Haus Darahh!

1061 Words
Seperti harimau yang hendak menerkam kancil buruannya, cerberus melesatkan tubuhnya ke arah dua anak yang kini sedang memejamkan mata. Bugh! Suara keras tubuh cerberus menghantam lantai. Salah satu kepalanya dekat sekali dengan kaki Andraga. Rasanya panas menerpa kaki. Keduanya membuka mata. Sandrina tampak begitu gagah dengan busur panah di tangannya. Dia muncul setelah menyadari Andraga dan Alvian menghilang. The Rescue tidak boleh hilang, melihat anak anak The Rescue yang tidak bisa berkumpul bersama di tengah melawan Ahiolbdan cerberus semuab prajurit juga mencati keberadaan Alvian dan Andraga. "Tunggu apalagi, buruan lari!" teriak Sandrina. Alvian melesat lari menyusul Sandrina sementara Andraga di belakang terpincang pincaang. Menyadari itu, Alvian kembali ke belakang, dia membungkuk di depan Andraga. Tidak menunggu perintah dua kali Andraga naik ke atas punggung sang kakak. Sandrina gagah menuruni tangga dengan mengendap, Alvian tetap harus kuat dengan beban sang Adik di punggungnya. Mereka terus mengendap agar tidak ketahuan binatang mengerikan yang terus terusan menyerang. Geraman Cerberus dan lengkingan Ahool terdengar dekat. Untungnya ketika turun dari gedung hanya dua ekor kuda putih yang tinggi dan gagah sudah menunggu. "Kita naik kuda?" celetuk Andraga. "Tidak ada waktu jika berjalan kaki. Kita harus cepat sampai camp pengungsian. Dan mendiskusikan apa yang akan dilakukan saat purnama tiba." Alvian menurunkan Andraga tepat di depan salah satu kuda. Sandrina sudah duduk anggun di atas punggung kuda sementara dua pemuda itu terdiam karena tidak tahu harus bagaimana. "Ayo!" ajak Sandrina. Dua pemuda tersenyum dan mengatakan kalau mereka tidak taju caranya berkuda. "Kalian tidak bisa?" Anggukan pertanda jawaban. Sandrina melompat dari punggung kuda lalu menghampiri Alvian dan Andraga. "Untuk naik kuda, sebaiknya kalian selalu mengawali dari sisi kiri kuda karena kekuatan pijakan ada di kaki sebelah kanan agar dapat menghentak untuk naik ke atas. Sekali loncat biasanya akan langsung bisa naik apabila hentakan sekaligus pegangan tangan sangat kuat." Sandrina mengajari dengan cepat cara untuk naik ke atas punggung kuda. "Sekali loncat biasanya akan langsung dalam posisi duduk, seperti ini, tapi juga jangan terlalu kuat supaya tidak merosot dan melewati bagian sisi kanan kuda." Faham dengan penjelasan Sandrina akhirnya dengan susah payah Alvian berhasil naik, dibantu Sandrina, Andraga yang tengah terluka berhasil duduk di kuda yang satunya lagi. Artinya dia bersama dengan Sandrina di kuda yang sama. Mengandalkan insting dibantu Sandrina, Alvian akhirnya bisa menunggang kuda itu hingga berlari pelan. Menyusuri jalan setapak yang tidak pernah mereka lalui sebelumnya. Jangan pernah menyangka Ahool itu sudah hilang. Rasanya seperti sedang berada di medan perang. Sepanjang perjalanan Sandrina terus menebas nebaskan pedang menghindari gigitan mereka. Perempuan tangguh itu berusaha melindungi Alvian yang tidak bisa melawan sambil memegang kendali. * Alana berusaha menenangkan Wira yang terlihat begitu terluka. Lelaki itu menghambur memeluk Alana kala melihat dia muncuk bersama Laming. Wira melihat ke sekitar berharap Alvian dan Andraga datang juga bersama Alana. Sayangnya tidak. Kepergian Chandra karena diambil salah satu Ahool membuat dia takut kehilangan yang lainnya lagi. Tanggung jawab Wira amatlah besar. Wira yang membawa semuanya ke sini, Wira pula lah yang harus mwngembalikan semua dengan selamat ke rumah masing masing. "Kamu berhasil menutup pintu masuk?" tanya Alana. Ingatan Wira tertuju pada bangunan dengan jalan masuk yang dia tutup seadanya dengan menggunakan ranting ranting kering. Belum bisa dikatakan sepenuhnya tertutup, mungkin saja mereka bisa membukanya. Wira berusaha melepaskan pegangan tangan Alana, dia berjalan menunu ujung tenda besar, mensejajarkan diri dengan Nitisara yang sedang meneropong keadaan di kejauhan. "Mereka sedang menuju kemari, Dua temanmu bersama Sandrina. Prajuritku yang paling pandai dan cekatan." Wira menatap Nitisara yang bertubuh tinggi, rasanya dia seperti anak umur enam tahun yang mendongak menatap ayahnya. "Syukurlah. Mudah mudahan para Ahool bisa segera musnah oleh cahaya bulan. Saya gak sabar menjelajag Laboratorium lagi untuk mencari sisa naskah." Mendengar semangat Wira yang menggebu, tentu saja Nitisara bangga. Nitisara kembali menggunakan teropongnya. Melihat betapa mengerikan jumlah monstwr monster itu, jumlah yang tidak dia perkirakan. "Nitisara," panggil Wira. "Hmmm." "Kenapa mereka tidak menyerang camp ini? Apa masih ada pelindung ssperti dulu?" Wira memang heran Camp ini seolah aman dari serangan Ahool. "Bolo berusaha memantrai Camp ini, tetapi saya yakin, tidak akan berangsur lama. Cepat atau lambat mantra mantra Bolo tidak akan berguna lagi," sesal Nitisara. Wira bingung aebenarnya Bolo itu apa, apakah penyihir di dunia bawah tanah ini atau penduduk biasa? Suara sepatu kuda berhasil mengalihkan perhatian Wira, lelaki itu bergegas keluar dan mendapati Alvian dan Andraga tersenyum di hadapannya. Tidak menunggu lama, Wira memeluknya erat. Alana mendekat, kini The Rescue tanpa Chandra siap untuk melawan semua kekacauan yang ada di dunia Bawah Tanah ini. "Terima kasih lo masih hidup, Bro." "Ya harus hiduplah, tidak boleh ada yang gak selamat. Kita semua harus hidup." "Chandra, Bro," ucap Wira, dia tertunduk lesu. "Gue udah denger, Wira pasti baik baik saja." Andraga berjalan dengan susah payah. Lalu dia duduk di atas rumput memijat kakinya sendiri. "Gue bantu, ya," ucap Alana. "Eh anjir gak usah, serius gak usah." Andraga beringsut mundur bisa gawat kalau kakinya dipijat oleh seorang perempuan. Membayangkannya saja Andraga merinding. * Seorang pemuda terbangun dengan keadaan lemas dan terikat. Setiap kali dirinya membuka mata dia selalu berharap kalau itu hanyalah mimpi belaka. Namun, semua yang terjadi lebih mengerikan dari mimpi buruk. Setiap hari dia disiksa oleh binatang berkepala monyet tanpa sayap. Lalu melihat monster lainnya yang begitu mengerikan. Rambutnya menyala seperti api yang warnanya Biru. Jika marah, rambutnya berubah seperti kobaran api, sayap kelelawarnya bisa Chandra lihat dan gigi gigu tajamnya membuat lelaki itu ketakutan setengah mati. Empusa, dari yang dia tahu adalah makhluk mitologi setengah dewi di bawah kontrol Dewi Hecate. Empusa mampu berubah wujud menjadi seorang wanita cantik, tetapi mampu memakan siapa pun yang terpikat oleh kecantikannya. Empusa memiliki sebuah cermin yang fungsinya seperti layar pengintai.Dia melihat bagaimana perkotaan dipenuhi ahool dan cerberus melawan prajurit Nitisara. Nitisara adalah musuh terbesar Empusa. Manusia manusia dunia bawah tanah itu harus seger dimusnahkan agar Empusa mampu menguasai dan mengendalikan dunia ini sendirian. "Bagaimana tidurmu anak muda?" Kan, bener, Kan. Yang Chandra takuti terjadi juga. Empusa ketika sedang berwujud manusia. Rambutnya yang biru terlihat indah bergelombang. Persis seperti gadis gadis modern yang mewarnai rambutnya di salon. Bibirnya tipis dan penuh, jemari lentiknya membelai Chandra, dari pipi leher dan kemudian Dadaa. Chandra merapal doa, tiba tiba dia ingat segala dosa dosanya Bagaimana jika gie mati sekarang. Bagaimana? "Emaaak, maafin Ichan, Mak." Lelaki itu memejamkan mata dan berteriak ketika Empusa dengan santainya mengendus kulit tubuh Chandra. Aroma darah Natakusuma begitu kuat di sana. Empusa merindukan lezatnya darah Natakusuma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD