TRB 3

1807 Words
Layaknya seorang pencuri yang sedang beraksi, Sherly mengendap-endap saat menuruni anak tangga. Dia mengedarkan tatapannya ke penjuru ruangan dengan penuh kewaspadaan. Menyadari warna putih dan abu-abu yang lebih mendominasi interior rumah tersebut, seketika membuat Sherly merinding. Aura rumah dan pemiliknya tidak ada perbedaan, sama-sama dingin. Setelah kakinya menapak pada anak tangga terakhir, matanya tidak menemukan sosok laki-laki dingin sekaligus angkuh tersebut. “Selamat malam, Nyonya,” seorang perempuan berseragam pelayan menyapa dengan sopan Sherly yang terlihat kebingungan. “Tuan sudah menunggu Nyonya di ruang makan. Silakan, Nyonya. Sebelah sini,” beri tahunya. Perempuan tersebut mendahului Sherly berjalan menuju ruang makan. “Siapa namamu?” Sherly bertanya pada perempuan yang berjalan di depannya. Dia merasa jika usianya dengan perempuan tersebut tidak berbeda jauh, mungkin seumuran. “Silakan, Nyonya.” Perempuan tersebut menarik kursi yang akan Sherly duduki, tanpa menjawab pertanyaan dari istri tuannya itu. Louis yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Sherly, bersikap tak acuh saat salah seorang pelayannya mempersilakan wanita tersebut duduk. Dia terpukau saat sekilas melirik penampilan Sherly yang duduk di sebelahnya. Wanita tersebut terlihat sangat menggoda ketika mengenakan salah satu koleksi kemejanya untuk menutupi tubuhnya. Dia berani jamin jika di balik kemejanya itu, tidak ada lagi underwear yang melekat pada tubuh wanita tersebut. Louis dengan cepat menggelengkan kepalanya, ketika bayangan erotis tubuh wanita tersebut mulai menghiasi benaknya. Melihat berbagai hidangan mewah sekaligus menggugah selera yang tersaji di atas meja, spontan membuat Sherly meneguk ludah. Menurutnya, mereka hanya makan berdua, tapi hidangan yang tersedia sangat banyak. “Benar-benar mubazir,” batinnya. “Perlu aku menyuapimu, Nyonya Xanders?” Louis membuka suara saat memergoki Sherly hanya menatap makanan yang tersaji di atas meja. “Eh,” Sherly terperanjat setelah tersadar dari lamunannya. Dia bergidik ngeri melihat Louis tengah memberinya tatapan tajam. Tanpa berpikir banyak, dia langsung mengisi piringnya dengan hidangan yang diambilnya secara acak. “Bisa-bisa aku mati muda jika terus hidup bersama laki-laki angkuh ini,” batinnya menggerutu. Selama makan malam berlangsung, hanya denting sendok yang terdengar beradu dengan piring. Baik Louis maupun Sherly sama-sama menutup mulutnya masing-masing secara rapat. Namun tanpa sepengetahuan Sherly, diam-diam Louis mencuri pandang ke arahnya. Louis menyeringai tipis ketika melihat ekspresi nelangsa menghiasi wajah Sherly. Sherly tidak bisa menikmati makanannya dengan leluasa, karena suasananya terlalu mencekam. Tenggorokannya pun seolah menolak saat makanan yang telah dikunyahnya ingin masuk ke perutnya. Dia tidak terbiasa makan dengan suasana mencekam, seperti yang saat ini dirasakannya. Gelagat Sherly yang terlihat malas mengunyah makanannya sembari melamun, ternyata menarik perhatian Louis. Dia mengibaskan tangannya kepada para pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari meja makan, agar segera meninggalkan ruangan tersebut. “Aku tidak akan bertanggung jawab jika nanti kau pingsan di sela-sela pergumulan panas kita,” ucap Louis setelah para pelayan menuruti perintahnya. Seketika Sherly tersedak karena mendengar perkataan frontal Louis. Dengan cepat dia menoleh ke belakang, ke tempat para pelayan tadi berdiri. Dia mengela napas lega saat tidak mendapati seorang pelayan pun berdiri di sana. Dia tidak menanggapi perkataan frontal Louis tersebut, melainkan lebih memilih untuk melanjutkan menyantap makanannya yang masih tersisa di piringnya. Louis langsung berang saat melihat sikap apatis Sherly. Selama ini tidak pernah ada orang yang berani mengabaikan perkataannya. Terlebih karena memang dia tidak suka diabaikan. “Aku peringatkan padamu! Jangan pernah sekali-kali mengabaikanku saat aku sedang berbicara denganmu!” gertaknya sembari membanting sendok yang dipegangnya ke piring. Sherly memekik karena saking terkejutnya. Dia langsung menundukkan kepala saat melihat Louis tengah menatapnya dengan tajam. Setajam mata elang yang sedang mengintai mangsanya, sebelum dicabik-cabik. “Kau mengerti ucapanku?!” tanya Louis membentak. Sherly langsung menautkan satu sama lain jari-jarinya yang gemetar karena takut. Dia juga hanya mampu menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Louis. Dia benar-benar ketakutan. “Gunakan mulutmu untuk menjawab pertanyaanku!” Louis menggebrak meja makan sehingga membuat gelas yang ada di atasnya jatuh dan menimbulkan suara nyaring. “Kau benar-benar ingin kehilangan fungsi mulutmu, hah?!” hardiknya. Sherly tersentak. “Ti-tidak.” Dengan susah payah akhirnya Sherly mampu mengeluarkan sepatah kata. Dia merasakan lidahnya benar-benar kelu, walau hanya untuk mengeluarkan sepatah kata. “Ba-baik. A-aku mengerti ucapanmu,” sambungnya terbata saat menanggapi pertanyaan Louis sebelumnya. Melihat reaksi ketakutan Sherly membuat Louis menyeringai di sela-sela kemarahannya. Dia akan terus menekan Sherly untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan Shirley. Dia mempunyai asumsi bahwa, sedikit banyaknya Sherly mengetahui tentang rencana Shirley, terlebih mereka lahir sebagai anak kembar identik. Dari yang didengarnya, entah benar atau tidak, dikatakan jika anak kembar identik bisa merasakan yang dialami satu sama lain, walau mereka tinggal berjauhan. Jika benar, maka dia akan menggunakan keistimewaan tersebut untuk memancing kemunculan Shirley dengan sukarela. Dia akan menggunakan apa pun kesempatan yang ada agar bisa bertatap muka dengan Shirley dan meminta penjelasan. Louis masih sangat tidak terima dipermainkan, terlebih di hari bersejarah dalam hidupnya. Seumur hidupnya belum ada orang yang mempermainkannya. Untung saja selama ini dia dan Shirley merahasiakan jalinan asmaranya kepada khalayak ramai. Hanya keluarga dan orang-orang terdekatnya saja yang mengetahui tentang hubungan asmaranya. Jika tidak, sudah pasti dia akan dipermalukan sekaligus diolok-olok karena mempelai wanitanya tiba-tiba berubah saat di pelaminan. Bahkan, nama baik keluarganya pun akan tercoreng dan menjadi buah bibir banyak orang, terutama dari kalangan rekan bisnisnya. “Cepat selesaikan acara makanmu!” Louis menatap Sherly yang masih setia menundukkan kepala dan memainkan jari-jari lentiknya. “A-aku sudah kenyang,” Sherly menjawabnya dengan suara mencicit sekaligus serak. Tanpa bisa dicegah, air matanya telah menetes karena rasa takut yang menderanya. Louis mengendikkan bahunya tak peduli. Sedikit pun dia tidak merasa iba terhadap kondisi Sherly saat ini. “Ikut aku!” Seperti kerbau yang hidungnya dicocok, Sherly menuruti perintah Louis dengan patuh. Dengan gerakan pelan dia berdiri dan mengekori Louis yang sudah berjalan di depannya. *** Sejak memerintahkan Sherly mengikutinya, hingga kini Louis tak kunjung membuka mulut. Dia hanya menatap lurus dan datar wanita yang menunduk di hadapannya. Wanita tersebut duduk sembari merapatkan kedua pahanya, tangannya pun terlihat aktif menurunkan ujung kemeja yang dikenakannya. Mungkin wanita tersebut sedang berusaha menyembunyikan aset berharganya serapat-rapatnya, agar dia tidak bisa menikmati pemandangan menggiurkan itu. “Angkat wajahmu,” Louis memberi perintah dengan nada datar. Seolah dipecut, Sherly langsung mengindahkan perintah tersebut. Walau nada yang terucap dari mulut Louis sangat datar, tapi bagi telinga Sherly tetap terdengar mengerikan. Baru kali ini dia bertemu dengan laki-laki yang selalu saja mengintimidasinya. Dia tidak tahu apa yang ada di pikiran kembarannya, sampai-sampai bisa menjalin hubungan dengan laki-laki di hadapannya ini. Wajahnya memang tampan, tapi tidak dengan perangainya. “Harusnya Shirley yang menapakkan kakinya di mansion keluargaku ini, bukannya kau. Tapi apa boleh buat, wanita itu pergi tanpa permisi dan orang tuamu menyuruhmu untuk menggantikan posisinya. Lebih bodohnya lagi, kau bersedia melakukannya,” Louis mencibir sembari tertawa masam. “Jika sudah seperti ini, maka kau harus melakukan semua tugasmu semaksimal mungkin, layaknya seorang istri,” imbuhnya penuh penekanan. Dia berdiri dan langsung bertepuk tangan. Sherly menatap Louis bingung. Dia tidak mengerti tindakan yang dilakukan oleh laki-laki tersebut. Namun tidak berapa lama, kebingungannya terjawab saat melihat kedatangan para pelayan. Tanpa dia sadari, kepalanya manggut-manggut ketika berhasil membuat kesimpulan tentang arti tepuk tangan laki-laki tersebut. “Oh … ternyata isyarat untuk memanggil pelayan,” simpulnya dalam hati. “Mereka semua adalah orang yang bekerja pada mansion ini,” beri tahu Louis sambil memasukkan sebelah tangannya pada saku jogger pants yang dikenakannya. Dia memberi perintah kepada dua wanita beda generasi melalui isyarat mata. Kedua wanita beda generasi tersebut pun langsung mengangguk, sedangkan Louis kembali duduk pada tempatnya semula. “Perkenalkan saya Mandy, Nyonya. Kepala pelayan di mansion ini.” Mandyꟷwanita berumur empat puluh tahun tersebut memperkenalkan dirinya dengan sopan dan ramah kepada Sherly yang sejak tadi menatapnya. “Saya Judith, Nyonya. Saya akan melayani kebutuhan Nyonya. Jangan sungkan mengatakan kepada saya, jika Nyonya membutuhkan sesuatu.” Judithꟷperempuan yang tadi menggiring Sherly menuju meja makan pun sudah memperkenalkan dirinya dengan ramah dan sopan. “Jadi, perempuan yang tadi tidak sempat menjawab pertanyaanku bernama Judith,” ucap Sherly dalam hati. Dia tersenyum kaku ke arah dua orang yang baru saja memperkenalkan diri padanya dengan sopan sekaligus ramah. “Saya Sher-Sherly,” Sherly memperkenalkan dirinya dengan kaku. “Judith, bagaimana tugas yang aku berikan padamu untuk besok?” Louis menatap Judith menuntut jawaban. “Sudah saya selesaikan, Tuan. Semua kebutuhan untuk Nyonya sudah saya siapkan,” jawab Judith dengan nada tenang. Louis mengangguk puas. “Kerja bagus,” komentarnya. “Lanjutkan pekerjaan kalian masing-masing,” perintahnya yang diikuti oleh kibasan tangan. “Kami permisi, Tuan, Nyonya.” Mandy, Judith, dan pelayan lainnya membungkuk hormat kepada sepasang majikannya. Baru saja Louis ingin berbicara kepada Sherly, suara telepon rumahnya dengan lancang menginterupsi. Dia memberi isyarat kepada seorang pelayan yang hendak mengangkat panggilan tersebut untuk kembali ke tempatnya. “Masuklah ke kamar,” perintah Louis datar kepada Sherly yang masih menatapnya takut-takut, sebelum berjalan ke tempat telepon rumah berada. “Baik,” Sherly menjawab patuh dan mengangguk. Dia mengindahkan peringatan yang tadi Louis sampaikan, sebelum laki-laki tersebut melakukan tindakan tak terduga padanya. Dengan santai Louis mengambil gagang telepon, kemudian meletakkannya di telinga kanannya sambil menatap tubuh bagian belakang Sherly yang berjalan menuju tangga. Dia mendengkus malas ketika mendengar seseorang di seberang sana menyebut namanya dengan nada kesal. “Ada apa?” Louis bertanya malas pada laki-laki di seberang sana yang usianya terpaut lima tahun di atasnya. “Ke mana saja kau? Berulang kali aku menghubungi ponselmu, tetap saja tidak mendapat tanggapan.” Louis tersenyum tipis mendengar lawan bicaranya berdecak kesal. “Ponselku di kamar,” jawabnya tak acuh. “Ada apa?” Dari nada lawan bicaranya, dia dapat mengetahui jika tidak ada hal yang terlalu genting untuk disampaikan padanya. “Papamu menanyakan menantunya. Katanya, kenapa kau tidak langsung menghubunginya setelah kalian selesai melakukan pemberkatan. Papamu sangat ingin melihat wajah menantu semata wayangnya. Lelah menunggu kabar darimu, hingga akhirnya membuat Papamu ketiduran.” Louis langsung memijat batang hidungnya. “Haruskah aku mengatakan tentang kondisi yang terjadi sebenarnya?” batinnya bertanya. “Besok aku akan menghubungi Papa dan memperlihatkan wajah menantunya,” ucapnya. “Akhirnya kau menikah juga. Aku sudah menyiapkan kado pernikahan yang sangat istimewa untuk kalian. Aku harap kalian menyukainya.” “Bagaimana kondisi Papa sekarang?” Louis mengalihkan topik pembicaraan. Dia sengaja tidak menanggapi ucapan selamat yang diberikan oleh lawan bicaranya tersebut. “Baik. Semangat Papamu meningkat drastis untuk sembuh.” “Baguslah. Kapan Papa diizinkan pulang?” Louis sangat lega mendengar kabar tersebut. “Jika kondisi Papamu stabil, mungkin beberapa hari lagi sudah diizinkan pulang. Papamu juga sudah tidak sabar untuk pulang dan menemui menantunya.” Louis menghela napas pelan mendengar harapan sang papa. “Kabari aku kalau kalian mau pulang. Aku akan menjemput kalian di bandara,” ujarnya. “Tenang saja. Oh ya, Papamu pasti sangat senang jika pasangan pengantin baru yang menjemputnya.” Louis memutar bola matanya mendengar ocehan tak jelas dari lawan bicaranya. “Ya sudah, sekarang aku tutup teleponnya. Aku mau tidur. Capek.” Tanpa menunggu balasan dari orang di seberang sana, dia meletakkan gagang teleponnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD