“Aww ... pelan-pelan ini perih.” Alvian meringis kala cairan berwarna kuning diteteskan di atas permukaan kulit yang terluka. Wira terlihat tidak banyak mengeluh meski pipinya sudah basah karena air mata. Dia menangis. Alvian jadi merasa lebih baik menjadi dirinya yang meringis dan protes kala cairan itu menyisakan rasa terbakar di permukaan kulit yang terkelupas. Mereka masih terjebak di antara pemukiman terbengkalai tepatnya jauh di belakang istana raja tempat di mana Empusa berada. Posisi mereka sungguh jauh dari tempat asal atau tujuan sekarang. Banyak rintangan yang harus dilewati terlebih perjalanan tidak akan semulus saat bulan purnama. “Ini tidak akan lama sakitnya,” ucap prajurit, berusaha menenangkan Wira yang terlihat baik-baik saja padahal paling kesakitan. Lukanya cukup da

