Misi Adelia?

1090 Words
Kenzie terdiam sejenak, lalu tertawa pendek, nada suaranya seperti menguji. "Bukan tipe lo? Yakin? Karena lo barusan ngalahin gue di lintasan, dan gue harus akui, itu lumayan bikin gue penasaran." Adelia mendengus, melipat tangan di d**a. "Penasaran boleh, tapi jangan GR. Gue cuma butuh lo buat satu hal, dan setelah itu, selesai." Alya yang sedari tadi menahan tawa akhirnya angkat suara. "Oke, gue makin penasaran nih. Misi lo apaan, Del?" Adelia menoleh sebentar, tatapannya memberi isyarat ‘jangan ikut campur’. "Gak perlu tahu. Yang penting, gue mau semua orang percaya kalau gue dan Kenzie itu pasangan. Lo ngerti, Kenz?" Kenzie menyipitkan mata, masih menimbang-nimbang. "Lo minta gue pura-pura pacaran, tampil di depan orang kayak pasangan, pegang tangan lo, mungkin peluk lo di depan umum." Senyumnya menyeringai penuh arti. "Kedengerannya sih bukan hukuman, tapi bonus." Tatapan Adelia langsung menusuk. "Lo nyentuh gue tanpa izin, gue pastiin lo nyesel." Sorak-sorai penonton yang mulai bubar membuat suasana sedikit bergeser. Kenzie melirik Alya dan Sasha yang menatap mereka seperti menonton drama gratis. Akhirnya ia mengangguk. "Baik. Gue main sesuai aturan lo. Tapi kalau permainan ini kebawa serius, itu salah lo sendiri." Adelia tersenyum tipis, puas. "Santai aja, Kenz. Lo cuma bagian dari rencana gue. Hati lo aman kalau lo nggak berharap lebih." Adelia meraih helmnya, siap pergi, ketika suara Kenzie terdengar di belakangnya. "Apartemen lo jauh dari sini, kan? Gue anterin." Adelia menoleh, satu alisnya terangkat. "Gue bawa motor sendiri, Kenz. Gue nggak butuh lo." Kenzie hanya tersenyum tipis, lalu memasang helmnya. "Bukan soal butuh atau enggak. Gue cuma mau pastiin lo sampai rumah dengan selamat." "Lo pikir gue nggak bisa nyetir sendiri?" balas Adelia ketus. Kenzie mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. "Bisa. Tapi siapa tahu ada orang yang mau nyari masalah sama lo setelah lo bikin ribut di sini barusan." Tatapannya singkat tapi mengandung peringatan. Adelia mendengus, tapi tidak membantah lagi. "Terserah. Asal jangan sok ngatur." Mereka akhirnya meninggalkan lintasan, motor Kenzie sedikit di belakang Adelia. Suara knalpot keduanya memecah senja yang mulai meredup. Sesekali Kenzie memperpendek jarak, memastikan ia tak kehilangan pandangan. Adelia menyadarinya, dan entah kenapa, justru merasa agak aman. Walau ia tak akan pernah mengakuinya. Ketika sampai di depan gedung apartemen, Adelia mematikan mesin motor dan menurunkan standar. Kenzie ikut berhenti di sebelahnya. "Udah, lo bisa cabut. Gue udah nyampe," kata Adelia tanpa menatapnya. Kenzie melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. "Besok gue jemput lo." Adelia menatapnya tajam. "Buat apa?" "Pacar pura-pura kan harus kelihatan nyata. Kalau lo datang sendiri, orang-orang nggak akan percaya." Ia menyeringai, seperti sengaja memancing. Adelia memutar bola mata, lalu menghela napas panjang. "Fine. Tapi kalau lo telat semenit aja, gue jalan sendiri." Kenzie terkekeh pelan. "Deal." Ia menyalakan kembali motornya, tapi sempat melirik sebentar. "Malam, Del." Adelia hanya mengangguk singkat, lalu berjalan masuk ke lobi. Tapi saat pintu lift menutup, ia baru sadar wajahnya sedikit memanas, padahal ini cuma awal permainan. Saat sampai di pintu apartemen, Adelia menarik napas dalam. Dirinya harus kembali pada kenyataan yang tak mungkin bisa disangkal lagi. Ia membuka pintu perlahan, berharap Arvan belum pulang. Senyumnya mereka ketika melihat ruang tamu kosong. Ia pun bergegas menuju kamarnya. Namun, saat pintu terbuka, ia terkejut mendapati Arvan duduk di ranjangnya. "Ngapain lo di kamar gue?!" tanyanya galak. Adelia sontak menjatuhkan tasnya ke lantai, napasnya sedikit memburu. Arvan duduk santai di tepi ranjangnya, bersandar dengan satu tangan menopang tubuh, seolah berada di kamarnya sendiri. "Lama banget pulangnya," ucap Arvan datar, tapi sorot matanya tajam, seperti sedang menguliti setiap gerak-gerik Adelia. "Anak SMA yang sebentar lagi akan menghadapi ujian dan lulus, apa pantas jam segini baru pulang?" Adelia melangkah masuk, menutup pintu dengan keras. "Gue tanya sekali lagi, ngapain lo di kamar gue?" Arvan mengangkat bahu, pura-pura santai. "Kamu lupa kalau ini apartemen saya?" Adelia terdiam. Tatapannya berubah semakin tajam. "Gue nggak amnesia ya!" "Lalu, dari mana saja kamu jam segini baru pulang?" "Bukan urusan lo!" Arvan terkekeh pelan, tapi tawa itu terdengar dingin. "Jangan kamu kira, saya nggak tahu apa yang kamu lakukan, Adel! Adelia melipat tangan di d**a, mencoba menjaga ekspresi tetap tenang. "Bukan urusan lo, Van. Lagian, kita nggak ada hubungan apa-apa, kan?" Arvan berdiri perlahan, mendekat satu langkah. "Saya ingatkan lagi. Kita ini, suami istri Adelia. Walau kita hanya menikah siri, status kita tetap sah. Jadi, kamu berada dalam pengawasan saya!" Adelia melangkah melewatinya, mengambil tasnya yang terjatuh. "Gue capek. Kalau mau main drama, besok aja. Sekarang keluar dari kamar gue." Arvan tidak bergeser, malah berdiri memblokir pintu. Tatapannya gelap, suaranya rendah tapi jelas menusuk telinga. "Dengar baik-baik, Adel. Saya nggak peduli kamu mau pergi ke mana atau sama siapa, tapi jangan sekali-kali bikin masalah." Adelia mengerutkan kening. "Maksud lo?" Arvan mencondongkan tubuh, jarak mereka hanya beberapa inci. "Kalau kamu bikin saya kesal, atau berani cari gara-gara, saya nggak akan ragu untuk bongkar semua rahasia kita. Termasuk soal pernikahan ini." Jantung Adelia berdegup kencang. "Lo ancam gue?" Arvan tersenyum tipis, dingin. "Bukan ancaman, Adel. Anggap aja, pengingat. Kamu tahu betul apa yang bakal terjadi kalau orang lain tahu. Atau pihak sekolah tahu, kamu pasti dikeluarkan dari sekolah!" Ia akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan Adelia terpaku dengan pikiran yang berputar cepat. Peringatan itu jelas bukan omong kosong. Jika Arvan benar-benar membongkar rahasia pernikahan mereka, semua yang ia pertahankan selama ini bisa runtuh seketika. Pintu kamar menutup, menyisakan suara klik yang terdengar lebih seperti kunci perangkap daripada sekadar engsel. Adelia berdiri kaku selama beberapa detik, napasnya naik-turun. Ucapan Arvan masih menggantung di kepalanya, tajam, berat, dan penuh ancaman. Tapi semakin ia merenungkannya, semakin jelas satu hal, ia tidak bisa terus-terusan hidup di bawah bayangan laki-laki itu. "Dasar Om Om! Ngeselin, bisanya cuma ngancam!" raung Adelia. "Saya dengar semua makian kamu, Adelia!" Adelia langsung terperanjat, matanya membelalak menatap pintu yang masih tertutup rapat. Suara Arvan terdengar jelas dari luar, nadanya santai tapi penuh tekanan, seperti sengaja menusuk harga dirinya. Ia berlari ke arah pintu, membukanya dengan kasar. "Lo nguping?!" Arvan berdiri di lorong, menyandarkan tubuh pada dinding dengan kedua tangan di saku celana. "Bukan nguping," jawabnya pelan. "Cuma memastikan kamu tahu konsekuensi dari kata-kata kamu sendiri." Adelia mengepalkan tangan, menahan diri untuk tidak langsung mendorong laki-laki itu. "Gue nggak takut sama lo." Arvan melangkah maju, menutup jarak hingga bayangannya menutupi Adelia. "Kalau nggak takut, buktikan. Tapi ingat Adel, satu langkah salah, kamu akan menanggung akibatnya. Satu hal lagi, aku pastikan kita akan buat bayi yang lucu-lucu!" Wajah Adelia memucat, tubuhnya mulai merinding karena takut. Namun, ia coba mengendalikannya. Arvan menangkap perubahan raut wajah Adelia. Ia menyeringai tipis sebelum berbisik, "Sepertinya ini waktu yang pas untuk bulan madu, kamu harus bersiap sekarang Nona!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD