Langit pagi yang membentang luas, biru cerah dengan kilauan sinar mentari, terasa ironis bagi hati Arvan yang bergemuruh bagai badai. Mobilnya melaju pelan, menjaga jarak dari motor sport di depannya, di mana Adelia duduk bersama seorang pria yang tampak santai. Setiap detik yang berlalu membuat Arvan semakin tenggelam dalam gejolak emosi yang tak bisa ia kendalikan.
Adelia tertawa. Sebuah pemandangan langka yang belum pernah Arvan lihat. Tawa itu seperti duri yang menusuk dalam-dalam. 'Apa yang pria itu lakukan hingga membuat Adelia tertawa begitu lepas?' pikir Arvan, menggenggam setir dengan rahang mengeras.
Motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil, tak jauh dari sekolah Adelia. Pria itu turun lebih dulu, membuka helmnya, menampakkan wajah yang tidak dikenal Arvan. Rahang tegas, senyum yang menyebar kepercayaan diri, dan mata yang berbinar hangat. Bara di d**a Arvan kini berkobar, membakar sisa-sisa kesabaran yang ia coba pertahankan.
Adelia melompat turun dari motor, masih tersenyum saat teman-temannya menghampiri.
"Wih, barengan? Tumben lo nggak bawa motor sendiri, Del," sapa salah satu temannya, Sasha, dengan nada menggoda.
"Cuma kebetulan," jawab Adelia santai, meski matanya sedikit menghindar.
"Kebetulan?" Sasha menyipitkan mata curiga.
"BTW, lo ngapain di depan apartemen tadi, Del?" tanya pria itu, membuat Adelia seketika terdiam. Ada jeda sebelum Adelia menjawab.
"Nginep di apartemen saudara gue." Bohongnya dengan suara ringan, meskipun hatinya berdebar. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia baru saja tinggal di apartemen Arvan, suaminya dalam pernikahan rahasia mereka.
Sasha mengangguk, tapi senyum jahil di wajahnya tak beranjak.
"Eh, dua ketua geng udah damai sekarang?" tanyanya, melirik ke arah Kenzie.
"Damai? Jangan mimpi!" Adelia mendengus, meski wajahnya sedikit memerah.
Kenzie terkekeh, menatap Adelia dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Masih dendam gara-gara kejadian kemarin, Del?" tanyanya ringan.
Adelia mengangkat alis, melipat tangan di d**a. "Lo pikir?" balasnya tajam, sebelum berbalik meninggalkan mereka, diikuti oleh Sasha dan teman-teman lainnya. Langkahnya cepat, seolah tak ingin memberikan waktu lebih lama untuk Kenzie membaca ekspresi wajahnya.
Arvan yang memperhatikan semua itu dari dalam mobilnya merasa dadanya sesak. Ia tahu betul bagaimana Kenzie, dengan caranya yang santai tapi penuh keyakinan, mampu menarik perhatian siapa saja termasuk Adelia. Ia memutar kemudi, memilih untuk pergi sebelum emosinya benar-benar meledak.
Sementara itu, di depan kedai kopi, Reno, salah satu teman Kenzie, menyenggol bahunya.
"Lo suka sama Adel, Kenz?" tanyanya dengan nada menggoda.
Kenzie mendesah panjang, melonggarkan kerah seragamnya. "Tau ah, pusing."
"Pusing apaan? Kalau suka, coba lagi lah!" ujar Deon, yang langsung disambut tatapan tajam dari Kenzie.
"Gue udah bilang, Adelia itu cewek yang nggak bisa dikasih kejutan lebay kayak kemarin. Malah bikin dia makin jauh," gerutunya dengan nada frustrasi.
Reno terkekeh pelan. "Ya kan kita cuma kasih saran."
Kenzie mendengus, melangkah masuk ke sekolah. "Simpan aja saran lo buat diri sendiri," ujarnya ketus, meninggalkan dua temannya yang hanya bisa saling melirik sambil menahan tawa.
Tetapi, di balik wajahnya yang tampak acuh, ada pergulatan di hati Kenzie. Ia tahu Adelia bukan gadis yang mudah didekati, tapi itulah yang membuatnya tak bisa berhenti mencoba.
***
Di ruang kerjanya yang sunyi, Arvan duduk di balik meja besar dengan tumpukan berkas menggunung di depannya. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahoni, menciptakan irama yang tak beraturan, tanda pikirannya sedang kacau. Wajahnya menegang, dan tatapan matanya nanar, seperti mencoba mengusir bayangan yang terus menghantui.
"Kenapa aku malah memikirkan Adelia dan pria itu!" Suaranya memecah kesunyian, penuh kekesalan. Ia mengacak rambutnya dengan gerakan kasar, frustrasi meluap dalam setiap hela napasnya.
Ketukan pintu membuatnya tersentak. Dengan cepat, ia menegakkan tubuhnya, memasang ekspresi dingin yang menjadi tamengnya.
"Masuk," ujarnya tegas.
Pintu terbuka, dan Maya, sekretaris pribadinya, melangkah masuk. Wajahnya terlihat ragu sejenak sebelum berbicara.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda, Tuan," katanya, suaranya sopan tapi terukur.
"Siapa?" Tatapan dingin Arvan menembus Maya, membuat wanita itu sedikit bergeser gelisah.
"Tuan Vikram," jawabnya singkat.
Arvan terdiam sesaat. Bibirnya mengulas senyum tipis, tapi itu bukan senyum ramah, itu adalah senyum penuh sindiran. "Biarkan dia masuk," ujarnya datar.
Maya keluar, dan beberapa detik kemudian, Vikram melangkah masuk. Pria itu membawa aura otoritas yang khas, tapi ada sesuatu yang berat dalam sorot matanya, seperti beban yang tak terlihat.
"Ah, ayah mertua yang terhormat," sapa Arvan dengan nada tajam, matanya menatap Vikram dengan penuh perhitungan. "Apa yang membawamu ke sini?"
Vikram menarik napas panjang sebelum menjawab. "Aku hanya ingin memastikan kau tidak melarang Adelia untuk melanjutkan sekolahnya. Sebagai seorang ayah, aku hanya ingin—"
"Stop!" Arvan memotong dengan nada dingin, tatapan matanya menyipit seperti elang yang siap menerkam. "Ayah? Seorang ayah tidak akan membiarkan putrinya terjebak dalam permainan orang lain," lanjutnya dengan nada sinis, setiap kata seperti pisau yang menusuk. "Kalau tidak ada hal penting lagi, silakan keluar. Aku sedang sibuk."
Vikram terdiam sejenak, menelan kekecewaannya. Namun, ia tetap mengeluarkan sebuah kartu dari saku jasnya, lalu meletakkannya di meja Arvan.
"Ini untuk biaya semua kebutuhan Adelia dan—"
Arvan menyambar kartu itu dengan gerakan cepat, lalu melemparnya kembali tanpa ragu. "Bawa pulang uangmu," katanya dengan nada menghina. "Aku tidak butuh itu. Aku mampu memberikan apa pun yang Adelia mau tanpa bantuanmu."
Mata Vikram mengerjap, tapi ia menahan emosinya. Dengan nada yang lebih lembut, ia berkata, "Tolong, Arvan. Jangan sakiti Adelia. Bagaimanapun keadaannya, aku tetap sangat menyayanginya."
Kalimat itu menggantung di udara seperti petir tanpa gemuruh. Vikram berbalik, melangkah keluar dengan langkah yang terasa berat, meninggalkan Arvan yang kembali larut dalam pikirannya. Namun, kini ada sesuatu yang berbeda di matanya, sebuah bayangan keraguan yang mulai merayap.
Di saat pintu ruangan tertutup, Arvan membuang napas panjang. Ia memandang kartu yang tergeletak di lantai, mata tajamnya menyala dengan emosi yang tak terungkapkan. "Pura-pura peduli, tapi membiarkan semuanya berantakan sejak awal," gumamnya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. Ia mendongak, menatap cermin besar di sudut ruangan, dan melihat pantulan dirinya, dingin, penuh dendam, dan tak kenal ampun.
***
Koridor itu terasa dingin, sepi, hanya ada langkah-langkah kecil Adelia yang menggema, seolah membisikkan rahasia yang tak ingin ia bagi pada siapa pun. Jemarinya, yang sejak tadi memegang erat buku catatan, kini mulai longgar. Kepalanya penuh dengan bayangan, bukan pelajaran atau tugas, melainkan senyum santai Kenzie yang tak mau pergi dari pikirannya.
Ia berhenti di depan mejanya. Sesuatu yang tak biasa mencuri perhatiannya, amplop putih, polos, tanpa nama. Hatinya berdetak lebih kencang, ada rasa ragu, tapi juga penasaran. Tangannya terulur, membuka lipatan kertas itu dengan perlahan. Tulisannya rapi, sedikit tergesa, tapi jelas.
"Sorry! Apa pun akan gue lakukan asal lo mau maafin gue!"
Adelia menarik napas panjang, mencoba mengusir perasaan yang berkecamuk di dadanya. Ia tahu siapa pengirimnya. Siapa lagi kalau bukan Kenzie? Pria yang beberapa hari lalu membuatnya hampir kehilangan muka di depan teman-temannya. Buket bunga, cokelat, dan pengakuan cinta yang diumbar tanpa peringatan. Bagi Adelia, kejutan seperti itu bukanlah romantis, itu bencana.
Ia menghela napas, lalu melipat kembali surat itu. Belum sempat ia berpikir lebih jauh, suara Sasha menyelinap di telinganya.
"Surat dari siapa tuh?" Suara temannya terdengar ringan, tapi mata Sasha penuh rasa ingin tahu.
Adelia menoleh tajam, lalu tanpa ragu meremas surat itu hingga menjadi bola kecil dan melemparnya ke tempat sampah. "Gak usah kepo!" Dengusnya, sebelum duduk kembali dengan wajah datar, meski hatinya berdenyut tak karuan.
Tetapi, Sasha dengan nalurinya yang tak pernah salah, hanya menyeringai kecil. "Oh, gue tahu deh. Ini pasti dari Kenzie, ya kan?" godanya, sambil melirik ke arah Alya yang baru saja bergabung.
"Adel, lo gak kasihan sama Kenzie? Dia udah effort banget loh buat lo!" Alya menimpali, nadanya setengah memohon, setengah menyindir.
"Effort?" Adelia menatap Alya, lalu mendengus pendek. "Lo pikir gue peduli? Gue gak minta apa pun dari dia." Suaranya dingin, nyaris tanpa emosi.
Sasha dan Alya tak menyerah. Mereka saling pandang sejenak, lalu menoleh ke arah tertentu, jendela kelas yang terbuka sedikit. Tatapan mereka bertemu dengan sosok yang bersembunyi di balik tirai.
Kenzie.
Pria itu berdiri diam, wajahnya sulit terbaca. Hanya sorot matanya yang penuh penyesalan dan harapan. Ia melangkah mundur perlahan, tapi tak cukup cepat untuk menghindari tatapan tajam Sasha.
"Ada yang lagi nguping tuh," bisik Sasha sambil tersenyum lebar, tapi Adelia sudah kehilangan kesabaran.
"Kalau dia mau minta maaf, suruh dia berhenti jadi pengecut," ucapnya tegas.