TRB 9

1934 Words
Sinar matahari yang menerobos jendela kaca kamarnya memaksa sherly agar segera membuka mata. Setelah semua jiwanya menyatu dengan raganya, Sherly baru menyadari jika dia terbangun seorang diri di dalam kamarnya. Saat sebuah ingatan mengenai kemarin malam menghampiri benaknya, dia dengan cepat menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Dia menghela napas lega saat mendapati tubuhnya masih tertutup rapat oleh pakaian yang dikenakannya kemarin malam. Setelah menuruni ranjang Sherly bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini dia tidak mungkin bisa bersepeda dan mengelilingi perkebunan anggur, mengingat kakinya masih sakit. Ketika berjalan saja dia masih tertatih dan sesekali meringis karena nyeri, apalagi jika kakinya digunakan untuk mengayuh pedal sepeda. Bisa-bisa dia akan terkapar untuk kedua kalinya. Lima belas menit waktu yang dibutuhkan oleh Sherly untuk keluar dari kamar mandi setelah dia menuntaskan kegiatan paginya. Dia tidak mendapati siapa pun di sekitar ruangan ketika keluar dari kamar. Beberapa kali dia memanggil Luna, tapi sekali pun tidak mendapat tanggapan. Melihat di atas meja makan sudah tersedia segelas s**u hangat dan beberapa potong sandwich, dia pun menduduki salah satu kursi. Dia langsung menikmati menu sarapan yang diyakini memang disiapkan Luna untuknya. Dia menikmati sarapan dalam diam, sebab hanya ada dirinya seorang. Sherly tidak memerlukan waktu lama dalam menghabiskan menu sarapannya. Setelah membawa gelas s**u dan piring yang digunakan sebagai alas sandwich ke dapur serta mencucinya, dia keluar rumah untuk menghirup udara segar di pagi hari sambil berkeliling di sekitar vila. “Pagi, Nyonya,” sapa Luna sambil tersenyum saat melihat Sherly membuka pintu utama pada vila. “Selamat pagi, Bi,” Sherly menyapa balik dengan ramah. “Bibi mau ke mana?” tanyanya ketika melihat Luna membawa keranjang kecil. “Saya akan memetik buah lemon, Nyonya. Oh ya, Nyonya, apakah sarapan yang saya siapkan sudah dinikmati?” Luna bertanya setelah menghentikan langkah kakinya karena interupsi Sherly. Sherly mengangguk. “Terima kasih ya, Bi,” ucapnya sambil tersenyum. Luna menanggapinya dengan tertawa ringan. “Sudah menjadi kewajiban sekaligus keharusan saya melayani kebutuhan Nyonya dan Tuan selama di sini,” balasnya. “Nyonya mau ke mana?” tanyanya. “Tidak ke mana-mana, Bi. Mengingat kondisiku masih seperti ini, jadi aku belum bisa bersepeda dan berkeliling lagi, Bi,” jawab Sherly apa adanya. “Hm, apakah aku boleh ikut Bibi memetik lemon?” imbuhnya. “Tentu saja boleh, Nyonya. Lagi pula tempat Bibi memetik lemon sangat dekat, di kebun belakang vila,” Luna mengiyakan sambil terkekeh. “Ayo, Nyonya. Pelan-pelan saja berjalan,” sambungnya mengingatkan. Sambil mengangguk Sherly mulai berjalan pelan mengikuti Luna. Baru hari ini dia mengetahui bahwa di belakang vila terdapat kebun buah lemon. Setelah tiba di belakang vila, dia kagum melihat pohon buah lemon yang berderet rapi dan terlihat tumbuh subur. Walau kebun tersebut tidak terlalu luas, tapi sangat mampu membuatnya berdecak kagum. “Ngomong-ngomong, Paman Austin di mana, Bi? Dari tadi aku belum melihat beliau,” tanya Sherly yang kini sudah mulai memetik satu per satu buah lemon tersebut. “Suami saya sedang menemani Tuan Louis bersepeda, Nyonya,” Luna menjawab sambil menoleh ke arah Sherly. “Oh ya, ternyata Nyonya tidak kuat minum wine ya? Kemarin malam saya melihat Nyonya sudah terkulai lemas di pelukan Tuan,” beri tahunya. Tangan Sherly yang sedang asyik memetik buah lemon berhenti seketika setelah mendengar perkataan Luna. Bahkan, kini dia merasakan kedua pipinya telah memanas karena malu. “Benar, Bi. Toleransiku terhadap wine memang sangat payah. Bukan hanya dengan wine, melainkan minuman beralkohol lainnya juga,” akunya jujur dan sedikit malu. “Tidak apa-apa, toleransi setiap orang terhadap minuman beralkohol memang berbeda,” Luna menanggapinya sambil menepuk pundak Sherly dengan lembut. Sherly hanya menanggapinya dengan anggukan. Dia kembali melanjutkan kegiatannya membantu Luna memetik buah lemon agar keranjang cepat penuh. *** Sejak kekacauan beberapa hari lalu yang disebabkan oleh putri sulungnya, Gemma Darlene Russell selalu murung dan bersedih. Hingga detik ini dia tidak mengetahui nasib kedua putri kembarnya di tempat yang berbeda. Walau mengetahui Sherly pasti berada di kediaman Xanders, tapi tidak dengan Shirley. Putri sulungnya tersebut kini entah berada di mana dan bagaimana keadaannya, dia sungguh tidak mengetahuinya. Beberapa kali dia dan sang suami mencoba menghubungi nomor ponsel Shirley, tapi hasilnya tetap nihil. Putri sulungnya tersebut menghilang tanpa jejak. Kepergiannya juga tidak meninggalkan isyarat sedikit pun. Bukan hanya Shirley yang nomor ponselnya sangat sulit dihubungi, Sherly pun demikian. Dia khawatir jika laki-laki yang telah menyandang status sebagai menantunya tersebut akan melakukan tindakan di luar dugaan terhadap putri busungnya. Apalagi dia secara nyata dan jelas melihat kemurkaan laki-laki tersebut atas kaburnya sang putri sulung di hari pernikahannya. Gemma menatap layar ponselnya sebelum benar-benar yakin terhadap tindakan yang akan dilakukannya. Setelah berhasil menemukan keyakinannya, jari-jari tangannya yang masih terlihat kencang karena perawatan rutinnya mulai mencari nama kontak salah satu putrinya. Dia sangat berharap jika tindakannya kali ini membuahkan hasil, sebab dirinya sudah sangat rindu terhadap kedua belahan jiwanya tersebut. Kedua putri yang pada akhirnya bisa dikandung dan dilahirkannya walau melalui persalinan caesar, setelah penantian panjangnya menunggu selama bertahun-tahun bersama sang suami. Dengan perasaan yang terselimuti kabut gelisah, Gemma menanti respons di seberang sana setelah meletakkan ponsel pada telinganya. Seulas senyum penuh harapan tercipta pada bibirnya saat mendengar nada panggilnya tersambung. Harapannya semakin besar terhadap usahanya saat ini dalam menghubungi sang anak akan membuahkan hasil. Sambil menunggu panggilannya ditanggapi, dia tidak menyadari bahwa matanya kini telah berkaca-kaca karena rasa rindu dan khawatirnya bercampur menjadi satu memenuhi rongga dadanya. Gemma sudah tak mampu membendung air matanya yang telah menganak sungai saat mendengar suara lembut menyapanya dari seberang sana. Perasaan lega sekaligus penuh kerinduannya yang menjadi penyebab utama air matanya mengalir deras. Dia memukul dadanya agar perasaan sesak yang mengimpitnya sejak tadi perlahan terurai. “Nak,” ucap Gemma lirih setelah berhasil mengontrol emosionalnya. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya tanpa menyembunyikan kesakitannya yang tak kasatmata selama ini. “Aku baik, Ma.” Sherly juga sudah tidak mampu membendung air matanya, sehingga isak tangisnya pun lolos begitu saja dari mulutnya. “Kabar Mama dan Papa bagaimana?” tanyanya balik sambil menyusut air matanya. “Tidak baik, Sayang,” Gemma memberitahukannya dengan jujur. “Bagaimana kami bisa baik-baik saja, jika tidak mengetahui kondisimu dan Shirley. Orang tua mana yang bisa hidup baik-baik saja terlebih seorang ibu, jika nasib anak-anaknya berada di tepi jurang,” imbuhnya nelangsa. Dia tidak ingin menutupi perasaan yang selama beberapa hari ini mengimpit dan menyiksanya. “Ma.” Tenggorokan Sherly terasa tercekat ketika mendengar perkataan sang ibu yang sarat kepiluan. Andai saat ini sang ibu berada di hadapannya, dia pasti langsung memeluk wanita yang telah mengandung dan melahirkan bersama saudari kembarnya tersebut. “Namun, kini Mama sudah merasa jauh lebih baik setelah mendengar suaramu, Sayang,” ungkap Gemma sambil menyusut lelehan air matanya yang sudah lancang membasahi pipinya. “Bagaimana perlakuan Louis terhadapmu, Sayang? Apakah dia menyakiti atau menyiksamu?” tanyanya penuh kekhawatiran. “Biasa saja, Ma. Saat itu dia memang sangat marah karena kaburnya Shirley, tapi setelahnya emosinya tidak seburuk sebelumnya.” Walau orang tuanya, terutama sang ibu sudah menduga perlakuan Louis padanya, tapi Sherly lebih memilih untuk tidak memberitahukan atau menjabarkannya secara rinci yang terjadi. “Mama dan Papa tidak usah terlalu mengkhawatirkanku, sejauh ini aku masih bisa mengatasinya,” pintanya menenangkan. Gemma tidak seratus persen memercayai perkataan Sherly, sebab dia tahu bahwa putri bungsunya tersebut sengaja berkata demikian agar dirinya merasa tenang. “Siapa yang ingin kamu bohongi, Nak? Selama kurang lebih sembilan bulan kita berbagi darah dan napas yang sama, setidaknya Mama mampu memahamimu, Sayang,” batinnya berkata. “Baiklah. Apakah kamu akan tinggal di kediaman Xanders atau di rumah pribadi suamimu?” tanyanya ingin tahu. Dia sangat khawatir jika sampai Jacob sudah mengetahui masalah besar yang terjadi beberapa hari lalu. Sherly merasa lega karena Gemma tidak membahas lebih lanjut tentang perlakuan Louis padanya. “Mengenai hal tersebut aku kurang tahu, sebab Louis belum sempat membahasnya denganku, Ma,” jawabnya jujur. “Lalu saat ini kalian tinggal di mana?” Gemma bertanya cepat. “Sejak kemarin lusa Louis mengajakku berkunjung ke Blenheim, Ma. Dia tidak berbuat macam-macam padaku di sini, Ma. Dia hanya mengajakku berlibur sekaligus ada pekerjaan di sini,” Sherly menjelaskan dengan nada yang benar-benar tenang. Gemma mengangguk, meski tidak dapat dilihat oleh Sherly. “Berhubung nomor ponselmu sudah aktif, Mama dan Papa akan sering menghubungimu, Sayang. Kami hanya ingin memastikan keadaanmu,” ucapnya. “Baik, Ma. Sampaikan salamku pada Papa, Ma. Kalian harus selalu menjaga kesehatan,” Sherly mengingatkan. Bola matanya membesar saat melihat Louis telah berdiri di belakang tubuhnya setelah dia berbalik. “Mama sudahi dulu obrolan kita ya, Sayang.” Gemma memutus sambungannya setelah Sherly mengiyakan di seberang sana. “Kini tinggal Shirley yang belum diketahui keberadaan sekaligus keadaannya,” Gemma bergumam sambil menatap nanar layar ponselnya. “Semoga kamu baik-baik saja, Nak. Mama sangat berharap orang-orang yang diperintahkan oleh Papamu lebih dulu bisa menemukanmu dibandingkan Louis. Walau tindakanmu sangat tidak benar, tapi Mama ingin mengetahui dan mendengar alasanmu sampai nekat kabur di hari pernikahanmu,” sambungnya. Sebelum beranjak dari sofa yang didudukinya, Gemma kembali menyusut kedua sudut matanya karena cairan bening masih lancar menetes walau tidak sederas tadi. *** “Ley?” Tanpa menunggu jawaban Sherly, Louis langsung merebut ponsel dari tangan perempuan tersebut. Dia mengangkat bahu dan mengembalikan ponsel tersebut kepada Sherly setelah memeriksa panggilan keluar serta masuknya. “Aku peringatkan sekali lagi, kau jangan pernah mencoba untuk mengelabui atau menipuku,” sambungnya memperingatkan. Sherly mengangguk sambil memegang erat-erat ponselnya. Dia masih sangat terkejut atas keberadaan Louis yang tiba-tiba di belakang tubuhnya. Di tengah-tengah keasyikannya memetik buah lemon sendirian karena Luna sedang ke dalam rumah mengambil air minum untuknya, ponselnya berdering. Tanpa banyak berpikir dia pun langsung menerima panggilan tersebut, terlebih setelah melihat nama yang tertera pada layar ponselnya. “Luna menitipkan ini untukmu.” Louis menyerahkan botol yang di dalamnya berisi air dingin dan irisan lemon segar. “Terima kasih.” Sherly menerima botol yang diberikan oleh Louis. Tanpa disadarinya, dia beberapa kali menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya saat melihat segarnya air lemon di dalam botol. “Berapa hari kau tidak minum?” tanya Louis sarkasme seraya mendengkus ketika melihat Sherly minum seperti orang yang sangat kehausan selama berhari-hari. Sherly memilih mengabaikan pertanyaan Louis yang menurutnya tidak perlu diberikan jawaban. Lagi pula jika dia memberikan jawaban, kemungkinan besar Louis mempunyai kesempatan lebar untuk memojokkannya. Selain air lemon segar adalah salah satu jenis minuman kesukaannya, saat ini dia juga sedang sangat haus. “Ternyata kau memang payah di setiap kegiatan yang dilakukan. Bersepeda payah, kini hanya memetik buah lemon pun demikian,” cibir Louis sambil menggelengkan kepala. “Aku harap nanti kau tidak payah juga saat melakukan kegiatan di atas ranjang bersamaku,” sambungnya berbisik setelah mencondongkan tubuhnya ke arah Sherly. Sherly langsung menyemprotkan air lemon yang masih berada di dalam mulutnya tepat ke wajah Louis karena terkejut mendengar kalimat akhir laki-laki tersebut. “Ma-maaf. Aku tidak sengaja melakukannya.” Tangan Sherly dengan cepat mengusap-usap wajah Louis yang basah. “Aku memang tidak sengaja melakukannya, tapi kau pantas mendapatkannya karena perkataanmu yang seenaknya dan kurang ajar,” batinnya menambahkan. Wajah Louis telah merah padam karena menahan amarah. “Beberapa hari lalu perempuan ini lancang meludahi wajahku, kini dia menyemprotnya dengan air yang ada di mulutnya,” batinnya berdecak kesal. “Tapi tindakannya yang sekarang kau tidak bisa menyalahkannya sepenuhnya, Louis. Perempuan ini tidak sengaja melakukannya karena terkejut mendengar perkataanmu,” sisi lain batinnya menambahkan. “Sekali lagi aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya. Tadi itu tindakan spontanku,” Sherly mengulangi menyampaikan permintaan maafnya kepada Louis agar laki-laki tersebut tidak menyakitinya kembali. Tanpa menanggapi permintaan maaf yang disampaikan oleh Sherly, Louis mengempaskan tangan perempuan tersebut dengan kasar. Dia langsung berbalik dan meninggalkan Sherly dengan perasaan yang masih sangat kesal sekaligus penuh amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD