TRB 10

1583 Words
Tak terasa saat ini menjadi malam terakhir Louis dan Sherly berada di Blenheim. Selama berada di Blenheim, Louis dan Sherly banyak menghabiskan waktu sekaligus melakukan kegiatan bersama, meski keduanya sangat miskin berinteraksi. Bahkan, tanpa keraguan sedikit pun Louis memperkenalkan Sherly sebagai istrinya kepada semua pekerjanya di perkebunan anggur. Karena telah terikat pada janjinya, Sherly pun hanya bisa mengikuti skenario yang dirancang apik oleh Louis, meski dia sendiri sudah sangat ingin muntah melakoninya. Di mata orang lain, Louis dan Sherly terlihat sebagai pasangan yang sempurna, terutama jika dilihat dari paras masing-masing. Oleh karena itu, tidak diragukan lagi jika mereka dianggap pasangan yang serasi dan sangat layak disandingkan sebagai suami istri. Louis sangat menikmati hari-harinya selama berada di vila milik keluarganya, terutama saat melihat Sherly tersiksa sekaligus tertekan atas tindakannya. Apalagi saat beberapa kali sang papa menghubunginya dan mengajak mereka mengobrol melalui video call. Walau dengan sangat jelas Louis melihat sikap canggung Sherly terhadap sang papa, tapi dia lebih memilih untuk tidak ambil pusing. Louis semakin terhibur melihat sikap Sherly ketika sang papa menyinggung mengenai anak. Tidak mau melewatkan kesempatan dalam membuat perempuan tersebut tersiksa, dia pun dengan penuh semangat menimpalinya. Usai makan siang besok, Louis dan Sherly akan kembali ke kediaman Xanders di Auckland. Oleh karena itu, Louis meminta kepada Luna agar membuat hidangan istimewa sebagai menu makan malam mereka. Bukan hanya Louis dan Sherly yang akan menikmatinya, melainkan pasangan Blaise tersebut juga. Louis ingin mengucapkan terima kasih kepada pasangan Blaise karena selama berada di vila mereka sudah melayaninya dan Sherly dengan sangat baik. “Sejak dulu cita rasa menu makanan buatanmu yang satu ini tidak pernah berubah,” Louis mengomentari hidangan daging domba panggang yang dicicipinya. “Terima kasih atas pujiannya, Tuan. Saya sangat senang mengetahui Tuan masih menyukai hidangan yang satu ini,” Luna menanggapinya dengan senang karena dia mampu menyuguhkan hidangan yang memuaskan lidah tuannya. “Apakah aku harus membawa kalian ke kediamanku demi bisa menikmati makanan yang sangat lezat sekaligus memanjakan lidah ini setiap harinya?” Louis bertanya pada Luna dan Austin sambil terkekeh. “Kami tidak menyetujuinya, Tuan,” Luna langsung menolaknya. “Saya dan suami rela tidak mendapat gaji selama setahun atau lebih, asalkan kami tetap berada di sini,” imbuhnya. Sherly yang dari tadi hanya menjadi pendengar terkejut atas jawaban Luna, apalagi wanita paruh baya tersebut mengatakannya dengan sangat tenang. “Apakah jawabannya itu tidak menjadi bumerang untuk dirinya sendiri?” batinnya berkomentar. Melalui ekor matanya dia melirik Louis yang duduk santai di sebelahnya. Mendengar jawaban Luna, Louis pun tertawa renyah. “Jawaban yang dari dulu tetap tidak berubah. Komitmen kalian memang tidak tergoyahkan,” ucapnya bangga. “Kalau begitu kamu harus membagi resepnya kepada istriku, supaya dia nanti yang membuatkannya untukku ketika aku menginginkan hidangan ini,” pintanya sambil mengalihkan tatapan lembutnya ke arah Sherly. Luna dan Austin saling tatap, kemudian tersenyum. “Melihat kalian sekarang, secara langsung membawa ingatan kami pada sosok Tuan Jacob dan mendiang Nyonya Aimee ketika mereka masih menjadi pengantin baru,” celetuk Luna yang matanya telah berkaca-kaca. Austin dengan cepat mengusap-usap punggung Luna, bermaksud menenangkan. Walau sudah bertahun-tahun sang nyonya meninggalkan keluarganya karena harus menghadap Sang Pencipta, tapi kenangan mereka akan sosoknya tetap melekat di benaknya, terutama istrinya. “Sst! Mamaku saat ini sedang melihat kalian dari surga. Aku yakin beliau pasti sangat marah karena kalian telah mengusik kedamaiannya di sana melalui kesedihanmu, Bibi,” Louis menanggapinya dengan nada bercanda. “Jika kalian merindukan sosok Mama, datanglah ke Auckland dan kunjungi peristirahatan terakhir beliau. Aku yakin Mama pasti senang kalian mengunjunginya,” imbuhnya. Mendengar perkataan Louis membuat Sherly menautkan kedua alisnya karena rasa tidak percayanya. “Benarkah yang saat ini aku lihat dan dengar langsung? Atau jangan-jangan aku sudah mabuk?” batinnya mencecar. “Reinkarnasi iblis ini bisa menegur seseorang yang usianya jauh di atasnya dengan bercanda dan nada bicaranya pun terdengar lembut?” sambungnya dalam hati. Louis langsung meneguk habis sisa wine di gelasnya setelah menenangkan Luna yang mengingat mendiang sang ibu. “Habiskan makanan di piringmu, Sayang,” ucapnya pada Sherly yang dilihat sedang memerhatikannya setelah meletakkan kembali gelasnya. “Buka mulutmu, Sayang,” imbuhnya. Dia langsung menyuapi Sherly dengan potongan daging domba karena perempuan tersebut tidak mengindahkan ucapannya. Dengan sangat pelan Sherly mulai mengunyah daging empuk yang telah berada di dalam mulutnya. Wajahnya memerah karena tertangkap basah sedang memergoki Louis, apalagi laki-laki tersebut menyuapinya di hadapan pasangan Blaise. Dia tidak berani menoleh ke arah Louis, karena laki-laki tersebut masih enggan berhenti menatapnya. *** Sherly sengaja melarang Luna memasukkan pakaiannya ke koper, agar dia mempunyai sedikit kesibukkan. Selama seminggu tidak melakukan apa pun dan hanya bersantai malah membuat tubuhnya pegal. Dia pun merasakan ada yang kurang dalam hidupnya. Sebelum dijadikan tumbal pernikahan oleh saudari kembarnya, hidup Sherly sangat teratur dan menyenangkan. Membersihkan apartemen sederhananya menggunakan tangannya sendiri, berlomba dengan jarum jam dalam menyelesaikan tumpukan pekerjaannya, dan menikmati waktu senggangnya dengan memainkan tuts piano di sekolah musik milik temannya. Kini semua kegiatannya tersebut tidak akan bisa lagi dilakukannya dengan leluasa. “Kemas juga pakaianku,” Louis langsung memberi perintah kepada Sherly setelah memasuki kamar. “Jangan sampai ada yang tertinggal, terutama pakaian dalamku,” imbuhnya sebelum melenggang menuju kamar mandi. Sherly tidak menjawab, dia hanya mendengkus pelan agar tidak terdengar oleh telinga Louis. “Sepertinya aku akan dipekerjakan sebagai pelayan oleh laki-laki ini di rumahnya,” cibirnya dalam hati. Tidak ada pilihan lain, jadi Sherly tetap melaksanakan perintah Louis walau dilakukan dengan setengah hati. Dalam diam dia mulai memasukkan satu per satu pakaian milik Louis yang sudah dilipatnya rapi terlebih dulu ke dalam koper. Saat tiba gilirannya memasukkan beberapa brief boxer milik Louis, dia langsung berdiri dan mengambil kantong plastik untuk melapisi tangannya. “Tanganmu tidak akan terinfeksi virus berbahaya jika menyentuh pakaian dalamku itu. Kebersihan benda lunak dan ajaib yang dilindungi oleh brief boxer tersebut sangat terjaga. Oleh karena itu, kau tidak perlu risau atau khawatir akan tertular suatu penyakit jika tanganmu langsung menyentuh pakaian dalamku,” ucap Louis yang tengah memerhatikan kegiatan Sherly dari ambang pintu kamar mandi. Louis berusaha keras menahan tawanya karena tindakan konyol perempuan tersebut. Walau senang menekan sekaligus menyiksa Sherly, tapi dia tidak memungkiri sering dibuat menahan tawa karena reaksi yang diberikan oleh perempuan tersebut. “Jika ingin membuktikan ucapanku, kau bisa menyentuhnya secara langsung. Aku sama sekali tidak keberatan dengan sentuhan tanganmu yang mulus itu,” Louis menambahkan. Kini dia mulai menghampiri Sherly yang berdiri di kaki ranjang. Sherly tetap menunduk, seolah tidak mendengar perkataan kurang ajar yang Louis lontarkan. Selain itu juga untuk menyembunyikan pipinya yang dia yakini telah memerah. Tidak ingin terus-menerus dipojokkan melalui kata-kata kurang ajar oleh Louis, dengan rasa kesal tertahan dia pun terpaksa melepaskan kantong plastik yang sudah melapisi tangannya tersebut. “Kau bersedia memeriksa langsung benda ajaib yang aku miliki? Jangan takut, aku tidak akan memarahimu,” Louis berbisik setelah berdiri di samping Sherly. Bahkan, sengaja mengecup daun telinga istrinya tersebut. “Ti-tidak mau,” Sherly menjawabnya dengan gugup sebab darahnya mulai berdesir. Dia tidak menginginkan hal tersebut terjadi, tapi respons alaminya tidak bisa diajak berkompromi. Merasakan tubuh Sherly mulai menegang karena ulah mulutnya, Louis menyeringai. “Bukankah tadi aku mengatakan bahwa benda tersebut ajaib? Kini benda itu sudah menunjukkan keajaibannya. Perlahan dia mulai mengeras.” Louis menahan pinggang Sherly yang hendak menjauh saat dia ingin merapatkan tubuhnya untuk membuktikan ucapannya kepada perempuan tersebut. “Tidakkah kau ingin melihat sendiri keajaiban yang diciptakan olehnya?” Kini Louis mulai menggerayangi lengan Sherly sebelum mengambil telapak tangannya dan disentuhkan pada bagian bawah tubuhnya yang masih tertutup pakaian. Sherly memejamkan matanya untuk menghimpun kekuatan sekaligus keberanian agar bisa menepis ulah tangan Louis. “Aku tidak mau!” ucapnya dengan nada tinggi. Dia langsung mengempaskan tangannya yang tadi disentuh oleh Louis dengan kuat. “Argh!” Louis mengerang menahan ngilu saat empasan tangan Sherly tepat mengenai benda lunak yang sudah menunjukkan keajaibannya tersebut. Saking ngilunya dia sampai menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Tangannya pun masih setia memegang benda yang nantinya menjadi senjata tempurnya dalam menciptakan para generasi di keluarga Xanders. Pupil mata Sherly membesar ketika mendengar erangan Louis yang sarat kesakitan. Apalagi kini dia melihat laki-laki tersebut bergerak tidak jelas di atas ranjang. Dia sungguh tidak menduga jika tangannya tepat mengenai benda lunak yang selama ini dilindungi oleh brief boxer tersebut. “Apakah benda itu lebam atau bengkak? Secara tadi aku mengempaskan tanganku cukup kuat,” tanyanya dalam hati. “Sialan kau, Sherly!” Louis mengumpat di sela-sela erangannya. “Sekarang kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan lancangmu ini! Jika sampai benda ajaib ini kehilangan fungsinya, kau harus dihukum berat!” tuntutnya menakuti sambil menatap wajah Sherly yang terlihat pias. Wajah Louis kini telah merah padam, perpaduan antara menahan sakit dan perasaan marahnya. “Baiklah. Aku akan segera mengambilkanmu es batu di kulkas. Nanti kau bisa mengompresnya sendiri di dalam kamar mandi, agar bengkaknya cepat mengempis. Semoga saja keadaannya tidak parah.” Sherly langsung melesat keluar kamar tanpa menunggu tanggapan Louis. Louis langsung berhenti mengerang setelah mendengar perkataan Sherly. Saat berhasil mencerna rentetan perkataan perempuan tersebut, dia malah mengumpat dan berdecak kesal. Dia memikirkan jika Luna belum tidur dan Sherly bertemu dengannya. "Apa yang akan dikatakan Sherly jika Luna menanyakan alasannya malam-malam mengambil es batu dan membawanya ke dalam kamar? Apakah perempuan tersebut akan berkata jujur dan membuat semua sandiwaranya selama ini terbongkar karena hal konyol?” gumamnya waspada sekaligus kesal. Tanpa menunggu Sherly kembali, Louis bangun dari berbaringnya di ranjang. Dia langsung menuju kamar mandi untuk meredakan rasa ngilu di area tersembunyinya dengan air dingin, sekalian ingin mengganti pakaiannya. Dia berjalan pelan sambil sesekali meringis karena menahan nyeri, walau tidak senyeri tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD