Tiara menelan ludah, detak jantungnya yang tadi kencang kini seperti drum yang dipukul lambat namun dalam. Suasana tegang itu terpecah oleh desahan kecil yang Tiara keluarkan, setengah frustrasi, setengah manja. Ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk mendorong d**a Abimana—dorongan yang lebih seperti sentuhan daripada penolakan. Mulutnya manyun, matanya yang basah karena ketegangan tadi kini lebih diisi kekesalan yang dibuat-buat daripada kesedihan. "Kamu nih, Mas, malah bercanda! Aku kan lagi serius!" protesnya, suaranya terdengar merajuk, sengaja dimanjakan, mencoba mengembalikan suasana ringan. Namun, sebelum ia bisa menggeser tubuhnya dan melangkah menjauh dari medan magnet Abimana, tangan besar dan hangat suaminya bergerak cepat. Jari-jari kokoh itu langsung menggenggam perg

