"Eh anjir perih!" pekik Andraga. "Apa itu?"
Alvian kemudian menunjukkan botol, dicium dari aromanya mirip dengan cairan alkohol.
"Jangan sembarangan, kita gak tahu itu obat apa, tulisannya kayak tulisan apa itu?" Meski ngomel ngomel, tetapi Andraga diem aja, sesekali dia meringis kala melihat sang Kakak dengan telaten membersihkan luka menganga bekas cakaran ahool.
Mau tak mau Andraga senyum dalam hati, rambut ikal kecoklatan sang kakak tampak sangat kusam, noda merah yang sudah mengering di beberapa bagian.
Dua kakak beradik itu sudah beberapa kali muncak, menjelajah pegunungan di Indonesia, Andraga pernah kritis karena hipotermia. Alvian pernah patah tulang selangka saat menghindari longsoran batu di lereng gunung Guntur.
Namun, rasa kapok dan menyesal tidak pernah mereka rasakan. Andraga dan Alvian semakin gencar muncak. Apalagi jika merilis atau membebaskan ular berbisa yang direscue dari pemukiman penduduk.
"Rasanya gue gak pengen muncak lagi."
"Pengecut, lo," komentar Alvian. Dia berjalan menuju wastafel, berharap airnya hidup, tetapi ternyata kosong.
"Gue gak ngitung sudah berapa lama kita di sini, pisah dari Mami. Yang bikin gue hancur sekaligus kuat itu ya mami. Gue hancur kalo ngebayangin mami pasti sedih kita gak balik-balik. Tapi gue kuat dan semangat juga karena ingat Mami. Satu satunya hal yang bisa bikin kita pulang, ya kalahin dulu empusa."
Tidak menemukan air, Alvian meraih kain putih yang menjuntai hingga ke lantai. Dia mengelap tangannya dengan itu.
"Kalau mereka gak kalah gimana, Ga? Jujur gue pesimis."
Andraga menepuk bahu Alvian untuk menguatkan lelaki itu. Dia kembali berdiri, melongok ke jendela, melihat pertarungan di bawah sana semakin tidak terkendali.
"Gue merem bentar ya, kepala sakit banget," ujar Alvian.
Andraga mengangguk tanpa menoleh, dia juga lelah. Dia menyesal menyetujui ajakan Wirayudha untuk menjelajah negeri ini.
*
Alvian terbangun karena haus. Dilihatnya Andraga tidur dengan posisi duduk, kepalanya menyender ke dinding.
Sebelum dia memejamkan mata, langit masih terang.
Kini sudah gelap gulita. Hanya terang bulan mengintip dari celah jendela. Dia ingat besok adalah bulan purnama, makhluk-makhluk itu akan musnah.
Entah berapa lama mereka tertidur di sana. Mungkin saat ini Prajurit dan juga Alana sedang kebingungan mencari keberadaan Alvian juga Andraga.
"Dek, kita tidur di sini atau mau nyusul yang lain?" Alvian bertanya ketika dilihatnya sang adik membuka mata.
Andraga melihat sekeliling, dalam tidurnya dia berharap semua yang terjadi adalah mimpi buruk, sayangnya tidak begitu. Petualangan ini nyata, Ahool itu ada dan Empusa itu belum binasa. Bahkan sampai detik ini lelaki itu belum tahu bagaimana wujud empusa.
"Nyusul ke mana?" tanya Andraga.
"Rasanya egois aja kita di sini sementara mereka berjibaku melawan musuh. Terlebih Chandra kini diculik. Gue rasa si Wira stress sekarang ini, gitu gitu dia sayang banget sama sepupunya itu."
Andraga menghela napas, asam lambung rasanya naik, perutnya perih dan napas lumayan sesak. Sayangnya di tempat itu tidak ada makanan.
"Setidaknya di sana kita bisa menemukan makanan untuk ganjel malam ini sampai pagi," lanjut Alvian. Kebaca banget gerakan tangan Andraga yanh sedari tadi mengelus ngelus perutnya karena lapar.
"Ya udah, gue ikut aja, kita jalan pelan pelan."
"Masih sakit, ya?" tanya Alvian khawatir. dibalas dengan senyum kecut.
Sebelum meninggalkan ruangan itu Andraga meraih sebuah papan bekas ambalan lemari obat. Dia lantas menutup jendela dengan hati-hati. Alvian mengawasi sambil bertanya dalam hati, mengapa sang adik melakukan itu.
Ruangan sepenuhnya gelap gulita. Andraga kemudian mengunci ruangan itu dan mengantongi kuncinya.
"Untuk apa?" tanya Alvian.
"Jika kita gak bisa ketemu Alana, Laming dan yang lainnya, kita balik lagi ke sini. Gue rasa tempat ini adalah tempat paling aman untuk saat ini. Gue tutup jendelanya biar tu monyet terbang gak bisa masuk sini."
Ide bagus, tidak pernah terpikir Alvian untuk kembali ke tempat ini, tetapi ruangan itu setidaknya memiliki tempat tidur yang cukup nyaman untuk ditempati.
Terpincaang pincang Andraga menyusuri lorong panjang yang sepi. Matanya awas bagai elang mencari mangsa dari angkasa.
Tiba di ujung tangga menuju lantai satu Alvian menahan Andraga untuk tidak turun dulu. Alvian yang bisa berjalan dengan normal mengendap memeriksa keadaan.
Sepi. Pria itu memberi kode agar Andraga turun. Melalui pegangan besi Andraga menumpukan bobot tubuhnya. Melangkah satu semi satu anak tangga hingga menciptakan bunyi yang menggema.
"Ssstttt!" Alvian menyimpan telunjuknya di atas bibir.
Ada suara langkah di atas pecahan kaca, Alvian merunduk dan memberi kode agar adiknya ikut merunduk.
Suara suara itu semakin sekat, tetapi tidak diikuti lolongan.
"Lo tunggu, biar gue yang ke bawah liat situasi."
Andraga mengangguk, dia melihat sang kakak menjauh turunbke lantai satu.
Alvian perlahan mengendap, cerberus berukuran besar menyusuri lorong dan berbelok ke arah kanan. Arah di mana pintu keluar berada.
Alvian menyembunyikan tubuhnya di balik tiang tiang besar di lorong yang lebarnya dua kali lipat dari lorong di lantai dua.
Dia terus mengawasi satu cerberus itu hingga hilang dari pandangannya. Dirasa aman, Alvian kembali ke atas menjemput sang adik yang kini sedang menunggu di anak tangga.
Alvian tidak mengira keputusannya untuk meninggalkan sang Adik ternyata bukanlah keputusan yang tepat.
Dilihatnya Andraga duduk pasrah seraya memegangi kakinya yang kesakitan. Di belakangnya berdiri cerberus yang menyeringai menampakkam taring tajamnya, mulutnya berliur dan matanya merah. Semerah darah.
"Dek," ucap Alvian di tengah rasa panik. "Di belakang, lo."
Tidak mungkin dia mengajak sang adik untuk berlari, bagaimana caranya berlari? Kakinya sakit dan kini berada di anak tangga.
Andraga tidak menoleh, dia tahu bahaya mengintainya.
Kecerdasannya membuat Andraga punya cara untuk menghindar dari binatang mengerikan itu.
"Bro, lo merapat ke dinding," ucap Andraga.
Tidak banyak bertanya Alvian manut saja, geraman Cerberus terdengar mengerikan.
Adraga berbalik bersamaan dengan gerakan cerberus, binatang itu mencoba menerkam Andraga. Dengan cekatan Andraga menghindar, mengabaikan denyutan di kakinya.
Cerberus gagal menerkam Andraga, binatang berkepala tiga itu beguling di tangga.
"Naik, Bro!" teriak Alvian yang masih kaget dengan kejadian yang berlangsung cepat di depan matanya itu.
Alvian berlari menaiki anak tangga dengan susah payah. Dia melihat ke belakang, cerberus sudah berhasil bangun dan siap mengejar. Dua anak lelaki itu berlarian di lorong lantai dua menuju ruang kesehatan yang semula mereka tempati.
Sementara di belakangnya Cerberua mengejar dengan kecepatan berlari yang lumayan kencang.
Jarak semakin memendek, Andraga tidak akan sempat membuka kunci pintu ruangan tadi.
Keduanya berlari secepat mereka bisa, dan mentok di ujung lorong persis depan pintu ruangan tadi.
Sayangnya jarak Cerberus sudah semakin dekat. Monster yang tengah murka itu memundurkan sedikit badannya untuk bersiap menerkam Alvian dan Andraga.
Seperti harimau yang hendak menerkam kancil buruannyA, cerberus melesatkan tubuhnya ke arah dua anak yang kini sedang memejamkan mata.