Setelah darah bunga meresap melalui telapak tangan dan hangat menjalar ke seluruh tubuh, mereka kembali dibawa ke pondok.
Jalan yang ditempuh sama dengan jalan yang dilalui saat tiba. Hanya saja perbedaannya, ketika melewati bunga, bunga bunga itu seperti binatang peliharaan yang bersikap manja saat disentuh.
Air mancur di tepi jalan pun tidak membeku saat disentuh, itu karena Alvian cs sudah menjadi bagian dari Negeri Bawah Tanah.
Perjalanan menuju pondok masing masing pun kini tidak diantarkan oleh banyak prajurit, melainkan diantarkan Laming dan Mamiju saja.
"Laming," sapa Alvian ragu-ragu. Dari awal ingin rasanya menyapa tetapi bingung harus memanggilnya dengan panggilan Kakak, Abang, atau apa.
"Saya, Tuan!" jawabnya tegas.
"Kenapa pondok kami jauh sekali? di sini masih banyak bangunan kosong yang sepertinya bisa ditinggali." Alvian menatap bagunan bangunan yang dilalui. Bangunan tidak berpenghuni. Memang, sih, beberapa di antaranya ada yang hancur, mungkin runtuh karena tidak ditempati.
"Pondok prajurit adalah tempat yang paling aman. Dia tidak pernah datang ke sana untuk menyerang kami, untuk itulah kami bertahan tanpa listrik di sana."
Dia, menyerang, jawaban Laming membuat Andraga mengerutkan kening karena penasaran.
"Dia siapa?" Alana bertanya.
Laming berhenti sejenak, menghela napas lalu menjawab, "Besok akan terjawab."
Alana mendesah, mengapa harus besok, mengapa tidak ada yang bersedia menjawab.
"Laming," sapa Wira tak kalah penasaran.
"Saya, Tuan!" jawab Laming tegas.
"Ke mana warga Negeri ini?"
"Mereka di pondok selatan. Daerah lain yang juga tidak terjamah. Mereka pulang saat bulan purnama, seperti sekarang ini, hanya untuk memeriksa keadaan pondok lalu kembali lagi."
Semakin mengerikan dan dan membuat nyali menciut.
Andraga dan Chandra bahkan tidak sanggup berkata-kata, mereka berjalan lurus di atas hamparan rumput yang menggelitik telapak kaki.
Saat pertama kali berangkat dari pondok menuju gedung Gurnita mereka menapaki banyak anak tangga. Sekarang saat pulang mereka tidak menemukan jalan itu. Yang mereka lihat adalah hamparan hijau dengan dinding batu.
Laming membawa mereka menuju sebuah pohon dengan diameter batang yang sangat besar.
"Ini adalah pintu masuk menuju pondok Prajurit. Cari simbol ini," tunjuk Laming pada sebuah simbol bulat dengan ukiran. "Lalu ikuti jalur-jalurnya untuk membuka kunci dan tekan."
Laming menekannya, angin seketika bertiup agak kencang. Perlahan pemandangan di depan mereka berubah menjadi dinding biru, persis seperti di kamar mandi dalam pondok Alana. Lantas kini berubah menjadi biru pudar semakin pudar dan anak tangga berwarna kuning akhirnya terpamoang nyata di depannya.
Wira melangkah lebih dulu, dia terbentur dinding tipis yang masih membatasi tempat mereka berdiri dan jalanan menuju pondok.
"Sentuh dindingnya dengan telapak tangan, seperti ini," Laming meletakkan telapak tangan. Tangan besar berkulit cerah itu menembus dinding kaca. Lalu Laming seakan tertelan selaput dan sudah berada di ujung anak tangga.
Alana maju lebih dulu, dia adalah perempuan pemberani yang tidak takut untuk mencoba hal hal yang baru.
Manakala tangannya diletakkan pada dinding itu, tubuhnya tersedot tersentak. Udara di sekitarnya seakan hilang.
Dan ketika kakinya menjejak ujung anak tangga, paru parunya seakan mendapatkan serangan oksigen secara bersamaan.
Alvian mengikuti Alana, disusul Andraga Wira dan Chandra.
Dari sisi sekarang, pemandangan ke arah belakang nyaris seperti tidak terhalang oleh dinding apa pun.
Laming mempersilakan mereka untuk berjalan ke atas terlebih dahulu.
"Batas kalian sampai ujung tangga ini. dari sini kita bisa melihat ke arah sana, sebaliknya dari sana mereka tidak dapat melihat kita. Hanya dinding batu yang akan terlihat, kecuali mereka menyusuri jalur kode dan juga menekannya seperti yang saya lakukan tadi."
Anak anak lelaki itu mengangguk faham.
"Lantas bagaimana kalau kita ingin ke sana?" tanya Andraga.
"Melangkahlah, dari sini ke sana tidak ada batasan apa pun."
Mengerti. Lantas semua menapaki tangga menuju pondok masing-masing.
***
Keesokan harinya Alvian terbangun karena suara gedoran pintu yang mengusiknya dari kehangatan selimut bulu.
Dia bangkit, Andraga dengan wajah panik meraih tangan sang Kakak dan membawanya ke bagian belang pondok.
Di siang hari, keindahan lembah negeri bawah tanah terlihat jelas, tetapi selain keindahan jelas pulalah kehancuran dan kerusakan bangunan.
Entah apa yang terjadi, mereka tidak tahu pasti.
Tidak hanya Alvian dan Andraga yang terperangah melihat pemandangan di depan mereka.
Alana memekik ketakutan kala makhluk besar berdiri di ujung tangga pembatas pintu masuk pondok prajurit dan lembah Negeri Bawah Tanah.
Kepala makhluk itu persis seperti kepala monyet dengan mata hitam besar. Dia memiliki cakar yang sepertinya tajam, seluruh tubuhnya ditutupi bulu berwarna abu-abu gelap.
Lalu mereka kembali dikagetkan oleh gerakan makhluk tersebut, dia melompat kemudian membentangkan sayap yang panjangnya kira kira 3 meter.
Alvian menyeret Andraga ke pondoknya. Memaksa sang adik untuk membereskan semua barang bawaannya.
"Kita pulang sekarang!"
Teman sekamar Andraga bangun dari tidurnya, Alana berdiri di ambang pintu. Ragu ragu perempuan itu pun menyetujui ajakan Alvian untuk kembali pulang.
"Gak bisa Bro!" Wira mencegah Andraga untuk berkemas.
"Lo gak lihat bahaya yang ada di luar sana? Kenapa gue di sini? apa gue kudu menyerahkan nyawa untuk mengenyahkan makhluk itu?" Bentak Alvian.
Wira menelan ludah, tidak tahu makhluk apa yang dibicarakan. Ketika memeriksa ke luar, tidak ada apa pun kecuali layang layang hitam yang melayang di kejauhan.
"Bro, kita sudah bikin perjanjian, kita gak akan bisa pulang sebelum misi kita selesai."
"Misi, Lo, semua misi Lo. Anjeeng, apa yang harus gue katakan pada Mami jika kami pulang dalam keadaan tidak selamat."
Alvian mengamuk, untuk pertama kalinya lelaki itu marah besar. Mana makhluk lucu serupa pokemon yang dijanjikan Wira dan juga Chandra?
"Kak, sudah jangan marah, kita cari jalan keluar bersama." Andraga meraih tangan sang kakak sebelum kepalan tangannya mendarat di pipi mulus Wira.
"Sekarang begini," ucap Andraga. "Siapa yang setuju untuk pulang tunjuk tangan."
Alana, Alvian dan dirinya tunjuk tangan, tidak lama kemudian Chandra ikut mengangkat tangannya.
"Kalian gak bisa begitu!" sentak Wira.
"Kenapa gak bisa? Kenapa gue harus nurut apa kata lo?" Giliran Chandra yang murka.
"Dari awal lo maksa maksa gue, dari awal lo ngebet banget, sebenernya apa yang lo cari di sini hah?"
Chandra meraih kerah baju Wira Alana kembali bertindak sebagai penengah. Empat orang melawan satu yang bertahan.
Wira sebenarnya dari awal sudah tahu apa yang akan mereka hadapi di Dunia bawah Tanah ini, Wira sebenarnya sudah tahu Nitisara sudah menunggu kedatangannya ke negeri itu.
Hanya saja lelaki itu tidak punya nyali untuk pergi sendiri, jadilah dia menyusun skenario agar Chandra bisa ikut. Ditambah Alvian dan Andraga dengan iming iming uang banyak setelah misi berhasil.
"Gue gak mau tahu, gue mau pulang. Mami gue pasti sekarang sedang cemas di rumah. Pokoknya dengan atau tanpa lo, gue tetep pulang. Yang mau ikut ayo ikuti gue."
Alvian keluar pondok itu, disusul Andraga yang sudah menggendong carriernya, lalu Alana dan juga Chandra.
Sementara itu Wira terpaku di sana. Dia tidak bisa berkata kata, tidak bisa mengatakan sekeras apa pun usaha mereka untuk pulang, mereka tidak akan menemukan jalan pulang sebelum misi untuk menyelamatkan negeri ini berhasil.