Sepotong Informasi dan Makanan Penghantar tidur.

1035 Words
Alana berdiri, disusul Chandra, keduanya bergegas menuju dapur umum. Udara yang dingin menggigit sama dinginnya dengan perasaan Alana saat ini. Dia kesal, bisa bisanya ada pengkhianat. Padahal The Reacue mati matian mengorbankan segalanya demi keselamatan negeri. Kalau begini bagaimana caranya dia bisa pulang? "Emang hujan bisa diundang?" tanya Chandra, lelaki yang kini sedang mensejajarkan langkah. Alana kecil kecil tapi langkahnya pasti dan lincah. "Ini negeri antah berantah, jangankan manggil hujan, manggil demit pun semudah membalikkan telapak tangan!" Chandra tersenyum, bukan apa-apa, ternyata perempuan setangguh Alana juga sama seperti perempuan kebanyakan yang gampang tersulut emosinya. Tiba di depan dapur umum prajurit, Alana menghela napas, manakala hendak membuka pintu, dari dalam pintu itu terdorong. Mamiju dan Aisu keluar dari sana. "Loh, kalian ngapain di sini?" tanya Mamiju. "Kami mau nyari pengk–" Buru buru Alana membekap mulut Chandra. "Kami lapar, kami mau cari makan." Alana berkilah, Chandra akhirnya mengangguk dan dia lega bebas dari Alana. "Mara tidak mengantarkan makanan pagi ini?" tanya Mamiju dengan ekspresi kaget. "Mungkin Mara sibuk, lihat ahool ahool itu terus melawan," ujar Alana. "Kalian tamu kehormatan Nitisara. Jika sampai beliau tahu kalian belum makan, habislah sudah itu Mara." Alana memandang Chandra. Ada sesuatu dalam sorot matanya, untungnya Chandra segera mengerti. "Kami cari saja di dapur, boleh?" tanya Chandra. "Biar kami yang urus, kalian kembali saja ke pondok." Mamiju berusaha meyakinkan. Jika sedang lapar, mereka enak enak saja, sih, dapat pelayanan persis seperti di hotel. Tetapi kali ini berbeda. Bukan lapar, tetapi mereka haus, haus akan informasi yang tadi dibawa oleh Andraga. "Percayalah, ini tidak akan memakan waktu yang lama. Istirahatlah, kalian sudah bekerja keras kemarin." Mamiju membungkuk, mengirimkan perasaan tidak enak kepada Alana dan juga Chandra. Sekali lagi sepasang anak manusia itu saling pandang, akhirnya mengangguk dengan wajah lesu. Lantas Alana mengayun langkah kembali ke pondok. Dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Mamiju dan Aisu kembali ke dapur. Menyalakan perapian dan mengolah bahan mentah. Tanpa kedua prajurit itu sadari, di bawah meja dekat pintu sebelah kanan, Wirayudha tetap bersembunyi. Mengorek informasi dari Mamiju dan Aisu. Setelah Andraga keluar tadi, Mamiju muncul dari balik pintu, dua orang yang mengundang datangnya hujan saat purnama itu adalah dia. Wira sungguh tidak pernah menyangka, prajurit baik yang selalu diandalkan itu memiliki hati yang busuuk. Hanya saja Wira tidak mengerti, kenapa Sandrina yang menjadi sasaran pengkhianatan mereka. Aroma masakan tercium. Perut Wira berontak. Rasa lapar hampir tidak bisa dia tahan lagi. Sayangnya lelaki itu harus banyak bersabar. Jangan sampai misinya ketahuan. "Kamu percaya anak anak itu akan menemukan naskah dan membunuh empusa?" tanya Aisu. "Bukan hanya menemukan naskah, tetapi mereka jugalah yang akan merakit s*****a dan juga–" Mamiju membuka tutup kukusan, membuat dia harus berhenti bicara karena asapnya berhamburan dan mengenai wajahnya. "Saya percaya." Pada akhirnya. "Karenanya situasi ini menguntungkan untuk kita menggulingkan Sandrina. Jangan sampai Sandrina ikut harum bersama mereka." Wira sudah sangat gerah berada di tempatnya sekarang. Ingin rasanya dia keluar cepat cepat. Hanya saja mereka lama sekali dan informasi yang dia dapat pun hanya sebatas itu. * Wira mampu membebaskan diri setelah Laming dan Aisu meninggalkan dapur. Keduanya membawa nampan besar berisi makanan untuk The Rescue. Wira berusaha mencerna percakapan demi percakapan antara Laming dan Aisu. Lelaki itu memilih untuk tidak kembali ke pondok. Dia duduk di atas rumput yang mulai mengering meski sinar mtahari belum buga bisa menampakkan diri. Sasaran Laming hanyalah Sandrina. Bukan mereka, tetapi tetap saja bingung melanda, apa dia tega membiarkan Sandrina yang begitu baik kepadanha dikhianati anak buahnya? Sempat kepikiran untuk membocorkannya, tetapi dia bingung. Mamiju juga baik pada dirinya dan juga The Rescue. Wira bangkit dan menoleh ketika Mamiju menepuk pundaknya. Wira mendongak kemudian tersenyum hambar, bingung apa yang hendak dia katakan. "Makan sudah siap. Jangan sampai kamu juga sakit, cepatlah masuk." Wira mengangguk, manakala Wira menatap wajah Mamiju, teringatlah akan semua yang dikatakan lelaki itu di dapur. Lantas Wira bangkit dan mengucapkan terima kasih kepada Mamiju. Sesampainya di Pondok, benar saja Wira jadi bulan bulanan The Rescue. Semua orang bertanya banyak hal tentang apa yanh dia dengar di dapur. "Kalian gak nyuruh gue makan dulu?" tanya Wira. "Makan sambil cerita," sambar Andraga. "Kata mama gak boleh bicara saat makan." Wira terus berusaha menolak apa yang dia dengar. Dirinya lebih memilih makan. Sesuatu yang mirip siomay juga dimsum. Hanya saja, pembungkus atau kulit pangsit yang bisa digunakan terbuat dari potongan buah buahan yang ditipiskan. Mereka makan begitu lahap, begitu juga dengan Alvian yang kini sedang sakit. Makanan yang terhidang di meja belum habis ketika pintu tiba tiba terbuka. Angin begitu kencang membuat mereka hatus memejamkan mata. Namun, yang semula hanya dikira angin ternyata bukan. Dua ekor ahool masuk dan membuat pondok tempat tinggal sedikit rusuh dan kacau. Chandra mengambil busur panah di dekatnya lalu melesatkan anak oanah hingga mengenai kepala salah satu ahool. Tidak sanggup untuk kabur lagi akhirnya dua Ahool, ambruk dan menerima kekakahan di pondok itu. "Keluarkan, kalau enggak kita tidur di mana?" ucap Alvian. "Pondok Alana kan ada," celetuk Chandra. Mau tidak mau akhirnya Alana harus pasrah. Karena untuk menyingkirkan ahool di ruangan ini rasamya sangat susah. Dimulai dari Andraga dan Chandra. Dengan tidak tahu malu keduanya menerobos pondok Alana. Tempatnya lebih manusiawi dibandingkan dengan tempat mereka yang kini menjadi tempat bangkaii Ahool. Dengan kepala yang masih sakit Alvian lantas mendudukkam diri di tempat tidur yang terlihat sangat empuk. Setelah semuanya tenang, lantas semua mata tertuju kepada Wira. Nagih untang cerita di dapur umum. "Adanya kejadian ini gue jadi gak percaya pada siapa siapa sekalipun mereka baik." "Mereka siapa?" tanya Alana penasaran. "Prajurit," tandas Andraga. Hening, angin yang sejuk masuk melalui jendela lebar, membuat tirai putih yang menjuntai meliuk liuk seperti selendang yang tengah menari. "Mamiju merencanakan banyak hal, termasuk membuat bulan purnama tertunda. Untuk saat ini gue dan Andraga bakal jadi mata mata Mamiju. Selebihnya kita lancarkan semua rencana yang tertunda. Pikirkan saja bagaimana membuat makhluk itu mati. Atau setidaknya bagaimana kita susun strategi untuk bisa menemukan sisa naskah di laboratorium." "Dia pengkhianat?" "Gue belum tahu pasti. Jelasnya tujuan dan sasaran Mamiju bukan kita, melainkan Sandrina." Semua terdiam, habis makan masakan Mamiju rasanya malah ngantuk. Luar biasa ngantuk sampai akhirnya pemuda pemuda itu tumbang dan terlelap. Entah apa yang sebenarnya Mamiju rencanakan. Sepotong informasi yang didapatkan Wira sama sekali tidak banyak membantu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD