Wira tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan untuk segera menutup pintu laboratorium.
Begitu tiba dipelataran gedung gurnita, lelaki itu mengendap. Tidak ada pasukan yang mengintai.
Tidak ada makhluk makhluk mengerikan yang menyerang.
Wira berjalan cepat hingga kini sudah tiba di laboratorium kota tempat di mana Natakusuma memulai semuanya.
Awalnya Wira membayangkan sebuah lab selayaknya lab pada umumnya, setelah didekati, tempat ini adah tempat paling hancur yang pernah Wira temui di Negeri Bawah Tanah.
Bangunannya porakporanda dengan semak belukar setinggi betis, hanya ada jalan setapak menunu pintu masuk yang terbuka lebar.
Sebelum menutup pintu, Wira memastikan bahwa di dalam tidak ada makhluk yang tersisa. Dengan menggunakan batu dia memukul mukul sebuah tiang menghasilkan bunyi yang memekakkan telinga.
Tidak ada yang keluar, dipastikan lab benar benar kosong.
Wira melihat bongkahan batu dan berusaha mengambilnya.
Tetapi ketika hendak menutup akses masuk ke laboratorium itu Wira tergerak untuk masuk.
Mumpung sepi dan tidak ada Ahool, dia menerobos masuk. Pintu masuk Lab ternyata bukanlah pintu. Kehancuran tempat itu membuat jalan masuk terkubur. Para ahool dipercaya membuat jalan masuk dari celah atap yang tingginya kini hanya tersisa satu meter dari permukaan tanah.
Wira memanjat, menuju celah atap yang menganga lebar itu.
Keadaan di dalam sana sepekat malam. Gelap dan lembap.
Perlahan dia masuk di kegelapan ruangan besar itu, seluruh pasokan oksigen seakan direnggut paksa.
Mengandalkan insting Wira menyusuri sarang Ahool. Satu satunya penerangan dari celah masuk mengandalkan sinar matahari yang menerobos sedikit.
Semakin ke dalam semakin gelap, tetapi kini penglihatannya Wira sudah beradaptasi di ruangan gelap.
Lorong panjang itu kosong, Wira tidak tahu harus mencari potongan naskah di sebelah mana.
Tidak bisa dia bayangkan berdesakannya Ahool di tempat sepengap dan luasnya tidak seberapa ini.
Mengingat Ahool seperti kelelawar mungkin mereka tidur menggantung di atap.
Wira menyusuri dinding sebagai navigator, langkahnya sedikit terhambat dengan banyaknya serakan kotoran di jalanan yang dia pijak.
Selain kotoran yang berserak, Wira juga menginjak pecahan kaca yang diduga material laboratorium yang pecah.
Ada sebuah rak besar yang posisinya sudah terjungkal. Lelaki itu buru buru mendekat dan melihat dengan keterbatasan pencahayaan.
Tabung reaksi, mikroskop dan peralatan yang biasa dia lihat di lab kampus ada di sini. Sayangnya bukan itu yang dia cari, melainkan potongan naskah berisi s*****a rahasia yang bisa digunakan untuk membunuh empusa.
Laboratorium gelap itu terus dia telusuri sampai lelaki itu menemukan pintu yang terkunci.
Tidak ada kunci, tidak ada penerangan dan tidak ada cara untuk dia membukanya.
Ahoooooooool.
Lengkingan Ahool semakin mendekat. Wira buru-buru menyudahi pemburuannya. Bisa tamat riwayatnya jika sampai terjebak di ruangan itu bersama Ahool ahool.
Wira setengah berlari, tanpa dia sadari kakinya terkena pecahan kaca. Darah menetes di antara sandal gunung yang dia gunakan.
Keluar dari laboratorium, Wira memanjat dinding yang licin, serbuan sinar matahari menyilaukan penglihatannya. Menggunakan batu besar yang dia temukan, Wira bersusah payah menutup jalan masuk. Dia tersengal karena bukan main beratnya.
Beberapa kali diminta untuk mendorong mobil mogok, batu ini dua kali lipat beratnya.
Lengkingan Ahool kembali terdengar. Sia sia saja perjalanannya ke sini jika tidak berhasil menutup pintu masuk ini.
Wira tidak kehabisan akal. Jika benar kata Alvian jika Ahool tidak begitu cerdas maka cara yang dilakukan saat ini seharusnya bekerja dengan baik.
Wira mendekat ke arah pohon besar dengan ranting dan daun yang rimbun.
Wira tidak tahu lagi harus bagaimana, dia memanjat dan memotong ranting itu. Lalu menutup pintu masuk menuju laboratorium. Berberapa jalan dia terus melakukan itu hingga jalan masuk menuju pintu itu kini tertutup sempurna.
Jika mereka pintar maka bisa membuka penutupnya dengan sempurna.
Tetapi Wira percaya, makhluk itu adalah Makhluk bodooh yang emosian.
Selesai menjalankan tugasnya Wira kembali dihadapkan dengan perasaan bingung. Ke manakah dia harus pergi saat ini.
Menolong Alana, Alvian, atau kembali kepada Sandrina yang kini sedang berjuang melawan Ahool yang akan mengejarnya.
Wira berada di satu persimpangan jalan, dia harus memilih.
Hingga sebuah keputusan dia ambil berharap keputusan ini tidaklah salah.
*
Chandra dan Penduduk desa benar benar berada di medan perang. Menggunakan tombak dan panah seadanya, Chandra seolah berada dalam dunia game yang dia mainkan sehari hari di rumah.
Perasaan bahagia dia rasakan ketika berhasil memusnahkan Ahool. Rasa sakit karena sabetan kuku binatang itu tidak sedikit pun dia rasakan, Andrenalin memicunya untuk terus bergerak dengan naluri sebagai petarung.
Ahool kalah jumlah, pasukannya yang terbagi menjadi tiga bagian membuat p*********n ke camp pengungsian menjadi mudah dikalahkan.
Mereka bersorak kala Ahool terakhir berhasil dilumpuhkan oleh Cere, pemuda seusia Chandra dengan tubuhnya yang lebih besar dan tinggi.
Kelegaan luar biasa mereka rasakan kala itu.
Wira berjalan tertatih karena merasakan denyutan di telapak kakinya, dia menyaksikan sendiri bagaimana Chandra bergerak melawan Ahool. Berpisah lama dengan sang sepupu membuat rasa rindu bertumpuk dalam dadaa.
Manakala ahool yang terakhir berhasil dikalahkan, Wira ikut bersorak meski jarak mereka cukup jauh dan Chandra tidak menyadari keberadaannya.
Wira bergegas, dia berjalan terpincang pincang menghampiri saudaranya itu.
"Brooo!" Suaranya kencang, tetapi nyaris serak.
Mendengar suara yang dia kenal Chandra berbalik, dia menyadari kedatangan Wira.
Bukan main rasa bahagia dia rasakan. Chandra menjatuhkan senjatanya, dia berlari menuruni bukit dan menyambut kedatangan Wira yang terpincang pincang.
"Brooo, anjir, sialaaan, bangke, gue gak tahu kalau rasa rindu bisa bikin gue nyesek gini," racau Chandra seraya berlari.
Namun, Wira menyadari sesuatu. Seekor ahool berukuran besar terbang ke arah Chandra.
"Bro merunduk," teriak Wira.
Terlambat, makhluk besar itu menyambar Chandra. Dia membawa lelaki itu mengangkasa. Laksana elang yang membumbung terbang dengan genggaman mangsa di kakinya.
Wira terus terusan berteriak menangisi sang sepupu yang diculik Ahool. Para penduduk berusaha melesatkan anak panah ke angkasa, tetapi sia sia.
Chandra dibawa pergi oleh makhluk itu. Wira marah, dia mengamuk dia berontak. Penduduk menenangkan lelaki yang ternyata berlumuran darah.
Wira dibawa paksa menuju pondok bolo untuk diobati. Lelaki itu terluka fisiknya lemah terlebih mentalnya.
Apa yang harus dia katakan nanti kepada kedua orang tua Chandra, jika lelaki itu tidak berhasil membawa sang sepupu pulang.
"Amankan Wirayudha Natakusuma. Jangan biarkam dia dibawa oleh pasukan Empusa seperti saudaranya," perintah Nitisara.
Dari pondok senderhana Bolo, Wira ditandu menuju tenda besar di mana Nitisara selama ini tinggal.
"Gue mau balik, gue mau nyari Chandra, lepasin gue," ronta Wira. Lelaki itu terus berontak. Hingga Nitisara menempelkan sehelai daun di keningnya.
Seketika Wirayudha menjadi tenang. Rasanya seperti sedang melayang, tinggi, tinggi lalu hilang.