Strategi Sandrina dan Kekecewaan Mamiju

1046 Words
Nitisara bahagia mendapat kabar ditemukannya naskah rahasia berisi senjataa penghancur Empusa. Empusa semula hanyalah makhluk penghisap darah, populasinya semakin hari semakin berkurang karena dibantai warga. Binatang ternak selalu ditemukan dalam keadaan kering tidak berdarah. Remaja pria jika kebetulan keluar saat bulan purnama juga tidak luput dari serangan empusa. Makhluk itu tidak akan pernah keluar kecuali saat bulan purnama. Jika kedapatan warga ada yang mati karena Empusa maka habislah empusa itu. Hingga pada suatu hari sekelompok ilmuwan datang entah dari mana. Pada mulanya mereka hanya ingin melakukan rekayasa genetika terhadap buah buahan yang memang di negeri ini ukurannya lebih besar daripada di dunia manusia biasa. Namun, mereka pada suatu hari menemukan empusa yang tersisa dalam keadaan lemah habis dikeroyok warga. Natakusuma menolongnya. Lantas dibawa makhluk itu ke laboratorium. Dan diuji, para ilmuwan itu merekayasa empusa agar menjadi makhluk yang ramah dan bersahabat. Agar hidupnya bisa berdampingan dengan manusia. Sayangnya Natakusuma melakukan kesalahan fatal. Makhluk itu bukannya menjadi jinak melainkan menjadi lebih menggila. Hasrattnya untuk membunuh semakin menggebu, setiap hari haus darah bahkan setiap bulan purnama selalu ada saja warga yang terbunuh. Termasuk ilmuwan ilmuwan yang telah mengubahnya. Hanya Natakusuma yang selamat dia selalu memberikan darahnya untuk empusa. Menyusun s*****a penghancur serta berjanji kepada Nitisara untuk melenyapkan empusa. Namun semesta tidak pernah merestui, Natakusuma meninggal sebelum janjinya dia tunaikan. Satu pesan dari Natakusuma adalah kehadiran sang cucu yang akan menyelesaikan misi Natakusuma yang tertunda. * "Sandrina bisa baca itu?" tanya Alvian. Sandrina tampak seperti mahasiswa yang sedang mempelajari materi. Dia mengangguk membolak balik baskah yang ditulis dengan menggunakan aksara sunda kuno. Dan ternyata penduduk asli Negeri Bawah Tanah ini menggunakan Aksara itu sebagai komunikasi tulisan mereka. Beberapa sesepuh termasuk Bolo dan Nitisara juga terkadang bicara dengan menggunakan bahasa sunda yang halus dan sedikit dimengerti oleh The Rescue. "Alvian selain membawa ini bawa apa lagi dari sana?" tanya Sandrina. Alvian ingat, dalam kotak ada beberapa tabung berisi serbuk dan cairan. Karena disimpan bersamaan dengan naskah itu, Alvian menduga benda benda tersebut sama pentingnya dengan Naskah kuno yang mereka cari. Dia merogoh kantong celananya, dan menyerahkan benda benda itu kepada Sandrina. Namun satu tabung di sana kosong. "Itu kenapa kosong?" tanya Alana. "Ini ada artinya," tukas Sandrina. Mereka semua mengangguk faham. "The Rescue sebaiknya mengungsi ke camp bersama Nitisara," usul Sandrina. Alvian menolak dengan keras. Dia bersusah payah mencari sampai akhirnya berhasil mendapatkan naskahnya. Alvian juga mempertaruhkan nyawa dan berkali kali hampir mati, entah karena serangan ahool ataupun kehabisan oksigen. Sekarang dia keberatan ketika harus menunggu, hanya menunggu di camp bersama Nitisara. "Saya ingin terlibat, kalaupun harus membuat senjataa penghancur saya ingin tahu bagaimana itu." "Tapi ini berbahaya," sanggah Sandrina. Dia menutup buku, baginya perintah adalah perintah. Tidak ada negosiasi. Seperti para prajurit yang selalu mematuhi apa kehendaknya. "Walau bagaimanapun kami harus terlibat, dari awal kalian melibatkan Wira dan Wira melibatkan kami. mana bisa kami diam. Apa pun risikonya akan kami hadapi, hidup atau mati akan menjadi tanggung jawab kami sendiri. Tidak akan menyalahkan kalian, atau Nitisara sekalipun." Sandrina, Alana, Andraga dan Chandra terpana dengan perkataan Alvian. Sekeras kerasnya aturan Sandrina sedikit pun tidak akan membuat keteguhan hati Alvian runtuh. Jika dengan terlibat bisa membuat semuanya menjadi serba cepat, kenapa tidak? "Tapi ini akan lama. Ini," tunjuk Sandrina pada salah satu tabung berisi serbuk berkilau berwarna hitam. "Ini adalah Titanium Hitam. Dalam naskah ini Natakusuma menuliskan komposisi bahan untuk penghancur empusa. salah satunya ini," lanjut Sandrina. Chandra mendekat bersamaan dengan Andraga, lengan mereka bersinggungan. Buru buru Andraga menjauh. Dia masih sangat kesal pada Chandra. "Ya udah tunggu apalagi?" tanya Alana dengan sangat antusias. "Tidak semudah itu Alana. Ini hanya sampel, hanya sebagian kecil dan kita butuh dalam jumlah banyak." Alvian tersenyum, lantas dia berseru, "untuk itu, izinkan kami membantu. Agar semua prosesnya bisa berjalan dengan cepat." Sandrina menghela napas lalu dengan berat hati mengangguk. "Apa yang harus kami lakukan?" tanya Alvian antusias. Rupanya dia belum mengerti. Tidak semudah bermain game. Titanium hitam yang akan menjadi bahan utama harus dibuat terlebih dahulu. "Baiklah, kumpulkan semua prajurit di aula Haici. Pertemuan daturat akan segera dimulai," perintah Sandrina kepada Mara. Aula haici, The Rescue untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di sana. Aulanya tidak sebesar Gedung Gurnita. Dari luar tampak seperti pondok biasa. Di sana sudah ada banyak prajurit, termasuk Mamiju dan Laming yang duduk di bangku depan. Sandrina membawa The Rescue untuk duduk di sebelah singgasana pemimpin. Andraga melirik Mamiju, juga prajurit yang ada di sebelahnya. Dia selalu ingat dengan apa yang mereka rencanakan di dapur umum prajurit. Wajahnya begitu tenang, seperti sedang tidak merencanakan apa apa. Mamiju terkesan sangat patuh. Dan yang membuat Andraga malu, Mamiju menatapnya beberapa detik. Seperti ada kilat amarah di sana. "The Rescue sudah menemukan penghancur empusa. Sayangnya kita harus membuatnya terlebih dahulu." Sandrina membuka percakapan. Semua komposisi sudah ada kecuali titanium hitam yang harus kita cari dan kemudian olah. "Apa saja bahan yang harus kami siapkan?" Laming bertanya. Sandrina menunjukkan empat tabung kecil kepada Prajurit. "Serbuk hitam ini adalah titanium, serbuk perak, dan ini tidak bisa saya sebutkan yang pasti Nitisara menyimpan barangnya. Saya harus tetap menjaga agar ini tetap menjadi rahasia." "Yang kosong itu apa?" celetuk salah satu prajurit. "Ini seharusnya Darah. Darah Natakusuma." Chandra terlonjak kaget. Menyesal lelaki itu ikut ke Aula haici. Tanpa adanya Wira. Dia merasa menjadi orang yang dimanfaatkan. Chandra membayangkan darahnya disedot sampai habis, padahal tidak. Satu tetes sudaj mewakili. "Nah mampus lo," ujar Andraga. Chandra mendelik, jika saja tidak ada banyak orang, bogem mentah sudah mendarat di pipi Andraga. Untung saja Alana menggenggam tangannya, menenangkan Chandra meski sebenarnya dia sudah tidak tenang lagi. Darahnya akan diambil, dia akan mati pada pertempuran konyol ini. "Tidak seperti apa yang kamu pikirkan," ucap Sandrina berusaha menenangkan Chandra yang wajahnya memucat. "Satu tetes darah Natakusuma berarti untuk kehidupan kami di sini. Itu urisan belakangan, yang terpenting kita ciptakan terlebih dahulu Titanium hitam sebagai bahan bakunya." Sandrina lantas terus mengatur strategi. Dia membagi prajurit dalam beberapa kelompok. Kelompok yang akan terus berjaga dan melawan Ahool juga cerberus. Kelompok yang akan menjaga camp pengungsi, dan kelompok yang akan membuat senjataa penghancur empusa bersama The Rescue. Semua menerima keputusan Sandrina yang dianggap bijak, akan tetapi Mamiju kecewa, dia dan salah satu temannya harus berjibaku melawan ahool dan cerberus. Prajurit yang satu itu semakin menyimpan kebencian kepada Sandrina. Tinggal tunggu waktu saja sampai Mamiju berhasil menggulingkan sang Ketua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD