Tidak ada waktu untuk bersantai, The Rescue bergerak cepat setiap harinya dengan strategi-strategi yang telah mereka susun. Laming dan Mamiju kadang ikut dengan jalannya pertemuan mereka. Busur panah dengan anak-anak panah yang runcing sudah disiapkan oleh prajurit. Kini The Rescue dilatih agar bisa menggunakan benda itu minimalnya untuk membela diri.
Chandra lebih bahagia karena berada di pondok pengungsian bersama banyak warga, ada anak-anak yang setiap harinya bisa menghibur. Sementara The Rescue lainnya berjibaku dengan latihan-latihan untuk melawan banyaknya makhluk yang ada dan berkeliaran di kota itu.
Keinginan untuk pulang tidak lagi menggebu seperti pertama kali, kini menyelesaikan misi adalah hal penting yang mereka utamakan. Karena jika misi selesai maka apa pun bisa mereka lakukan termasuk pulang dari Negeri bawah tanah menuju rumah masing-masing.
Selain panah dan busurnya, Andraga mempelajari bagaimana menggunakan tombak. Dan senjataa lainnya. Apa yang mereka pelajari adalah alat yang akan menghancurkan Ahool dan juga cerberus. Karena dengan mengalahkan makhluk-makhluk itu mereka bisa masuk ke laboratorium utama dan menemukan potongan naskah yang tertinggal di sana. Di mana dalam naskah itu terdapat rahasia bagaimana mengalahkan empusa.
Wira terkadang gelisah karena beberapa hari ini tidak bertemu dengan Chandra. Satu satunya jalan pintas yang bisa menembus ke pengungsian sudah dirusak oleh cerberus. Kini para prajurit menghalangi dan menutup jalur itu dengan batang-batang pohon yang besar, dengan segala upaya agar mereka tidak sampai membobol pembatas itu.
“Sebentar lagi bulan purnama, mereka akan tidur panjang dan tidak akan keluar.” Laming mengatakannya ketika Wira mengeluh merindukan sepupunya, sebenarnya sih lebih ke khawatir, masalahnya selama perjalanan ini terlalu banyak perselisihan yang terjadi di antara mereka.
“Kok beda banget sama werewolves ya? Mereka biasanya aktif pas bulan purnama, lah ini malah tidur, apa mungkin itu kang Ahool takut sama werewolves?” tanya Alana. Masuk akal juga sebenarnya, pertanyaannya apakah di Negeri Bawah Tanah ini ada Werewolves?
“Gak gitu konsepnya, kalo beneran ada werewolves berarti pas pertama kali kita datang ke sini harusnya diserang manusia serigala dong, bener gak? Kita kan jalan dengan bebas menuju gedung Gurnita. Duh, kalau gak terbengkalai sih, negeri ini pasti indah banget. Setuju gak, Gaize?” Andraga mencomot strawberry. Pondok prajurit ini berupa bukit yang ditumbuhi banyak buah-buahan. Kemamuan Mara, Musi dan Ricci mengolah aneka makanan membuat mereka tidak pernah merasa kelaparan.
“Tidak. Bukan Wereloves yang bikin mereka takut,” ucap Laming.
“Werewolves,” ralat Alana seraya terkikik. Jika di dunianya, Laming pasti sudah jadi idol, mengingat tubuhnya tinggi berotot dan tampan. Hanya saja tingginya sedikit tidak manusiawi dibandingkan dengan manusia normal pada umumnya.
“Ah ... iya itu. Bukan itu yang mereka takuti. Setiap kali kulit mereka terkena sinar bulan purnama, maka akan terbakar. Lalu berubah menjadi abu. Musnah begitu saja.”
“Bernarkah?” tanya Alana dan Alvian bersamaan. Mereka saling pandang, seakan-akan berkomunikasi melalui tatapan mata. Benar saja, apa yang mereka pikirkan sama. Satu-satunya cara untuk menghancurkan makhluk-makhluk yang menjaga laboratorium itu adalah ketika purnama tiba.
“Alana!” ucap Alvian. Rasanya seperti berhasil memecahkan soal matematika.
“Gue tahu,” tandas Alana. “Kita sama-sama lawan mereka dan temukan apa yang kita cari. Gue di lembah ular aja sanggup sendirian, apalagi di sini bareng kalian.”
Wira dan Andraga belum faham apa yang dikatakan oleh Alana dan Alvian, Laming tampaknya mengerti.
"Jadi gue berpikir untuk bikin Kang Ahool gak bisa balik lagi ke sarangnya saat hingga saat bulan purnama itu mereka tetap berada di luar dan musnah. Gampang, kan?" Alana bertepuk tangan.
Jika memang semudah itu, tidak perlu menunggu bertahun tahun sampai The rescue tiba. Nitisara pasti bisa membuat prajurit prajurit ini membereskan semuanya.
"Kami pernah mencoba," ungkap Laming. "Itulah mengapa lab itu terlihat sedikit hancur. Prajurit prajurit banyak yang gugur, termasuk keluargaku."
"Kalian berkeluarga?" tanya Andraga.
Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Andraga nyengir lalu kembali menyimak.
"Itu karena kami tidak berdaya dan tidak bisa melawan Empusa. Tapi adanya kalian, semangat kami kembali bangkit. Kami siap bantu apa pun, Pahlawan."
Ugh ... Alana meleleh, dia merasa tersanjung dengan apa yang dikatakan Laming.
"Berapa hari lagi purnama tiba?" tanya Alvian.
"Seminggu dari sekarang," tandas Laming.
Tidak ada waktu lagi, terlalu singkat untuk memikirkan bagaimana cara memancing semua Ahool dan Cerberus keluar dari Laboratorium.
"Kita bagi Tim. Alana dan Laming, gue bareng adek gue. Nanti Laming sama Mamiju bagi Tim siapa saja prajurit yang ikut gue dan prajurit yang ikut Alana. Sedangkan lo, tugas tutup pintu lab supaya mereka tidak bisa kembali saat purnama tiba. Deal?"
Wira berpikir sejenak, rasanya berat ketika harus masuk lab sendirian.
"Gue dan tim gue nanti mengalihkan perhatian Ahool, Alana dan Timnya berjaga dan mengalihkan perhatian Cerberus. Lo jalan sendiri bagaimana caranya sampai ke lab tanpa tertangkap."
"Kenapa gue gak langsung masuk aja nyari itu naskah?"
"Waktunya gak banyak kalau begitu, kemungkinan lo nemuin naskah itu kecil banget, dan kemungkinan terbesarnya adalah tertangkapnya lo sama mereka. Mau?"
"Ya enggak."
"Dengan musnahnya Ahool dan cerberus kita bisa memanggil penduduk kembali untuk tinggal di rumahnya. Sekali dayung, dua puluh pulai kita lalui." Alana berkata dengan mantap.
"Bener, bisa saja nanti lo diteriakin maling sama kang ahool saat sedang berusaha menggeledah rumah mereka," ucap Andraga, santai banget ngomongnya kayak gak ada beban.
Laming setuju dengan usul Alvian. Membunuuh makhluk makhluk itu adalah jalan termudah untuk melancarkan aksi. Dan membuunuh dengan purnama adalah cara cepat dan efisien dibandingkan dengan melawan satu lawan satu dengan panah atau tombak.
Laming mendekat ke arah peta, dia membagi tiga wilayah. Wilayah pertama dan ketiga adalah wilayah yang akan dijadikan tempat untuk menggiring para Ahool. Di sana terdapat lapangan besar yang biasa digunakan penduduk sebagai area terbuka hijau, pesta, atau perkumpulan perkumpulan terkadang dilakukan di tempat itu.
Sedangkan di wilayah ketiga ada sebuah danau yang mengering. Luasnya danau itu bisa menampung banyak Ahool untuk segera dimusnahkan oleh purnama.
"Wilayah kedua ini adalah wilayah steril. Wira lewat jalan ini untuk menuju ke laboratorium." Laming memberi tanda dengan warna merah, jalur-jalur menuju Laboratorium yang letaknya bersebelahan dengan gedung gurnita.
"Gue gak sanggup kalau sendiri, bukannya nanti gue tutup pintu lab. Pakai apa?"
"Saya akan ikut bersamamu." Mamiju berdiri di ambang pintu.
Tanggal sudah mereka susun. Semua bekal untuk melawan makhluk yang diperkirakan jumlahnya banyak itu sudah hampir siap 100%.
***
Chandra berkali kali bertemu dengan Nitisara. Di sini, lelaki itu diberikan temoat tinggal yang tidak seindah tempat tinggal di pondok prajurit. Namanya juga pengungsian. Ya sekadarnya.
Rumah-rumah hanya Chandra temui di pinggiran desa tempat pertama kali mereka masuk. Wilayah tersebut sedikit naik ke bukit sehingga bisa masuk ke dalam perisai pelindung.
Itulah jawabannya, itulah alasan mengapa hanya ada beberapa rumah di sini, termasuk rumah Bolo.
Tenda besar berdiri tidak jauh dari sana. Persis di dapur umum yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan makan semua pengungsi. Nitisara dan istrinya menempati tenda besar tersenut. Chandra berkali kali melihat ke dalam tenda.
Jangan bayangkan tenda darurat yang sempit yang akan mereka bangun di lembah ular. Ini jauh lebih besar dan mewah.
Chandra berkali kali berusaha untuk meninggalkan kamp pengungsian demi bertemu dengan The Rescue. Sayangnya Bolo dan sesepuh di sana mencegahnya. terlalu bahaya untuk berkeliaran di kota.
Mereka tidak yakin Chandra akan selamat seperti pertama kali dia sampai di Kamp itu.
"The Rescue sedang atur strategi, bersabarlah, sebentar lagi kalian akan berkumpul kembali." Nitisara berusaha menenangkan Chandra dengan mengatakan hal itu.
Chandra hanya bisa pasrah, dia bisanya bermain main barenga anak anak, bercengkrama bareng para wanita di dapur umum. Atau mandi di sebuah danau buatan untuk menyegarkan badan.
Seperti siang ini. Ditemani anak anak, Chandra menuju ke tepian danau. Dia menghabiskan siang itu dengan berenang, berendam dan puncaknya memetik buah buahan yang tumbuh di sekitar danau.
Dia melupakan banyak hal, melupakan beban berat yang menggelayut di pundaknya. Kebahagiaan hari ini adalah keadaan yang baru pertama kali dia rasakan ketika masuk ke Dunia Bawah Tanah.
Sanyangnya kebahagiaan itu harus sirna, kala dia melewati perisai pembatas antara perkotaan dengan camp pengungsi.
Perisai pembatas yang hampir mirip dengan cermin dua arah itu memudar, perisainya yang tampak seperti kristal air kini menghilang.
Menyadari akan hal itu, dia bergegas membawa anak anak pulang dan memberitahukan Bolo juga Nitisara bahwa perisai itu sudah memudar.
Kaki Chandra tanpa alas, seperti digelitik oleh rerumputan.
Rasanya melelahkan, tetapi jika terlambat, semua tidak akan selamat.
Perisai itu dibuat oleh salah satu Ilmuwan temannya Natakusuma sebelum meninggal karena dibunuh oleh Ahool.
Siapa sangka dalam waktu tertentu kekuatannya akan memudar dan menempatkan semua orang dalam bahaya.