Sejak melakukan tindakan yang sangat nekat dan penuh risiko di sepanjang hidupnya, kini ketidaktenangan setiap detik senantiasa menghantui Shirley. Kegelisahan sekaligus ketakutan kini seolah sudah berteman akrab dengannya. Bahkan, setiap kali memejamkan mata pun dia selalu merasa ada sosok tak terlihat yang sangat intens mengawasinya. Dia menyadari bahwa saudari kembarnya di luar sana tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Hal tersebut terbukti dari rasa sakit yang kerap mendera hatinya.
Awalnya sedikit pun Shirley tidak bermaksud menyeret atau menumbalkan hidup saudari kembarnya ke dalam urusan pribadinya. Namun, saat itu pikirannya telah menemui titik buntu dan sama sekali tidak ada bayangan terhadap pilihan lain. Oleh karena itu, dengan sangat terpaksa dia mengkhianati persaudaraannya bersama Sherly. Perempuan yang sejak dalam rahim sang ibu telah berbagi hidup dengannya. Bukan hanya kepada saudari kembarnya saja dia melakukan pengkhianatan, melainkan terhadap orang tuanya juga.
Shirley Ellanora Russell, perempuan berusia 25 tahun yang lahir beberapa menit sebelum sang adik. Dia dan Sherly benar-benar bagai pinang dibelah dua, sehingga banyak orang yang terkecoh oleh paras mereka. Bahkan, termasuk sahabat mereka. Sebagai anak kembar, dia dan Sherly tergolong saudari yang akur sekaligus harmonis. Sejak menyelesaikan pendidikannya di jurusan masing-masing dan mereka mulai disibukkan oleh pekerjaan yang digeluti, interaksi keduanya memang sedikit berkurang. Akan tetapi, keduanya tidak pernah absen saling menanyakan kabar satu sama lain walau mereka tinggal terpisah.
Sudah tiga hari Shirley berada di tempat yang cukup jauh dari kebisingan kota bersama seorang wanita paruh baya. Walau lingkungannya nyaman dan sangat cocok dijadikan sebagai tempat melepas penat, tapi tetap saja tidak mampu memberikan ketenangan untuk Shirley. Hampir setiap detik dirinya meneteskan air mata karena didera oleh rasa bersalah yang teramat dalam, terutama terhadap nasib adik kembarnya. Walau di tempat persembunyiannya tersedia alat untuk berkomunikasi, tapi dia tidak bisa menggunakannya secara leluasa. Terlebih jika digunakan untuk menghubungi keluarga atau orang-orang terdekatnya, terutama Sherly. Alasannya sungguh jelas, dia tidak mau tertangkap oleh Louis atau orang-orang yang disuruh mencarinya. Selama menempati bangunan sederhana yang kini menjadi tempat tinggalnya, semenit pun dia belum pernah melewati pintu pagar. Dia hanya bisa menikmati pemandangan yang tersuguh di luar melalui halaman atau dalam rumah saja. Padahal dia sangat ingin berkeliling menggunakan sepeda. Namun, demi kebaikan dan keselamatannya, dia pun terpaksa memendam dalam-dalam keinginannya tersebut. Apalagi setelah mengetahui bahwa seluruh perkebunan anggur di sekitarnya merupakan milik keluarga Xanders. Mendengar nama keluarga tersebut, secara langsung membuat nyalinya menciut.
Bayangan akan akibat yang didapatnya jika sampai tertangkap oleh Louis selalu mampu membuat Shirley tercekik karena saking takutnya. Siapa pun pasti tidak akan ada yang membenarkan tindakannya tiga hari lalu. Secara sengaja dan terencana dia meninggalkan mempelai laki-laki di hari pernikahannya. Keberaniannya mengambil tindakan tersebut semakin membumbung setelah dia memastikan sang adik kembar bersedia hadir di acara pernikahannya. Sudah dari jauh-jauh hari dia menyusun rencana akan tindakan kurang ajarnya tersebut, sehingga saat tiba pada waktu yang tepat semuanya berjalan lancar dan tanpa kendala.
“Nona, makan malam sudah siap,” beri tahu wanita paruh baya bertubuh tambun kepada Shirley.
Shirley menyudahi kegiatan yang sudah menjadi rutinitasnya selama tiga hari ini. Shirley mengangguk dan menyunggingkan senyum tipisnya kepada wanita yang berdiri di belakang tubuhnya setelah menoleh. Sebelum menyusul wanita yang bernama Alma memasuki rumah, Shirley beranjak dari tempat duduknya.
“Makan yang banyak, Nona,” ucap Alma setelah mengisi piring kosong Shirley dengan makanan buatannya.
“Terima kasih. Bibi juga makan yang banyak. Aku tidak mungkin bisa menghabiskan semua makanan ini seorang diri,” Shirley menanggapinya sebelum meneguk air minumnya.
Alma terkekeh mendengar tanggapan Shirley. “Nona pasti sudah jenuh berada di rumah terus ya?” tebaknya sebelum mulai menyuap makanannya.
Shirley hanya tersenyum gamang dan mulai menikmati hidangan makan malamnya.
“Nona harus tetap berada di rumah, walau sudah merasa sangat jenuh sekali,” Alma menasihatinya. “Saat di pasar tadi saya mendengar jika anak dari pemilik perkebunan anggur di sini sedang berkunjung,” beri tahunya.
Shirley menggantung tangannya yang memegang sendok berisi makanan saat mendengar pemberitahuan Alma. “Yang dimaksud pasti Louis. Berarti laki-laki tersebut saat ini sedang berada di sini. Apakah Sherly juga diajak ke sini oleh Louis?” batinnya bertanya-tanya. “Terima kasih atas informasinya, Bi. Aku akan mengindahkan nasihat Bibi, lagi pula juga demi kebaikanku sendiri,” ucapnya.
***
Sambil sedikit tertatih Sherly berjalan menuju halaman rumah yang ditinggalinya. Luka pada salah satu lututnya yang membuat langkah kakinya terbatas saat bergerak. Saat ini dia ingin menikmati keindahan langit malam setelah usai makan malam bersama Louis. Rasanya sungguh memuakkan karena dia terpaksa harus bersandiwara bersama laki-laki tersebut agar Luna dan Austin Blaise tidak mencurigai hubungan mereka.
Setelah tiba di dekat bangku kayu, dengan perlahan Sherly mendaratkan bokongnya. Langit malam sangat terang karena dihiasi oleh perpaduan dari cahaya bulan dan bintang. Embusan sepoi angin malam membuat Sherly sesekali merapatkan cardigan yang digunakan untuk melapisi pakaiannya, agar tubuhnya tidak kedinginan.
Sherly menoleh saat seseorang tiba-tiba menyodorkan sebuah ponsel di hadapannya. Dia menatap penuh kewaspadaan seseorang yang kini sedang berdiri di sampingnya. Dia juga tidak berani mengambilnya karena takut jika orang yang sedang menyodorkan ponselnya tersebut akan melemparkannya.
“Bukankah ini punyamu?” tanya Louis dengan nada datar.
“I-iya,” Sherly menjawabnya sambil mengangguk gamang.
“Kau tidak mau mengambilnya?” Louis kembali bertanya tanpa mengubah intonasi bicaranya.
“Ma-mau,” jawab Sherly dan menatap waspada ponsel di tangan Louis yang sedang dimainkan oleh laki-laki tersebut.
Louis tertawa saat Sherly tidak berhasil mengambil ponsel yang sengaja disodorkannya, kemudian ditariknya kembali. Dengan santai dia berjalan di depan Sherly dan duduk di samping perempuan tersebut. “Kau menginginkan ponsel ini?” tanyanya sambil memutar-mutar ponsel milik Sherly di tangannya.
“Iya.” Sherly mengangguk sambil matanya mengikuti gerakan tangan Louis yang sedang memainkan ponselnya. “Andai di dalam ponsel tersebut tidak ada banyak fotoku bersama teman-temanku dan beberapa data penting yang belum dipindahkan ke laptop, aku tidak akan ambil pusing jika laki-laki ini melemparkannya,” batinnya menambahkan.
Louis mengangguk. “Aku akan memberikan ponsel ini padamu jika kau bersedia memenuhi beberapa syarat yang kuajukan,” Louis memulai negosiasinya. “Jika kau tidak bersedia, kecup keningku. Jika kau bersedia, lumatlah dengan lembut bibirku,” sambungnya memberikan pilihan. Dia tidak menutupi seringaiannya dari Sherly. “Keputusan terbaik ada di tanganmu sendiri, Nyonya Xanders,” imbuhnya sambil mengangkat sebelah alisnya.
Kini Sherly merasa dirinya ibarat telur mentah yang sedang diimpit oleh dua buah batu besar. Pilihan mana pun yang dipilihnya, tetap saja akan merugikan dirinya sendiri. Setelah menarik napasnya dalam-dalam dan mengembuskannya dengan keras, dia pun mengambil keputusan yang akan disesalinya seumur hidup. “Aku bersedia,” ucapnya sambil memejamkan mata.
Louis tertawa menang mendengar pilihan Sherly. Seolah belum puas mengerjai perempuan tersebut, dia sengaja meminta Sherly untuk mengulangi ucapannya tadi. “Ulangi lagi ucapanmu tadi. Aku belum jelas mendengarnya,” pintanya.
Menyadari dirinya dikerjai oleh Louis, Sherly merasakan darahnya mendidih. Tanpa mengindahkan permintaan Louis, Sherly langsung bertindak. Dengan cepat dia menarik tengkuk leher Louis, kemudian langsung meraup bibir laki-laki tersebut dan melumatnya lembut. Dia mengambil risiko besar dengan terpaksa menanggalkan harga dirinya sekali daripada terus saja diolok-olok oleh laki-laki tersebut.
Louis tidak ingin melewatkan sedikit pun kesempatan untuk bisa mencecap rasa bibir Sherly, apalagi perempuan tersebut yang memulai. Dia menahan tengkuk leher Sherly saat perempuan tersebut ingin menyudahi lumatannya. Dengan tidak kalah lembutnya dia membalas lumatan Sherly. Setelah merasa cukup, dia pun menyudahi lumatannya.
“Kau harus memberitahuku jika suatu saat nanti saudari kembarmu yang kurang ajar itu menghubungimu. Kau harus berhenti dari pekerjaanmu. Sepulangnya dari sini kau harus mewakiliku dalam mempersiapkan pesta resepsi kita. Itulah beberapa syarat yang harus kau penuhi. Sesuai pilihan yang kau pilih tadi,” beri tahu Louis tanpa melepaskan tangannya dari dagu Sherly. “Apakah kau mengerti?” Louis membelai bibir Sherly menggunakan ibu jarinya dan tanpa melembutkan tatapannya.
“Aku mengerti,” Sherly menjawab sambil mengangguk.
Louis menyerahkan ponsel yang selama beberapa hari ini disitanya kepada Sherly. “Jangan pernah mencoba untuk menipuku, karena kelangsungan usaha orang tuamu ditentukan oleh perbuatanmu sendiri terhadapku,” ucapnya memperingatkan sekaligus menekankan.
“Ba-baik,” jawab Sherly patuh. “Aku yakin ponselku pasti telah disadap olehnya, mengingat sudah beberapa hari benda pipih ini bersamanya,” batinnya menduga.
“Aku akan mencoba memercayaimu,” ucap Louis sebelum menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat. “Sekarang temani aku menikmati wine,” pintanya berbisik, seolah menunjukkan kemesraannya dengan Sherly kepada Luna.
***
Malam semakin larut, Shirley tetap tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya selalu saja tertuju pada sesuatu terjelek yang akan dihadapinya. Ibarat merafalkan sebuah mantra, di dalam hatinya dia terus saja berharap agar tidak dipertemukan dengan Louis atau Sherly. Jika dalam waktu dekat ini dia bertemu dengan Sherly, sudah pasti adik kembarnya tersebut akan menghajarnya habis-habisan karena sang adik masih dikuasai emosi tingkat tinggi.
“Sher, sebagai seorang Kakak, aku mengaku egois karena secara sengaja telah menyeretmu ke dalam urusan pribadiku. Namun, aku tidak mempunyai pilihan lain. Aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa, kecuali dirimu,” gumam Shirley sambil berlinang air mata dan memandangi selembar foto dirinya bersama sang adik kembar. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa membalas perbuatan jahatku padamu. Aku telah menghancurkan masa depan dan mimpimu, Sher,” imbuhnya.
Shirley tidak akan marah atau menuntut jika orang tuanya mencoret dan tidak mengakuinya sebagai salah satu anak mereka lagi, mengingat perbuatannya yang telah sangat mempermalukan keluarganya. Dia sudah jelas-jelas melempar kotoran ke wajah orang tua yang selama ini telah tulus serta ikhlas dalam merawat dan memberikan penghidupan yang layak padanya. Membayangkan kesedihan yang menghiasi wajah orang tuanya terutama sang ibu semakin membuat air matanya berderai deras. Bahkan, dadanya pun berdenyut nyeri karena mencoba menahan rasa sakit akibat penyesalan. Hanya sang malam yang menjadi saksi kesedihan sekaligus penyesalan seorang Shirley.