Langit senja merekah di cakrawala, membakar ufuk dengan semburat jingga seperti kanvas lukisan. Namun, keindahan itu tak mampu menarik perhatian Adelia.
Dia melempar tasnya ke meja dengan gerakan malas sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Pandangannya kosong, menembus langit-langit kamar, tapi pikirannya kacau. Nama Kenzie terus terngiang, mengganggu meski sudah berulang kali dia coba mengusirnya.
"Dia ngapain sih terus-terusan ngikutin gue?" gumam Adelia, nadanya lebih bingung daripada kesal.
Bayangan kejadian di kantin tadi melintas. Tatapan Kenzie yang tak pernah berpaling darinya terasa terlalu mencolok, seolah memaksa Adelia untuk mencari tahu apa yang dia pikirkan. Ada sesuatu di mata itu, tapi Adelia tak mau peduli.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di sisi ranjang, mengalihkan lamunannya. Sebuah pesan muncul di layar.
Alya: "Del, besok sore sibuk nggak? Ada acara seru di trek balapan. Lo mau ikut nggak?"
Adelia mengernyit. "Balapan?" gumamnya pelan. Alya memang sering punya ide aneh, tapi yang satu ini terasa agak ganjil.
Adelia: "Apa sih? Gue lagi nggak mood."
Alya: "Pokoknya lo harus dateng. Gue jemput lo jam lima sore. Jangan nolak!"
Adelia mendesah panjang, mengetik balasan dengan malas.
Adelia: "Terserah."
***
Keesokan harinya, aroma roti panggang dan selai memenuhi meja makan. Adelia duduk di kursi, mengunyah sarapannya dengan tatapan malas.
Langkah kaki berat terdengar dari lorong, lalu muncullah Arvan, suami yang jauh lebih tua darinya, dengan kemeja rapi dan ekspresi serius seperti biasanya.
Adelia memandangnya dengan sinis, menyembunyikan ejekan di balik tatapannya. Arvan, sambil menyeduh kopi, menoleh sekilas.
"Kenapa kamu liatin saya gitu? Jangan-jangan kamu terpesona sama saya," katanya, senyum kecil menghiasi bibirnya.
Adelia mendengus, lalu mengangkat gelas jusnya. "Hidih, siapa juga yang terpesona sama om-om? Jangan mimpi, ya!"
Arvan menghentikan gerakannya. Matanya menyipit, memancarkan rasa kesal yang perlahan muncul. "Kamu bilang saya apa?"
"Om-om," jawab Adelia ringan sambil menambahkan, "Cocoknya juga jadi om gue, bukan suami!"
Wajah Arvan langsung memerah. Dia menatap Adelia dengan pandangan tajam, tapi Adelia tetap santai. Ia berdiri, mengambil tasnya.
"Mau ke mana kamu?" tanya Arvan dingin.
Adelia memutar mata, lalu menunjuk seragam SMA-nya. "Pagi-pagi, cewek 17 tahun pakai seragam kayak gini, menurut lo mau ke mana? Nongkrong di terminal? Ya sekolah lah! Atau lo udah lupa kalau lo nikahin anak kelas tiga SMA yang bentar lagi akan lulus?" sindirnya, nadanya tajam dan penuh ejekan.
Arvan tak menjawab, hanya menggertakkan rahangnya. Dia mengawasi Adelia melangkah keluar dengan langkah angkuh, lalu menghela napas panjang. Tangannya meraih ponsel, dan dia mengetikkan perintah singkat.
"Jangan sampai lengah. Pastikan bocah itu nggak bikin ulah!"
***
Adelia menarik gas motornya perlahan, membelah jalanan pagi yang masih lengang.
Udara dingin menerpa wajahnya, tapi tidak cukup untuk mendinginkan amarah yang tersisa dari pertengkaran paginya dengan Arvan. Jaket abu-abu yang ia kenakan melindungi tubuhnya, tapi tidak dengan pikirannya yang terus berputar.
Pernikahan ini adalah rahasia yang ia simpan rapat-rapat dari semua orang, termasuk teman-temannya di sekolah. Tidak ada yang tahu bahwa gadis 17 tahun seperti dirinya memiliki seorang suami, lebih tepatnya, seorang pria yang jauh lebih tua, yang tidak ia inginkan dalam hidupnya.
Sampai di gerbang sekolah, Adelia mematikan mesin motornya. Helm full-face yang ia lepaskan mengungkapkan wajah yang masih dihiasi ekspresi kesal. Ia menuntun motornya menuju parkiran, mengabaikan tatapan beberapa siswa yang kebetulan lewat.
"Del! Lo bawa motor baru lagi, ya?" sapa Alya dengan nada kagum.
Adelia hanya mengangkat bahu, memasang senyum tipis yang tak sampai ke matanya. "Bukan baru, cuma minjem."
"Minjem dari siapa?" tanya Alya penasaran.
"Udah deh, jangan kepo. Yuk, ke kelas!" Adelia menggiring Alya untuk berjalan bersamanya, berharap pertanyaan itu tidak berlanjut.
Jam istirahat, kantin sekolah ramai seperti biasa.
Adelia duduk di sudut meja, menikmati makanannya sendirian. Alya dan Sasha sedang sibuk dengan teman-teman lain, memberi Adelia waktu untuk menyendiri. Namun, tatapan itu kembali terasa tajam dan penuh rasa ingin tahu.
Kenzie.
Dia duduk di seberang meja, matanya terpaku pada Adelia seperti ingin membongkar rahasia yang ia sembunyikan mati-matian.
Adelia berpura-pura tak peduli, tapi tatapan itu sulit diabaikan. Ketika Kenzie berdiri dan mulai berjalan ke arahnya, Adelia merasakan jantungnya berdegup lebih kencang.
"Adel, gue boleh duduk di sini?" Kenzie langsung mengambil kursi tanpa menunggu jawaban.
Adelia mendengus, meletakkan sendoknya. "Lo mau apa?"
Kenzie menatapnya lama sebelum berkata, "Gue penasaran. Kenapa lo kayak nggak mau deket sama siapa pun?"
Pertanyaan itu membuat Adelia tertegun sesaat, tapi ia segera menguasai diri. "Itu urusan gue, bukan urusan lo!"
"Gue cuma merasa lo beda," lanjut Kenzie, suaranya lebih pelan. "Kayak lo lagi nyembunyiin sesuatu."
Adelia menatapnya tajam. "Lo jangan sok tahu, ya. Kalau nggak ada urusan, pergi!"
Kenzie mengangkat kedua tangannya, seperti menyerah. "Oke, oke. Tapi ingat, Del, nggak semua orang akan diam kalau tahu rahasia lo!"
Adelia membeku. Kalimat itu terdengar seperti ancaman samar, tapi Kenzie sudah bangkit dan pergi sebelum ia bisa membalas.
***
Di tempat lain, Arvan menatap layar ponselnya dengan rahang mengatup rapat.
"Dia sudah sampai sekolah?" tanyanya.
Suara di seberang menjawab singkat, "Ya. Tapi ada seorang siswa yang sering mendekatinya. Kami akan pantau lebih lanjut!"
Arvan mengepalkan tangan. "Pastikan dia nggak dekat dengan siapa pun yang mencurigakan. Saya tidak mau masalah muncul karena kelakuan bocah itu!"
Panggilan terputus, dan Arvan bersandar di kursinya, matanya memandang jauh ke luar jendela. Ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya, sesuatu yang ia tahu tak bisa ia kendalikan sepenuhnya, Adelia.
***
Bel tanda pulang sekolah menggema, mengundang sorak riang para siswa yang segera membanjiri koridor dengan langkah tergesa.
Adelia melangkah keluar kelas bersama Alya dan Sasha, wajahnya datar meski kedua sahabatnya sibuk berceloteh. Alya, seperti biasa, penuh semangat walau terkadang terlalu banyak untuk ukuran Adelia yang lebih suka ketenangan.
"Del, lo inget kan nanti sore? Kita ke arena balap!" Alya mengulang ajakan yang sudah berkali-kali ia lontarkan hari itu.
Adelia menghela napas, ekspresi lelah tergambar jelas di wajahnya. "Ogah. Gue males ke mana-mana!"
Alya langsung merengut, tapi jelas ia tidak menyerah begitu saja. "Ya ampun, Del. Kita jemput, lo cuma tinggal duduk manis! Mau ikut mobilnya Sasha atau motor gue, bebas. Masa dari kemarin diajak jalan nolak terus?"
Sasha menimpali dengan nada setuju. "Iya, Del. Udah lama kita nggak ke sana. Ayolah, biar seru!"
Adelia menatap mereka bergantian, seolah menimbang-nimbang. Akhirnya, ia mendesah panjang. "Oke. Gue ikut. Tapi gue pergi sendiri, nggak usah jemput!"
"Yakin?" tanya Alya, matanya berbinar penuh harap.
"Iya. Jam berapa acaranya?"
"Jam empat sore!" sahut Sasha antusias.
"Oke. Gue ke sana sendiri," ujar Adelia sambil melangkah menuju motornya, tak memberi mereka waktu untuk merayakan kemenangannya.
Di sudut parkiran, Kenzie berdiri diam, mengamati percakapan itu dari kejauhan.
Ketika Adelia sudah melaju dengan motor sportnya, ia berjalan mendekati Alya dan Sasha dengan langkah santai, senyumnya penuh percaya diri.
"Gimana? Dia setuju kan?" tanyanya, suaranya terdengar seperti seseorang yang yakin rencananya akan berjalan mulus.
"Kenz, sumpah, lo ngagetin!" Sasha memukul lengannya.
Kenzie tertawa kecil. "Yaelah, santai dong. Jadi, gimana?"
Alya menyilangkan tangan di d**a, menatap Kenzie dengan alis terangkat. "Adelia udah setuju datang. Sekarang giliran lo yang beraksi."
Senyum Kenzie makin melebar, hampir seperti seorang penakluk yang baru saja memenangkan perang. "Gampang. Gue pastikan Adelia nggak akan bisa nolak gue kali ini."
"Tapi inget, Kenz, ini nggak gratis!" Alya menambahkan dengan nada menggoda.
Kenzie memutar bola matanya. "Ya ampun, segitunya. Emang lo maunya apa?"
Sasha terkikik. "Zaman sekarang nggak ada yang gratis, bro!"
Kenzie menatap kedua gadis itu, lalu tersenyum tipis. "Fine. Kalau kalian berhasil bikin Adelia jadi pacar gue, apa pun yang kalian mau, gue turutin!"
Alya dan Sasha saling pandang sebelum serentak berkata, "Deal!"
Kenzie memasukkan tangan ke saku celananya, menatap jalan tempat Adelia menghilang dengan tatapan penuh ambisi. Dalam hati, ia tahu malam nanti akan jadi momen penting, dan ia tak akan membiarkannya berlalu tanpa hasil.