Menepati perkataannya kemarin sore, pagi ini Louis mengajak Sherly berkeliling di perkebunan anggur menggunakan sepeda yang telah disiapkan oleh Austin. Selain untuk berolahraga, tujuan Louis bersepeda juga ingin melihat perkebunan anggurnya yang selama ini menjadi salah satu sumber kekayaan keluarganya. Dulu keluarganya hanya mempunyai perkebunan anggur di Blenheim, tapi kini hampir di seluruh wilayah Marlborough. Itu semua tidak luput dari kerja keras dan kegigihan sang ayah dalam mengembangkan bisnis kakeknya. Oleh karena itu Louis sangat menghormati sang ayah dan berjanji akan semakin membuat perusahaannya bersinar.
Louis menanggapi sapaan ramah dari para pekerja yang berhasil mengenalinya. Louis memang lebih sering mendatangi perkebunan anggurnya di Blenheim dibandingkan yang lainnya. Selain karena masa kecilnya ada di Blenheim, di tempat ini pula dia bisa melepaskan kerinduannya kepada sosok mendiang sang ibu tercinta. Kecintaan mendiang ibunya pada buah anggurlah yang menjadi pendorong kuat sang ayah melebarkan sayapnya dalam memiliki banyak perkebunan anggur. Bahkan, bukan hanya memiliki perkebunan anggur saja yang menjadi tujuan sang ayah, melainkan pabriknya juga.
Sebagai bentuk kesopanannya, Sherly yang dari tadi mengikuti Louis pun ikut membalas dengan ramah sapaan yang diberikan padanya. Sherly merasa senang bersepeda sambil mengelilingi perkebunan anggur yang sangat memanjakan matanya. Dia mengakui bahwa kegiatan seperti ini baru pertama kali dilakukannya, mengingat kesehariannya hanya berkutat dengan komputer dan angka-angka serta piano.
Walau Sherly dan Shirley merupakan kembar identik, tapi tetap saja mereka mempunyai perbedaan yang mencolok, contohnya dari segi karakter serta kegemaran. Sherly yang lebih menyukai tantangan dalam bertahan hidup, sedangkan Shirley yang lebih memilih tetap berada pada zona nyaman. Sherly lebih memilih menjadi staf keuangan di sebuah bank swasta dibanding langsung menduduki posisi sebagai manager di hotel milik keluarganya seperti Shirley. Bahkan, Sherly lebih suka mengisi waktu liburnya dengan mengajar piano di sebuah sekolah musik milik temannya daripada berlibur ke luar negeri seperti yang selalu dilakukan saudari kembarnya.
Berhubung tadi belum sarapan, Louis pun memutuskan mencari tempat yang nyaman untuk mengisi perutnya di sekitar perkebunan anggur. Bahkan, Louis sengaja tidak menawari Sherly. Dia tidak peduli apakah Sherly akan mengikutinya atau tidak. Dia terus mengayuh pedal sepedanya tanpa sedikit pun menoleh ke belakang untuk melihat Sherly yang sejak awal mengekorinya.
Karena tidak terbiasa mengayuh sepeda dalam waktu yang relatif lama, kini kaki Sherly terasa pegal, terutama di bagian betis dan pahanya. Sherly terpaksa berhenti mengikuti Louis yang sudah kian menjauh melajukan sepedanya. Sherly menuruni sepedanya dan menuntunnya dengan perlahan. “Sepertinya laki-laki itu sengaja meninggalkanku,” duganya.
Beberapa kali Sherly berhenti menuntun sepedanya karena lelah sekaligus haus menderanya, apalagi kini betisnya semakin terasa pegal. Bahkan, sekarang perutnya juga sudah mulai lapar karena dia memang belum sarapan.
“Habis,” ucap Sherly nelangsa saat melihat botol minumnya sudah dalam keadaan kosong.
Usai menyeka keningnya yang dibanjiri keringat, Sherly kembali menaiki sepedanya karena dia ingin tiba lebih cepat di vila agar bisa segera sarapan. Baru beberapa kali Sherly mengayuh pedal sepedanya, tiba-tiba saja kepalanya pusing dan matanya pun ikut berkunang sehingga membuatnya mulai kehilangan keseimbangan. Belum sempat Sherly menghentikan laju sepedanya, kegelapan sudah lebih dulu merenggut kesadarannya.
***
Sudah setengah jam Louis berada di sebuah kafe menikmati sarapannya, tepatnya tidak terlalu jauh dari perkebunan anggur yang tadi di kelilinginya. Namun, batang hidung Sherly tidak juga terlihat di sekitarnya. Louis mengira bahwa perempuan tersebut langsung kembali ke vila dan memilih sarapan di sana. Usai membayar makanan yang telah dinikmatinya, telinga Louis samar-samar mendengar seseorang sedang membicarakan tentang penemuan orang pingsan di pinggir perkebunan anggur.
Awalnya Louis mengabaikannya sekaligus bersikap tak acuh, tapi setelah mendengar bahwa orang yang pingsan tersebut seorang perempuan dan jatuh dari sepeda, pikirannya pun langsung tertuju pada Sherly. Dia menduga jika perempuan yang sedang menjadi buah bibir tersebut adalah Sherly. Tanpa menanyakannya lebih lanjut kepada orang tersebut, Louis segera meninggalkan kafe. Dia akan langsung kembali ke vila untuk memastikan dugaannya tersebut.
Setibanya di vila, Louis melihat sepeda yang tadi dikendarai Sherly sudah terparkir di halaman. Agar pasangan Blaise tidak mencurigai hubungannya dengan Sherly, dia sengaja setengah berlari memasuki rumah. Seolah-olah dirinya sangat khawatir karena Sherly tidak pulang bersamanya, apalagi mereka masih pengantin baru. Bahkan, perempuan tersebut baru pertama kali datang ke vilanya.
“Bibi,” panggil Louis yang langsung menuju kamar pribadinya. Nada bicaranya pun sengaja dibuat khawatir agar Luna tidak menaruh curiga.
Luna langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar ada yang memanggil namanya. Dia meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya, sebagai isyaratnya kepada Louis agar tidak berisik.
Louis mendekati ranjang sambil memasang ekspresi wajah penuh kekhawatiran. “Ada apa dengan Sherly, Bi? Kenapa keadaannya bisa sampai seperti ini?” tanyanya pada Luna yang tengah mengobati luka di kening dan dagu Sherly. Perempuan yang menjadi pengantin penggantinya tersebut kini sedang terbaring sambil memejamkan mata.
“Tadi beberapa orang mengantar Nyonya pulang dalam keadaan lemah dan luka-luka. Katanya, mereka menemukan Nyonya tergeletak di perkebunan anggur,” Luna menjelaskan setelah berdiri. Dia membiarkan Louis menempati posisinya. “Memangnya tadi Tuan dan Nyonya tidak berkeliling bersama?” tanyanya penuh selidik.
“Awalnya kami bersama, tapi saat aku sedang mengobrol, Sherly izin ingin berkeliling sendiri. Aku kira Sherly langsung kembali ke vila setelah puas berkeliling, tapi ternyata dia malah mengalami kejadian tak terduga seperti ini.” Louis langsung mengangkat tangan Sherly yang ternyata dihiasi luka gores. Untuk memaksimalkan sandiwaranya, dia mengecup punggung tangan Sherly dengan lembut. “Sudah menghubungi dokter?” tanyanya sambil melirik Luna yang masih berdiri di sampingnya.
“Sudah, Tuan. Dokter bilang tidak ada yang serius. Penyebab Nyonya pingsan diduga karena kelelahan dan perut kosong,” Luna menjawab sekaligus memberitahukan seperti yang tadi disampaikan oleh dokter.
Louis hanya manggut-manggut. “Sekarang aku yang akan menjaga Sherly dan melanjutkan mengobati luka-lukanya. Tolong siapkan sarapan untuk istriku, Bi,” pintanya tanpa mengalihkan tatapan dari wajah Sherly. “Kau benar-benar perempuan payah. Baru bersepeda sebentar saja sudah pingsan. Namun, apakah kau memang benar-benar pingsan atau malah sengaja mencelakai diri sendiri untuk menarik empatiku?” batinnya bertanya.
“Baik, Tuan. Saya akan menyiapkannya segera. Saya permisi, Tuan,” Luna berpamitan setelah melihat anggukan kepala Louis.
Setelah memastikan Luna keluar dari kamarnya, Louis pun kembali berbicara pada Sherly yang masih memejamkan mata, “Aku harap kau memang benar-benar pingsan, bukan sengaja mencelakai diri sendiri. Tidak ada alasan khusus aku berharap demikian. Aku hanya kasihan pada kulit mulusmu yang harus lecet-lecet karena ingin menarik simpati atau empatiku.”
***
Louis membangunkan Sherly dengan penuh kelembutan saat Luna kembali ke kamarnya sambil membawa nampan berisi segelas s**u hangat dan beberapa potong sandwich. Setelah menerima nampan yang diberikan Luna, Louis memberi isyarat kepada wanita paruh baya tersebut untuk keluar dari kamarnya.
“Bangun!” Louis menyentuhkan gelas yang berisi s**u hangat ke pipi Sherly. “Cepat bangun,” perintahnya kembali sambil menggoyangkan tubuh Sherly yang masih bergeming.
Merasa tidurnya terganggu, dengan malas Sherly membuka matanya yang terasa sangat berat. Setelah membuka dan menutup matanya beberapa kali seperti kebiasaannya, dia mendengkus lemah ketika melihat laki-laki yang tadi meninggalkannya di perkebunan anggur. Entah dilakukan secara sengaja atau tidak oleh laki-laki yang kini sedang menatapnya datar tersebut. Sambil meringis dia mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang.
“Cepat makan sarapanmu, setelah itu minum obat,” pinta Louis sambil menatap Sherly. Dia tidak berniat membantu Sherly duduk. Dia lebih memilih hanya menjadi penonton.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau sekadar menanggapi perkataan Louis, Sherly mengambil gelas yang berisi s**u hangat dan mulai meneguknya perlahan. Dia sengaja mengabaikan keberadaan Louis yang saat ini sedang intens memerhatikannya, apalagi ketika menyadari tatapan tak bersahabat laki-laki tersebut. Menikmati sandwich yang dibuat oleh Luna lebih menarik minatnya daripada memedulikan keberadaan Louis di dekatnya.
“Aku ke sini untuk berbulan madu, bukannya malah merawat orang cedera,” gerutu Louis sambil mendengkus.
“Tidak perlu repot merawatku, aku bisa melakukannya sendiri. Jadi, lanjutkan saja agenda kegiatan yang telah kau buat untuk berbulan madu tersebut,” Sherly menanggapi gerutuan Louis dengan datar. “Kejadian yang tadi aku alami hanyalah salah satu kesialanku saja, jadi kau tidak perlu merasa bersalah,” imbuhnya tak acuh.
Louis menatap tajam Sherly, sebab perkataan yang dilontarkan oleh perempuan di hadapannya tersebut sangat jelas mengandung sindiran. Bahkan, sindiran itu secara langsung dialamatkan padanya. “Untuk apa aku harus merasa bersalah terhadap sesuatu yang kau alami? Lagi pula yang membuatmu jatuh itu karena kebodohanmu sendiri dalam bersepeda. Seharusnya perkataanmu itu lebih dialamatkan untuk dirimu sendiri,” balasnya kesal.
“Tidak perlu tersinggung dengan ucapanku jika kau memang tidak mempunyai andil di dalamnya,” Sherly menanggapinya dengan santai. “Kau benar bahwa aku memang bodoh. Karena kebodohanku itulah kini aku terjebak dengan orang yang sebelumnya tidak pernah kukenal,” imbuhnya sebelum kembali menggigit sandwich di tangannya.
“Apakah tadi kau benar-benar pingsan? Atau kau sengaja mengorbankan kemulusan kulitmu menjadi lecet-lecet seperti ini agar mendapat empatiku?” Louis kembali menanyakan dugaannya kepada Sherly. “Rubah licik sepertimu pasti bersedia melakukan apa saja demi mencapai tujuan,” imbuhnya.
Sherly menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah. Meski tersinggung dengan pertanyaan yang dilontarkan Louis, tapi dia tidak memerlihatkannya. Sebelum memberikan jawaban, dia malah terkekeh sambil geleng-geleng kepala. “Ternyata kau suka menonton drama romantis juga ya? Sehingga kau sangat cepat mempunyai dugaan seperti itu,” ejeknya dan kembali terkekeh.
Tidak terima dengan ejekan yang didengarnya, tanpa aba-aba Louis langsung mencengkeram rahang Sherly sehingga sandwich di tangan perempuan tersebut terjatuh. Dia tidak peduli pada ringisan Sherly akibat cengkeraman tangannya. Bahkan, dia mengabaikan kedua mata perempuan tersebut yang kini telah berkaca-kaca karena menahan nyeri.
“Sebelum kesabaranku habis terhadapmu dan keluargamu, sebaiknya mulai sekarang simpan rapat-rapat semua ejekan yang ingin kau alamatkan padaku,” ancam Louis penuh penekanan. “Satu lagi yang perlu kau tanamkan sebaik-baiknya di dalam otakmu, aku tidak akan mengampuni saudari kembarmu itu jika sudah berhasil ditemukan. Selama perempuan kurang ajar itu belum ditemukan, maka kaulah yang harus menggantikannya sementara. Apakah kau mengerti?” imbuhnya berbisik.
Sherly tidak kuasa lagi menahan air matanya karena denyutan nyeri yang mendera rahangnya semakin menyiksa. Sambil berderai air mata dia mengangguk sebagai bentuk tanggapannya terhadap perkataan Louis. Dia mengerang saat Louis dengan kasar melepaskan cengkeramannya. Dengan hati-hati dia memegang rahangnya yang terasa sangat ngilu. Melalui ekor matanya dia melirik Louis yang beranjak dari ranjang, kemudian meninggalkan kamarnya. Setelah mendengar pintu kamar ditutup oleh Louis, dia kembali membaringkan tubuhnya dan menumpahkan tangisnya karena perbuatan kasar laki-laki tersebut.
“Andai tidak mengkhawatirkan keadaan orang tuaku terutama Mama, lebih baik aku kabur sejauh-jauhnya dari iblis kejam ini,” Sherly bergumam di sela-sela tumpahan air matanya.
Sebuah ketakutan tiba-tiba terbesit di benaknya menyangkut Shirley. Entah kenapa Sherly tidak ingin Louis berhasil menemukan saudari kembarnya itu, apalagi setelah mendengar perkataan laki-laki tersebut tadi. Walau Sherly sangat ingin menampar Shirley atas perbuatan kurang ajarnya, tapi dia tetap tidak tega membayangkan hukuman yang akan diterima oleh saudari kembarnya tersebut jika Louis berhasil menemukannya. Menurutnya kemungkinan besar Shirley akan diperlakukan berlipat-lipat lebih kejam dan tanpa perasaan oleh Louis, mengingat kesalahan saudari kembarnya tersebut yang sangat fatal.