TRB 4

1473 Words
Sherly berjalan mondar-mandir sambil menggigit kuku tangannya sendiri di dalam kamar yang menurutnya sangat luas untuk ditempati seorang diri. Sherly sangat gelisah sekaligus takut jika Louis malam ini benar-benar memintanya untuk melayaninya di atas ranjang, padahal pada kenyataannya dia bukanlah istri yang sesungguhnya dari laki-laki tersebut. Sherly berniat bernegosiasi dengan Louis, tapi aura laki-laki tersebut sungguh mengintimidasinya, sehingga seketika membuat lidahnya kelu dan tenggorokannya tercekat saat hendak menyuarakan keinginannya itu. “Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengurung diri di dalam kamar mandi?” Sherly bermonolog karena rasa gelisah dan khawatir semakin menderanya. Sherly terpekik kaget saat mendengar pintu kamarnya dibuka dengan kasar dari luar. Bulu kuduknya langsung meremang saat melihat ekspresi datar dan dingin milik laki-laki yang sedang berjalan memasuki kamar tersebut. Rasa takutnya pun semakin menjadi-jadi menyerang karena laki-laki tersebut kini berjalan ke arahnya. Bahkan, kakinya tanpa diperintah langsung bergerak mundur. “Sekali lagi aku bertanya padamu, di mana Shirley?” Louis kembali menanyakan keberadaan wanita yang seharusnya menjadi istrinya kepada Sherly. Dia ingin berbaik hati dengan memberi kesempatan Sherly sekali lagi untuk berkata jujur, sebelum perempuan di hadapannya ini benar-benar menyesal. Dengan cepat Sherly menggeleng. “A-aku tidak tahu. Aku sungguh tidak mengetahui keberadaannya,” jawabnya takut. Bahkan, kini tubuhnya pun bergetar karena saking takutnya. Louis menyeringai tanpa melepaskan perhatiannya dari tubuh bergetar di hadapannya, yang menatapnya seolah penampakan mahluk tak kasatmata. Sambil terus mendekat ke arah Sherly yang kian melangkah mundur, dia melepas bajunya, kemudian melemparnya sembarangan. “Aku mohon, Tuan. Jangan perlakukanku seperti ini. Jangan melampiaskan kemarahanmu padaku yang tidak mengetahui apa-apa,” Sherly memelas sambil mencakupkan kedua tangannya di depan d**a. Berharap Louis mengasihaninya. “Jika aku selalu menentang atau melawannya, sepertinya dia akan terus menekan dan menyerangku. Lebih baik aku merendah, siapa tahu dia luluh dan membebaskanku,” batinnya menambahkan. Kening Louis mengernyit melihat perubahan sikap Sherly yang sangat berbeda dibandingkan saat pertama kali mereka berinteraksi. “Ke mana sikap congkakmu tadi, Nyonya?” tanyanya penuh penekanan. Tangan Louis menyentuh dagu Sherly. Secara perlahan bergerak ke belakang kepala perempuan tersebut, kemudian turun meraih tengkuk lehernya. Tidak lupa dia menyempatkan diri mengusapnya perlahan dan berulang kali. Tanpa aba-aba dia langsung menarik tengkuk leher Sherly agar jarak mereka terkikis. “Tuan? Baru saja kamu menyebutku apa? Tuan? Apakah telingaku tidak salah mendengar perkataan yang dilontarkan oleh mulut menggodamu ini?” cecarnya meremehkan, tapi penuh selidik. Jari tangannya yang bebas menyapu permukaan bibir tipis Sherly Sherly sengaja tidak membalas pertanyaan Louis. Selain karena tubuhnya kini menegang dan semakin meremang oleh sentuhan tangan Louis, dia juga sedang berusaha keras memaksakan matanya agar mengeluarkan cairan. Tentu saja tujuannya untuk mengelabui laki-laki di hadapannya yang sudah bertelanjang d**a tersebut. “Semoga saja tumpahan air mataku nanti berpengaruh padamu agar sikapmu bisa lebih lunak terhadapku,” ucap Sherly dalam hati. Tidak hanya memaksakan agar air matanya menetes, Sherly pun memperlihatkan tatapan memelas dan polosnya kepada Louis. Batinnya bersorak kegirangan ketika matanya berhasil meneteskan cairan bening yang kini telah mulai membasahi kedua permukaan pipinya. “s**t!” umpat Louis dan langsung melepaskan tengkuk leher Sherly setelah melihat tatapan memelasnya. “Jangan mudah luluh oleh perubahan sikapnya yang tiba-tiba, Louis. Siapa tahu saja yang sedang berdiri di hadapanmu sekarang adalah jelmaan seekor rubah licik. Hati-hati dengan tatapannya, siapa tahu dia sengaja menggunakannya untuk menipumu atau mengelabuimu,” batinnya dengan tegas memperingatkan. “Semudah itu?” batin Sherly bertanya-tanya, karena tidak percaya pada reaksi Louis atas tindakannya. “Jangan harap tindakanmu itu bisa meluluhkanku, sehingga aku melepaskanmu dari posisimu saat ini sebagai istriku. Aku ingin mengetahui, di antara kalian siapakah yang lebih hebat dan memuaskan di atas ranjang.” Louis dengan cepat meraih pinggang Sherly kemudian menariknya, sehingga tubuh bagian depan mereka saling bersentuhan. Sherly yang tadi memekik karena terkejut, kini mulai memberontak. Sambil mengepalkan tangannya dia mulai memukul d**a telanjang Louis bertubi-tubi. Tanpa meminta izin terlebih dulu, Louis langsung menyergap dan melumat bibir Sherly dengan kasar. Demi bisa bertindak lebih jauh, dia sengaja memukul b****g sintal Sherly sehingga membuat perempuan tersebut membuka mulut karena tersentak kaget. Kesempatan itulah yang digunakan Louis untuk memasukkan lidahnya dan mengeksplor lebih jauh ke dalam mulut Sherly. Tanpa menghentikan aksi mulutnya, Louis menggiring Sherly menuju ranjang sebelum menjatuhkan tubuhnya. Dengan tidak sabar dia langsung menindih tubuh Sherly yang terus memberontak. Tidak lupa dia menyatukan kedua tangan Sherly di atas kepala perempuan tersebut untuk mengunci gerakannya. Louis menyudahi aksinya saat menyadari perempuan di bawah kungkungannya mulai kesulitan bernapas. Belum sempat dia berpindah dari atas tubuh Sherly, perempuan tersebut telah meludahi wajahnya. Tidak terima atas tindakan menjijikkan Sherly, Louis pun menghadiahi kedua pipi perempuan tersebut dengan tamparan keras secara bergantian setelah dirinya berdiri. Sebelum meninggalkan kamar, Louis menatap tajam Sherly yang masih telentang di atas ranjang sambil memegangi kedua pipinya. “Ludahmu ini akan dibayar oleh orang lain,” ucapnya penuh amarah sekaligus peringatan. Sherly terenyak mendengar perkataan Louis. Kekesalan dan kemarahannya tadi atas perlakuan Louis seketika berubah menjadi ketakutan. Dia tahu yang dimaksud oleh laki-laki tersebut sebagai orang lain adalah orang tuanya sendiri. Dia melampiaskan emosi yang berkecamuk dalam hatinya melalui tangis dan jeritan. Dia tidak peduli jika jeritan dan tangisannya tersebut akan menembus tembok. *** Sejak setengah jam lalu Louis berada di kolam renang miliknya yang terletak di dalam ruangan sambil ditemani sebotol red wine. Dia melampiaskan kemarahannya atas tindakan lancang Sherly yang berani meludahinya dengan berenang sambil menikmati minuman kesukaannya. Seumur-umur, baru kali ini ada orang yang berani meludahi wajahnya, terlebih seorang perempuan. Biasanya perempuan akan berlomba menggodanya agar dia bersedia menjamah tubuh mereka. Namun, berbeda dengan perempuan yang kini menjadi istri penggantinya. Baginya hal tersebut adalah penghinaan terbesar yang didapatnya. “Satu keluarga itu benar-benar kompak mempermainkanku dan menghinaku. Orang tuanya seenaknya mengganti mempelai perempuan karena Shirley kabur, kini anak kembarnya yang lain lancang meludahi wajahku.” Untuk meredakan amarahnya Louis meneguk habis cairan merah di dalam gelasnya. Merasa cukup menenangkan diri, Louis menyudahi kegiatannya. Dia mengambil bathrobe abu-abu yang ada di atas lazy chair. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya di kamar pribadinya sebelum besok menikmati agendanya berbulan madu yang telah disiapkan oleh Henry. Tindakan Sherly tadi tidak akan membuatnya membatalkan agenda yang sudah jauh-jauh hari disusun dengan rapi. Dia ingin melihat sejauh mana Sherly bisa memberontak dan melakukan perlawanan. “Seharusnya kita bisa menjadi saudara ipar yang harmonis, Sher, jika saja kembaranmu itu tidak berulah. Karena tindakan Ley yang berani memancing sisi iblisku, jadi mau tidak mau kau yang harus menanggung akibatnya,” ucap Louis sebelum meninggalkan pinggiran kolam renang. *** Kedua alis Louis bertaut saat tidak melihat batang hidung Sherly setelah dirinya memasuki kamar. Kakinya langsung melangkah ke arah kamar mandi saat telinganya samar-samar mendengar gemericik air yang ditebaknya berasal dari shower. Dia langsung mendorong pintu kamar mandi yang tidak tertutup rapat. Pupil matanya spontan membesar ketika melihat seseorang terbaring dan memejamkan mata di bawah shower yang masih mengeluarkan air dingin. “s**t! Apa yang dilakukan oleh perempuan bodoh ini?” Louis berdecak kesal dan bergegas mematikan kran shower. Tanpa banyak pertimbangan lagi, tangan Louis dengan cekatan melucuti pakaian yang masih menutupi tubuh Sherly agar perempuan tersebut tidak semakin kedinginan. Setelah tidak ada sehelai benang pun yang melekat pada tubuh Sherly, Louis langsung mengangkatnya dan segera keluar dari kamar mandi. Dengan hati-hati dia membaringkan tubuh Sherly yang terkulai lemas di atas ranjang. Tidak sampai di sana, dia juga mengeringkan tubuh Sherly menggunakan handuk miliknya. Sambil menyelimuti tubuh Sherly yang kini menggigil, Louis mendengkus saat mendengar gemeletuk gigi perempuan tersebut karena kedinginan. Tangannya refleks menyentuh bibir Sherly yang tadi sempat dicicipinya, tapi kini telah berubah warna menjadi kebiruan. Dia mengatur ulang pendingin di kamarnya agar tidak membuat tubuh Sherly semakin kedinginan. Berhubung malam sudah larut, Louis memilih untuk tidak membangunkan para asisten rumahnya karena tindakan bodoh Sherly. Sebab, hal tersebut nantinya akan menimbulkan kegaduhan di mansion-nya. Melihat kondisi Sherly saat ini, Louis berniat memanfaatkannya untuk membalas penghinaan yang tadi didapatnya dari perempuan tersebut. Dia tidak akan melewatkan sekecil apa pun kesempatan yang terpampang jelas di depan matanya. Selain mencegah Sherly dari serangan hipotermia akan kondisinya kini, dia pun ingin memberi pelajaran sekaligus peringatan keras kepada perempuan tersebut. Bahwa, tidak mudah bermain-main atau mempermainkan seorang Louis Achazia Xanders. Usai memadamkan lampu utama di kamarnya, Louis kembali mendekati ranjang. Sebelum menyusul dan mendekap tubuh Sherly yang sudah bergelung hangat di bawah selimut, Louis membuka simpul bathrobe abu-abunya sendiri. Dia juga melucuti sisa pakaiannya sampai tidak ada sehelai benang pun yang melekat di atas permukaan kulitnya. Setelah menaiki ranjang, Louis langsung menyalurkan kehangatan tubuhnya terhadap Sherly dengan cara menempelkan dadanya pada punggung perempuan tersebut di bawah selimut. Louis juga menggenggam tangan Sherly yang masih sangat dingin. Seulas seringaian menghiasi bibirnya ketika membayangkan reaksi Sherly saat membuka mata besok pagi. “Tadi kau meludahi wajahku, sekarang tubuh kita malah tak berjarak. Bahkan, tanpa sehelai benang pun yang menghalanginya,” Louis bergumam dengan nada mengejek. Sambil mulai memejamkan mata, dia menghirup aroma lembut yang menguar dari tubuh perempuan di dekapannya tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD