"Bolo! Bolo! Gawat, Bolo!" Dengan panik Chandra menggedor pondok Bolo.
Terdengar suara kunci dan tidak lama kemudian pintu terbuka.
"Perisai pelindung memudar!"
Kepanikan Chandra semakin menjadi, dia tidak sadar memberi tahu Bolo dengan suara kencang dan mengundang yang lainnya untuk panik.
Wanita wanita dewasa menyelamatkan anak anak. Pria dewasa lari tunggang langgang mengambil apa pun yang bisa melindungi camp pengungsian dari Ahool.
Orang suruhan Bolo dan juga orang orangnya Nitisara memeriksa kebenaran tersebut.
Benar saja, perisai pelindung itu nyaris pudar.
Tidak ada lagi penghalang seperti dinding kaca yang tembus pandang. Yang mereka lihat adalah serupa gelembung sabun yang sebentar lagi akan meletup.
Di atas langit saat ini tampak ahool ahool yang terbang mengitari seluruh penjuru kota.
Mereka mungkin menyadari dan merasakan bahwasanya perisai pelindung memudar. Mengingat jumlahnya lebih banyak dari biasanya.
Lain halnya di pondok prajurit, tidak ada yang menyadari. Semuanya sibuk mengatur strategi, berlatih sampai memperbanyak amunisi.
Selama ini, hubungan antara pondok prajurit dan camp pengungsi itu melalui satu alat komunikasi secanggih telepon. Sayangnya, komunikasi itu dihantarkan melalui dinding perisai yang kini hampir hilang.
Saat Nitisara berusaha menghubungi, tidak ada satu pun yang menyadari bahwa ketua mereka sedang membutuhkan bantuan.
"Al, ada yang aneh dengan jumlah ahool yang terbang hari ini," ucap Wira.
Dengan busur panah di tangan kanannya, Wira terlihat begitu gagah. Lantas diambilnya sebotol sari jeruk yang dia bawa dari dapur.
Alvian menoleh ke belakang, di lembah sana Ahool juga banyak. Mereka selayaknya zombie zombie yang datang menyerang pemukiman manusia.
Beberapa detik memandangi hal itu Alvian berlari dia dan menuruni puluhan anak tangga menuju perisai tempat pembatas yang melindungi mereka dari serangan.
Melihat Alvian berlari, para prajurit yang sedang berlatih menoleh, mereka lebih peka lantas menyusul seraya mambawa senjataa masing-masing.
Tidak seperti di camp pengungsian, di pondok prajurit sudah tidak ada perisai pembatas sama sekali.
"Kenapa bisa menghilang?" Alvian berteriak, Laming dan Mamiju saling pandang.
"Panggil Ms Sandrina, cepat!" Mamiju berteriak. Dia sadari akhir akhir ini terlalu fokus dengan latihan latihan dan mengatur banyak strategi sehingga melonggarkan penjagaan.
Laming menemui Sandrina di pondoknya. Perempuan tinggi berbalut pakaian nyentrik itu menyadari apa yang terjadi. Dia sudah siap untuk menyerang.
"Bukan salah kalian, dalam ramalan, perisai ini memang akan hilang ketika keturunan Natakusuma sudah datang."
Ratusan Prajurit berkumpul membentuk pagar. Sia sia sudah rencana yang mereka buat untuk menggiring ahool ke dua tempat yang berbeda saat bulan purnama nanti.
"Lakukan rencana B." Teriak Sandrina. Alvian dan Wira tidak pernah membuat rencana B. Hanya satu rencana yang belum sempat mereka wujudkan.
"Tidak ada waktu untuk diam. Anak anak dan penduduk di Camp Pengungsian membutuhkan kita semua. Tim yang sudah kalian bagi ayo, alihkan perhatian mereka bawa ke lapangan dan tepian danau."
"Saya harus tetap ke laboratorium?" tanya Wira polos.
"Menyelinaplah jika bisa. Tutup pintunya supaya ahool tidak bisa kembali ke sana. Bulan purnama tak lama lagi."
"Tapi itu masih beberapa hari lagi, bagaimana dengan penduduk di Camp pengungsian? Mereka bisa diserang oleh ahool dan juga cerberus."
Sandrina tampak berpikir. Namun, memang sudah tidak jalan lagi. Ini adalah satu satunya jalan agar mereka bisa memusnahkan Ahool, mengambil potongan naskah dan menyerang istana raja yang berisi hal yang bisa membuat empusa musnah.
"Tidak ada cara lain," ucapnya, "Mereka semakin dekat, cepatlah!"
Mengandalkan kemampuannya yang terbatas dan belum begitu terlatih, Alvian dan Andraga dipimpin oleh salah satu prajurit memancing gerombolan ahool menuju lapangan. Sisanya dipancing oleh Alana dan Laming menuju tepian danau.
Wira yang sedang kebingungan ditarik paksa oleh Sandrina menerobos jalur tengah yang belum bebas dari gerombolan Ahool.
Pedang panjang dan lentur menjadi salah satu pegangan Sandrina, ditebasnya Ahool bertaring runcing yang berusaha menyerang.
Wira mengingat game yang selalu dia mainkan di dunianya. Dengan insting petaruung lelaki itu ikut melawan.
Kini Sandrina dan Wira berdiri saling memunggungi. Masing masing mengacungkan pedang sedangkan Wira mengacungkan tombak yang runcing.
Satu Ahool tumbang, daraahnya membuat rumput hijau segar menjadi ternodai.
"Saya bilang maju kamu maju, dan lari sekencang kamu bisa," ucap Sandrina.
"Saya sendiri?"
"Mereka terlalu banyak," ucap Sandrina benar saja seekor ahool datang dari langit, kaki kakinya yang bercakar seperti kaki elang yang siap mencengkram anak ayam.
Pedang lentur itu berhasil membuat sayapnya sobek.
"Maju!" sentak Sandrina.
Wira berlari, salah satu ahool meraih tangannya. Wira gemetaran, dia ketakutan.
"Emaaaaaak!" teriaknya panik.
Sandrina mendekat, sambil melawan Ahool ahool itu dibantu beberapa prajurit.
Tanpa belas kasihan, Sandrina menebas sayap Ahool, membuatnya terlepas dari tubuhnya.
Binatang mengerikan berbulu abu abu itu menggelepar di atas tanah. Wira mendesah lega, tanpa ragu dia melanjutkan berlari.
Wira terus berlari sampai dia bertemu dengan makhluk mengerikan lain yang pernah mengejarnya bersama Chandra.
Wira mematung, kalaupun dia maju dia pasti dihabisi hewan itu. Mundur apalagi, sudah pasti wira akan kelelahan dulu sebelum mati karena digigit. Ya sudah mending dia diam tanpa panik.
Sayangnya binatang dengan airliur berlebih itu terus maju dengan ekspresi wajah marah.
Wira pasrah, dia pejamkan mata. Menunggu beberapa saat, tetapi hanya geraman yang dia dengar.
Begitu membuka mata pelan pelan, sebuah anak panah sudah melumpuhkan binatang itu.
Wira menatap ke belakang seorang prajurit menatap Wira seraya memegang busur di tangannya.
Tidak menunggu lebih lama lagi, Wira kembali berlari. Dia ingat jalanan yang dilaluinya, bukan jalan besar, melainkan menyusuri rumah rumah penduduk. Wira merasa menyusuri jalanan itu lebih aman. Dia bisa bersembunyi jika ada kawanan ahool atau Anjiing s****n itu menyerangnya.
Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, Wira berada dalam situasi perang, Wira tidak berani melihat ke belakang. Dia hanya mendengar lolongan ahool yang memekakkan telinga. Juga suara pedang dan lesatan anak panah.
Wira terus berlari dengan hati hati. Tidak akan pernah dia sia siakan kepercayaan orang orang di sekitarnya, termasuk Sandrina yang sengaja mengutusnya saat ini. Memberi dukungan dan mentranafer energi positif untuk terus mengarungi jalan setapak menuju laboratorium.
Sementara itu, geliat kemarahan mulai bangkit dari istana raja. Makhluk berwarna biru cerah dengan rambut menyerupai api mengendalikan kekuatan makhluk makhluk lainnya dari kejauhan.
Empusa dengan rekayasa genetika Natakusuma berevolusi menjadi makhluk yang tidak bisa dikalahkan oleh siapa pun. Kecuali Natakusuma dan keturunan keturunannya.
Bagi Empusa, Natakusuma sudah lama mati, tetapi dia mencium darah lelaki itu dekat di sini. Itulah yang membangunkan dan membuat Makhluk itu murka.