Setelah menempuh perjalanan udara dan darat selama beberapa jam, akhirnya Louis bersama Sherly tiba di vila pribadi keluarga Xanders, lebih tepatnya rumah masa kecil laki-laki tersebut. Mengingat vila yang didatanginya kini merupakan tempat penting sekaligus bersejarah dalam hidupnya, jadi dia tidak membawa sembarangan orang untuk berkunjung, terlebih seorang wanita. Bahkan, Shirley pun belum pernah menginjakkan kaki di vila ini, meski perempuan tersebut sudah berstatus sebagai kekasihnya.
Kedatangan Louis dan Sherly disambut hangat oleh pasangan Blaise yang merupakan orang kepercayaan Jacob untuk mengurus sekaligus merawat vila milik keluarga Xanders. Pasangan Blaise juga telah dianggap sekaligus diperlakukan layaknya keluarga oleh Jacob dan Louis. Setelah memperkenalkan Sherly sebagai istrinya kepada Luna dan Austin Blaise, Louis bersama perempuan itu pun memasuki vila yang akan ditempatinya selama seminggu ke depan dalam rangka berbulan madu.
Sejak berangkat hingga tiba di tempat tujuan, Louis mendiamkan Sherly. Bahkan, saat di pesawat pun dia sengaja tidak membangunkan Sherly yang tertidur. Dia malah meminta kepada seorang pramugari untuk membangunkan perempuan yang kini telah menyandang status sebagai istrinya di mata Tuhan tersebut, bukan secara hukum. Bukan hanya itu, dia juga sengaja tidak menawari atau mengajak Sherly saat ke restoran untuk mengisi perut. Di luar dugaannya, ternyata Sherly menimpali kebungkamannya sekaligus tindakannya itu. Sebagai balasannya, perempuan tersebut malah sengaja mengulur waktu agar mereka tidak segera tiba di tempat tujuan. Hingga akhirnya mereka tiba di vila saat sore hari, tepatnya jam empat.
Louis memejamkan matanya sejenak sekaligus mengembuskan napas dengan kasar saat melihat layar ponselnya berkedip. Kini dia terpaksa harus menyudahi kebungkamannya dan mendahului berbicara kepada Sherly. Untuk saat ini dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia terpaksa melakukannya agar seseorang yang saat ini sedang menghubunginya tidak khawatir.
“Sekarang saatnya kau mulai membalas budi atas pertolonganku yang telah dua kali menyelamatkan nyawamu,” ucap Louis tanpa basa-basi saat melihat Sherly keluar dari kamar mandi.
Sherly terkejut karena langsung disapa oleh pertanyaan setelah membuka pintu kamar mandi. “A-apa?” tanyanya dengan nada gugup. Ia tidak menutupi jika saat ini rasa takut dan waspada secara tiba-tiba kembali menderanya.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Louis menepuk beberapa kali permukaan ranjang di sampingnya sambil menatap intens Sherly.
Dengan penuh kewaspadaan Sherly menjatuhkan bokongnya di atas ranjang yang juga diduduki oleh Louis. Dia sengaja memberi jarak antara dirinya dengan Louis setelah duduk. Spontan dia memekik saat Louis tiba-tiba bergerak menarik pinggangnya sehingga kini tubuhnya tak berjarak dengan laki-laki tersebut.
“Sebentar lagi aku akan menghubungi Papaku, yang tak lain adalah ayah mertuamu sendiri. Aku ingin kau bekerja sama denganku sebagai pasangan suami istri yang saling mencintai,” Louis berbisik penuh penekanan. “Kau jangan besar kepala dulu,” imbuhnya memperingatkan saat melihat Sherly ingin menyela perkataannya.
Sherly mendengkus dan melanjutkan tindakannya melepaskan tangan Louis yang membelit pinggangnya.
“Papa mengetahuiku menikah dengan seorang perempuan yang sangat mencintaiku. Berhubung pengantinku kabur, jadi sekarang kau yang harus mewakilinya. Lakukan peranmu layaknya seorang istri yang sangat mencintai sekaligus memuja suaminya,” pinta Louis sambil menyeringai.
“Bagaimana jika aku tidak mau melakukannya?” Sherly menantang setelah berusaha keras mengumpulkan keberaniannya.
Louis menaikkan sebelah alisnya dan bibirnya kembali menyunggingkan seringaian. “Kau akan aku ikat di atas ranjang ini dengan posisi telentang dan tanpa sehelai benang pun. Aku ingin membuatmu tidak bisa berjalan selama beberapa hari. Bila perlu selama kita berada di sini,” bisiknya yang sarat ancaman. “Lagi pula aku sudah tidak sabar ingin mencicipi setiap lekuk tubuhmu yang sangat menggairahkan ini,” imbuhnya. Menggunakan sebelah tangannya dia sengaja membelai dengan penuh kehati-hatian pipi dan lengan Sherly yang duduk di sampingnya.
Sherly menepis kasar tangan Louis dan dengan cepat menggeser tubuhnya agar kembali berjarak. Membayangkan perkataan Louis membuat bulu kuduknya bergidik ngeri. “Baiklah, aku setuju bersandiwara tentang hubungan kita di hadapan ayahmu,” putusnya. “Inilah keputusan terbaik dari pilihan-pilihan yang menjebak,” batinnya menambahkan.
Louis menjentikkan jempol dan jari telunjuknya di depan wajah Sherly yang telah mengungkapkan pilihannya. “Bukan hanya di hadapan Papaku saja kau harus bersandiwara, tapi kepada semua orang, termasuk pasangan Blaise yang ada di sini,” tegasnya mengingatkan. “Sangat mudah bagiku untuk bisa memiliki tubuhmu seutuhnya dalam sekejap, tapi bukan itu yang menjadi cara utamaku membalas dendam atas perbuatan kurang ajar saudari kembarmu. Membuatmu tersiksa setiap hari secara perlahan lebih menarik bagiku dibandingkan menggagahimu dalam satu malam,” imbuhnya dalam hati.
Deringan ponsel yang tadi di taruhnya di atas nakas menginterupsi lamunan Louis tentang Sherly. Melalui tangannya Louis memberi isyarat agar Sherly duduk lebih dekat, tidak lupa dia juga melayangkan tatapan tajam penuh peringatannya kepada perempuan tersebut. Tidak mau membuat orang di seberang sana terlalu lama menunggunya, dia pun langsung menggeser ikon di layar ponselnya untuk menjawab video call. “Halo, Pa,” sapanya ramah.
“Halo, Nak. Apakah Papa mengganggu waktumu bersama istrimu?” Jacob bertanya lembut pada putra semata wayangnya.
Louis tertawa kecil sambil menggeleng. “Tentu saja tidak, Pa. Lagi pula kami baru saja tiba di Blenheim. Aku mengajak istriku berbulan madu di vila keluarga kita, Pa. Semoga Papa tidak marah karena aku tidak meminta izin terlebih dulu pada Papa,” beri tahunya berterus terang.
Kini giliran Jacob yang tertawa mendengar jawaban Louis. “Kenapa Papa harus marah? Lagi pula istrimu telah menjadi bagian dari keluarga kita, jadi sudah seharusnya dia diajak mengunjungi vila tersebut,” jawabnya. “Oh ya, di mana menantu Papa itu? Papa belum sempat berkenalan dengannya dari dulu. Kamu selalu menyembunyikannya dari Papa. Namanya pun Papa lupa,” sambungnya dan terkekeh.
“Namanya Sherly, Pa,” jawab Louis sambil mengarahkan layar ponselnya kepada Sherly yang ternyata duduk masih menjaga jarak dengannya. “Sini, Sayang. Papa ingin menyapa dan berbicara denganmu,” panggilnya pada Sherly dengan nada yang sengaja dilembutkan.
“Hai, Pa,” Sherly menyapa canggung laki-laki yang ternyata wajahnya sangat mirip dengan Louis. Hanya saja laki-laki yang kini sedang menatapnya tersebut memiliki garis rahang yang jauh lebih lembut dibandingkan Louis.
“Hai, Nak. Pantas saja selama ini Louis tidak pernah mengenalkanmu pada Papa, ternyata alasannya karena kamu sangat cantik. Louis sungguh beruntung bertemu dengan perempuan sepertimu,” Jacob memuji perempuan yang kini sudah menjadi menantunya tersebut.
Sherly menanggapi pujian Jacob dengan senyuman dan anggukan kepala samar. “Oh ya, bagaimana keadaan Papa? Bukankah di sana saat ini masih sangat pagi, Pa?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
Senyum bahagia kembali menghiasi bibir Jacob. “Keadaan Papa sudah sangat membaik, Nak, apalagi setelah mendengar bahwa pernikahan kalian berjalan lancar,” jawabnya. “Papa bosan tidur, jadi lebih baik menghubungi Louis untuk bertemu dengan kamu,” imbuhnya.
“Syukurlah kalau keadaan Papa sudah jauh lebih baik,” balas Sherly seadanya. Dia tidak tahu harus berbicara apalagi dengan orang yang baru pertama kali dilihat sekaligus diajaknya berinteraksi.
“Secepatnya Papa akan pulang agar bisa bertemu dan mengobrol langsung denganmu, Nak,” ucap Jacob. “Oh ya, tadi Papa lupa meminta maaf karena kemarin tidak bisa menghadiri acara pemberkatan pernikahan kalian,” pintanya sambil memperlihatkan ekspresi bersalahnya.
“Tidak apa-apa, Pa. Aku mengerti keadaan Papa,” Sherly menanggapinya sambil tersenyum. “Jika Papa hadir, aku yakin keadaan Papa pasti semakin memburuk karena mempelai perempuan yang sesungguhnya hilang tanpa jejak,” batinnya menambahkan.
“Terima kasih atas pengertianmu, Nak. Saat acara resepsi pernikahan kalian, Papa pasti hadir dan merasakan langsung kebahagiaan dari putra semata wayang Papa,” ucap Jacob seraya memerhatikan Louis yang sedari tadi hanya menyimak semua obrolannya dengan Sherly. “Papa sudahi dulu obrolan kita ini ya, Nak. Sebaiknya sekarang kalian beristirahat setelah menempuh perjalanan tadi. Kalian pasti masih lelah,” sambungnya menyarankan.
“God job,” puji Louis sambil mengacungkan jempol kanannya atas sandiwara yang perempuan di sampingnya mainkan, tentu saja setelah memastikan sambungan ponselnya diputus oleh sang ayah.
***
Malas berada di dalam kamar bersama Louis setelah tadi usai berbicara dengan ayah mertuanya, Sherly memilih berkeliling di sekitar vila, apalagi mumpung langit masih terang. Terlepas dari orang yang membawanya, Sherly sudah jatuh hati pada tempat yang saat ini didatanginya, meski dia baru pertama kali berkunjung. Selain pemandangannya yang asri dan memanjakan indra penglihatannya, vila ini juga terletak tidak jauh dari pusat kota Blenheim. Jika diperkirakan, kemungkinan jaraknya hanya sekitar ratusan meter saja dari pusat kota.
Karena lokasi vila yang didatanginya cukup tinggi, sehingga semua pemandangan di sekitarnya tertangkap secara lebih mudah dan jelas oleh mata Sherly. Dari tempatnya berdiri kini dia dapat melihat perkebunan anggur yang membentang luas. Walau mengetahui bahwa kota Blenheim menjadi jantung budidaya anggur di wilayah Marlborough, tapi melihat pemandangan hamparan perkebunannya secara langsung dan untuk pertama kali tetap saja membuatnya berdecak kagum. Wilayah Marlborough sendiri memang merupakan pusat industri anggur di New Zealand.
“Nyonya,” panggil Luna lembut.
Sherly langsung menoleh ke sumber suara saat mendengar ada yang memanggil namanya. Dia menyunggingkan senyum canggung ketika melihat wanita paruh baya di belakang tubuhnya.
“Apa Nyonya ingin dibuatkan minuman tertentu?” tanya Luna sopan setelah menghampiri Sherly. Dia terpaksa menanyakannya karena belum mengetahui jenis minuman kesukaan perempuan yang telah menjadi majikannya tersebut.
“Tidak usah, Madam,” Sherly menjawabnya sambil menyunggingkan senyum.
“Panggil Bibi saja, Nyonya. Biar sama seperti Tuan,” pinta Luna meralat panggilan yang diberikan oleh Sherly.
“Baiklah,” Sherly langsung menyetujuinya.
“Jika Nyonya memerlukan sesuatu, katakan saja langsung pada saya. Nyonya tidak usah sungkan,” beri tahu Luna yang kini sudah berdiri bersisian dengan Sherly.
“Iya, terima kasih,” jawab Sherly seadanya.
“Oh ya, Nyonya, selamat menempuh hidup baru. Saya dan suami minta maaf karena tidak bisa menghadiri hari bersejarah kalian,” ucap Luna tulus. Saat mendapat informasi jika Louis akan mengakhiri masa lajangnya, dia dan suaminya sangat senang mendengarnya. “Semoga Nyonya dan Tuan menjadi pasangan yang hanya bisa dipisahkan oleh maut,” imbuhnya.
Tidak mungkin mengungkapkan yang sebenarnya terjadi kepada Luna, jadi Sherly hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Apalagi saat di kamar tadi Louis sudah mengultimatumnya. “Pasti sangat bahagia bisa menikmati keindahan alam seperti ini setiap hari,” ucapnya sambil memandang jauh ke depan.
“Benar sekali, Nyonya. Makanya saat Tuan Jacob bersama keluarganya memutuskan untuk pindah ke Auckland, saya dan suami meminta kepada beliau agar diizinkan tetap berada di sini. Untungnya Tuan Jacob mengizinkan sekaligus meminta kepada kami untuk menjaga, merawat, dan mengurus vila ini. Saya dan suami sudah terlalu jatuh hati serta nyaman tinggal di sini,” ungkap Luna penuh kebahagiaan. “Semoga Nyonya juga merasa nyaman dan betah berada di sini. Saya sangat tidak menyangka jika Tuan Louis akan memilih tempat ini sebagai kunjungan pertamanya bersama istrinya,” imbuhnya jujur.
Sherly hanya diam. Dia memilih untuk tidak memberikan tanggapan atas ucapan Luna.
“Oh ya, besok pagi Nyonya bisa mencoba menikmati keindahan perkebunan anggur dari jarak dekat dengan berkeliling menggunakan sepeda,” Luna menyarankan salah satu kegiatan menarik yang bisa dilakukan di sekitar vila.
“Tentu saja, Bibi. Oleh karena itu tolong suruh Paman agar menyiapkan dua buah sepeda untukku dan istriku gunakan berkeliling besok pagi. Mengelilingi perkebunan anggur dengan sepeda merupakan kegiatan wajib sekaligus harus dilakukan saat berkunjung ke tempat ini,” Louis lebih dulu menanggapi saran yang diucapkan Luna kepada Sherly.
Sherly mendengkus pelan ketika tiba-tiba mendengar suara laki-laki yang tidak ingin dilihatnya, padahal dirinya belum membuka mulut untuk memberikan tanggapan atas saran menarik Luna.
Luna mengangguk saat melihat isyarat yang diberikan oleh Louis kepada dirinya. “Saya ingin menyiapkan hidangan untuk makan malam. Saya permisi dulu, Nyonya,” pamitnya pada Sherly.
“Selama di sini kau akan selalu melakukan kegiatan bersamaku dan di bawah pengawasanku,” bisik Louis yang tanpa aba-aba sudah merangkul pundak Sherly dari samping.
“Aku bukan tawananmu, jadi kau tidak perlu repot-repot mengawasiku.” Sherly meronta dan mencoba melepaskan tangan Louis dari pundaknya. Sayangnya, usahanya tersebut sia-sia karena tenaga Louis lebih kuat dalam mempertahankan rangkulannya.
“Kata siapa kau bukan tawananku sekarang? Jangan lupa bahwa sejak orang tua dan saudari kembarmu yang berengsek itu menyerahkanmu padaku, kau sudah menjadi tawananku.” Louis mengetatkan lagi rangkulannya sehingga membuat Sherly meringis dan kakinya pun berjinjit. “Jika sampai sandiwaramu gagal di hadapan Luna dan Austin atau mereka mencurigai hubungan kita, maka kau akan mendapat hukuman dariku. Jadi, untuk membuat posisimu aman, totalitaslah dalam memainkan sandiwaramu,” sambungnya penuh penekanan. Dia sengaja tidak memedulikan ringisan yang keluar dari mulut Sherly.
“Aku tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan manusia berperangai iblis seperti laki-laki di sampingku ini,” rutuk Sherly dalam hati.
Walau Louis semakin erat merangkul pundaknya dan membuatnya meringis kesakitan, tapi Sherly tidak menghentikan usahanya dalam menjauhkan tangan laki-laki tersebut. Dia memekik saat tiba-tiba Louis mengempaskan dengan kasar rangkulan pada pundaknya. Bahkan, ekspresi wajah laki-laki tersebut sedikit pun tidak memerlihatkan rasa bersalah.