Dia Terluka

1242 Words
Sementara itu, di taksi yang membawa Adelia pergi, dia memandangi jendela dengan tatapan kosong, pikirannya dipenuhi oleh banyak hal termasuk Kenzie. Tanpa sadar, dia mengepalkan tangan. Ada sesuatu tentang cowok itu yang membuatnya bingung. Mungkin Alya benar, Adelia tidak mudah terkesan dengan hal biasa. Tapi kalau dia tahu apa yang sedang direncanakan, apakah dia akan marah, atau justru terkesan? Taksi berhenti perlahan di depan rumah megah yang berdiri angkuh di tengah taman luas. Adelia turun dengan gerakan lamban, seolah setiap langkahnya semakin menambah beban di pundaknya. Ia menarik napas panjang, menguatkan diri sebelum mendorong pintu besar itu. Aroma rempah yang menyeruak dari dapur menyambutnya, tetapi kehangatan itu tak mampu menembus dinding dingin di hatinya. Di ruang makan, Erika terlihat sibuk menyusun piring di meja makan. Ketika melihat Adelia, wajahnya langsung berbinar. "Adelia! Kamu pulang," sapa Erika dengan nada ramah, tapi senyum itu hanya disambut tatapan sinis dari gadis muda itu. "Kamu sendirian? Arvan mana?" tanya Erika, mencoba mengabaikan dinginnya respons Adelia. Adelia mendengus, lipatan di alisnya semakin dalam. "Lo lihat gue sendirian kan? Itu artinya gue—" "Adel!" Teguran tegas Vikram menghentikan kalimat tajam yang hampir terlontar. Suara berat sang ayah bergema dari ambang pintu, membuat Adelia menghentikan langkahnya sejenak sebelum menoleh dengan tatapan muak. Tanpa menjawab, ia berbalik, menaiki tangga dengan langkah cepat, membiarkan gema sepatunya memenuhi ruangan. "Adelia! Minta maaf dulu sama Tante Erika!" teriak Vikram, tapi putrinya bahkan tak menoleh. Pintu kamar di lantai atas tertutup keras, menggema seperti sebuah tamparan bagi pria itu. Erika menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, biarkan saja. Jangan susul dia. Duduklah, aku akan siapkan makan siangnya." "Tapi, Erika, anak itu perlu diberi tahu! Sampai kapan dia akan terus bersikap seperti ini padamu?" Suara Vikram meninggi, mencerminkan frustasi yang lama ia pendam. Erika menggeleng, senyumnya tipis tapi penuh kesabaran. "Mas, Adelia itu anaknya keras. Kalau Mas keras juga, dia hanya akan makin menjauh. Kita sudah salah waktu memaksa dia menikah dengan Arvan. Jangan tambahkan luka itu dengan tekanan yang baru." Vikram terdiam. Kata-kata Erika menghantam hatinya, menelanjangi rasa bersalah yang selama ini coba ia tutupi. Ia menarik napas panjang sebelum berkata pelan, "Terima kasih, Erika. Kamu masih sabar menghadapi Adelia, bahkan saat dia terus menolakmu." Erika menggeleng lembut, matanya penuh kehangatan. "Tak perlu terima kasih, Mas. Adelia tetap putriku juga, walaupun dia belum bisa menerimaku." Suasana hening, hanya suara langkah Erika yang sibuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, di lantai atas, Adelia bersandar pada pintu kamarnya, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Adelia menghapus air matanya dengan kasar, berusaha menekan rasa sakit yang mendesak di dadanya. Pikirannya berputar, terjebak di antara amarah dan penyesalan. Ia menatap cermin besar di kamarnya, melihat bayangan dirinya yang tampak rapuh, jauh dari kesan tegar yang selalu ia tampilkan. Di lantai bawah, Erika kembali sibuk di dapur. Vikram memperhatikannya dari meja makan, rasa bersalah menggerogoti hatinya. "Apa kamu benar-benar yakin dia akan berubah, Erika?" tanyanya pelan, hampir berbisik. Erika berhenti sejenak, memandang suaminya dengan senyum lembut. "Aku yakin, Mas. Hati Adelia terluka, dan luka seperti itu butuh waktu untuk sembuh. Kita hanya perlu menunjukkan bahwa kita selalu ada untuknya, meski dia belum siap menerima." Vikram mengangguk pelan, meskipun keraguan masih membayangi pikirannya. "Aku hanya takut kehilangan dia. Dia satu-satunya anakku, Erika." "Kita tidak akan kehilangan dia, Mas," jawab Erika dengan tegas. "Tapi kita harus bersabar." Di kamarnya, Adelia duduk di tepi tempat tidur, menggenggam sebuah foto yang sudah lusuh. Foto itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari ibunya. Matanya menatap sosok wanita muda yang tersenyum cerah di dalam bingkai itu. "Ma, kenapa semua orang selalu mengharapkan aku menerima dia?" bisiknya lirih. Suara ketukan lembut di pintu mengejutkannya. "Adel, boleh Tante masuk?" Suara Erika terdengar dari balik pintu, penuh kehati-hatian. Adelia mendengus, tapi tidak menjawab. Namun, Erika tampaknya sudah cukup terbiasa dengan sikap dingin itu. Perlahan, pintu kamar terbuka, dan Erika melangkah masuk dengan nampan di tangannya. Di atasnya, semangkuk sup hangat mengepul, aromanya memenuhi ruangan. "Aku tahu kamu belum makan. Jadi, aku bawakan ini," ujar Erika, meletakkan nampan itu di meja kecil dekat tempat tidur. Adelia menatapnya, sinis seperti biasa. "Lo kira gue bakal makan cuma karena lo bawain makanan ini?" Erika hanya tersenyum. "Aku tidak memaksa. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak kelaparan." Adelia hendak membalas dengan sindiran, tapi nada suara Erika yang lembut membuatnya menahan lidah. Ada sesuatu dalam cara wanita itu berbicara, kesabaran yang tulus, tanpa paksaan. Ia mendengus, berpura-pura tak peduli, lalu membuang pandangannya ke arah jendela. Tetapi, saat Erika pergi meninggalkan kamar, Adelia melirik sup itu. Aroma rempahnya mengingatkan pada sesuatu, kenangan masa kecilnya bersama almarhumah ibunya. Dengan ragu, ia mengambil sendok dan mencicipi sedikit. Hangatnya sup itu menyentuh lebih dari sekadar tubuhnya, ia seperti merasakan kehangatan yang telah lama hilang. Di luar kamar, Erika berdiri diam di lorong. Meski pintu telah tertutup, ia mendengar suara sendok yang menyentuh mangkuk. Senyumnya merekah, penuh harapan bahwa sedikit demi sedikit, hati Adelia akan melunak. Adelia meletakkan sendoknya dengan perlahan setelah suapan terakhir. Ia menatap mangkuk kosong di depannya dengan perasaan campur aduk. Rasa hangat yang mengalir di tenggorokannya tadi tidak hanya berasal dari sup, tetapi dari sesuatu yang lain, sebuah sentuhan kecil perhatian yang telah lama ia tolak. Akan tetapi, ia tak ingin menunjukkan bahwa dirinya tergerak. Ia mendorong mangkuk itu ke meja kecil di samping tempat tidur, lalu berbaring, memeluk bantal dengan wajah yang tenggelam dalam kekosongan. Di lantai bawah, Vikram masih duduk di ruang makan. Ia memandangi piring di depannya, tapi pikirannya melayang ke putrinya yang semakin jauh. Erika muncul dari dapur, membawa teh hangat yang diletakkan di depannya. "Masih mikirin Adelia?" tanya Erika sambil duduk di kursi seberang. Vikram menghela napas berat. "Aku hanya merasa seperti gagal sebagai seorang ayah. Aku merasa seperti kehilangan Adelia." Erika menyentuh tangan Vikram, memberi tekanan lembut. "Adelia bukan hilang, Mas. Dia hanya terluka. Luka itu datang bukan hanya dari kehilangan ibunya, tapi juga karena kita memaksanya menikah dengan Arvan. Kita harus memberi dia ruang untuk menyembuhkan dirinya." Vikram menatap mata Erika yang penuh keyakinan. "Bagaimana kalau dia tidak pernah memaafkan kita?" "Dia akan memaafkan, Mas," jawab Erika dengan suara penuh kepastian. "Bukan karena kita memintanya, tetapi karena dia akan menemukan alasan untuk memaafkan. Dan saat itu tiba, kita harus ada di sini untuknya." Sementara itu, Adelia masih di kamarnya, menatap kosong ke arah langit-langit. Ingatannya melayang ke malam ketika pernikahan dengan Arvan dipaksakan. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. "Mereka tidak peduli apa yang aku rasakan," batinnya mendidih. Tetapi, bayangan wajah Erika saat membawa sup tadi perlahan muncul dalam pikirannya. Wanita itu tidak memaksa, tidak memarahi layaknya ibu tiri pada anak tirinya dan tetap bersikap lembut meski ia terus membalas dengan sikap dingin. Hatinya bergolak, seperti ada celah kecil yang mulai terbuka. Pikirannya buyar ketika suara ketukan terdengar lagi. Kali ini lebih keras, tapi tetap sopan. "Adel, ini Papa. Papa ingin bicara sebentar." Adelia mendengus, tetapi rasa bersalah tiba-tiba menyelinap. Tanpa sadar, ia bangkit dan membuka pintu. "Ada apa lagi, Pa? Mau marahin aku?" tanyanya ketus. Vikram menatap putrinya dengan sorot mata yang lembut tapi tegas. "Bukan untuk marah, Adelia. Papa hanya ingin kita bicara." Adelia terdiam sejenak, lalu membuka pintu lebih lebar, memberi isyarat agar ayahnya masuk. Mereka duduk di sofa kecil di sudut kamar, dalam hening yang terasa berat. "Adel." Vikram memulai dengan nada pelan, "Papa tahu Papa sudah banyak salah sama kamu. Papa memaksa kamu menjalani sesuatu yang kamu benci. Papa hanya ingin kamu tahu, Papa minta maaf untuk semuanya." Adelia menoleh, matanya membulat tak percaya. "Minta maaf? Serius, Pa? Setelah semuanya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD