Sandrina, Laming, dan Mamiju

1036 Words
Tiga orang itu terbelalak penghuni tempat yang aneh ini juga manusia seperti mereka. Matanya bulat, bibir mereka tipis dengan telinga normal seperti manusia biasa. Yang paling mencolok hanya pakaian yang mirip dengan pakaian perang dalam dongeng. Terbuat dari kulit yang menutupi sebagian tubuh. Tiga lawan lima orang, tiba-tiba saja satu di antaranya mengacungkan s*****a mirip panah. Mereka merasa terancam. "Maaf, maaf kami tersedot pusaran di atas bukit itu." Alvian berusaha menjelaskan demi keselamatan mereka. Yang paling tinggi di antara ketiga makhluk itu memberikan isyarat agar temannya menurunkan s*****a. "Ikuti kami." Alvian mendesah lega. Tiga orang itu mengerti bahasa Indonesia. Dia sempat mengira berada di negeri dengan ras yang berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan mengingat ukuran tubuhnya tinggi dan besar. Mereka dibawa memasuki rumah yang ukurannya lebih besar dari kebanyakan rumah yang mereka temui sebelumnya. Pintu yang ukurannya lebih tinggi dari ukuran pintu biasanya mereka lewati. Aroma permen dan caramel semakin kuat terhidu. Banyak orang-orang dengan penampilan sama dengan orang yang mereka temui sebelumnya. Alvian, Andraga, Wira, Chandra dan juga Alana mengikuti tanpa ragu. Dalam pikiran masing-masing banyak prasangka yang timbul begitu saja. Kelima pemuda itu sudah masuk ke daerah oranglain tanpa permisi. Bisa saja dia dibawa karena hendak diadili. Atau justru diselamatan dan dibawa pulang sampai di pegunungan yang mereka daki sebelumnya. Sudah lebih dari tiga hari mereka mendaki, mereka berpikir saat ini statusnya sudah dinyatakan hilang dipegunungan. "Tamu sudah datang," ucap pria tinggi berambut sebahu yang membawa mereka hingga sampai ruangan besar itu. Sebuah kursi tiba-tiba berbalik, seorang perempuan dengan pakaian ketat terbuat dari kulit duduk di atasnya. Dia berdiri, lalu berjalan ke arah anak anak muda yang kini sedang terpaku. Rasanya seperti sedang bermimpi. Sandrina, adalah pemimpin prajurit di negeri yang bernama Negeri Bawah Tanah. Dia memerhatikan satu persatu tamu yang datang dengan tampang seperti selayaknya pendaki yang kelelahan. Kumal dan juga bau. Kedatangan lima pemuda ke Negeri Bawah Tanah sudah diramalkan sejak lama. Sejak Natakusuma masih aktif bolak balik berkunjung demi penelitian yang dia lakukan di Negeri ini. Orang-orang dari Negeri Bawah Tanah ini harus menunggu bertahun-tahun sampai saat ini datang. "Selamat datang di Dunia Bawah Tanah. Kalian lebih tangguh dari yang kami perkirakan. Saya Sandrina, pemimpin prajurit negeri ini." Ketika berjalan mengitari kelima pemuda yang kini tengah dilanda bingung, hak sepatunya beradu dengan lantai menghasilkan suara yang seirama. "Jangan takut, kami tidak akan mencelakakan kalian. Natakusuma, selalu berkata cucu kesayangannya akan datang menyelamatkan Negeri ini jika dia tidak mampu menangani makhluk rekayasa genetika yang dia ciptakan bersama sahabatnya. Kami bergantung kepada kalian, keselamatan negeri ini ada di tangan kalian!" Sandrina berlutut, diikuti derap serentak. Andraga terperangah kala semua prajurit di sana berlutut kepadanya, pada Alvian, Wira, Chandra dan Alana. "Kami harus apa?" bisik Alana. Suaranya menghasilkan gema. Orang orang dari Dunia Bawah Tanah berdiri serempak. Sandrina memberi kode kepada salah satu prajurit yang pertama kali membawa Alvian cs ke gedung ini. "Kami akan mengantarkan kalian ke pondok masing masing. Baru setelah itu kalian akan bertemu dengan ketua. Panggil saya Laming, dan ini Mamiju. Apa pun yang dibutuhkan katakan saja." "Saya lapar," celetuk Chandra. Alvian dan Alana protes bersamaan. "Silakan jalan!" Alvian selalu jalan terlebih dahulu, diikuti adik dan teman-temannya. Lelaki itu merasa ada bahaya yang mengintai di depan sana. Orang-orang yang disebut prajurit itu selalu mengangguk takzim kala Alvian CS melintas. Hanya satu hal yang belum mereka temui di sini, senyum. Tidak ada yang tersenyum. Alana masih penasaran dengan sumber dari aroma caramel yang hilang dan timbul. Dia juga penasaran dengan air yang membeku dan bunga yang tiba tiba menjadi layu. *** Laming membawa Alana menuju sebuah pondok beratap mirip kubah. Dari luar, pondok tersebut sangat minimalis, tetapi ketika memasuki pondok tersebut, siapa pun setuju bahwa keindahannya melebihi hotel bintang lima yang ada di Bali. Ketika masuk melalui pintu depan, sebuah ruangan dengan aroma jeruk menyambutnya. "Di sini kamar mandinya," ucap Laming. Sebuah kamar mandi dengan pintu dengan permukaan lukisan indah. Lantai kamar mandi terbuat dari lantai kayu berwarna cokelat. Jacuzzi yang indah berada di tengah-tengah kamar mandi itu. Ketika Laming menyentuh salah satu saklar lampu sedikit meredup dan dinding berwarna biru di hadapan Alana berubah warna menjadi biru pudar, semakin pudar dan satu menit kemudian dinding itu berubah menjadi dinding kaca. Pemandangan indah terpampang nyata di hadapannya. Jadi bisa mandi dengan melihat pemandangan lembah yang sangat cantik. Rasanya ingin segera menyegarkan tubuhnya. Dia buru-buru mengikuti Laming yang menjadi guide, menunjukkan sudut demi sudut pondok yang akan Alana tempati. Sementara itu, Alvian dan Chandra mendapatkan satu kamar yang sama, Andraga dan Wira juga. Pondok laki-laki berbeda dengan pondok yang ditempati oleh Alana. Tidak ada Jacuzzi hanya kamar mandi biasa. Dan memiliki sebuah kolam renang yang indah berada di luar pondok. Dua kamar dalam pondok itu dilengkapi dengan tempat tidur dengan alas yang baru pertama kali mereka lihat. Kata Mamiju yang mengantarkan mereka, Alas tidur atau Sprei itu terbuat dari kulit binatang yang masih memiliki bulu lembut. Tidak ada listrik di sana, penerangan mengandalkan sebuah lampu cantik dengan bahan bakar minyak yang menguarkan aroma caramel sangat kuat. "Bersihkan diri kalian," perintah Mamiju. "Akan ada jamuan makan di aula utama bersama Ketua," lanjut lelaki itu. "Siapa ketua?" celetuk Chandra. "Pemimpin negeri ini." "Ah, president?" "Seperti itu." Dengan wajah datar Mamiju pamit dan meninggalkan kedua pemuda itu dalam pondok. Alvian mendekat ke arah tempat tidur, dia duduk dan merasakan lembutnya bulu-bulu itu. Dia lantas merebahkan badan dan tidak sadar terpejam. Chandra melihatnya merasa iba. Pasti Alvian kelelahan mengingat pria ini paling berjasa dalam keselamatan dan keamanan perjalanan mereka. Di pondoknya, Andraga dan Wira duduk selonjoran dekat jendela. Pemandangan lembah yang indah dan fasilitas mewah tidak membuat anak lelaki berusia dua puluh tahun itu merasa nyaman dan senang. Dia kangen sang Ibu. Kangen masakannya, kangen omelannya. Entah apa yang merasukinya hingga dia menyetujui ajakan Wira. Hanya dengan iming-iming hadiah yang akan dia belikan seperangkat game keluaran terbaru. Dari atas pondok, siapa pun dapat melihat titik paling terang di dasar lembah. Juga titik yang paling gelap di sana. Ingin rasanya bertanya, tetapi dia tidak berani karena sepertinya prajurit perempuan yang antarkan mereka ke kamar ini sangat tidak bersahabat. Padahal Andraga dan Wira hanya ingin tahu, ada tempat yang terang sentara itu di sebelahnya terlihat sangat kontras dengan bangunan sebelumnya, karena gedung itu sama sekali tidak memiliki penerangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD