Tarbuya

1088 Words
Tarbuya, adalah salah satu prajurit yang ahli dalam bidang kimia. Dalam hal ini Sandrina menunjuk prajurit yang usianya sudah tua itu sebagai pemimpin dalam proyek pembuatan titanium hitam. Melalui Proses Kroll, Tarbuya melakukan beberapa langkah-langkah yang terdapat dalam proses ini yaitu ekstraksi, pemurnian, produksi spons, pembuatan paduan, dan membentuk. Andraga yang membenci pelajaran kimia mau tidak mau harus mempelajari bukan sekadar teori melainkan langsung praktik. Titanium di alam terdapat dalam bentuk bijih seperti rutil dan ilmenit. Rutil digunakan dalam bentuk alami, sedangkan ilmenit diproses untuk menghilangkan zat besi yang terdapat di dalamnya, sehingga mengandung titanium dioksida paling sedikit 85%. Aula Haici berubah fungsi menjadi laboratorium dadakan. Tangki tangki penyulingan berukuran besar dan alat alat lainnya sudah tersedia di aula tersebut. Alvian dibimbing oleh Tarbuya memasukkan rutil ke dalam reaktor fluidized bersama gas klor dan karbon. Materi tersebut dipanaskan sampai 1.652°F (900°C) dan menghasilkan reaksi kimia titanium tetraklorida murni dan karbon monoksida. Logam kemudian dimasukkan ke dalam tangki penyulingan besar dan dipanaskan. "Proses ini menggunakan metode destilasi fraksional dan presipitasi untuk memisahkan kotoran karena kebanyakan pada proses pertama kotoran juga ikut terklorinasi." Tarbuya menjelaskan, Alvian yang memang pintar dan mampu menyerap hal baru dengan cepat langsung mengerti dengan apa yang dijelaskan Tarbuya dari awal hingga akhir. "Kenapa kotoran harus dihilangkan?" tanya Andraga polos. "Kotoran harus dihilangkan, kotoran yang dihilangkan yaitu klorida logam termasuk besi, vanadium, zirkonium, silikon, dan magnesium. Pada proses ini dihasilkan cairan tidak berwarna. Selanjutnya, setelah dimurnikan titanium tetraklorida ditransfer dalam bentuk cairan ke bejana reaktor stainless steel." Dengan sabar prajurit berambut keperakan itu terus menjelaskan proses demi proses yang dilalui dalam pembuatan titanium ini. "Selesai?" tanya Alana. "Tentu saja belum, setelah titanium tetraklorida ditransfer, kemudian ditambahkan magnesium dan reactor tersebut dipanaskan sampai ±2012°F (1.100°C). Argon dipompa ke dalam wadah sehingga udara akan dihilang tujuannya untuk mencegah terkontaminasi oleh oksigen atau nitrogen. Magnesium bereaksi dengan klor menghasilkan magnesium klorida cair sehingga menghasilkan padatan titanium murni." Tarbuya memperlihatkan catatannya kepada Alvian. "Ini akan berlangsung lama, dan saya tidak bisa bekerja dalam kondisi banyak orang di sini. Bagaimana kalau kalian kecuali Alvian menunggu saja hingga selesai?" Chandra mendesah lega. Dia rasanya seperti mahasiswa sastra yang terjebak hingga masuk ke fakultas kimia. Butek, enggak kepikiran sama sekali. Satu persatu mereka keluar, menyisakan prajurit kepercayaan Tarbuya dan juga Alvian. "Nanti bagaimana lagi, Tarbuya, apakah sudah selesai?" tanya Alvian saat mereka sudah berdua. "Belum tentu saja belum. Padatan titanium dikeluarkan dari dalam reaktor dan kemudian dengan menggunakan air dan asam klorida untuk menghilangkan kelebihan magnesium dan magnesium klorida. Padatan yang dihasilkan adalah logam berpori yang disebut spons. Mekanisme reaksinya yaitu Spons titanium murni kemudian diubah menjadi elektroda spons melalui tanur-elektroda. Pada proses ini, spons dicampur dengan berbagai macam besi dan dilas sehingga menghasilkan elektroda spons. Lalu elektroda spons ditempatkan dalam vakum tungku busur untuk dicairkan. Dalam wadah air-cooled tembaga busur listrik, elektroda spons dilelehkan untuk membentuk ingot. Semua udara dalam wadah dihilangkan sengaja dibentuk menjadi ruang hampa atau atmosfer diisi dengan argon untuk mencegah kontaminasi, akhirnya akan membeku dan membentuk batangan titanium murni." Alvian menelan ludah penjelasan Tarbuya masuk ke telinga dan berusaha dicerna oleh otaknya dengan kapasitas seadanya. Dengan pikiran bercabang antara ingin segera menyelesaikan semuanya sampai kepikiran untuk segera menyelamatkan Wira. "Kamu akan mengerti jika sudah melalui prosesnya. Setelah zat besi berhasil dihilangkan lanjutkan ke proses berikutnya." Alvian mengangguk antusias. Meski sebenarnya dari pembuatan titanium ini masih lama menuju kata bebas. Rasanya perjuangan tak akan pernah mudah banyak hal yang harus dilalui demi terwujudnya cita cita luhur. Cita cita menyelamatkan seluruh negeri lalu pulang ke pelukan mami tercinta. * Di luar Alana berlarian di hamparan rumput yang hijau. Dia diikuti oleh dua pemuda yang tadi sempat berseteru. "Elah pelan amat kalian jalan, udah kayak pengantin sunat aja, lo." Alana terbahak, lantas dia menggambar rupa seseorang di atas lagit dengan menggunakan telunjuknya. Chandra mendekat lalu duduk dengan tenang. Andraga lebih memilih dengan siapa akan duduk. Lantas dia duduk lebih jauh dari Chandra. Baginya Chandra bersalah dan memang pantas diberi pelajaran. "Kira kira Alvian berhasil gak ya?" tanya Chandra kepada Alana. "Semoga berhasil, kita doakan dari sini. Lo siap siap keluarin darah untuk jadi bagian dari bahan yang akan digunakan." Alana tahu perasaan Chandra yang sedang resah. "Lo gak minta maaf?" tanya Alana dengan bisikan. "Yang lebih muda harusnya minta maaf duluan," ujar Chandra. "Dasar keras kepala," ejek Alana. Hingga petang tiba pembuatan titanium itu belum juga selesai. Di bawah dekat pondok terdapat Cerberus yang lolos dari penjagaan, ahool pun yang terbang jauh lebih banyak dari biasanya. "Al, gue curiga Mamiju sengaja bikin itu makhluk datang ke sini." Andraga melihat dari kejauhan ke bawah sana lalu berjalan mendekat menuju tempat duduk Chandra dan Alana. "Mamiju?" tanya Alana. "Lo liat sendiri bagaimana dia kecewa dengan keputusan Sandrina." "Kalau menggulingkan Sandrina dia kayaknya bisa maju jadi pemimpin, ambisius banget, bukan?" "Jangan asal nuduh kalau gak ada bukti." Chandra menimpali percakapan Andraga dan Alana. "Lo ngapain sih nyebelin terus dari kemarin." Andraga berdiri dan bersiap memberikan bogem mentah untuk yang kesekian kalinya. "Sianjir, heh kecoak. Lo jangan geer," ucap Chandra. Alana memijat keningnya dan meninggalkan area itu untuk kemudian pergi ke tempat di mana hatinya benar benar ingin tenang. Andraga akhirnya menekan ego. Gak ada gunanya terus terusan menyimpan dendam. Dia julurkan tangan kanannya disambut senyum dan tonjokan ringan di lengan. Chandra tertawa dan akhirnya kesalahfahaman usai begitu saja. Andai ahool, cerberus dan empusa mampu lenyap selayaknya kesalahfahaman Chandra dan Andraga. * Wirayudha membuka mata saat mendapati dirnya terikat di sebuah kursi yang entah bagaimana bentuknya. Aroma aroma yang ada menggelitik hidung, yang dominan adalah lembap. Wira berusaha bangun akan tetapi susah selain di tangan kakinya pun terikat dengan k**i. "Sudah bangun?" perempuan berambut biru datang mendekat. Cantik, wajahnya cantik sekali. Wira bahkan belum pernah bertemu dengan perempuan secantik itu dalam hidupnya. Namun, ingatannya pulih. Dialah empusa, yang berhasil merayunya hingga dia terjebak di ruangan ini saat ini. Wirayudha memalingkan muka. Dia mengingat satu rahasia Chandra yang hanya diceritakan kepada dirinya tentang rayuan Empusa. Tentang bagaimana empusa yang cantik ini membuat Chandra melayang hingga lupa pada dunia. Sampai rasanya tidak sanggup untuk membuka mata. Namun, di situlah bahayanya. Ketika sedang tidak sadarkan diri empusa akan menghisap darahnya hingga habis. "Dalam tubuhmu, darah Natakusuma terasa lebih kuat dibandingkan bocah yang kemarin. Tenang saja, tangan ini tidak akan menghabisimu sebelum purnama tiba." Suara lantai yang beradu dengan alas kaki empusa bergema. Dugaan Wira meleset, ternyata empusa tidak menyentuhnya sedikitpun. Seketika dia lega dan bisa berpikir bagaimana caranya kabur seperti Chandra yang berhasil melarikan diri dari tempat terkutuk ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD