Tiara baru saja membungkus tubuhnya dengan handuk saat pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat masih menggantung di udara, memburamkan cermin dan membuat rambutnya menempel di leher. Langkah kaki berat mendekat. Ia menoleh cepat dan terkejut saat melihat Abimana berdiri di ambang pintu, masih mengenakan baju olahraga yang basah oleh keringat. Tubuhnya tampak tegap, rambutnya agak berantakan, dan kulitnya memerah karena sisa panas dari lari pagi. Tiara buru-buru memeluk dadanya, menempel ke dinding dengan gugup. "Kamu nggak ketuk dulu," katanya cepat. Abimana menutup pintu dan melepas kausnya sambil menatap Tiara yang sibuk menutupi tubuhnya. Gerakannya tenang dan tak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. "Kenapa sibuk sekali?" ucapnya santai. "Tidak perlu menutupi apa pun. Saya hanya i

