Tiga Tahun Silam

1019 Words
Berita tentang ditemukannya pendaki yang dehidrasi di puncak gunung menjadi berita yang paling heboh. Pasalnya pendaki tersebut bukanlah seorang pemuda gagah selayaknya pendaki pada umumnya. Melainkan pria tua berusia 75 tahun. Rambutnya sudah memutih, kacamata menggantung menggunakan rantai kecil di lehernya. Tangannya patah, dan terdapat luka gores hampir di sekujur tubuhnya. Seorang pendaki yang baru saja menjejakkan kaki di puncak mendengar rintihannya. Lelaki itu sekarat. Tim Sar bergerak begitu mendapat kabar tentang lelaki tua yang diketahui bernama Natakusuma. Ilmuwan ternama yang berhasil menciptakan beberapa barang berteknologi tinggi. Natakusuma baru enam tahun kembali menetap di Indonesia, setelah bertahun-tahun tinggal di Jerman. Ditemukannya lelaki itu dengan kondisi mengenaskan membuat seluruh keluarganya terpukul. Yang diketahui keluarga, Natakusuma sedang melakukan study ke luar negeri, bukan mendaki gunung. Tubuh ringkih penuh luka itu dibawa ke UGD klinik 24 jam dekat dengan lokasi pegunungan guna mendapatkan pertolongan pertama. Lantas setslah mendapatkan penanganan intensif Natakusuma dirujuk ke RSUD dr Slamet. Semangat hidup kakek 11 cucu itu teramat tinggi. Dalam kamus hidupnya, tidak ada kata menyerah. Dia tetap tersenyum kala anak cucunya justru menangisi keadaan Natakusuma. Dari kesebelas cucunya, Wiralah yang paling dia percaya untuk melanjutkan segala perjuangannya. Apa yang dia mulai dan belum dia selesaikan. "Mana Wira?" tanya lelaki tua itu. Cucu yang lain mencibir karena kehadirannya seakan tidak dianggap. "Wira sedang kuliah, Ki, Aki butuh apa?" tanya Tama, cucu Natakusuma yang lainnya. Tidak ada suara, Natakusuma hanya menggeleng dan memalingkan wajah. Lalu berpesan untuk meminta Wirayudha untuk datang ke rumah sakit sepulang kuliah. Tiga jam berlalu sang cucu kesayangan akhirnya tiba. Dengan wajah semringah Natakusuma menyambut Wirayudha, dan mengusir seluruh orang yang ada di ruangan itu. Natakusuma berkata ingin membicarakan hal penting dengan Wirayudha. Wira menelan ludah, jujur, ada perasaan takut saat dia melihat sang kakek yang terbaring lemah penuh luka. Natakusuma melihat ke arah pintu, memasktikan tidak ada orang yang mengintip atau mencuri dengar. "Waktu Aki tidak lama lagi." Natakusuma mengatakan itu dengan santai seakan sedang bergurau. "Ish, Aki, memang gak lama lagi. Gak lama lagi Aki keluar dari rumah sakit. Gak lama lagi Aki sehat." Wira memperbaiki letak selimut yang sedikit tersingkap. "Aki sebenernya bukan sekadar mendaki. Ada misi yang sedang Aki lakukan di salah satu sudut tersembunyi. Ada dunia lain yang kini sedang butuh Aki untuk mengembalikan kedamaian di sana." "Yaampun, Aki jangan ngelantur gini, Wira jadi sedih," ujar Wira. Dia mengira sang kakek melantur, omongannya benar-benar ngaco. Wira jadi sedih mendengarnya, dia mengira hal itu terjadi karena pengaruh obat. "Kapan Aki bohong sama Wira? Kapan Aki becanda saat bicara? Dengar sebelum Aki benar-benar meninggalkan dunia ini." Wira tersentak, apa yang dikatakan Natakusuma terlihat sangat serius dan dia sedih. "Di loteng, tepat di ruang penyimpanan barang-barang Aki ada sebuah naskah, Aki dan teman-teman yang susun. Aki dan teman-teman membuat makhluk rekayasa genetika. Di luar dugaan, makhluk itu berevolusi terlalu cepat, kami tidak bisa mengendalikan semuanya. Negeri tempat kami melakukan percobaan itu porak poranda. Anak-anak kecil dibunuh dihabisi. Orang dewasa apalagi. Wira, Aki punya tanggung jawab moral untuk memperbaiki semuanya, teman-teman Aki sudah meninggal karena makhluk makhluk itu. Teruskan perjuangan Aki untuk membereskan semuanya. Aki hanya percaya kepadamu." Natakusuma menggenggam tangan Wira, napasnya tiba-tiba menjadi cepat. "Aki," sapa Wira. "Aki percaya kepadamu. Lakukan apa yang sudah Aki tulis di naskah juga peta." "Aki!" Wira melihat kondisi Natakusuma yang semakin memburuk. Dia menekan bel, tidak berselang lama, dokter dan perawat datang berhamburan. Jadilah kini Wira diintrograsi oleh seluruh keluarga, kedua orang tua serta sepupu sepupunya. "Aki hanya bercerita mengapa dia ada di gunung," ujar Wira. Dia tidak ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Wira tidak sampai hati jika omongan Natakusuma nantinya dianggap karena lelaki itu linglung. "Apa kata aki?" tanya pamannya. "Aki belum pernah mendaki lagi selama beberapa tahun, dan dia ingin melakukan pendakian terakhir dalam hidupnya." Wira nyaris berbisik, bersamaan dengan itu perawat dan dokter keluar ruangan. Mengatakan kalau Natakusuma sudah menjalankan tugasnya sebagai manusia dengan baik. Kini lelaki itu menghadap Tuhan. Sudah tujuh hari sejak Natakusuma meninggalkan dunia. Wira baru berani naik ke loteng untuk mencari naskah itu. Semua anak dan cucu mengambil barang barang Aki sebagai kenang-kenangan. Tentu saja di luar warisan. Ada yang membawa sepeda, ada yang membawa seperangkat alat golf ada juga yang membawa buku buku di perpustakaan pribadi Natakusuma. Wira salah satunya, dia membawa beberapa buku. Lalu ingat tentang Naskah yang disimpan di loteng. Dia mengambil tangga lipat dan menyimpannya tepat di lubang sirkulasi di atas flapon Wira tidak menemukan kunci menuju tangga yang mengarah ke loteng. Setiap langkah Wira disertai jutaan tanya, Wira berharap apa yang dikatakan Natakusuma hanyalah khayalan sebelum ajal menjemput. Namun dugaannya salah, sesampainya di loteng itu, dia menemukan tumpukan barang. Tiga jam lamanya Wira mencari Naskah itu, ditemani debu, serangga, dan juga binatang pengerat alias tikus. Ketika hampir menyerah, Wira menemukan sebuah kotak kayu dengan ukiran sederhana. Di dalamnya terdapat sebuah buku lusuh dan lembaran peta. Dengan hati-hati Wira berusaha membaca apa yang tertulis dalam naskah itu. Tidak ada yang bisa dia baca karena keseluruhan tulisan menggunakan aksara sunda. Dia dengan hati hati membawa naskah itu, lalu keluar dari sana dan menyimpan naskah beserta peta dalam tumpukan buku lainnya. Siapa pun yang menemukan hanya akan mengira kalau naskah itu hanyalah buku biasa yang ditulis menggunakan aksara Sunda. Berbulan bulan lamanya Wira mempelajari isi dari naskah itu. Menyalinnya dan menerjemahkan keseluruhan naskah itu. Dia memang menemui budayawan Sunda. Agar mengetahui isi dari naskahnya. Tahun berganti, Wira lupa dengan misi yang dia janjikan pada Natakusuma. Kesibukannya sebagai mahasiswa membuat lelaki itu tidak punya banyak waktu. Selepas lulus, Wira membereskan semua buku bukunya dan kembali menemukan naskah itu. Pencarian kembali dimulai, beberapa kali Wira memang nekad mendaki, tetapi ada saja halangan sehingga perjalanan tidak pernah sampai di pos 1, apalagi di puncak. Dari sana Wira menyadari, dia tidak bisa pergi sendiri, harus ada yang menemani untuk pergi ke pintu dunia bawah Tanah yang diceritakan sang Kakek. Satu satunya orang yang mungkin bisa membantunya adalah Chandra. Sepupu yang juga merupakan Cucu Natakusuma. Strategi dia lakukan, Wira kembali ke loteng untuk menyimpan Naskah dan peta itu. Ketika Chandra datang berkunjung, Wira melancarkan aksinya. Wira atur strategi bagaimana caranya agar Chandra dan Wira tidak sengaja menemukan benda itu bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD