Hubungan Dengan Mira?

1087 Words
Malam telah larut ketika Adelia dan Arvan tiba di apartemen mereka. Jalanan sunyi, namun pikiran Adelia tidak. Sepanjang perjalanan, dia tenggelam dalam kekacauan pikirannya, dihantui kilasan samar tentang Mira dan bros antik yang baru saja berpindah tangan padanya. Bros itu, berkilauan di bawah cahaya lampu, terasa seperti kunci dari sebuah rahasia besar yang tidak bisa ia abaikan. Begitu memasuki apartemen, Adelia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sorot matanya kosong, tapi dalamnya ada badai. Di sisi lain, Arvan tampak seolah malam itu hanyalah rutinitas biasa. Ia berjalan ke dapur, mengambil segelas air dengan tenang, nyaris tanpa peduli pada keheningan yang menggantung di antara mereka. "Apa yang Mira katakan tadi?" Suaranya datar, menusuk sunyi. Ia bahkan tak menoleh. Adelia mengangkat wajah, menatap punggung Arvan dengan sorot tajam namun ragu. Bibirnya gemetar sebelum akhirnya berbisik, "Kak Mira ...." Arvan berbalik perlahan, alisnya terangkat, ekspresinya berubah dingin. "Apa maksudmu?" Adelia menelan ludah, lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamar dan kembali dengan sebuah foto kecil di tangannya. “Ini,” katanya pendek, menyerahkan foto itu kepada Arvan. Arvan mengambil foto itu dengan kening berkerut. Wajahnya langsung berubah ketika melihatnya—foto Mira. Jemarinya meremas sudut foto dengan kasar. "Dari mana kamu dapat ini?" tanyanya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. Adelia balas menatapnya, rahangnya mengeras. “Dari laci kamar gue,” jawabnya tegas. “Apa hubungan lo sama Kak Mira sebenarnya?” Arvan terdiam. Matanya terpaku pada foto itu, namun pikirannya jelas melayang jauh. Akhirnya, ia meletakkan foto itu di meja dengan gerakan kasar. "Mira, dia cuma masa lalu," katanya lirih. "Seseorang yang penting, tapi udah selesai." Adelia terkekeh sinis, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Selesai? Kalau memang selesai, kenapa lo masih tatap dia kayak gitu? Dan bros ini." Ia mengangkat bros antik itu, memperlihatkannya pada Arvan. "Kenapa dia ngasih ini ke gue?" Arvan menegang, wajahnya tampak menahan amarah. "Adel, ini bukan urusan kamu," jawabnya dingin. "Bukan urusan gue? Kalau lo menyembunyikan sesuatu tentang dia, itu jadi urusan gue!" Suara Adelia meninggi, nadanya penuh tekad. Arvan menarik napas panjang, lalu melepaskannya dengan kasar. “Sudah kubilang, jangan ikut campur urusanku!” serunya, kali ini suaranya bergetar dengan ancaman yang jelas. Namun Adelia tidak mundur. Ia mendekat, berdiri tepat di hadapan Arvan. “Lo pikir gue bakal berhenti cuma karena lo nyuruh? Gue gak takut, Van,” katanya, suaranya penuh keberanian yang menyala-nyala. Tatapan mereka bertemu, panas dan tak tergoyahkan, sebelum akhirnya Arvan berbalik dengan langkah kasar menuju kamarnya. Ia membanting pintu keras, meninggalkan Adelia di ruang tamu yang kini dipenuhi hawa tegang. Adelia terjatuh kembali ke sofa, matanya kembali tertuju pada bros antik di tangannya. Ia mengelus permukaannya dengan ibu jari, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi. "Gue harus tahu!" gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Tiba-tiba, suara berat Arvan bergema di belakangnya, membuatnya tersentak. "Jangan coba-coba mencari tahu tentang Mira, atau hidupmu selesai," ancamnya dingin. Tatapan matanya gelap, penuh peringatan yang menusuk. Adelia berdiri perlahan, menatapnya balik tanpa gentar. "Gue gak takut," balasnya tajam, sebelum berbalik dan masuk ke kamarnya. Pintu yang dibantingnya bergema keras, menandai bahwa pertempuran ini baru saja dimulai. *** Pagi menyapa apartemen dengan keheningan yang ganjil, seperti bom waktu yang menunggu detik terakhir. Adelia berdiri di depan cermin di kamarnya, mengenakan seragam sekolahnya. Rok abu-abu yang seharusnya jatuh di atas lutut kini berhenti beberapa inci di atasnya, memperlihatkan kaki jenjangnya. Ia mengikat rambutnya dengan asal, ekspresi wajahnya dingin namun penuh tekad. Di meja, bros antik itu masih tergeletak, mengingatkannya pada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ketika Adelia keluar dari kamar, Arvan sudah duduk di meja makan. Tatapannya langsung tertuju pada Adelia, dan alisnya langsung bertaut ketika melihat seragam itu. "Adel." Suaranya datar tapi jelas menyimpan bara, "Apa-apaan itu?" Adelia menghentikan langkah, menatapnya dengan sikap tak peduli. "Apa maksud lo?" Arvan berdiri, mendekatinya dengan langkah berat. Matanya menyapu Adelia dari ujung kepala hingga ujung kaki, tapi sorotnya penuh kemarahan. "Kamu mau ke sekolah pakai baju kayak gini? Kamu pikir kamu mau ke mana, ke klub malam?" Adelia mendengus, memasang tas di bahunya. "Lo lebay, Van. Semua cewek di sekolah gue pakai rok segini. Lagian, lo bukan bokap gue." Suara Arvan meninggi, nadanya lebih tajam. “Aku tidak akan biarkan kamu keluar rumah pakai baju yang ngajak masalah kayak gini!” Adelia mendekat, menantangnya dengan tatapan yang tak kalah sengit. "Oh, sekarang lo peduli, ya? Kemarin lo bilang gue gak usah ikut campur urusan lo. Jadi, kenapa sekarang lo sok ngatur hidup gue?" Arvan terdiam sejenak, terpojok oleh kata-kata Adelia. Tapi ia tak menyerah. Tangannya terulur, mencengkram lengan Adelia dengan tegas. "Dengar, Adel. Dunia di luar sana gak seaman yang kamu pikir. Aku tidak akan membiarkan kamu jadi santapan orang-orang b******k!" Adelia menepis tangannya dengan kasar. “Lepasin gue, Van! Gue bisa jaga diri sendiri!” teriaknya, mata berkaca-kaca. "Lo gak bisa atur semua yang gue lakukan cuma karena lo punya masalah lo sendiri!" Arvan menarik napas panjang, mencoba menenangkan amarahnya. Tapi saat ia berbicara, nadanya tetap penuh peringatan. "Ganti baju kamu, atau kamu gak akan aku biarin keluar dari apartemen ini." Adelia menggeleng, menantangnya dengan senyum kecil yang sinis. "Coba aja, Van. Gue gak takut sama lo," katanya sebelum melangkah menuju pintu. Namun sebelum ia sempat membuka pintu, Arvan menarik tasnya, membuatnya terhenti. "Kamu pikir aku bercanda, Adel?" Adelia memutar tubuhnya, menatap Arvan dengan sorot penuh perlawanan. "Lo gak bisa terus-terusan nahan gue, Van. Lo mungkin bisa ngatur hidup lo, tapi lo gak punya hak ngatur gue." Ketegangan di antara mereka memuncak, udara terasa berat dengan emosi yang tak terucap. Akhirnya, Adelia melepas tasnya dari cengkraman Arvan dengan paksa, lalu bergegas keluar, membanting pintu di belakangnya. Arvan berdiri di tempatnya, rahangnya mengeras. Ia menatap pintu yang tertutup dengan pandangan gelap. Dalam pikirannya, ia tahu Adelia salah, tapi jauh di lubuk hatinya, ia menyadari sesuatu, takut kehilangan. Akhirnya, Arvan pun memutuskan untuk mengikuti Adelia sampai ke sekolahnya, namun saat dia sampai di parkiran apartemen. Kening Arvan berkerut melihat Adelia naik ke motor sport seorang pria. Arvan mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, matanya menyipit saat mengenali pria itu. Rambut hitam pria tersebut sedikit berantakan, namun auranya memancarkan kesan arogan dan percaya diri. Motor sport berwarna hitam mengilapnya melaju perlahan keluar dari parkiran, membawa Adelia di belakangnya. "Siapa dia?” gumam Arvan dengan rahang mengeras. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena amarah yang mulai menguasai pikirannya. Ia segera menuju mobilnya, memasukkan kunci dengan kasar, dan menginjak pedal gas hingga suara mesin menggeram keras, seolah mencerminkan emosinya. Mobil meluncur keluar dari parkiran, mengikuti motor pria itu dari kejauhan. Arvan tak peduli kalau tindakannya berlebihan. Yang ia tahu, Adelia telah melibatkan dirinya dengan orang yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD