Tiara menggeliat di bawah tubuh Abimana yang semakin tak terkendali. Nafasnya sudah habis, kulitnya basah oleh keringat, dan jantungnya berdetak seolah hendak meledak. Ia memegang lengan suaminya yang kokoh, berusaha menahan gejolak yang terus menggilanya. “Jangan… nanti kamu bisa telat ke kantor, Mas…” desis Tiara dengan suara parau, nyaris tak terdengar karena desahan yang tak bisa ia tahan lagi. Abimana tak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap wajah Tiara yang memerah karena gairah, lalu mengecup kening istrinya dengan lirih. “Saya yang tentukan waktu saya sendiri,” gumamnya, lalu menarik wajah Tiara untuk dicium lagi, lebih dalam, lebih panas. Tiara tak sanggup menolak. Tubuhnya sudah terlalu lelah untuk bertarung dengan godaan yang diberikan pria itu. Dan hatinya terlalu lu

