Prolog

929 Words

Tok ... tok ... tok ...

Lagi, entah sudah berapa kali pria itu mengetuk pintu bercat coklat di hadapannya. Ia membawa sebuah paket di tangan kanannya dan sesekali melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Ia mendengus kesal saat sudah hampir 5 menit namun pemilik apartemen tak juga menunjukkan batang hidungnya.

Ia mencoba sekali lagi mengetuk pintu. Jika penghuni apartemen tak juga muncul, ia akan pergi tanpa meminta tanda tangan penerima barang.

Cklek ...

Tangannya masih di udara, tertahan saat pintu bercat coklat itu perlahan terbuka.

"Maaf, aku sedang mandi."

Seorang wanita menyembulkan kepala lewat pintu yang hanya terbuka sebagian. Tetesan air menetes dari ujung anak rambut yang tak terikat sempurna. Wanita itu hanya mengikat dan menggulung rambut panjangnya asal menyisakan helaian anak rambut yang terlihat basah. 

"s**t!" umpat pria itu seraya menelan ludah kasar. Ia yang sebelumnya berdiri tegak segera memalingkan muka dari pemandangan yang mampu menggoda syahwat. Ia pria normal dan tidak ingin kenormalannya membuatnya melakukan hal gila. "Paket untuk anda," ucapnya dengan memberikan sebuah kotak paket pada pemilik apartemen. Sebuah paket berukuran 20 × 20 cm terbungkus rapi tanpa diketahui apa isi di dalamnya oleh si penerima.

"Paket? Dari siapa?" Wanita itu menerimanya dan mulai mengamati kotak yang kini telah berada di tangannya. 

Pria itu menunjukkan catatan pengirim sekaligus meminta tanda tangan sebagai tanda bukti serah terima paket.

Seulas senyum terpatri di bibir wanita itu saat membaca nama pengirim. Ia segera membubuhkan tanda tangannya dan mengembalikan kertas itu pada kurir paket. "Terimakasih," ucapnya dengan mengukir senyum penuh kegembiraan. Kemudian menutup pintu mengabaikan pria pengantar paket yang terdiam mematung. 

Ini sudah biasa, sudah biasa bagi pria itu melihat senyum cerah dari penerima paket yang diantarkannya. Tapi, ini kali pertama ia melihat senyum manis yang ditunjukkan wanita itu.

"Apakah isinya begitu berharga?" batin pria itu kala dapat melihat wanita itu memeluk paket sebelum pintu benar-benar tertutup rapat.

Sementara di balik pintu, wanita itu segera membawa paket kiriman kekasihnya ke dalam kamar dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ia menemukan secarik kertas bertuliskan, "Maaf." Ia tersenyum kecil kemudian mengeluarkan isi dalam kotak paket. Sebuah flap bag berwarna hitam yang ia yakin harganya lebih dari jatah kuliahnya sebulan dilihat dari merk yang terpampang di wajah tas. 

Ia segera mengambil ponsel dari atas meja rias di samping tempat tidurnya dan menghubungi seseorang. Namun, setelah beberapa menit menunggu tak jua ada jawaban, ia mengirim voice note dan berharap kekasihnya segera menghubunginya.

"Terimakasih, seharusnya tidak perlu memberiku hadiah semahal ini. Aku tahu kau sibuk, jangan terlalu memikirkanku," ucapnya melalui voice note yang kemudian ia kirim pada nomor sang kekasih. 

Raina Sivia, nama wanita itu mengukir kembali senyumnya kala melihat pesan masuk dari sang kekasih. ["Maaf, aku sedang rapat. Jika sudah selesai, aku akan menghubungimu."]

Raina tak membalas kembali pesan itu, memilih meletakkan ponselnya kembali ke tempat sebelumnya dan ia bercermin pada cermin besar di hadapannya. Ia tahu kekasihnya amat sangat sibuk akhir-akhir ini, dan sebagai kekasih, ia akan menjadi kekasih yang baik dengan tidak merepotkan kekasihnya itu.

Cantik. Raina sangat menyukai hadiah ini, bukan karena harga atau merk, melainkan karena siapa yang telah memberinya hadiah ini. Dan orang itu adalah kekasihnya sendiri, Beryl Narendra. Pria yang telah mencuri hatinya diawal pertemuan mereka yang memalukan. Hubungan yang telah berjalan sekitar setengah tahun ini membuat Raina semakin merasakan cinta yang besar pada Beryl. Meski saat sebuah kenyataan menamparnya begitu keras, namun ia tak dapat melakukan apapun karena ia telah jatuh cinta. Dan rasa cinta itu telah membuatnya kehilangan kewarasannya. Ia yang  seorang mahasiswi jurusan bisnis semester akhir, rela menjadi yang kedua, menjadi wanita simpanan Beryl Narendra.

Ia masih muda, usianya belum genap 23 tahun, tapi entah apa yang membuatnya lebih memilih menyukai seorang pria yang sudah berkeluarga. Ini bukan salahnya, salahkan pada rasa cintanya yang besar untuk pria itu. Salahkan rasa kagumnya yang menjelma menjadi rasa cinta saat Beryl memberinya harapan. Dan salahkan Beryl Narendra yang tidak mengatakan kenyataannya. Kenyataan sebenarnya, bahwa ia sudah menikah.

Raina kalah dari rasa cintanya dan akhirnya tetap memilih bersama Beryl meski telah mengetahui semuanya. Baginya tidak apa menjadi yang kedua, setidaknya Beryl selalu meluangkan waktu untuknya dan memberinya perhatian.

Raina membuka ikatan rambutnya dan meraih hairdryer yang sudah ia siapkan.  Kemudian mengeringkan rambut panjangnya yang berwarna burgundy dengan bersenandung kecil. Raut keceriaan tak lepas darinya sejak menerima kiriman paket. 

***

Pria itu mendengus kesal kala melihat banyaknya paket yang belum ia antar. Kepalanya sedikit pening akibat seharian di bawah sinar matahari guna menjalankan tugas dan pekerjaannya sebagai pengantar paket. Saat melewati sebuah gedung apartemen kelas 3, tiba-tiba ia teringat wanita yang menerima kiriman paket darinya kemarin. 

Segera menghentikan motornya, ia memeriksa daftar alamat pada masing-masing paket. Dan benar saja, ada satu paket untuk wanita itu. Ia segera berbalik dan mengarah pada apartemen wanita dengan rambut burgundy dan senyuman nan manis. Namun sayangnya, senyuman itu tak mampu membeli seujung kuku dari rasa tertariknya sebagai pria pada seorang wanita. 

Hanya butuh waktu 10 menit dan akhirnya pria pengantar paket itu telah berdiri di depan pintu bercat coklat milik wanita itu. Tangannya terangkat mengetuk pintu berharap si tuan rumah segera memunculkan diri. Ia ingin pekerjaannya selesai dan ia bisa segera pulang untuk beristirahat.

"Ck." Ia berdecak kesal kala pemilik apartemen tak juga membuka pintu seperti. Membenarkan posisi topi yang menutup rambut emo miliknya dan kembali mengetuk pintu untuk kesekian kalinya. Ia mulai jengah kala hampir 5 menit menunggu, penghuni di dalamnya tak ada tanda-tanda memunculkan batang hidungnya. 

Ia menunduk meletakkan paket di depan pintu, namun, disaat itu juga suara pintu terbuka dan membuatnya mendongak. Matanya melebar, dadanya bergemuruh hebat dan detik berikutnya umpatannya lolos dari dalam benaknya.

"Ck, sial." 

TBC ...

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd