Kegagalan dan Misi Penyelamatan Wirayudha

1424 Words
Prajurit yang bertugas untuk menyerang ahool dan cerberus sudah lebih dulu meinggalkan pondok Prajurit. Petugas yang berjaga di sekitar camp juga sudah ada di sana sejak pagi. The Rescue, untuk kali pertama berganti pakaian dengan pakaian Prajurit. Alvian memakainya seperti hendak costplay dan mejeng di sekitaran alun alun sat car free day. Tinggal bawa ember kecil buat nampung uang dari orang orang dengan sukarela menyerahkam recehannya untuk berpindah dari dompet ke sana. Ah ... benar saja, car free day adalah salah satu yang dia rindukan selanjutnya. Jadi kenapa harus mikirin apa yang dirindukan? Alvian merasa memikirkan itu kekuatannya semakin bertambah beberapa kali lipat. Dengan bantuan Sandrina, Alana mengepang rambutnya ala ala Tomb Raider, hasilnya membuat Chandra terus saja menatap tak berkedip. Udah persis seperti kucing yang menemukan buruannya di padang rumput yang luas. Setelah pembagian tugas dan strategi Nitisara memberikan pakaian perang itu untuk The rescue lengkap dengan senjatanya. Alvian, Andraga dan Chandra bertugas untuk menyerang dari depan ketika Empusa sudah menampakkan diri nantinya. Sedangkan Alana harus berbesar hati karena diberi kepercayaan untuk menyelamatkan Wirayudha dari tawanan Empusa. Alana tidak sendiri, dia ditemani Mara dan Zuka. "Sudah siap semuanya?" tanya Sandrina. Andraga dan Chandra mengangguk berbarengan sementara Alvian mengacungkan ibu jari pertanda bahwa dia juga sudah siap. Penyerangan dimulai. Dengan menerobos pertempuran antara prajurit dan puluhan ahool yang rasanya setiap hari tidak habis habis, Alvian, Andraga dan Chandra berjalan dengan pasti menuju istana Raja. Pergerakan mereka menyerang ke istana diketahui oleh Empusa. Dia yang setiap hari meminum darah Wira sedikit demi sedikit percaya kalau The Rescue akan bisa dikalahkan. "Temanmu sudah datang," bisik Empusa di telinga Wira. Lelaki itu masih punya semangat untuk bertahan meski sebenarnya sudah sangat lemas. "Gue tahu mereka akan datang," ucap Wirayudha. Senyum kemenangan tercetak di bibirnya, lelaki itu tidak tahu siapa lawab yang harus dihadapi oleh The Rescue. Si rambut biru akhirnya keluar melewati jendela yang tidak dibatasi oleh kaca, terbang dengan kibaran rambutnya. Angin berembus kencang, bersamaan dengan itu Empusa yang tengah marah berhadapan denga. puluhan prajurit yang menembakinya dengan Peluru dan s*****a rahasia. Peperangan melawan empusa tidak semudah yang mereka kira, kekuatan serta kecepatan yang dimiliki makhluk rekayasa genetika itu lima kali lebih kuat dari manusia pada umumnya. Empusa berubah wujud menjadi monster dengan rambut api, wajah dan setengah badannya pun berubah menjadi api. Sayap kelelawar serta tangannya berubah menjadi mirip capit yang panjang, berbulu dan sangat tajam. Pedang yang terbuat dari campuran titanium hitam dan darah Chandra ternyat hanya mampu menggores makhluk itu. Begitu juga dengan peluru dan anak panah. Sandrina memerintahkan semua pasukan termasuk The Rescue untuk mundur dari arena perang. Peluru dan pedang mereka hampir habis sementara empusa malah semakin kuat. Satu per satu mereka mundur, dan Empusa berhasil membawa salah satu prajurit untuk dijadikan santapannya malam ini. Penyerangan pertama gagal, mereka terlalu tergesa gesa dan p*********n itu nyaris tanpa pola. Hanya sebuah strategi berisi pembagian tugas Namun, prajurit dan The Rescue tidak sepenuhnya kalah. Setidaknya mereka berhasil mengalahkan hampir seluruh Ahool dan Cerberus. Hal itu memberikan secercah harapan untuk semua penduduk dunia bawah. Sementara itu di istana Raja, Alana sama sekali belum menemukan di mana Wira disekap. Mencari dan mengendap bersembunyi agar tidak diketahui oleh makhluk makhluk yang berjaga untuk empusa. Istana itu lembap, bau apek, dan berlumut. Alana terus berjalan melewati tulang tulang yang berserakan. "Ini tulang manusia?" tanya Alana. Mara mengangguk, "Empusa memakan daging dan menghabiskan seluruh darahnya." Alana tercekat, bagaimana dengan Chandra? Ketika dia sedang mengendap seperti itu, monster berambut merah terbang melintasi jendela yang letaknya tepat di atas mereka. Alana, Mara dan Zuka menunduk berusaha sekuatnya agar tidak ketahuan. Sosok berseragam prajurit terkulai lemas dalam genggaman Empusa. Tanpa ampun empusa memakan tubuhnya dengan rakus, menghabiskan darahnya dengan k**i dan melemparkan sisanya tepat di atas tumpukan tulang belulang yang tadi alana lewati. "Saya rasa Wirayudha nasibnya tidak jauh beda dengannya," ucap Alana dengan perasaan sangat sedih. "Belum tentu, sekarang masih jauh menuju ke malam bulan purnama. Darah Natakusuma yang mengalir di tubuh Wirayudha akan dihabiskan pada saat purnama. Bukankah Chandra yang bilang begitu?" tanya Mara. Alana mengingatnya, Empusa memang menginginkan darah Natakusuma untuk dijadikan sumber kekuatan dan keabadian. Setelah sekian lama bersembunyi, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Sayangnya pergerakan hampir diketahui oleh Empusa dan makhluk makhluk yang berjaga. Darah Alana hampir tercium dan terlacak oleh Empusa. Alana terus bergerak, sampai di satu titik mereka benar benar tidak bisa melanjutkan, selain tidak ada akses lagi karena empusa ada di sana, mereka juga tidak memiliki cukup keberanian mengingat makhluk itu sudah berevolusi menjadi makhluk yang lebih kuat dari sebelumnya. "Saya akan mengalihkan perhatian Empusa, Alana dan Mara terus lanjut ke sana. Saya kira di kamar itu Wirayudha disekap." Seperti mendapatkan angin segar ketika prajurit itu memberikan jalan keluar. Hingga benar saja Zuka melawan Empusa yang murka, mengalihkan perhatiannya dan membiarkan Alana serta Mara untuk masuk ke dalam kamar yang ternyata memang benar merupakan area penyekatan Wirayudha. "Wira!" pekik Alana. Dia lantas sedikit berlari dan menghambur memeluk Wirayudha. "Kenapa baru datang?" protes Wirayudha. "Jangan bacot, buruan kita kabur sebelum Empusa masuk." Mara mengeluarkan pisau lipat yang terbuat dari titanium hitam, lantas membuka ikatan kuat pada kedua tangan dan Kaki Wirayudha. "Gue lemes," keluh Wira. Alana yang semua meminta Wira untuk berdiri akhirnya mendekat dan melingkarkan tangan Wira di lehernya. "Satu, dua, berdiri!" Wira berdiri. Kelamaan dalam posisi tertidur seperti itu membuat kakinya terasa lemas. Alana menutup hidungnya karena Wira sangat Bau. Baunya sudah persis seperti orang yang tidak mandi selama satu tahun. "Gue bau, ya?" Wira sempat sempatnya berkata begitu. Alana hanya memutar mata. Pertarungan melawan Empusa masih berlangsung. Satu lawan satu. Zuka dengan tangguh melawan Makhluk tersebut. Kemampuan Empusa menemukan mangsa dengan indera penciumannya yang tajam membuat Alana yang menyelamatkan Wira hampir ketahuan. Dia bersembunyi di balik patung patung batu yang mengelilingi ruangan itu. Zuka hampir kalah saat beberapa prajurit merangsek masuk. Rupanya Chandra ada dalam barisan prajurit itu, disusul Andraga yang mengendap. Alana mendesah lega, setidaknya p*********n kali ini bukan dimaksudkan untuk mengalahkan empusa melainkan menyelamatkan teman mereka yang terjebak selama berhari hari di tempat itu. Empusa semakin murka. Matanya mengobarkan api, rambutnya dan wajahnya dipenuhi dengan api. Serangan empusa hampir mengalahkan prajurit dan juga Andraga. Tetapi salah satu panah yang terbuat dari Titanium akhirnya tidak sengaja melukai makhluk itu tepat di wajahnya. Meraung kesakitan Empusa dengan random melontarkan api dari mulutnya. Chandra menemukan Alana yang tertatih membawa Wirayudha. Gadis itu lega, sambil terus melihat Empusa yang terbang rendah dan menggeliat kesakitan, Alana serahkan Wira kepada sepupunya. Chandra membungkuk dan membiarkan Wira naik ke punggungnya. "Gue tahu jalan pintas, buruan keburu ketahuan." Chandra berlari disusul Alana. Andraga yang melihat itu lantas mundur dari pasukan. The Rescue berusaha keluar dari istana Raja. Sebelum mencapai pintu keluar yang Chandra maksud, Andraga menoleh ke belakang. Dia melihat dengan kepala sendiri bagaimana Empusa berevolusi dan berubah menjadi makhluk yang lebih kuat dari sebelumnya. Mata Andraga bersirobok dengan tatapan Mara yang tengah bertempur melawan Empusa. Mara mengangguk, seakan memberikan tanda kalau dirinya akan baik baik saja melawan Empusa bersama beberapa prajurit yang menyertainya. Andraga faham, walau perasaan terbesarnya ingin membantu, tetapi kekuatannya tidak sebanyak itu. Dia harus memikirkan strategi baru untuk mengalahkan empusa selanjutnya. Sesampainya di luar istana, Chandra meletakkan Wira di tanah. Wira tidak punya tenaga untuk berdiri sekalipun. Terang saja, berhari hari terbaring dan terikat. Tidak ada makanan dan minuman yang benar. Hanya buah buahan yang disajikan oleh makhluk makhluk pengikut Empusa. "Anjir buruan maju, mau ketangkap lo?" desak Andraga. "Dia berat astaga, bentaran gue pegel," jawab Chandra. Peluhnya membasahi wajah Chandra. Dengan tangan kosong Alana menghapus lelehan cairan tubuh Chandra. Wira melihatnya sungguh ingin melontarkan ejekan. Jika saja tidak selemah ini, sayangnya Wira hanya sanggup untuk tersenyum. "Sini, Bang! coba lo naik ke ounggung gue," perintah Andraga. "Gue ngerepotin banget, ya," keluh Wira. "Sianjir bukan saatnya untuk merasa gak enak, Bang. Buruan atau lo mendekam lagi di bangunan ini." Wira bergidik membayangkannya, dia lantas naik ke punggung Andraga. Dan mereka semua meninggalkan istana Raja. Di perbatasan kota dan istana, Alvian dan Sandrina sudah menunggu. Ada dua ekor kuda yang mereka bawa. Pertama tama Wira yang semakin lemah dinaikkan ke atas kuda, Sandrina sendiri yang membawanya. Empat orang dengan satu kuda yang tersisa. Alvian akhirnya memutuskan untuk menyelamatkan perempuan terlebih dahulu. "Nitip cewek gue ya, Nyet!" Chandra berteriak. Andraga terperangah, bisa bisanya mereka jadian dalam situasi genting seperti sekarang ini. Dua lelaki itu akhirnya berjalan menyusuri pemukiman dengan perasaan luar biasa lelah. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan mereka. Mengalahkan Empusa ternyata tidak semudah yang mereka diskusikan. Senjataa rahasia yang susah susah mereka buat ternyata sama sekali tidak membuat makhluk itu hancur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD