Ketegangan menyelimuti rumah besar itu dalam bayang-bayang yang berat. Di dalam kamar Adelia, ketegangan memuncak seperti badai yang siap meledak. Vikram berdiri di ambang pintu, tatapannya dipenuhi penyesalan yang tertahan.
"Adel!" Suaranya bergetar, mencoba menembus dinding dingin yang dibangun putrinya. "Papa minta maaf. Papa sadar, Papa salah memaksakan kehendak Papa ke kamu."
Adelia, yang duduk membelakangi ayahnya, memutar tubuh dengan perlahan. Wajahnya tak menunjukkan emosi, tapi matanya memancarkan kemarahan yang membakar. "Maaf?" Ia mengulang dengan nada mengejek. "Sekarang? Setelah semuanya? Papa pikir kata ‘maaf’ itu cukup buat memperbaiki semua yang Papa hancurkan?"
Kata-kata itu menghantam Vikram seperti pukulan telak. Ia terdiam, menunduk, seolah mencari jawaban di lantai. "Adel, Papa—"
"Tidak, Pa!" potong Adelia, suaranya keras, menggelegar. Ia berdiri, tubuhnya tegap, penuh amarah. "Aku nggak butuh penjelasan kosong lagi. Yang aku mau tahu, apa yang akan Papa lakukan untuk memperbaiki ini semua?"
Vikram tergagap, bingung. "Papa nggak tahu harus mulai dari mana, Adel."
Adelia mendekat, matanya berkilat penuh tuduhan. "Tentu saja Papa nggak tahu! Karena semuanya sudah hancur saat Papa menikahi perempuan itu!”"
Wajah Vikram memerah. Tangannya terangkat secara refleks, tapi berhenti di udara. Napasnya tersengal-sengal menahan diri.
"Ayo, Pa!" Tantang Adelia, suaranya penuh ironi. "Tampar aku, seperti Papa tampar hati Mama waktu itu! Apa Papa merasa puas?"
Tatapan Vikram berubah. Bukan lagi kemarahan, tapi rasa sakit. "Banyak yang kamu nggak tahu, Adel!" Suaranya melemah, seperti pria yang sudah lelah bertempur. "Jangan paksa Papa untuk bicara."
"Oh, aku tahu lebih dari cukup, Pa!" Adelia menyipitkan mata. "Pengkhianatan kalian, itu sudah cukup!"
"Ini bukan tentang itu!" Suara Vikram pecah. "Ini tentang Mamamu, dan tentang—"
"Mas!" Erika muncul di ambang pintu, wajahnya tegang. Dia pasti mendengar segalanya.
Adelia memutar mata, lalu melemparkan pandangan penuh kebencian. "Oh, lihat, benalu itu datang. Cocok sekali kan, kalian berdua? Pengkhianat sejati!"
"Adelia!" bentak Vikram, suaranya menggelegar, tapi Adelia sudah beranjak pergi, membanting pintu di belakangnya.
Di garasi, Vikram mengejar, tapi langkahnya terasa berat. "Adel, tunggu!" panggilnya, hampir putus asa.
Adelia menoleh. Wajahnya tidak lagi marah, hanya dingin seperti es. "Aku di sini cuma mau ambil motor, Pa. Jangan repot-repot cari alasan untuk bicara lagi."
"Kamu mau ke mana?" Suara Vikram terdengar parau.
Adelia tersenyum tipis, penuh sindiran. "Itu bukan urusan Papa."
Sebelum Vikram sempat berkata lagi, motor Adelia melaju, meninggalkan jejak debu dan luka di hati ayahnya.
Erika mendekat, menaruh tangannya di pundak Vikram. "Mas," bisiknya pelan, hampir memohon.
Vikram menoleh, matanya penuh keraguan. "Aku nggak bisa terus begini, Erika. Sampai kapan kita harus menyembunyikan semuanya dari Adel? Dia berhak tahu!"
"Tapi aku nggak mau dia makin membenci kita, Mas," jawab Erika, suaranya lirih tapi tegas. "Biar waktu yang membuka matanya. Sampai saat itu tiba, biar aku perbaiki hubungan ini pelan-pelan."
Vikram menghela napas panjang, seperti membawa beban yang tak terhingga. "Dan bagaimana dengan Fira? Dia masih hilang."
Erika menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh. "Aku akan menemukan Fira."
***
Adelia mematikan mesin motor sportnya dengan gerakan kasar, deru mesin yang mendadak sunyi seolah menggambarkan kemarahan yang ia simpan sejak pagi. Ia menarik lepas helmnya, melepaskan tekanan yang seakan mencekik, lalu memandang gedung apartemen mewah di depannya. Matanya menyapu lantai atas, tempat Arvan tinggal, tempat yang kini menjadi pusat kekacauan hidupnya.
Perasaan bercampur aduk membakar dadanya. Amarah dan sakit hati berperang dengan kekecewaan yang menggumpal. "Kenapa gue harus berurusan sama dia lagi?" gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Langkah kakinya berat, tapi penuh tekad saat ia melangkah menuju pintu. Tepat saat ia hendak membuka pintu, pintu itu terbuka lebar. Arvan berdiri di sana, tinggi dan penuh wibawa, sorot matanya tajam seperti belati yang siap menusuk.
"Dari mana saja kamu?" tanyanya dingin, suaranya tak terlalu keras tapi cukup menusuk.
Adelia mengangkat dagunya, mencoba mengimbangi tatapan itu dengan ekspresi setenang mungkin. "Bukan urusan lo," jawabnya santai, meski hatinya bergetar. Ia mendorong tubuh Arvan tanpa ampun, memaksa masuk ke dalam apartemen.
Tetapi, Arvan tak tinggal diam. Tangan besarnya menangkap pergelangan Adelia, menariknya hingga mereka saling berhadapan, hanya beberapa inci jaraknya. Napasnya terasa di wajah Adelia, hangat tapi mengancam.
"Jangan kira saya nggak tahu tadi pagi kamu pergi sekolah sama siapa!" Suaranya rendah tapi tajam, seperti badai yang tertahan. "Kenzie Mahendra!" Tambahnya, dengan nada yang penuh penekanan.
Adelia merasakan aliran darahnya mendidih. "Lo melanggar perjanjian!" serunya, matanya berkilat marah.
"Saya tidak melanggar apa pun, Adelia," balas Arvan, suaranya tenang tapi mengancam. "Kamu itu istri saya sekarang. Mau pura-pura atau nggak, status itu tetap ada. Kalau sesuatu terjadi padamu, keluarga kita bakal menyalahkan saya. Jadi, saya harus tahu apa pun yang kamu lakukan." Matanya menatap lurus, penuh intimidasi, membuat Adelia merinding meski ia berusaha menutupinya.
Adelia terkekeh sinis. "Kenzie itu pacar gue. Apa masalah buat lo?" tanyanya dengan nada menantang. "Lo nggak lupa, kan, kalau pernikahan kita ini cuma pura-pura?"
Rahang Arvan mengeras. "Saya tidak lupa. Tapi saya peringatkan lagi, jangan sampai kamu merusak rencana saya. Kalau sampai itu terjadi, kamu sendiri yang bakal menanggung akibatnya." Ucapannya tajam seperti pisau, sebelum ia mendorong tubuh Adelia hingga gadis itu terhempas ke sofa.
Adelia memegangi lengan yang terasa perih akibat dorongan tadi. Matanya membara, menatap Arvan dengan kebencian yang tak terbendung. "Sialan lo!" makinya, suaranya pecah, tapi ia tetap menolak terlihat lemah di hadapan pria itu.
Arvan hanya berdiri di sana, matanya memandang dingin. Ada sesuatu dalam sorot matanya, bukan sekadar amarah, tapi juga sesuatu yang lebih gelap, lebih rumit. Adelia menelan ludah, mencoba memahami permainan yang sedang ia hadapi, tapi yang pasti, ia tak akan mundur. Tidak kali ini.
Adelia bangkit dari sofa dengan gerakan cepat, meski lututnya sedikit gemetar akibat dorongan tadi. Ia menatap Arvan penuh kebencian, tapi bibirnya menyunggingkan senyum sinis.
"Rencana lo? Lo cuma peduli sama diri lo sendiri, Arvan. Bukan tentang gue, bukan tentang keluarga, semuanya cuma tentang ambisi lo!" Suara Adelia bergetar, bukan karena takut, melainkan amarah yang tak lagi bisa ia bendung.
Arvan mendekat, langkahnya perlahan tapi penuh tekanan. Matanya menatap Adelia seperti predator yang siap menghabisi mangsanya. "Kalau saya cuma peduli pada diri sendiri, saya nggak akan repot-repot menjaga kamu," katanya dingin. "Jangan lupa, pernikahan ini ada karena kamu juga setuju, bukan karena saya memaksamu."
Adelia terkekeh sarkastik. "Oh, jadi sekarang gue yang salah? Jangan lupa, lo yang bawa gue dalam kekacauan ini. Lo yang bikin gue harus ninggalin semua yang gue punya. Lo yang bikin gue jadi boneka di permainan lo!"
Arvan berhenti tepat di depan Adelia, wajahnya nyaris sejajar dengannya. "Kalau kamu merasa seperti boneka, itu karena kamu memilih untuk lemah," ucapnya pelan, nyaris berbisik, tapi menusuk.
Adelia mengepalkan tangannya, ingin rasanya ia menampar pria itu. Tapi ia tahu, Arvan akan menang. Bukan hanya dalam argumen ini, tapi dalam permainan besar yang mereka jalani. "Lo boleh menang sekarang, Arvan," katanya, nadanya rendah tapi penuh tekad. "Tapi gue nggak akan terus-terusan jadi pion di papan catur lo."
Belum sempat Arvan merespons, suara notifikasi ponselnya memecah ketegangan. Ia melirik layar, ekspresinya berubah sejenak sebelum kembali dingin. "Saya harus pergi," katanya sambil memasukkan ponselnya ke saku. "Dan ingat, Adelia. Jangan pernah mencoba menantang saya. Kamu nggak tahu apa yang bisa saya lakukan."