Aroma Pengkhiatan

1047 Words
Andraga dan Wira sampai di sebuah bangunan tinggi, untuk pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di dapur umum prajurit. Tidak ada aroma masakan seperti yang biasa mereka hidu hari hari sebelumnya. Sebagian besar prajurit dikerahkan untuk melawan pasukan Empusa, sisanya terbagi dua untuk melindungi camp pengungsi dan pondok prajurit. Bisa gawat kalau musuh menyerang pondok prajurit, semua bahan pangan serta gudang dan pabrik pembuatan alat perlindungan diri dan juga senjataa ada di tempat ini. Dengan tenaga yang mereka miliki, Andraga dan Wira mendorong pintu besar yang terbuat dari susunan kayu utuh itu. Andraga yang berbadan kecil mampu menyelinap sementara Wira mencari sesuatu agar pintu itu tetap terbuka. Masalahnya jika pintunya tertutup dengan keadaan mereka di dalam ruangan, sudah pipastikan susah untuk keluar. Dapurnya luas. Di tengah tegah terdapat kukusan raksasa yang tutupnya dibiarkan terbuka dan menggantung di udara. Tali tambang dengan diameter besar menjadi penopang tutup kukusan tersebut. Sisi kiri kanan terdapat banyak peralatan makan mewah yang terbuat dari perunggu. Sebagian berantakan belum tercuci. Keduanya mengira dapur ini ketika berfungsi dengan baik maka tidak seberantakan ini. Mungkin karena prajurit yang biasa bertugas di dapur turun ke medan pertempuran. Wira dan Andraga bingung, ke mana mereka harus mencari air hangat. Andraga menyusuri lorong sebelah kiri, sementara Wira berjalan di korong sebelah kanan. Matanya dengan awas melihat lihat mencari apa yang mereka cari dan juga makanan untuk sarapan bersama. Tubuh mereka yang tidak setinggi para prajurit menjadikan mereka seperti anak kecil yang berdiri di depan kitchen set milik sang Ibu di rumah. Harus berjinjit ketika ingin menjangkau sesuatu. Andraga menggeledah ruangan itu dengan hati hati, khawatir memecahkan dan membuat tempat itu menjadi kacau. Dia menemukan sekeranjang buah segar, sedangkan Wira membawa air ke dalam sebuah wadah mewah dengan pinggiran ukiran yang indah. Sebelum keluar dari tempat itu, Andraga menoleh ke salah satu pintu yang terletak di ujung lorong. Wira tahu, Andraga pasti penasaran dengan tempat itu, sehingga diajaknya Andraga untuk melihat ke dalam sana. Keranjang buah yang tadi dia bawa untuk ganjal makanan bersama The rescue di pondok akhirnya dia simpan terlebih dahulu. "Gue kok rasanya denger suara orang ngobrol," ucap Andraga. Wira tidak membantah, memang, rasanya seperti ada suara suara. Meski bisik bisik, tetapi suaranya cukup tegas dan jelas. "Lu denger juga?" tanya Andraga lagi. Wira hanya mengangguk lantas memberi kode agar Andraga diam taj berkomentar. Langkah mereka yang biasa biasa saja berubah jadi langkah mengendap, seperti pencuri yang sengaja menghindari kecurigaan pemilik rumah. "Jangan biarkan The Rescue kalahkan empusa sementara kita belum menggulingkan Sandrina." Langkah keduanya terhenti. Aroma pengkhianatan tercium di dapur ini, hanya saja Andraga dan Wira tidak tahu siapa prajurit yang sedang berbincang itu. Kendati begitu, Andraga dan Wira terus merapatkan badan dan menajamkan telinga. "Apa tidak terlalu lama?" "Saya rasa tidak, pastikan Sandrina selalu gagal melancarkan aksinya." Suara tegas itu terdengar mantap. Sandrina pemimpin para prajurit kini sedang ditikung dari belakang, entah oleh siapa. "Meski harus mengorbankan segalanya seperti kemarin malam?" tanya pria yang bersuara lebih cempreng. "Memanggil hujan di bulan purnama adalah kesalahan fatal, jika Nitisara tahu kita akan dieksekusi." Andraga geram, ingin rasanya dia melabrak orang itu dan marah sejadi jadinya. Hanya saja, Wira masih punya akal sehat, dia mencegah Andraga. Hingga kepalanya terbentur meja panjang tempat mereka kini bersembunyi. Suara benturan itu disadari oleh dua prajurit yang sedang berbincang di balik pintu besar itu. Andraga dan Wira menahan napas, berharap persembunyian mereka tidak pernah terbongkar. "Ada orang?" tanya salah satu prajurit. Pintu besar itu terbuka sedikit. Dari bawah, Andraga dapat melihat bayangannya. "Mungkin pussi pussi," ucap salah satu prajurit itu. Pussi pussi adalah binatang mirip kucing, dengan ukuran lebih kecil dan sedikit pemalu. Pussi pussi selalu berkeliaran di dapur dapur, tetapi sulit ditangkap bahkan sulit juga dijadikan peliharaan. Dua prajurit itu berhenti mencari cari, sayangnya mereka tidak menutup pintu. Andraga dan Wira terjebak di sana. Mendengarkan kenyataan demi kenyataan yang sungguh tidak pernah mereka perkirakan sama sekali. "Kakak gue butuh air hangat, anjir gue malah di sini," bisik Andraga, dari kolong meja tempat persembunyiannya dia dapat melihat air hangat yang sudah disiapkan di mangkok besar dengan ukiran cantik. "Bentar," cegah Wira. "Kita bisa dapat banyak informasi di sini, lo bisa ke pondok sendiri? panggil Chandea atau Alana." Andraga melihat situasi. Sepertinya sulit, dia takut dirinya akan ketahuan. Dia berusaha keluar dari persembunyian dengan jutaan tanya. Mengapa Sandrina yang begitu baik dan loyal terhadap negeri sampai ada yang membenci sedemikian rupa. Andraga dengan hati hati membawa air hangat untuk Alvian. Dia ingin segera berlalu, tetapi keranjang buah di hadapannya begitu menggugah. Di bawah meja, Wira memberi kode, agar Andraga tidak udah pedulikan keranjang buah itu. Andraga menelan ludah. Lalu dia hanya menyambar apel dengan kulitnya yang berwarna ungu cerah. Sampai di pondok prajurit, Andraga buru buru melihat keadaan sang Kakak. Masih panas, tetapi setidaknya Andraga lega karena Alvian kini sudah bangun dan duduk meski masih sangat lemas. "Lama amat lo, kalo gawat kakak lo udah lewat pasti," komentar Alana, dia merebut wadah dari Andraga. "Biar gue aja, lo susul Wira di dapur umum." Alana mengerutkan kening. Perempuan itu berusaha mencerna apa yang Andraga katakan. Lelaki yang kini tengah menyeka wajah dan leher Alvian dengan penuh kasih sayang. "Emang dia ngapain?" "Pas mau ke dapur tadi kami dihadang ahool, heran gue bisa sampe juga ke sini tuh moonyet." "Lo gak luka?" sambar Alvian, suaranya serak. "Enggak, cuma yang jadi masalah bukan itu sebenarnya," ungkap Andraga. "Lo ke dapur umum jangan sampe ada yang tahu. Lo kalau dari pintu utama terus aja lurus lewatin kukusan yang gede itu. Di sebelah kanan ada pintu, Nah si Wira lagi ngumpet di bawah meja deket pintu itu." Andraga menyelesaikan pekerjaannya, lalu mengambil air minum dan berjalan keluar untuk mencuci apel itu. Alana masih diam. Tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Andraga. "Ngapain Wira ngumpet? Main petak umpet?" celetuk Chandra. "Gue gak sengaja denger prajurit ngobrol di balik pintu itu. Kayanknya sih ada dua orang, mungkin lebih." Alana antusias. "Terus?" "Gue mencium aroma pengkhianatan di sana," tegas Andraga. Lengkingan Ahool terdengar di kejauhan. Semakin sering Andraga mendengar suaranya semakin ingi segera menuntaskan segala urusan dan pulang. "Siapa yang berkhianat?" tanya Alana. "Gue gak tahu, yang pasti mereka yang bikin hujan semalam, mereka yang bikin rencana kita ngancurin ahool berantakan." Alana berdiri, disusul Chandra, keduanya bergegas menunu dapur umum, menyisakan Andraga dan Alvian yang kini sedang menikmati sebuah apel berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD