Tiara bersandar santai di ujung sofa, semangkuk popcorn masih berada di pelukannya. Tatapannya terpaku pada layar televisi yang menampilkan drama romantis penuh air mata. Sesekali matanya berkaca-kaca mengikuti alur cerita, membuatnya sesekali menghela napas panjang. Sementara itu, Abimana duduk di sisi lain sofa. Awalnya ia hanya melirik sekilas ke arah layar, tapi lama-lama ekspresinya berubah geli. "Kenapa dia nggak kejar ceweknya pas udah tahu mau pindah ke luar negeri? Nggak logis," gumam Abimana sambil mencibir ringan. Tiara menoleh pelan dengan tatapan menyipit. "Karena dia trauma kehilangan orang yang dia sayang, jadi takut gagal lagi. Kamu nggak ngerti, ya, rasanya patah hati yang sesungguhnya itu kayak gimana." Abimana mengangkat alis. "Saya ngerti. Tapi logika tetap harus ja

