Mencari

1058 Words
Kabar hilangnya Chandra sudah sampai ke telinga para The Rescue juga prajurit. Sayangnya saat ini belum ada seorang pun yang bisa membantu mencari, saat ini menyelamatkan nyawa sendiri adalah hal yang paling penting. Alvian dan Andraga sudah tahu bagaimana cara melumpuhkan Ahool sendirian, sayangnya karena jumlah yang terlalu banyak kakak beradik itu menyerah. Keduanya milih lari dan membiarkan para prajurit membereskan sisanya. Semilir angin membuat luka luka dintubuhnya perih. Andraga meringis, dia lalu menangis. Dia ingat Maminya, karena setiap terluka wanita separuh usia itu yang akan membersihkan luka serta mengobatinya dengan cairan iodine. Dalam pelariannya Alvian terus melihat ke belakang. Mengingat lolongan lolongan Ahool dan Juga geraman cerberua terus terdengar menakutkan. Dua lelaki itu berlari tanpa arah melewati pemukinan dan gedung gedung kemudian menyelinap ke sebuah bangunan kosong untuk mengiatirahatkan diri. "Gue haus!" Andraga berusaha mengatur napasnya. Disandarkannya tubuh pada dinding bangunan, kakinya selonjoran karena terlalu banyak merasakan sakit akibat luka. Alvian bangkit, dia melihat sekeliling bangunan yang ternyata sebuah sekolah. Mungkin. Mengingat banyaknya kursi dan meja di beberapa ruangan lalu terdapat papan tulis putih di depan ruangan. Rupanya mereka pun sekolah, batin Alvian. Sekolahan artinya terdapat sebuah UKS atau ruang kesehatan seperti di dunianya. Lelaki itu hanya menebak. "Bro," panggil Alvian, suaranya bergema. "Hmmm ...." "Lo masih bisa jalan?" tanya Alvian dari jarak yang lumayan. "Bisalah, kenapa emang?" "Sini. Kita cari ruang kesehatan." Andraga lantas bangkit, memang tadi rasanya biasa saja, tidak sesakit sekarang. Namun kini ketika dua tungkai kakinya digerakkan, perih dan sakit rasanya membuat dia ingin menangis sekencang dia bisa. Alvian dan Andraga menyusuri lorong bangunan yang gelap, langkah kakinya menimbulkan gema. Parahnya, mereka harus memeriksa satu per satu ruangan karena tulisan yang menempel di dinding adalah tulosan dengan aksara yang tidak mereka kenal sebelumnya. "Gue capek," keluh Andraga. Alvian berhenti sejenak. Dalam jendela gedung yang kacanya sudah rontok Alvian melihat ke luar. Ahool dan Cerberus semakin banyak jumlahnya. Setidaknya berada di gedung ini mereka merasa aman untuk sementara. "Naik!" perintahnya. Tubuhnya membungkuk di depan tubuh Andraga. "Setidaknya temukan ruangan kesehatan dulu, terus istirahat di sana." Andraga ragu ragu menyentuh pundak Sang Kakak. Lalu dengan sedikit tenaga dia agak melompat. Berada di tempat ini selama berhari hari membuat Alvian merasakan bahwa bobot tubuh sang Adik berkurang jauh. Dia sedih, memang selama ini Andraga senang sekali makan. Tidak ada Andraga tanpa makanan. Di pondok prajurit, mereka memang mendapatkan jamuan makan, akan tetapi keadaan membuat Andraga tertekan hingga makanan makanan itu hanya sebatas nenuntaskan rasa lapar saja. Lorong gelap dan panjang itu hampir habis mereka telusuri, tidak ada satu pun ruang kesehatan yang mereka temukan. Semua hanyalah kelas dan laboratorium serta perpustakaan. Sisa ruangan yang belum mereka periksa adalah ruangan paling ujung. Andraga turun dari gendongan, berjalan mendahului. Benar saja, ruangan paling ujung berisi sebuah meja dengan dua buah kursi berhadapan. Ada tiga tempat tidur dengan letak yang tidak beraturan. Tirai terkoyak kaca jendela retak dan pecahannya berserakan di atas tempat tidur hingga lantai. Sebuah lemari yang mereka duga tempat penyimpanan obat melintang di tengah ruangan, posisinya terbalik. Di ruangan yang minim pencahayaan itu Andara dan Alvian dapat melihat cakaran Ahool yang melintang di dinding. Diduga kuat makhluk itulah yang mengacak ngacak ruangan hingga tak berbentuk seperti sekarang ini. "Lo masih ada tenaga kan? Tenaga buat balik ini lemari," tanya Alvian. "Kita coba saja, kak. Memangnya cari apa?" "Obat luka sama kasa, lo gak liat badan kita penuh cakaran gini?" Andraga mendekat, lalu membari isyarat pada sang Kakak untuk mengangkat meja itu pelan pelan. Pada hitungan ke tiga dua bersaudara itu mengangkat lemari yang beratnya lumayan bikin sesak. Kacanya yang pecah berjatuhan, begitu juga dengan isinya. Menimbulkan bunyi yang keras serta keributan yang berasal dari pecahan kaca dan menghasilkan gema. Keduanya tersenyum puas, lantas mencari sesuatu yang bisa mereka jadikan obat. Sayangnya lengkingan Ahool terdengar begitu dekat, mungkin kegaduhan di ruangan itu memancing mereka untuk datang. "Buruan ngumpet," ajak Andraga. Alvian masih terus mencari di lantai hingga isi lemari. Andraga menarik salah satu sisi sprei pembungkus tempat tidur, kemudian dibiarkan menjuntai hingga menutupi kolong tempat tidur. Dia tahu bersembunyi di kolong tempat tidur terlalu ke kanakan dan konyol. Namun, hanya itu yang bisa dia lakukan. Nakas kecil yang ada di sudut ruangan dia seret dan masuk ke kolong tempat tidur, kemudian kotak kotak tak terpakai dan lain lainnya dia jejalkan di kolong yang kini sudah tertutup sprei. "Bro buruan masuk mereka makin dekat," ajak Andraga. Benar saja, lengkingan makhluk itu memang semakin dekat. Aktivitas mencati obat segera Alvian hentikan. Laly masuk ke dalam kolong tempat tidur dengan tumpukan barang untuk mengecoh mereka. Boleh juga ide Andraga, Alvian diam diam tersenyum dan bangga dengan ide tersebut. Bunyi gratak gratak di luar ruangan menandakan jika makhluk itu sudah dekat. Sayangnya mereka tidak bisa membuka pintu. Untuk memasuki gedung, mereka terbang melalui celah di ruangan, menabraknya seperti kelelawar yang terbang ke awang awang. Dari luar ruangan memang tidak ada Ahool yang bisa masuk ke sana, tetapi dari jendela tiba tiba dua makhluk itu menyerang dan terbang seperti kehilangan arah. Mereka mendarat di atas pecahan kaca. Beruntunglah Alvian dan Andraga, karena pecahan kaca itu. menjadi salah satu tanda keberadaan Ahool. Karena pada saat melangkah menimbulkan suara karena perpaduan antara pecahan kaca dan juga lantai granit. Dengan cakarnya makhluk itu menyingkirkan sprei yang digunakan sebagai penutup. Alvian memejamkan mata dan memegang kemari sang Adik. Keduanya tersenyum pasrah kalau kalau makhluk yang ada satu ruangan dengan mereka saat ini menemukan persembunyian keduanya. Alvian mengeratkan pegangan pada jemari sang Adik, ingatannya terlempar pada masa masa mereka berada di rumah. Dia yang paling cerewet jikalau Andraga lupa menutup kandang reptil, atau kadang merescue binatang binatang itu yang masuk ke rumah tetangga. Alvian selalu ngeri akan hal itu. khawatir sang Adik kena gigitan ular berbisa itu. Ketika menyangka di dunia ini hal yang paling menyeramkan adalah ular ular milik Andraga, ternyata dugaan Alvian salah besar. Hal yang paling menyeramkan saat ini adalah sekarang, di mana persembunyian mereka nyaris terbongkar. Bunyi lengkingan terdengar begitu pilu dan membuat Dua makhluk ini membentangkan sayap, lalu terbang melalui jendela. Alvian mendesah lega, tetapi selain kelegaan, juga lahir banyak pertanyaan. Lengkingan apa yang rasanya Begitu menyeramkan. Lengkingan apa yang berhasil mendorong ahool pulang. Dan kini lengkingan itu masih terdengar. Dia penasaran dan menghampiri jendela. Lantas perlahan mengintip, para ahool bergerombool menuju satu tempat. Ketika tengah takjub menyaksikan gumpalan abu abu berjalan, Andraga melonjak kaget karena luka di kakinya sedang diobati Alvian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD