Tube Rahasia yang Tiba-tiba menghilang

1508 Words
Tidak terasa dengan amat cepat hari merangkak ke pangkuan senja. Alana dan dua orang lainnya merasa jadi orang yang tidak dibutuhkan sama sekali. Semua proses pembuatan titanium hanya dilakukan Terbuya dan orang orangnya dan juga Alvian. Mereka juga tidak diizinkan melawan ahool dan juga cerberus, karena sesungguhnya The Rescue lah yang nantinya akan menyetang istana Raja dan menjatuhkan empusa. "Kalo hengpon bisa nyala enak ya, kita bisa ngegame bareng," ucap Andraga. "Kalo lo tahu banyak game seru yang gak perlu pake ponsel," ucap Alana. Andraga bangkit dari pembaringannya, kemudian dengan antusias terus bertanya kepada Alana. "Serius gue gabut banget ini," desak Andraga. Alana menggeleng malas, bukan waktunya untuk bersantai meski sebenarnya dia juga gabut. Inginnya Alana, Andraga dan Chandra mikir gimana caranya mereka jangan terjebak di pondok. Minimalnya mencari cara bagaimana caranya membebaskan Wira. "Ichan," sapa Alana. Chandra mendelik. "Jangan sinis gitu, lo gak ada keinginan buat nyelametin kakak sepupu lo? Gak mikir gitu dia sekarang lagi ngapain, makan atau enggak, bahaya atau enggak." Chandra diam sejenak, dia lantas mengingat saat terjebak bersama Empusa. Banyak hal yang tidak bisa Chandra ceritakan seluruhnya kepada mereka selain Wira. Malu, tentu saja. Empusa bukan makhluk mengerikan yang menyiksa mangsanya dengan cara tidak manusiawi. Empusa memperdaya mereka dengan rayuan. Alana menyentuh lengan Chandra, sejenak jantung Chandra seolah berhenti berdetak. Suatu hari di tempat empusa berada dia merasakan sentuhan yang sama. Hanya di lengan, tetapi kemudian menjalar hingga ke banyak hal. Bulu kuduknya meremang. Dengan sigap Chandra menepis tangan Alana mengundang rasa kaget perempuan kecil itu. "Maaf Alana, gue gak maksud. Gu ... gue cuma kaget," kilah Chandra. Alana mengangguk, jujur agak kecewa karena sentuhan ringan itu membuat Chandra terlihat sangat kaget, bahkan bekas sentuhannya berkali kali diusap seperti jijik. Untungnya perasaan dua anak manusia itu teralihkan saat melihat Sandrina dikawal tiga prajurit melintas di pondok mereka. Andraga bergegas keluar dari pondok untuk mengikuti Sandrina. Alana dan Chandra menyusul dari belakang. "Sandrina!" teriak Andraga. Langkah Sandrina dan prajuritnya lebar lebar nyaris tidak terkejar. "Sandrina!" Andraga terus memanggil, diikuti Alana dan Chandra. Salah satu prajurit menyadari bahwa mereka diikuti, pada akhirnya mereka berhenti. Dengan napas terengah tiga orang gabut itu akhirnya mendekat. "Boleh kami ikut?" tanya Andraga. "Kami mau ke Camp bertemu Nitisara, di luar sangat berbahaya. Kata salah satu prajurit kami, cerberus bertambah banyak." "Ada Sandrina dan Prajurit yang akan melindungi kami," ucap Alana percaya diri. Tiga prajurit yang menyertai Sandrina saling pandang. Mereka hendak ke kandang kuda, lantas akan bertolak menuju camp Nitisara. Sandrina mengerti tiga orang ini pastinya bosan terkurung di pondok. Setidaknya dengan ikut ke camp mereka akan bisa bertemu dengan Nitisara, juga anak anak kota yang sama kesepiannya dengan mereka. "Kalian mau ke mana?" akhirnya Chandra bertanya. "Kami mau menemui Nitisara, saatnya mengambil tube rahasia untuk kelengkapan pembuatan senjataa." Mendengar itu Chandra semakin ingin ikut, setidaknya dia pernah tinggal di sana selama beberapa hari dan punya banyak teman. "Kita naik kuda," ucap Sandrina mewakili persetujuan. Mereka pernah beberapa kali diajari bagaimana cara menunggang kuda, akan tetapi karena ukurannya lebih tinggi dari kuda yang ada di dunia mereka, semua tidak pernah berhasil. Kecuali Chandra dan Alvian yang sedikit menguasai bagaimana cara menunggang. Alvian lagi, lama lama Chandra kesal karena seakan akan semua hal itu selalu dikaitkan dengan Alvian. Sandrina menunggangi kuda putih yang gagah tinggi menjulang, di belakangnya Alana duduk seperti seorang anak yang dibonceng ibunya di sepeda motor. Perempuan itu tampak berusaha untuk tenang dan mengenyahkan perasaan takut. Dua orang lainnya bersama prajutrit. Sandrina tidak mengizinkan Chandra untuk mengunggangi sendirian meski dia kekeh ingin mencobanya. "Jangan main-main!" tegas Sandrina. Prajurit yang tidak pernah tersenyum itu lantas berjalan di barisan ke dua setelah prajurit pertama yang jalan duluan. Suara sepatu kuda terdengar seirama, wajah mereka panas terbakar matahari sekaligus sejuk ditampar angin. Jalan yang mereka lalui sama sekali tidak tersentuh oleh Ahool. Strategi Sandrina mengerahkan pasukan untuk melawan ahool di sisi lain perkotaan membuat sisi yang dilalui saat ini aman. Tentu saja jalanan ini adalah jalan yang akan dilalui untuk mendukung proses lancarnya kelangsungan rencana yang disusun demi melawan Empusa dan kekuasaannya. Perjalanan itu sampai ke telinga Mamiju. Prajurit yang tengah memimpin pertempuran bersama Ahool itu menyerahkan seluruh kepercayaannya kepada prajurit lainnya untuk melanjutkan memimpin jalannya pertempuran. Sandrina dan rombongan tiba dengan selamat di camp, penjagaan ketat di depan pintu masuk camp pengungsi membuat musuh tidak sanggup untuk datang melawan dan masuk ke camp. Chandra adalah orang yang paling bersemangat, dia mengajak Andraga dan Alana untuk bertemu dengan anak anak dari camp. Sayangnya kabar kemunculan Empusa beberapa hari yang lalu membuat seluruh orangtua menjaga anak anaknya. Tidak ada kegiatan apa pun di dalam Camp kecuali dalam pengawasan orangtua. Sandrina dan Nitisara melakukan pertemuan tertutup untuk membawa tube rahasia yang digunakan sebagai salah satu komposisi dalam pembuatan senjataa penghancur empusa. Waktu yang terus bergerak membuat semua dilakukan dengan cepat. Chandra yang menjadi salah satu keturunan Natakusuma didoakan oleh bolo, diberi ucapan terima kasih oleh seluruh penduduk pasalnya darah dia yang akan diambil sebagai bahan persembahan juga pelengkap yang akan mamou menghancurkan empusa. Chandra sejujurnya ketakutan, apakah orang orang sini memiliki perlengkapan canggih seperti di PMI sehingga mengambil darah sebanyak apa pun yang dikehendaki. Tentu saja tidak mungkin, Chandra menyadari hal itu. Benda tajam seperti pisau atau yang lainnya yang akan melukai dirinya hingga tetes demi darah berhasil dikumpulkan. Kemudahan dan kelancaran yang mereka lalui rupanya tidak pernah berlangsung lama. Saat empat ekor kuda yang membawa mereka kembali pulang menyusuri jalanan yang dilalui sebelumnya. Mereka tidak pernah menyangka jika sebuah jebakan sudah disiapkan. Kuda mereka terjerembap dan terjungkal. Di peristiwa itu, fokus Sandrina hanya pada tiga orang Chandra, Andraga dan Alana. Dia tidak pernah menyadari bahwa tube rahasia yang berhasil dia bawa dengan susah payah akhirnya menghilang. Andraga dan Chandra terluka cukup serius, bau darah tercium dan Andraga merasakan perih yang kuat pada sikutnya. Lelaki itu meringis, juga merasakan denyut hebat di kepalanya. Entah terbentur apa, yang pasti perlahan penghilatannya berubah dari cerah menjadi kuning, kemudian berganti menjadi gelap. Hal terakhir yang dia lihat adalah wajah teduh Sandrina yang terlihat begitu panik dan khawatir. * Kekacauan terjadi setelah kecelakaan itu. Mendengar kabar sang adik jatuh dari kuda membuat konsentrasi Alvian terpecah. Untung saja Titanium hitam yang dia buat sudah hampir selesai. Mengabaikan panggilan dari Terbuya Alvian terus berlari menuju pondok untuk melihat dan memastikan sendiri kalau sang adik baik baik saja. Andraga terlihat seperti sedang tidur tenang. Semua luka yang dia dapatkan sudah diobati. Melihat hal itu Alvian mendesah lega. Tidak tampak begitu mengkhawatirkan. Chandra memberikan handuk kecil agar Alvian bisa mengelap keringatnya yang bercucuran. Sementara Alana memberikan segelas air. "Kok bisa jatuh?" selidik Alvian. "Entahlah, tadi banyak tali tipis mirip benang yang membuat kuda meronta entah takut atau gimana kami semua terjatuh." Alvian tercekat mendengar penjelasan Chandra. Bagaimana tidak kaget, kudanya tinggi dan medan yang ditempuh pun tidak cukup baik. Tangan Alvian terulur, dia menyentuh pipi sang adik, membuat lelaki yang tidur seperti bayi itu menggeliat lalu kembali pulas. "Titanium hitam sudah selesai, Senjataa rakitan pun sudah selesai, tinggal menunggu peluruu yang terdiri dari titanium hitam, serbuk perak, Cairan dalam tube rahasia hingga darah Natakusuma. Lega rasanya mengingat semua perjuangan ini akan segera berakhir. Mereka bisa pulang dan kerajaan Nitisara akan berdiri untuk pertama kalinya. Alvian lantas mendesah seraya menyandarkan punggungnya tepat pada pintu. Menikmati angin yang berembus menyejukkan. Namun di sisi lain Sandrina tengah cemas, dari berbagai sudut dia mencari tube rahasia yang mendadak lenyap, keberadaannya seakan tidak pernah ada di dalam kantong kecil yang selalu dia bawa di pinggannya. Dia yakin Tube rahasia itu dimasukkan dengan hati hati ke dalamnya, bagaimana mungkin kini bisa hilang tanpa jejak. "Sandrina?" tanya Alvian. Sandrina terus mencari, menajamkan ingatan berharap apa yang dia segera bisa ditemukan. "Ya," jawabnya tanpa menoleh sedikit pun. Sandrina terus mondar mandir mencari dari luar ke dalam begitu pun sebaliknya. Tiga prajurit ikut membantu. Alana dan Alvian bertatapan, Alana bertanya "Kenapa?" tanpa suara sedangkan Alvian mengandikkan bahu. "Sandrina!" sentak Alvian. Sandrina menoleh dengan tatapan terluka, bukan karena sakit hati lantaran dibentak oleh Alvian melainkan takut dan sedih karena tube rahasia yang diamanatkan nitisara kini lenyap. "Dia hilang," bisik Sandrina. "Siapa yang hilang Sandrina?" Alana mendekat berusaha meraih pundak Sandrina yang tinggi. "Dia hilang!" ujar Sandrina putus aja. "Astaga, tenang dulu, siapa yang hilang?" desak Alvian. Chandra mendengarnya sedikit terhenyak, mungkinkah Wira yang menghilang? Rasanya lemas jikaa benar saudaranya itu yang hilang. Bayangannya ke mana mana, mungkin Wira sudah disedot darahnya sampai habis oleh empusa. Membuat Chandra takut hingga pegangannya pada gelas bergetar dan isi didalamnya beriak. "Dia hilang!" ulang Sandrina merosot ke lantai. Tatapannya menerawang jauh, nasibnya sebagai pemimpin bawah tanah benar benar dipertaruhkan. Alana menyodorkan satu cangkir besar air untuk Sandrina. Meski awalnya menolak untuk minum akhirnya Sandirna menerima dan meneguk sedikit demi sedikit. Dia menatap Alvian Alana dan juga Chandra bergantian. "Maafkan saya," ucapnya dengan wajah pucat. "Maaf karena tube rahasia yang baru saja diberikan oleh Nitisara ternyata hilang." Suaranya melemah, Sandrina benar benar berada dalam masalah. Dia sudah menghancurkan seluruh rencana dan mengacaukan segalanya. Alvian yang semula semangat karena menyelesaikan Titanium hitam kini terlihat begitu lesu. Dia menatap Andraga yang masih pulas. Bisakah kita pulang, Dek?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD