Setelah peradilan yang dilakukan Nitisara di depan semua Prajurit. Sandrina harus rela semua dilucuti termasuk pakaian prajurit yang selalu melekat dengan gagah di tubuhnya.
Satu hal yang belum diambil oleh Nitisara adalah Lencana kepemimpinan prajurit. Perempuan itu bertanya tanya mengapa lencana itu justru tidak diambil. Hukuman prajurit yang melanggar peraturan dan berkhianat adalah diambilnya seluruh keistimewaan prajurit termasuk lencana juga kekuatan.
Sandrina pulang ke pelukan keluarga, dia menikmati masakan sederhana yang dihidangkan sang Ibu, Sandrina juga menikmati namanya istirahat penuh tanpa gangguan.
Menikmati aliran sungai yang jernih membelai tubuhnya dan yang paling menyenangkan adalah ketika terbangun pagi hari hanya kicau burung yang merdu yang dia lihat.
Tidak ada lengkingan ahool dan geraman cerberus, tidak ada pekikan dan teriakan prajurit yang memanggil dirinya.
Satu hari dua hari rasa itu ternyata tidak selamanya menyenangkan. Ada tanggung jawab besar yang dia emban. Ada hal yang belum selesai dia lakukan demi negeri ini.
Sandrina mendatangi Camp Nitisara. Akan tetapi hanya ada istri Nitisara dan beberapa pengawal.
Nitisara dikabarkan sedang menggantikan tugas Sandrina dan mengadili Mamiju.
Sandrina memang terkenal tegas, kejam dan tanpa ampun, tetapi ketika salah satu prajuritnya mendapat hukuman yang mengerikan dia tidak tega.
"Nitisara hanya titip ini, kembalilah jika sudah siap untuk kembali."
Sandrina menerima kotak berisi pakaian prajurit.
Pakaian baru lengkap dengan senjataa yang baru pula.
"Bagaimana bisa?" tanya Sandrina.
"Sejak awal kami tahu, kamu tidak pernah bersalah. Hari ini Mamiju mendapatkan hukumannya."
Sandrina mendongak menatap wajah istri Nitisara.
"Bagaimana itu?" tanya Sandrina.
"Seperti yang terjadi kepadamu, hanya saja ...."
"Hanya saja?"
"Mereka dibiarkan berjalan melalui jalur kota menuju camp ini. Tanpa bekal persenjataan tanpa kekuatan."
Tercekat itulah reaksi Sandrina. Diraihnya kotak berisi pakaian yang diberikan Nitisara melalui istrinya.
Sandrina mematut diri di cermin. Tubuh tingginya selalu sempurna kala berbalut pakaian prajurit.
Rambut kecoklatan yang beberapa hari ini tergerai kini kembali diikat. Sandrina membawa pedangnya dan berlari menuju arah perkotaan di mana ahool ahool berkoloni.
Sandrina berlari kencang pijakan kakinya terasa begitu mantap. Dia adalah pemimpin, seorang yang memiliki nurani juga berkewajiban melindungi rakyatnya dari serangan Ahool gila di perkotaan.
Apa pun motif Mamiju yang ingin menyingkirkannya dari kekuasaan, Sandrina tidak peduli. Yang terpenting baginya tidak boleh ada yang terluka, bersalah ataupun tidak orang itu.
Lengkingan Ahool semakin terdengar mengerikan, jeritan orang dan geraman cerberus saling bersahutan.
Sandrina semakin berlari kencang, dari tempat dia berdiri dilihatnya Mamiju yang tengah berusaha melawan Ahool berbulu kelabu yang menyerangnya. Cakarnya melukai bagian tubuh Mamiju membuat lelaki yang tak berdaya itu mengaduh.
Sandrina bergegas dia buru buru menepis cakar ahool yang tajam yang nyaris saja melukai wajah Mamiju. Sandrina menebaskan pedang panjang yang lentur itu tepat pada sayap ahool. Darahnya menyiprat ke mana mana terutama wajah Mamiju.
Mamiju membuka matanya terperangah kala melihat Sandrina berdiri di hadapannya. Melawan serangan bertubi tubi dari Ahool dan cerberus.
Sandrina memberi tanda bahwa semua akan baik baik saja, pemimpin tangguh itu berdiri di depan Mamiju dan melawan serangan demi serangan.
Mamiju terus mematung di tempatnya sampai tidak menyadari cerberus yang ganas menyerangnya dari belakang.
Anjing berkepala tiga itu memancarkan api dari setiap mulutnya. Mamiju tergeletak tak berdaya terkena semburan Cerberus. Tanpa ragu makhluk itu terus menerkam Mamiju. Menimbulkan jerit dan teriakan mantan prajurit lain yang berada di sana.
Sandrina terluka melihat keadaan Mamiju. Dia tidak bisa menyelamatkan kala Cerberus yang tidak hanya berjumlah satu memangsa Mamiju. Menghabiskan dagingnya dalam keadaan hidup.
Sandrina harus berjuang sendiri untuk keselamatan Prajurit yang tersisa.
Sebelum menutup mata dan melepaskan nyawa Mamiju mengucapkan maaf dan terima kasih.
Meski tidak ada suara, gerak bibir Mamiju terbaca jelas oleh Sandrina.
***
Percobaan peledakan Bom dan peluru dilakukan di lapangan tembak tempat di mana para prajurit belajar memanah, menembak dan bertarung.
Alvian dan Andraga diajarkan bagaimana memegang Senjataa yang mirip seperti pistol.
Sementara Alana dan Chandra dilatih untuk melepaskan bom ke arah target.
Alvian semula mengira melakukan hal itu haruslah oleh keturunan Natakusuma. Nyatanya siapa pun bisa selama darah Natakusuma sudah bercampur langsung dengan bahan baku pembuatannya.
"Pada manusia efeknya mungkin hanya luka biasa, tetapi pada empusa ini diharapkan akan membuatnya hancur."
Tarbuya dan prajurit yang andal dalam berperang terus melatih The Rescue.
"Lalu kenapa prajurit tidak bisa melakukan ini?" tanya Alvian.
"Kami semua tidak bisa, kami sudah berupaya tetapi Empusa bukanlah lawan kami."
Tarbuya juga menyiapkan busur panah, setiap anak panah sudah diberi racun dan siap digunakan prajurit untuk melawan serangan ahool juga Cerberus.
"Dalam naskah, hanya manusia yang berasal dari negeri Natakusuma yang bisa. Untuk itulah kami sangat menggantungkan nasib di tangan kalian."
"Kami kira hanya keturunan Natakusuma yang bisa menghancurkan Empusa." Andraga meletakkan senjataanya.
"Memang tidak sepenuhnya salah, darah Chandra adalah salah satu bukti bahwa hanya Natakusuma yang bisa menghancurkan empusa."
Alvian mengangguk mengerti, Andraga dan Chandra lantas kembali melanjutkan latihan.
Rasanya misi mereka bukan hanya menghancurkan empusa, melainkan menyelamatkan Chandra.
Waktu rasanya berlalu begitu cepat. Namun, mereka masih belum melakukan pergerakan apa apa. Ketika Nitisara diminta anak anak The Rescue untuk menyusun strategi, dia hanya minta untuk menunggu. Karena kata Nitisara seseorang yang pandai berstrategi akan kembali di tengah tengah mereka.
Andraga tidak pernah menduga jika orang yang dimaksud oleh Nitisara adalah Sandrina.
Karenanya ketika Sandrina berdiri di gerbang masuk menuju lapangan tembak lelaki itu malah ngucek ngucek mata karena takut apa yang dilihatnya hanyalah sebuah halusinasi.
"Selamat datang kembali, Sandrina," ucap Nitisara.
Sandrina membungkuk, mengucapkan banyak terima kasih.
The rescue masih memproses apa yang terjadi di hadapannya, sampai Andraga mengadari lantas dia berlari dan menghambur ke pelukan Sandrina.
Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Andraga harus mendongak kala ingin melihat wajah Sandrina.
"Kalian rindu?" tanya Sandrina, jelas saja. Peradilan tiba tiba yang menghakimi Sandrina adalah hal yang paling menyedihkan selama mereka di sini.
Bagi the Rescue Sandrina sudah seperti Ibu, kakak juga sahabat baik yang selalu memberikan jalan keluar di tengah kesulitan yang mereka hadapi.
"Saya kira Sandrina tidak akan pernah kembali," isak Alana. Sebagai sesama perempuan dia lah yang merasa sangat kehilangan.
"Kalian adalah tanggung jawab saya, mana mungkin saya lari dari tanggung jawab. Ketua, terima Kasih."
Nitisara mengangguk. Dia lantas mengajak kami semua untuk berkumpul di aula Haici untuk mulai menyusun strategi.
The Rescue berjalan beriringan bersama Nitisara, Sandrina dan juga Tarbuya.
Angin segar kemenangan rasanya sudsh berada di depan mata.
Andraha rasanya sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan kedua orangtuanya. Tidak sabar untuk bertemu dengan Owie, ular phyton kesayangannya.
***
Aula Haici, meski baru beberapa hari saja Sandrina meninggalkan pondok prajurit dan aula ini. Rasanya lama dan berabad.
Dia mengedarkan pandangan, melihat satu per satu orang yang sedang menantikan dirinya.
"Sebelumnya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ketua karena telah memberikan banyak kepercayaan. Memberikan waktu untuk istirahat dan masih memberikan kesempatan kepada saya untuk memimpin pasukan."
Sandrina menunduk, Alana melihat ada tetes air mata yang merembes melalui pipi Sandrina.
Mulanya dia mengira Sandrina terharu, tetapi ketika mendengar penjelasannya lebih lanjut barulah dia mengerti bahwa Sandrina menangisi Mamiju.
"Mamiju adalah teman saya sejak kecil. Menjadi prajurit di negeri ini adalah cita cita kami bersama. Setiap hari di tepi sungai kami melihat prajurit yang berjalan dengan gagah. Atau ketika pergi ke kota, ketika mengunjungi istana raja, prajurit adalah impian kami bersama. Aku tidak mengerti ternyata Mamiju menginginkan jabatan ini, jika saja tahu dari awal, mungkin akan kuserahkan kepadanya.
Mungkin hari ini dia tidak akan tewas dimangsa oleh cerberus."
Suara orang tercekat terdengar di aula Haici ketika Sandrina menutup percakapan.
Begitu juga dengan Nitisara. Tidak menyangka orang setangguh Mamiju bisa kalah dari makhluk itu.
"Dia pantas mendapat hukumannya," ujar Nitisara.
"Ya, semesta tidak akan pernah membiarkan kejahataan terus berkuasa. Begitu juga dengan Empusa. Pasti kita bisa mengalahkannya!" tandas Sandrina.
Wanita itu kembali menjadi wanita tanpa emosi dan ekspresi. Lalu strategi strategi gila mulai dia lancarkan.
Andrag dan Alvian berpegangan tangan. Satu hal yang sama yang sedang mereka pikirkan adalah wajah sang Mami. Perempuan yang tidak lama lagi akan mereka temui.