TRB 22

1919 Words

Louis menautkan kedua alisnya saat perempuan yang sedang berada dalam gendongannya tidak  bisa diam, malah seperti cacing kepanasan. Bahkan, sesekali perempuan tersebut mendesah dan mengerang pelan ketika tangannya menyentuh tubuhnya sendiri yang masih terlapisi gaun resepsinya. Selain wajah perempuan tersebut yang kini telah memerah, sorot mata redupnya pun memancarkan secercah gairah. Untungnya di dalam lift saat ini sedang sepi, sehingga tidak ada orang lain yang melihat tingkah perempuan di gendongannya tersebut. “Berhenti bergerak! Jika tidak, aku akan menjatuhkanmu!” hardik Louis agar Sherly berhenti berontak dalam gendongannya. “Louis, panas. Argh….” Sherly tidak memedulikan hardikan Louis, malah dia memberitahukan keadaan tubuhnya kini sambil mengerang di akhir kalimatnya. “Bantu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD