Wira terus nenapaki jalan berumput itu dengan hati-hati semakin mendekat suara keriuhan itu semakin jelas.
Tampak pula cahaya cahaya keemasan berupa titik titik di kejauhan, sekilas tampak sebuah pemukiman yang bisa dia lihat dari ketinggian.
Ternyata setelah mendekat memang benar adanya. Titik keemasan itu berasal dari lampu lampu tempel yang di pasang di rumah. Keriuhan itu sendiri berasal dari interaksi anak anak yang sedang berkumpul membentuk lingkaran.
Mungkin mereka sedang bermain. Ditunggui oleh orang dewasa yang duduk di beranda rumah seraya memperhatikan interaksi anak. Mereka tampak sangat berhati hati menhingat di luar sana bahaya mengintai. Chandra masih mengingat jelas dua makhluk yang berbeda mengejarnya.
Yang satu adalah Ahool, berbulu abu abu gelap dengan taring yang seakan akan siap ditancapkan di leher Chandra, satunya lagi adalah anjing hitam besar tampak sangat garang, parahnya itu bukan anjing biasa karena memiliki tiga kepala.
Langkah Chandra terhenti, dia merasakan kelegaan luar biasa saat semakin dekat dengan pemukiman itu, saking leganya Chandra menjatuhkan diri kareana merasa semangat dari maut.
"Hai, lihat itu!" teriak salah satu orang dewasa saat pertama kali melihat Chandra berlutut di atas rumput.
Orang-orang itu mendekat. Lalu membawa Chandra dengan tubuh lemahnya menuju Bolo, atau kepada desa setempat.
Begitu masuk pondok dekat lapangan itu sebuah aroma menyerbu hidung. Wangi lavender yang lembut.
Anak anak kecil berebut untuk mengintip, menyaksikan pria dewasa dengan tubuh yang tidak setinggi mereka.
Di atas sebuah tikar Bolo duduk bersama istri dan para pria dewasa yang membawa Chandra. Mereka bersila dan melingkar di ruangan rumah itu mirip seperti ketika sedang melakukan pengajian rutin.
Chandra menelan ludah, dia seakan hendak dieksekusi, rasanya mendebarkan gila gilaaan.
Sesekali Chandra memandangi satu per satu orang yang ada di dekatnya. Di rumah yang remang itu, warna kulit lelaki dewasa yang gelap kemerahan, dengan garis garis halus yang menghiasi kulit mukanya.
"Selamat datang, pahlawan. Kami semua sudah sabar ingin menantikan kapan ramalan akan terwujud. Nitisara bilang akan ada orang yang menyelamatkan Dunia Bawah Tanah. Bahkan orang itu kini sudah ada di hadapan kami. Saya Bolo di sini. Hormat dan bakti kami untuk Anda!"
Tanpa diduga semua berlutut di hadapan Chandra. Astaga dia jadi gak enak. Terus darimana mereka tahu kalau Chandra adalah pahlawan yang diramalkan itu.
Dengan canggung Chandra meminta agar mereka berhenti berlutut.
"Jangan sungkan untuk meminta apa pun yang kamu butuhkan." Bolo itu kembali membuka suara.
"Saya tersesat," ujar Chandra. Dia mencemaskan Wira yang dikejar Makhluk-makhluk ganas tidak punya adab itu. Dia terus memikirkan apakah Wira berhasil sampai hingga ke pondok prajurit.
"Tidak ada yang tersesat. Tuhan semesta Alam sudah membuat catatan dan mengatur agar langkahmu sampai di sini saat ini." Bolo kembali berucap, lantas dia meminta Chandra untuk tidur di pondok itu sampai pagi tiba, sampai Laming atau Mamiju menjemputnya di sana.
Sementara itu Wira berhasil mencapai dinding pembatas seperti biasanya. Di belakang terlihat Ahool dan juga anjing berkepala tiga yang mengejarnya hingga kehabisan napas.
Wira berhasil mencapai anak tangga dengan selamat. Napasnya pendek pendek, kedatangannya disambut Laming dan The Rescue.
"Manah ... Chan ... Drah!!" tersengal Wirayuda mencari keberadaan sepupu.
Alvian dan Alana menggeleng keras, dan mengatakan kalau Chandra tidak ada di tempat itu.
Laming mendekat memberikan cangkir berisi cairan berwarna kekuningan. Aromanya mirip buah buahan ya g bercampur jadi satu.
Wira meminumnya karena haus, tetapi ajaib lelahnya terangkat begitu saja. Seakan minuman itu adalah cairan obat yang membuat siapa pun yang meminumnya jadi kembali bugar sepwrti Wira saat ini.
"Lain kali kalau mau keluar bilang pada kami sebagai antisipasi."
Suara laming cempreng dan dingin. Laming terlihat sangat kesal dengan tindakan ceroboh Wira dan juga Chandra.
"Kami hanya ingin melihat seberapa berbahayanya mereka."
"Setidaknya ada sesuatu yang bisa kalian bawa saat itu." ucap Laming.
"Kenapa bisa terpisah dengan Chandra, di mana dia sekarang?" tanya Alvian.
"Tadi kami terpisah ketika dikejar itu," tunjuk Wira, tepat ketika hewan berkepala tiga muncul.
Kemunculan makhluk itu pertanda bahaya, Laming yang menyadari hal itu buru buru memberitahukan semua Prajurit untuk siaga mencari Chandra.
Kini Wira dipapah oleh Alana. Dibawanya lelaki yang tengah pucat karena kelelahan itu ke pondoknya.
Wira terduduk lemas depan bangku yang terbuat dari kayu. Memperhatikan peta yang masih terbentang di sana.
Alvian mendekat, "Gue kira lo gak akan pernah kembali."
"Bisa sampai sini lagi rasanya adalah satu keberuntungan. Chandra terjebak di sana, jika terjadi apa apa sama dia itu kesalahanku."
"Bukan hanya dia," celetuk Andraga. "Jika terjadi apa apa pada kami maka itu semua adalah kesalahanmu."
Wira sadar dia yang menyeret semuanya hingga berada di situasi bahaya seperti sekarang ini.
Alvian menenangkan adiknya, lantas dia kembali duduk dekat dengan Wira.
"Apa yang kamu dapat dari petualangan barusan?" tanya Alvian.
Dia tahu Wira bukan sembarang meninggalkan pondok demi untuk kepuasan semata.
"Sejauh ini tidak banyak," ucapnya. "Tapi gue rasa Ahool tidak bisa melihat kita dengan jelas. Mereka merekam gerakan kita. Tadi gue diam udah kek patung rasanya itu mendebarjan banget. Ketika tangan gue gerak dikit aja, barulah mereka sadar. Mereka nyerang gue tanpa ampun. Gue lari sebisa gue lari, sampai akhirnya tiba di sini kembali dengan selamat."
"Oke noted," gumam Alvian. Sudah saatnya memang membaca pergeraka. musuh untuk menang.
"Negeri ini besar sekali sampai-sampai gue, lelah dan hampir tersesat. Tidak menemukan Chandra."
Ekspresi wajahnya berubah sedih, bersamaan dengan itu ketukan pintu terdengar. Mara membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Laming mengatakan kalau Tuan Chandra baik baik saja di pondok Bolo. Jika sudah makan tidurlah. Besok ada sesuatu yang harus dilakukam bersama," ucap Mara.
Dia berjalan melewati Alana dan Andraga yang terlihat gusar. Lantas lergi dengan aroma samar dari tubuhnya yang menguar dari tubuhnya. Wangi yang lembut perpaduan antara caramel dan jeruk.
"Mereka sangat banyak." Wira menyandarkan tubuhnya pada sandaran. Lalu kembali dia ceritakan kejadian yang baru saja terjadi satu, satu kali lagi.
"Kita gak bisa ngadepin mereka dengan tangan kosong berarti, ya?" tanya Andraga di tengah perbincangan itu.
"Tepat!"
Mereka seram tapi tidak cerdas. "Ayo kita susun Strategi untuk segera menyelesaikan misi ini!" ucap Alvian mantap.
Wira setuju, ditatapnya peta negeri itu. Janjinya pada Sang Kakek akan segera dibayar lunas.
Dan Aki kesayangannya akan tenang di alam sana karena misinya yang tidak sempat dia lakukan akan segera terlaksana.