Adelia sontak mendorong d**a Arvan dengan kasar. "Mimpi aja lo!" serunya, matanya berkilat marah. Arvan hanya tersenyum miring, tatapan matanya tidak goyah sedikit pun. "Terkadang mimpi bisa jadi kenyataan, Adel," bisiknya pelan, seperti sengaja memancing emosi. Adelia menarik napas panjang, mencoba menahan amarah yang hampir meledak. "Keluar. Sekarang." Kali ini, Arvan tertawa kecil. Bukan tawa menyenangkan, melainkan tawa yang membuat bulu kuduk meremang. "Santai aja, istri manis. Saya cuma mau mengingatkan, mainan kamu di luar sana jangan sampai bikin saya capek buat nutupin aib kita." Ia pun berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan aroma parfum maskulinnya yang samar-samar masih tercium. Adelia berdiri di ambang pintu, menatap punggungnya menjauh di ruang tengah. Begitu pintu ke

