Louis sengaja bertahan pada posisinya sambil tetap memejamkan mata, walau sebenarnya dia sudah terjaga. Louis pikir dirinya akan bisa tidur nyenyak, tapi nyatanya dia malah sangat tersiksa karena semalaman berusaha keras meredam hasratnya untuk tidak memasuki lembah kehangatan milik Sherly yang sungguh menggoda. Apalagi Sherly yang dipeluknya beberapa kali menggeliat dalam tidurnya, sehingga membuat bagian bawah tubuhnya kian tersiksa. Tidak ingin menyiksa tubuh bagian bawahnya lebih lama, dia pun memutuskan mengurai pelukannya dan berbaring telentang. Sebelumnya dia memastikan dulu suhu tubuh Sherly, dan untungnya sudah kembali normal.
Jika bukan karena Louis tidak ingin dikatakan sebagai pengecut sebab memanfaatkan ketidakberdayaan kondisi seseorang, sudah pasti kemarin menjadi malam yang panjang sekaligus memuaskan bagi dirinya dalam meraih kenikmatan. Walau dia sangat ingin menikmati tubuh Sherly, tapi tetap saja kurang memuaskan karena menjamahnya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sherly melenguh sambil menggeliat ketika merasa tidurnya sudah cukup. Seperti kebiasaannya saat bangun tidur, dia membuka dan menutup matanya secara bergantian berulang kali sebelum menuruni ranjang. Setelah puing-puing jiwanya merapat sepenuhnya dengan raganya, dia terkesiap saat menyadari tubuhnya sedang berbaring di atas ranjang yang empuk. Sebuah ingatan langsung menghantam kepalanya akan kondisinya kemarin usai menangis dan menjerit, sebagai bentuk pelampiasan atas perasaannya yang berkecamuk.
Jantung Sherly berdetak dua kali lipat lebih cepat dibandingkan sebelumnya, saat menyadari tubuhnya kembali tanpa sehelai benang pun di bawah selimut. Perlahan kepalanya menoleh ke samping saat telinganya samar-samar menangkap deru napas yang berembus teratur. Bersamaan dengan matanya membeliak lebar, dia juga spontan membekap mulutnya sendiri saat mendapati sesosok laki-laki yang sedang tidur telentang sepertinya di sampingnya. Bahkan, kini detak jantungnya terasa berhenti ketika melihat tubuh laki-laki tersebut hanya tertutupi selimut dari pinggang ke bawah. Tanpa diperintah air matanya sudah langsung menetes karena pemandangan yang sangat tidak diharapkannya itu.
“Apakah laki-laki ini telah merenggut mahkotaku saat aku sedang tidak sadarkan diri?” Sherly bertanya pada dirinya sendiri dalam hati dengan nada lirih.
Karena saking takutnya terhadap kenyataan yang akan dihadapi, Sherly sampai tidak berani menggerakkan tubuhnya. Terutama tubuh bagian bawahnya. Hatinya sangat tidak siap jika ternyata rasa nyeri menyengat paha bagian dalamnya kalau dirinya bergerak, seperti ucapan beberapa teman akrabnya yang telah menikah. Saking fokus akan ketakutannya, dia sampai tidak sadar jika kini tangisnya telah lolos dari tenggorokan dan mulutnya.
Sejak tadi hati Louis telah bersorak penuh kemenangan karena yang terjadi sesuai dengan rencananya. Dia pura-pura melenguh dan menggeliat agar Sherly tersadar dari kefokusannya meratapi keadaan. Bahkan, dia sengaja mengubah posisi berbaringnya yang telentang menjadi menyamping, lebih tepatnya menghadap Sherly. Saat tatapan matanya beradu dengan Sherly yang menoleh ke arahnya, dia menyunggingkan seringaiannya.
“b******n!” Sherly mengumpat penuh penekanan setelah melihat seringaian laki-laki di sampingnya. Sambil menatap tajam Louis, dia menyusut air matanya dengan kasar.
Alih-alih marah mendengar umpatan yang dialamatkan Sherly padanya, Louis malah mendengkus sebelum kembali menyeringai. “Ternyata kamu memang bodoh ya,” ejeknya.
Louis kembali mengubah posisinya menjadi setengah bersandar pada kepala ranjang. Dia bersikap tak acuh ketika selimutnya melorot saat mengubah posisinya. Dari sudut matanya, dia melihat Sherly kelabakan membuang wajah setelah disapa ramah oleh bagian bawah tubuhnya yang tengah berdiri. Semua laki-laki pasti sudah terbiasa dengan aktivitas bawah tubuh mereka di pagi hari.
“Hanya seorang pengecut yang memanfaatkan ketidakberdayaan orang lemah,” Sherly menyindir sambil bergerak memunggungi Louis. “Benar-benar pengecut yang menjijikkan,” imbuhnya pelan, tapi dia yakin Louis masih bisa mendengarnya.
Walau dugaannya kemarin malam akan reaksi Sherly benar, tapi tetap saja Louis sangat tidak menerima tuduhan tersebut. “Seharusnya aku biarkan saja perempuan bodoh sepertimu mati terserang hipotermia kemarin malam,” balasnya menusuk. “Walau menjijikkan, tetap saja tidak bisa dipungkiri bahwa kehangatan tubuhku ini yang menyelamatkan nyawamu,” sambungnya jujur.
Mendengar perkataan Louis, Sherly dengan cepat membalikkan badan. Dia menatap Louis sambil otaknya sibuk mencerna ucapan laki-laki tersebut. “Hipotermia?” gumamnya. “s**t!” umpatnya dalam hati saat mengingat jika kemarin dirinya menangis di bawah guyuran shower.
Tidak berniat menanggapi gumaman Sherly, Louis menuruni ranjang setelah menyibakkan selimutnya dengan kasar. Tanpa memedulikan tubuhnya yang tak tertutup sehelai benang, dengan santainya dia berjalan menuju kamar mandi.
Sherly terkejut saat mendengar pintu kamar mandi ditutup dengan cara dibanting oleh Louis. Mumpung Louis sudah berada di dalam kamar mandi, dengan cepat dia menarik selimut kemudian membawanya berlari ke arah lemari guna mengambil salah satu kemeja milik laki-laki tersebut. Sebelum memastikan dugaannya, dia harus menutupi tubuh polosnya terlebih dulu. Usai memakai kemeja, dia menyadari jika tidak ada yang aneh dengan tubuh bagian bawahnya. Masih biasa saja, tidak ada yang terasa sakit atau nyeri. Dia pun bergegas kembali menuju ranjang untuk melakukan pemeriksaan. Rasa lega menyeruak di hatinya saat tidak mendapati bercak darah menyapanya di atas ranjang.
“Ternyata aku sudah salah paham dan menuduh Louis,” Sherly berkata setelah menyadari tindakannya tadi. “Tapi haruskah aku meminta maaf padanya? Mengingat dia sendiri juga telah mengambil keuntungan dariku tanpa sepengetahuanku,” imbuhnya.
***
Sherly merasa sangat beruntung karena menemukan midi dress milik Shirley yang sesuai dengan bentuk dan ukuran tubuhnya, sehingga dia tidak harus mengenakan salah satu kemeja Louis lagi. Bahkan, midi dress tersebut tergolong baru, terbukti dari price tag-nya yang masih menempel. Usai dirinya berpakaian tadi, barulah Judith mendatangi kamarnya sambil membawa beberapa potong dress yang sesuai dengan ukuran dan bentuk tubuhnya.
Sambil menyantap menu sarapan yang dihidangkan oleh Mandy, diam-diam Sherly mencuri pandang ke arah laki-laki di hadapannya. Sejak keluar dari kamar mandi tadi, laki-laki tersebut tidak mengeluarkan sepatah kata pun padanya. Ekspresi wajahnya tidak usah dipertanyakan lagi, selalu datar dan dingin. Dia heran kenapa saudari kembarnya dulu bisa mengenal dan menyukai tipe laki-laki yang lebih mirip dengan jelmaan iblis ini. Bahkan, sampai membawa hubungannya ke jenjang yang lebih serius. Namun pada kenyataannya, Shirley kabur di hari pernikahannya sendiri dan orang tua mereka malah menyeretnya untuk menjadi pengganti sang kakak. Dengan kata lain, saudari kembarnya telah menumbalkan dirinya pada seorang jelmaan iblis yang rupawan.
“Apakah kau ingin menikmati makanan dari mulutku langsung, Istriku?” Louis bertanya tanpa menatap Sherly. Dia memang menyadari dari tadi Sherly diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
Sherly yang sedang menelan makanannya tersedak karena pertanyaan Louis. Tangannya bergerak cepat meraih gelas berisi jus jeruk, kemudian meneguknya secara perlahan. Dia terkejut bukan semata-mata disebabkan oleh pertanyaan kurang ajar Louis, melainkan karena laki-laki tersebut mengetahui tindakannya yang diam-diam mencuri pandang.
“Jika kau memang menginginkannya, dengan senang hati aku akan melakukannya,” Louis kembali bersuara setelah mengangkat wajahnya. “Lagi pula mulut kita sudah pernah bersentuhan sebelumnya, jadi kau tidak usah malu. Bahkan, bukan hanya mulut yang sudah saling bersentuhan, tapi tubuh polos kita juga,” imbuhnya sambil menaikkan sebelah alisnya.
Diingatkan akan kenyataan tersebut, seketika membuat pipi Sherly memanas. Bukan keinginannya, melainkan reaksi alamiahnya sebagai seorang wanita. Untung saja saat ini hanya ada mereka berdua di ruang makan, jika tidak, dirinya pasti sangat malu karena ucapan Louis. Setelah makanan selesai dihidangkan, Louis memang meminta Mandy dan asisten rumah lainnya meninggalkan mereka.
“Entah terbuat dari apa mulut laki-laki ini? Kenapa setiap kata-kata yang terlontar dari mulutnya selalu saja menusuk? Seolah setiap membuka mulut, lidahnya sudah siaga melontarkan jarum tak kasatmata,” batin Sherly bertanya-tanya karena baru pertama kali bertemu dengan laki-laki seperti Louis.
“Apakah ada yang mengganjal area paha dalammu saat berjalan? Atau apakah inti tubuh bagian bawahmu masih terasa sakit atau nyeri?” Louis memang sengaja melontarkan pertanyaan mengejek sekaligus menyindir kepada Sherly.
Sebelum bersuara, Sherly menghela napas dalam-dalam agar tidak tersulut emosi dan menyiram wajah Louis dengan sisa jus jeruknya. Kini dia benar-benar merasa terpojok oleh sindiran sekaligus ejekan yang dilontarkan Louis.
“Aku minta maaf karena telah menuduhmu sembarangan,” pinta Sherly pada akhirnya. “Aku terlalu impulsif membuat kesimpulan,” akunya jujur sambil menundukkan kepala, sebagai bentuk penyesalannya.
Bukannya senang atas permintaan maaf Sherly yang terdengar tulus, Louis malah mendengkus. Dia menatap Sherly dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Aku sudah dua kali menyelamatkan nyawamu. Pertama, insiden gaun pengantin yang kekecilan di tubuhmu, terutama di bagian d**a. Kedua, kau hampir terserang hipotermia kemarin malam karena tindakan bodohmu sendiri,” beri tahunya penuh penekanan. “Tidak ada yang cuma-cuma di dunia ini, jadi kau harus membayarnya dengan setimpal,” imbuhnya sambil menyeringai.
Sherly tertawa sumbang mendengar penuturan Louis. “Padahal aku tidak pernah menyuruhmu agar siaga menyelamatkan nyawaku,” tanggapnya yang ikuti oleh dengkusan. “Berhubung kau telah melakukannya dengan pamrih, maka aku akan membalasnya sesuai keinginanmu. Katakan saja, bagaimana caraku membayar pertolonganmu agar setimpal seperti yang kau inginkan?” sambungnya menantang.
Tidak ingin terus-menerus ditindas, Sherly pun memutuskan untuk menimpali sikap arogan sekaligus membalas perkataan-perkataan menusuk yang dilontarkan oleh laki-laki di hadapannya. Sherly menyadari penuh konsekuensi yang akan diterimanya atas tindakannya tersebut, tapi dirinya tidak mempunyai pilihan selain melawan. Demi harga dirinya sendiri dan keluarganya yang telah diinjak-injak oleh Louis karena kesalahan saudari kembarnya, dia akan memasang badan.
Kilat amarah terpancar dari sorot mata Louis ketika mendengar perempuan di hadapannya berbicara. “Ternyata besar juga nyali yang dimilikinya untuk menantangku,” komentar batinnya. “Aku harap nanti kau tidak menjilat ludahmu sendiri. Nanti aku akan memberitahumu caranya,” ucapnya sambil tersenyum sinis. “Perlu kau ketahui bahwa aku tidak pernah melepaskan mangsaku atau memberi pengampunan kepada orang yang sudah menawarkan dirinya,” imbuhnya menekankan.
Louis sangat yakin jika cara yang nanti dipilihnya akan membuat Sherly mati kutu. Dia ingin bermain-main sedikit dengan Sherly, berhubung perempuan tersebut tidak gentar terhadap perlakukannya. Bahkan, Sherly dengan penuh kepercayaan diri berani menantangnya.
“Jam sepuluh nanti kita akan berangkat ke bandara,” beri tahu Louis sambil berdiri. Dia lebih dulu menyudahi acara sarapannya, karena ingin memeriksa beberapa laporan perusahaan di ruang kerjanya sebelum berangkat berbulan madu.