Arvan menoleh singkat, tatapannya menusuk. "Apa?" Suaranya rendah, penuh ancaman. Adelia langsung terdiam. Kata-kata yang barusan lolos terasa seperti bunuh diri. Ia menggigit bibir, menunduk, menatap ujung rok seragamnya yang bergetar karena genggaman tangannya terlalu erat. Mobil melaju tenang, tapi hawa di dalamnya seperti bara yang siap menyala kapan saja. Arvan kembali fokus pada jalan, tapi senyum tipis tersungging di bibirnya. "Kamu masih berani melawan, Del. Itu yang saya suka, semakin kamu melawan, maka semakin suka saya membuatmu melawan." Adelia menahan napas. Ia tahu Arvan bukan sekadar mengancam. Pria itu selalu menepati kata-katanya, dan biasanya berakhir dengan ancaman untuknya. Mobil berhenti di basement apartemen. Adelia buru-buru turun, tasnya terayun malas ketika ia

