsen. Aku juga akan ikut dalam proyek ini. Jadi kita bertiga yang akan menyusunnya," imbuh Bayu sembari menatap wajah bingung sepupunya. Senyuman Bayu begitu lembut. Bahkan isi pikiran pria itu masih lurus, berbeda dengan sang atasan. 'Aku tahu kamu berjuang begitu keras selama ini, Mon. Jadi terima saja tugas ini,' batinnya. "Kamu pasti bisa, Mona," ucap Bayu kemudian. Pria itu mengusap lembut punggung tangan Mona. Gadis itu pun tersenyum menerima kehangatan dari sang sepupu. Dia sudah rindu dengan perlakuan Bayu yang sudah selayaknya kakak sendiri. "Iya, Mas." Mona kembali menatap sang atasan. Sekilas gadis itu melihat guratan kekesalan di wajahnya yang tampan. 'Kenapa aku kesal lihat Pak Bayu nyentuh Mona? Maksudnya apa itu? Apakah sepupu harus berlaku seperti itu?' sungut Arsen dalam hati. "Pak Arsen," panggil Mona sembari menepis isi pikiran sang CEO. "Saya menerimanya. InsyaAllah saya akan melakukan yang terbaik," imbuhnya dengan sungguh-sungguh. "Baguslah kalau begitu," balas Arsen yang kembali memasang senyuman manisnya. ***** Sehari setelahnya, Mona sudah memindahkan barang-barangnya ke ruangan sang CEO. Lusi langsung memasang wajah kesal penuh rasa iri. Namun, Mona tak memedulikannya. Dia sangat bersyukur karena posisinya dipindahkan. Ia tak mau terus menerus diperintah olehnya. Pembahasan proyek baru pun dimulai. Arsen menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Mona. Pria itu ingin kembali seperti saat mereka masih SMA dulu. Dia merasa bersalah karena pernah menjauhi Mona di waktu itu lantaran perasaannya yang tak terungkapkan. "Mona. Tolong ini. Menurutmu bagaimana?" tanya Bayu yang duduk di sebelah Mona. Mona pun langsung memberikan jawaban sekaligus usulannya. Arsen hanya membiarkan mereka. Kemudian Bayu sesekali bercanda dengan sang sepupu. Suasana diskusi pun begitu hangat dan hidup. Bayu tak ingin ada ketegangan di antara mereka bertiga. Namun, Arsen merasa kesal dengan hal tersebut. Ia tak suka saat melihat keakraban keduanya. 'Mona. Kenapa kamu malah begitu akrab dengan sepupumu. Aku juga ingin sekali bercanda bersamamu tanpa memandang jabatan kita,' batin Arsen terdengar sedih. Mona yang mendengarnya merasa tak enak hati. Tak terasa waktu sudah sore. Mereka bertiga pun beristirahat pulang. Arsen sudah terbakar api cemburu yang tertahan di dalam dadanya seharian ini. Bahkan saat makan siang bersama dia masih saja melihat kedekatan Mona dan Bayu. Seolah-olah pria itu memang sengaja melakukannya di hadapan Arsen. Hari ini pun dia gagal membawa Mona bertemu ayahnya. "Mas Bayu kenapa, sih?" tanya Mona saat hanya ada mereka berdua di dalam mobil Bayu. Bayu tersenyum miring. "Masa kamu nggak tahu? Kamu menyukai Pak Arsen, kan?" tanya pria itu. Wajah Mona langsung memerah saat mendengar pertanyaan dari sang sepupu. Gadis itu menoleh menatap Bayu. Lalu menoleh ke samping kirinya yang tampak Arsen sedang memasuki mobil tepat di sebelahnya. "Jangan sampai Pak Arsen denger!" ancamnya setengah berbisik. 'Iya. Kamu sangat menyukai Pak Arsen. Sekarang kamu sudah bertemu cinta pertamamu. Lalu apakah kamu udah mengungkapkan perasaanmu? Bagaimana soal Pak Arsen? Apa dia punya perasaan yang sama denganmu?' Pertanyaan beruntun itu diucapkan dalam hati oleh Bayu. Pria itu dengan sengaja menatap wajah Arsen yang tampak dari dalam kaca mobilnya. Mobil sang CEO pun langsung pergi setelahnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD