Jamuan Makan

1080 Words
Mereka menapaki puluhan anak tangga yang mengkilap bagai granit tetapi tidak licin ketika terkena air. Pada pijakan terakhir mereka disambut oleh tumput hijau yang lembut dan menggelitik kaki. Usai mandi dan bertukar pakaian para prajurit yang pelit senyum itu sudah menunggu di pondok masing-masing. Andraga merasa sangat lega karena gatal yang mengganggu di kepalanya kini hilang berganti kesegaran yang menenangkan. Cairan pengganti sampo berwarna hijau, sabun mandi berwarna kuning cerah dan pasta gigi berwarna keemasan, manis seperti caramel. Sabun mandinya tidak mengeluarkan busa sebagaimana sabun yang biasa dipakai di rumah. Chandra bahkan sempet protes karena ketika dibilas kulitnya terasa sangat licin. Kini tidak ada lagi pendaki kumal dan bau. Yang ada hanyalah sekelompok remaja yang berjalan di atas hamparan rumput hijau. Penampilan mereka nyentrik. Menggunakan pakaian yang disediakan oleh para prajurit. Alana menggunakan dress warna putih dengan bunga bunga kuning. Sedangkan remaja laki-laki menggunakan kemeja dan celana chino. Wira menoleh ke belakang, pondok yang mereka tempati berupa titik titik kekuningan berasal dari api yang menjadi sumber penerangan mereka. Indah, rasanya lama sekali dia tidak melihat keindahan seperti itu setelah perjalanan jauh menjelajah hutan. Jalanan dengan bentangan rumput hijau itu akhirnya habis, kini mereka memasuki jalanan lebih lebar. Barisan pohon demi pohon terlalui begitu saja. Ada yang janggal dari itu semua, bangunan bangunan yang rusak dan tidak diberi penerangan. Gelap, mencekam, seperti berada di kampung mati yang ditinggalkan oleh penduduknya. Mereka tiba di pelataran gedung Gurnita aula yang biasa digunakan untuk menyambut tamu dan mengadakan jamuan makan. Gedung ini adalah satu satunya gedung dengan cahaya yang berasal dari tenaga listrik. Tepat sebelah gedung Gurnita terdapat bangunan lain yang hanya terlihat atapnya saja. Gelap dan misterius, mereka tidak diizinkan melihatnya lama lama. Sebelum memasuki gedung Gurnita, mereka disambut oleh kolam bulat berdiameter kira kira sepuluh meter. Di dalamnya bebek bebek cantik berenang tak tentu arah. Kolam dilingkari oleh bunga berwarna warni yang sangat indah. Alvian menyentuhnya, lalu bunga itu kembali berubah warna dan menjadi layu. "Tamu tidak diizinkan menyentuh makhluk hidup di negeri ini. Atau mereka akan mati." Laming berkata tegas. Lantas memberi isyarat untuk mempercepat langkah karena kedatangan mereka sudah sangat ditunggu. "Kecuali kalian setuju dengan apa yang akan disepakati di dalam gedung." Lanjutannya benar-benar membuat siapa pun penasaran. Wira berjalan lebih dulu, disusul Chandra dan Alana. Alvian dan Andraga berpegangan tangan. Mereka punya firasat jika kedatangan mereka ke negeri ini adalah sesuatu yang salah. "Wajar gak sih kalau gue pengen balik? Gue kangen mami," ucap Andraga. Keningnya berkerut, bibirnya ditekuk. Alvian hafal betul kalau adiknya itu sedang kesal. "Tanggung, kita sudah gak bisa keluar kayaknya sebelum misi diselesaikan." Alvian berusaha membuat sang adik tenang. Dia mendorongnya untuk terus jalan memasuki gedung yang lebih pantas disebut istana. Pilar pilar besar tersebar di seluruh ruangan, posisinya acak tak beraturan. Dindingnya penuh dengan ukiran kaca yang indah, bahkan bagian atas atap gedung itu kubah indah yang menampilkan tarian bintang bintang di langit sana. Laki-laki dengan tinggi badan yang hampir sepadang dengan Laming dan Mamiju, menyambut mereka di meja perjamuan. Makanan makanan lezat terhidang di meja. Mereka dipersilakan duduk dan tanpa sadar Chandra memegangi perutnya karena tiba-tiba bersorak ketika melihat makanan makanan tersebut. "Mereka di sini ketua," ucap Laming. "Selamat datang, pahlawan," ucap lelaki itu. Dia pemimpin negeri ini, negeri yang tadi disebut bernama negeri bawah tanah. Lelaki itu didampingi oleh perempuan cantik dengan kamka yang menjuntai hingga menyapu tanah. Kamka adalah kain sutra dengan benang emas di kiri kanannya. Dia adalah Nitisara, sang Ketua berwajah tampan dengan rambut dan jambang yang berwarna putih keperakan. "P-pahlawan?" tanya Alvian tampak begitu gugup dan waspada. Sayangnya Nitisara sama sekali tidak melihat ke arahnya, fokus pria tua serta pendampingnya itu kepada Chandra dan Wira. "Hadirnya kalian sudah ada dalam catatan perjanjian antara Negeri Bawah Tanah dengan Natakusuma. Kalian adalah jaminan yang diberikan Natakusa sebelum dia meninggal, Natakusuma meminta kalian untuk menyelesaikan misinya dan menyelesaikan segala kekacauan yang terjadi di Negeri ini." "Misi?" celetuk Chandra, atensinya terhadap kalkun panggang kini beralih pada lelaki bermanik mata seperti obsidian. "Kalian akan tahu nanti, makanlah, terimalah penghormatan kami." Nitisara menjentikkan jari, delapan pelayan membawa nampan berisi makanan pelengkap lainnya. Chandra yang kelaparan terpesona melihat keindahan yang lama tidak dia lihat. Makanan lezat itu adalah surga yang sempat mereka lupakan karena lebih memilih menyiksa diri dengan mendaki. Ini kali pertama Andraga dan Alvian juga Alana menikmati daging kalkun. Sekilas, tekstur dari ayam dan kalkun ini hampir sama, yaitu berserat dan terlihat kesat, dengan warna putih. Rasanya juga sama-sama gurih. Tapi jika anda perhatikan lebih jauh, tekstur daging kalkun lebih lembut dan juicy, apalagi di bagian pahanya. Selain itu, kulit kalkun lebih tipis dibanding kulit ayam, sehingga lebih renyah dan kering ketika dipanggang. Entah karena makanannya yang lezat atau mereka yang terlalu lapar, sebagian besar makanan dan kudapan itu habis. Minuman warna warni dengan rasa buah asli tandas dari gelas masing masing. Usai makan, mereka berkeliling melihat seluruh isi gedung Gurnita. "Ini hanyalah gedung pertemuan darurat. Di sebelah adalah Laboratorium yang dibangun oleh Natakusuma." Jadi bangunan gelap yang mereka lihat sebelumnya adalah laboratorium. "Sekarang kalian dan kami semua dapat berkeliaran. Setiap bulan purnama dia tertidur, dan akan bangun jika purnama sudah usai." "Dia?" tanya Alvian. Nitisara untuk pertama kalinya menatap ke arah Alvian. "Kalian akan tahu nanti. Sekarang kalian ikut ke pondok kami. Gedung Gurnita akan segera dikunci." Nitisara memberikan isyarat dengan tangannya agar Alvian dan kawan kawannya berjalan terlebih dahulu. Tepat dekat dengan sayap kanan gedung itu terdapat banyak bunga dengan aneka warna. Nitisara membawa mereka ke tengah taman. Ada satu bunga besar warnanya merah menyala, bentuknya serupa dengan perpaduan antara aster dan bunga matahari. Nitisara melambaikan tangannya, memanggil satu persatu anak remaja yang dia sebut sebagai pahlawan. Alana yang paling depan mendekat lebih dulu, Nitisara meraih tangannya. Lantas dipetiknya salah satu kelopak bunga itu. Cairan merah laksana daarah menetes dari kelopak tersebut. Nitisara meraih tangan Alana, membuka kepalan tangannya dan meneteskan cairan merah itu di telapak tangan Alana. Ajaib! Cairannya meresap. Hangat menjalar Alana rasakan, dari telapak tangan, ke d**a, kepala dan berakhir di telapak tangan satunya. Setelah Alana, satu persatu pemuda itu melakukan hal yang sama. Nitisara tidak banyak bicara, barulah setelah tiba giliran Wira dia membeberkan sebuah kenyataan yang begitu menohok. Itu adalah darah bunga, satu hal yang membuat siapa saja bisa menyentuh bunga di negeri itu. Yang paling menohok, diteteskannya cairan itu berarti mereka sanggup dan setuju untuk melakukan perjanjian dengan Nitisara. Ada rasa sesal di hati Alvian, namun rasa penasaranlah yang akhirnya menang dan membuat lelaki itu mau tidak mau memilih sesuatu yang seharusnya tidak dia pilih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD