Begitu menyentuh dan masuk ke dalam cermin keperakan itu tubuh mereka tersentak maju bagaikan tersedot ke dalam pusaran.
Tubuh Alvian terombang ambing dengan kecepatan super tinggi dengan suara suara mendengung yang memekakkan telinga. Tubuhnya melayang laksana sampah plastik yang dibawa pusaran angin topan.
Mereka seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang diputar cepat. Kilas kilas cahaya yang menyilaukan membuat mereka tidak sanggup melihat satu sama lain.
Bugh!
Tubuh mereka satu per satu mendarat di atas rumput hijau yang empuk.
Aroma permen terhidu membuat kesadaran mereka yang nyaris hilang kini kembali.
Mereka berbaring menatap langit biru dengan awan yang berarak terlalu cepat. Sudah lama sekali rasanya tidak menghirup udara yang aromanya menyenangkan. Ada aroma permen karet kadang kadang mereka mencium karamel yang samar.
"Wira, ketiak lo bau banget bangke!" Keluh Chandra, pendaratan mereka kurang begitu menyenangkan, sehingga memang benar Wira mendarat di sebelah Chandra dengan kepala tepat di ketiak Wira.
Lelaki itu bangkit dari pembaringannya dan terpesona melihat pemandangan di bawah sana.
"Bro, lo harus lihat ini," ucap Chandra.
Alvian menoleh, diikuti Alana, Andraga dan juga Wira.
Mereka menjejak tanah berumput dengan satu pohon besar di atasnya. Terperangahlah anak anak manusia itu kala mengukur besarnya pohon itu. Lima kali lipat besar pohon yang ada di hutan tadi.
Semakin terperangah kala melihat pemukiman di bawah bukit. Sayangnya mereka sedikit ragu untuk turun karena belum tahu apa yang ada di bawah sana itu. Apakah sesuatu yang berbahaya atau hanya pemukiman biasa.
Alvian menatap Alana. Belum sempat sedikit pun dia intrograsi perempuan dengan bulu mata lentik itu.
"Lo kan yang selama ini ngikutin kami?"
Dia mengangguk ragu ragu.
"Nama lo siapa?" lanjut Alvian.
Andraga, Wira dan Chandra hanya melihat sekilas lalu kembali mengagumi pemandangan indah di hadapannya. Ada burung yang terbang melayang seperti elang di atas perkampungan itu.
Ada kincir angin raksasa persis seperti di belanda.
Tiga anak manusia itu saling pandang. Karena apa yang mereka pikirkan sama. Ada pemukiman di bawah sana pasti ada makanan rumahan yang lezat.
Sudah berapa hari mereka hanya makan makanan instan dan juga makanan hutan.
"Alana," jawab perempuan itu. "Gue gak sangka pendakian kalian bakal jadi satu petualangan gila. Tiap malam gue nangis karena pengen pulang."
"Nah kan, bukan kunti," sela Chandra di tengah keasikannya melihat ke bawah bukit.
"Kenapa lo ikutin kami? gue kan udah bilang lo balik sama temen lo, malah nekad ngikutin. Untung lo gak kenapa napa."
Alana tersenyum, dia berdiri dan memungut tasnya yang terlepas saat melintasi cermin perak yang bergerak.
"Berkali kali gue nyaris mati. Bahkan saat malam malam dengan badai. Pernah disamperin babi hutan. Pas di lembah ular itu gue didatengin ular banyak sekali. Rasa ingin kembali besar sekali, tapi gue gak tau jalan. Makanya gue terus ikutin kemana pun kalian pergi."
Alana membuka tas dan mengambil sebotol air, melihat air tiga pemuda itu menelan ludah. Mereka sama hausnya, tetapi tidak berani meminta.
Alana menuangkan air ke dalam tutup luar botol yang berbentuk gelas. Lalu menyerahkannya kepada Alvian.
"Thanks."
Belum sempat dia menenggaknya Andraga menghampiri dan berkata, "Bagu gue, Kak. Tenggorokan kering banget."
Alvian lantas meneguk sedikit, rasa segar menjalar di tenggorokan hingga perut. Lantas dia menyerahkan sisanya pada sang adik, diteguknya dengan rakus demi manuntaskan dahaga yang dia rasakan karena berteriak terus terusan dalam pusaran tadi.
Wira bangkit, "Kita harus turun."
Alvian mengangguk setuju.
"Tas gue mana?" tanya Chandra. Tasnya ada persis di bawah pohon. Tas Alvian, Andraga dan juga Wira berserakan di beberapa tempat.
Mereka penasaran ada di mana. Bagaimana caranya mereka kembali pulang nantinya.
Namun, rasa lapar mendorong mereka untuk menuruni bukit hijau itu masuk ke pemukiman.
Di bukit yang bulat itu tidak satu pun jalan setapak yang ditemui untuk menuruni puncak.
Mereka nyaris putus asa sampai akhirnya Wira terpeleset dan meluncur seperti sedang main perosotan di taman bermain bersama kawan kawannya.
Dia berteriak keasikan, begitu mendarat Wira sudah ada di tempat yang sangat asing.
Tidak berselang lama, Alana, Alvian, Andraga dan Chandra mendarat dari peluncuran.
Mereka berjalan pada jalan setapak, sisi kiri dan kanannya terdapat bunga bunga yang indah dan bermekaran. Warnanya kuning kenari.
Belum pernah mereka melihat bunga seindah itu, saking indahnya bunga itu ketika disentuh berubah warna menjadi oranye dan perlahan guvmgur dari tangkainya.
Mereka terus berjalan melewati tiga turunan. Melewati danau yang indah, sesekali capung yang akan bertelur terbang rendah di atas permukaan air.
Di ujung jalan setapak itu. Sungai berair jernih harus mereka sebrangi. Satu batang pohon kelapa mwnjadi jembatan yang bisa mereka pijak untuk sampai di seberang sana.
Ketika jalanan setapak yang mereka pijak itu habis, tibalah di satu pemukiman.
Saat melihat ke belakang, ternyata bukit itu cukup jauh dari jangkauan. Tidak terasa perjalanan mereka begitu panjang. Untungnya keindahan alam sekitar membuat mereka tidak merasakan lelah sedikit pun.
Pemukiman ini sepi, hanya rumah rumah dengan gaya yang baru kali ini mereka lihat.
Atapnya bulat seperti rumah adat daerah tertentu di Indonesia, Namun, atap itu tidak terbuat dari genteng atau pun adaun rumbia.
Itu mirip tanah liat yang dibentuk dengan jari jari tangan. Ada cap jari tangan di permukaan atap berwarna cream cerah itu.
Pintu rumahnya berukuran setengah dari ukuran pintu di perumahan normal. Jendela hanya satu itupun letaknya di atas pintu.
Semua rumah memiliki gaya yang sama. Sayangnya rumah itu sepi, pemukiman yang dilewati saat ini tak ubahnya pemukiman mati yang tak berpenghuni.
Padahal yang mereka bayangkan adalah perkampungan biasa, ada warteg atau warung yang menjual bala bala panas dengan saos lezat yang pedas.
"Kita di mana, ini?" tanya Alana.
"Gue gak ngerti, coba kalian apa berani ketuk pintu rumahnya?" Wira menatap Alvian. Dia tahu lelaki di depannya adalah lelaki paling berani.
Alvian mendesah, lalu dia mendekat dan berusaha mengetuk pintu. Alvian melihat ke dalam rumah melalui jendela tanpa kaca.
"Sepi," ujarnya.
Lantas dia duduk pada bilah bilah bambu yang difungsikan sebagai teras rumah.
"Bagaimana kalau lanjut ke tengah kampung?" usul Andraga.
Semua setuju dan melanjutkan perjalanan.
Lebar jalan yang mereka lalui kira kira tiga meter. Tidak beraspal tetapi tanah yang mereka pijak begitu mengkilap. Seperti granit yang terbentuk alami karena terlalu sering dipijak oleh manusia.
Mereka melewati salah satu rumah yang paling indah. Terdapat kolam kecil di depannya dengan pancuran yang terbuat dari batang pohon yang diukir.
Saat mendekat dan menghampiri air di kolam mini itu, mereka terpana. Pasalnya persis seperti bunga kuning kenari yang berubah warna. Air itu pun membeku seketika kala salah satu dari mereka menyentuhnya.
Dengan adanya keanehan itu, mereka semua bertanya, negeri macam apa yang saat ini mereka datangi?
Bisakah pada akhirnya nanti mereka pulang ke peluakn ibu masing masing dan dibuai hangatnya selimut di kamar.
Wangi permen yang samar terus mereka hidu sepanjang perjalanan ini. Hingga sampailah mereka di salah satu rumah, berhenti bukan karena lelah, melainkan ada tiga makhluk yang kaget ketika melihat kedatangan Alvian dan rombongan.